Thursday, February 9, 2017

Surat Cinta Untukmu Suamiku

Assalamualaikum wr. wb
(Salam sayang dan cinta selalu untukmu duhai kekasih hatiku)
Dear Suamiku,
Selamat Hari Lahir ya suamiku…
Selamat Ulang Tahun…
Panjang Umur, Sehat Selalu, Tetap jadi suami yang sabar untuk istrimu ini, jadi yayah yang hebat dan teladan bagi anak-anakmu, selalu jadi imam yang bisa mengajak kami dalam kebaikan, tetap setia sampai kapanpun, berlimpah rezekinya, makin meningkat karirnya, dan selalu dalam limpahan Barakah Allah SWT.


Disurat-ku kali ini, aku ingin berterimakasih karena engkau telah memilihku menjadi pendampingmu. Disaat dulu aku butuh sahabat dan pelindung, dirimulah yang pertama maju menawarkan bantuan. Dirimu yang dulu kukenal sebagai pria yang bahkan dalam hati aku berjanji tak akan menjadikanmu pilihanku, karena terlalu banyak wanita mengelilingimu, membuat aku malas untuk memperebutkanmu, ternyata justru menjadi sahabat baikku sekaligus suamiku.

16 tahun sudah aku mengenalmu. Ada banyak cerita antara kita berdua, mulai perjuangan kita untuk mempertahankan hubungan kita ke jenjang selanjutnya, yang Alhamdulillah seperti mimpiku cerita itu bisa kutuliskan dan kuikut sertakan dalam sebuah buku antologi karya penulis terkenal Dwi Suwiknyo, dengan judul “Ya Allah Izinkan Kami Menikah”.


Kisah kita yang kutulis dalam salah satu kisah di buku antologi based on true story tersebut, kutulis dengan sepenuh hati sebagai dedikasi cintaku untukmu. Meski kita bukanlah apa-apa, namun ku yakin dibalik kisah kita ada banyak pembelajaran bagi semua remaja maupun orang tua di dunia. Yah, kita pun belajar dari kisah kita untuk berusaha menjadi orang tua yang (Insya Allah) tak ingin memaksakan jurusan yang kelak dipilih oleh anak-anak kita. Untuk urusan jodoh anak-anak mari sejak awal kita belajar untuk saling memahami. Dengan alasan tersebut mari kita mulai menentukan visi misi keluarga kecil kita sejak dini.

Seperti kesepakatan kita, goal kita bukan agar anak-anak menjadi seorang pegawai negeri. Sesuai nama yang kita sepakati untuk kita berikan kepada anak-anak, kita ingin agar kelak mereka menjadi seorang putri yang berakhlak baik, bersinar layaknya berlian, dan menjadi putri mulia yang selalu membanggakan kita sebagai orang tua mereka. Yah, mimpi kita mereka boleh menjadi pengusaha sukses, atau apapun yang sukses dalam karirnya. Sehingga mereka tak perlu menggantungkan diri pada BPJS demi kesehatannya, dan mereka bisa menghabiskan waktu mereka berkeliling dunia tanpa was-was tabungannya terkuras, bahkan jika perlu mereka bisa menunaikan ibadah haji di usia muda nya.

Suamiku sayang seperti yang aku ungkapkan diatas ada banyak cerita antara kita, dengan bertambahnya usia kita sedikit demi sedikit kedewasaan juga mengikuti diri kita. Namun, sayangnya ada beberapa sifat dari dirimu yang akhir-akhir ini sedikit mengusikku.

Di bertambahnya usiamu kali ini, ijinkan aku menyampaikan beberapa hal yang menurut aku sedikit berubah dari dirimu. Seperti janji kita sejak awal, bahwa pernikahan kita harus dimulai dari kejujuran. Jika kelak ada yang tidak kita sukai dari salah satu kita, maka kita berjanji boleh langsung menyampaikan sebagai bahan koreksi kita bersama.

Satu hal yang aku lihat darimu, adakalanya dirimu terlihat seperti lelaki sombong untuk sekitarmu. Meski aku paham alasanmu berbuat seperti itu, tapi aku tak yakin orang sekitar akan memahami niat baikmu.

"Sombong dimanan sih mam? Aku kan hanya ingin menyampaikan hal yang benar?!", begitu protesmu padaku setiap kali aku sampaikan hal tersebut. Yah, mungkin aku memang bukan orang yang bisa menilai dengan tepat. Aku-pun mencoba menilai hal tersebut dengan mengkroscekkan dari beberapa cerita temanku.
Seperti kebiasaan membeli di bensin, meskipun kau bilang tak ada masalah jika kita tak turun dari mobil untuk sekedar beli bensin, tapi menurutku akan lebih sopan jika kita bersedia turun untuk sekedar menyapa petugas pom bensin. Apalagi jika bensin yang kita beli tak lebih dari seratus ribu rupiah. Yah, jika pun engkau tak bisa turun tak ada salahnya engkau sampaikan perminta maafan kepada mereka beserta alasanmu kenapa tak bisa turun. Aku yakin, mereka pun tak akan mempermasalahkan seandainya kita mau turun atau tidak. Namun, dengan engkau menyampaikan maaf dan alasan menurutku mereka akan lebih berterimakasih kepada kita atas kesopanan yang telah kita tunjukkan di awal.

Begitu juga saat kita ingin membeli sesuatu di pedadang kaki lima, seandainya memang tidak terpaksa maka menurutku tak ada salahnya kita turun dari kendaraan kita sekedar untuk menyapa dan bersilaturrahmi kepada sang penjual. Salah seorang teman pernah menyampaikan, menurut beberapa teman, seseorang yang membeli sesuatu dengan tidak mau turun dari kendaraannya, tampak terlihat seperti orang angkuh.

Hal lainnya kalau boleh jujur, beberapa kali kamu juga menegurku dengan bahasa yang kurang enak kudengar ditelinga. Jika bisa kuibaratkan adakalanya kau menegurku dengan bahasa “nyinyirmu".
Aku masih ingat ketika almarhum bapak menegurmu untuk tak terlalu memanjakanku. Disitu aku sempat protes kepadamu. Kenapa aku tak boleh manja kepadamu, bukankah aku menikah denganmu karena ingin kau manjakan sebagai istrimu?! Apa aku tak berhak minta engkau manjakan, sedangkan sudah banyak yang kuperjuangkan untuk bisa menjadi istrimu. Yah, aku istrimu yang hanya ingin engkau manjakan, sehingga jika pun aku melakukan kesalahan maka tegurlah aku dengan bahasa terhalusmu. Aku ingin kamu tetap menjadi pria yang selalu sabar menghadapiku.

Hal lain yang akhir-akhir ini aku kurang suka yaitu gaya bercanda-mu dengan beberapa temanmu. Engkau sudah menjadi ayah dari dua gadis cilik yang cerdasnya luar biasa dan dengan cepat bisa menangkap apa yang dia lihat maupun dia dengar. Sehingga usahakan mulai sekarang untuk tak melontarkan bahasa-bahasa kasar atau bahasa makian sekalipun itu dalam konteks bercanda. Bukankah kita menginginkan anak-anak kita menjadi anak yang sholehah?!
Selain itu adakalanya aku merasa bercandamu mengarah menyindir atau bahkan ke arah bulliying. Meski aku tahu sebenarnya kamu hanya berniat bercanda, tapi percayalah padaku bahwa tak semua orang memahami niat candaanmu.

Bukankah kau pernah bercerita bahwa si A tetap selalu membela si B, padahal kamu tahu dengan jelas bahwa si B selalu melakukan kesalahan. Kamu sering tak terima dengan kelakuan si B karena sesalah apapun dia, A tetap membelanya habis-habisan. Sedikit pengalaman dari istrimu ini, ternyata meski sebenar apapun kita, tapi jika terlalu sering menyindir atau nyinyir apalagi memojokkan maka kita akan tampak seperti orang jahat yang tak punya hati, yang hobinya membully orang. Bisa jadi malah kita dianggap sentimen dengan orang tersebut. Ketika orang lain hanya memandang kesalahan orang tersebut biasa maka hati kita akan semakin tidak terima dan justru semakin menumpuk perasaan kesal kepadanya.

Jika memang ada temanmu yang menurutmu kurang baik, maka menurutku langsung ingatkan saja dia. Namun, jika engkau merasa tak mampu mengingatkan dengan baik karena sungkan maka diamkan saja mereka. Jika sudah kau ingatkan sekali tak berhasil, maka abaikan dia. Tak perlu terlalu memikirkan mereka yang tak bisa kau ingatkan. Hidup terlalu indah hanya untuk memikirkan mereka yang telah membuat dirimu kesal.

Sifat lain yang aku tak suka darimu (sejak dulu) adalah sifat sok kenal sok dekat (SKSD). Yah, adakalanya saat kau melakukan SKSD dengan orang yang baru kau kenal apalagi kalau itu perempuan maka engkau bisa dianggap sebagai pria usil keganjenan. SKSD sebenarnya tak dilarang asal tau etika.
Sayangnya pernah sekali aku memprotesmu tentang hal ini, hasilnya dirimu malah jadi sok jutek. Ah entahlah mungkin kita harus menyamakan prinsip lagi SKSD yang bagaimana yang nggak boleh dilakukan.

Hal lainnya yang istrimu tak suka darimu adalah adakalanya dirimu suka menggampangkan. Sebagai pengingat saja, bahwa kita akan belajar tak menggunakan kata “halah” yang cenderung menggampangkan sesuatu. Sehingga jika tiba-tiba kita mengatakan kata “halah”, artinya kita harus segera mengerem diri.

Meski demikian ada banyak terima kasih yang ingin kusampaikan kepadamu...
Terima kasih engkau telah membantu-ku menemukan jati diriku. Bertahun-tahun aku berusaha mencari apa minat dan bakatku, tapi tak pernah kutemukan. Hingga akhirnya kini aku benar-benar sadar bahwa aku suka menulis. Meski aku belum sehebat penulis lain, tapi kau selalu memberi ku support untuk tak pernah menyerah mengasah kemampuanku. Saat aku mulai lelah dan merasa hobiku ini seperti hal yang sia-sia, engkau selalu mendorongku dengan kalimat "Lakukan apa yang kau sukai, kamu tak pernah tau kecintaan menulismu akan membawamu sampai kemana".
Saat aku mulai ragu dengan kemampuan menulisku, dirimu juga lah yang selalu tanpa lelah memberi semangat untukku. Engkau bahkan tak segan-segan mendukungku untuk mengikuti segala kegiatan yang bisa mendukung kemampuan menulisku.


Engkau lelaki hebat, yang mau bersabar memberiku support untuk mengalahkan rasa baby blues-ku ketika awal-awal aku melahirkan. Padahal aku pun tau dirimu bisa jadi juga mengalami baby blues melihatku yang kacau balau mengalami jet lag saat awal-awal memiliki buah hati. Begitu pun saat aku kebingungan memposisikan diri ketika si adik lahir saat kakak masih belum cukup umur untuk mandiri.

Dirimu tetap setia mendampingiku walau bodyku sudah tak seaduhay dulu. Ada lemak dimana-mana, strech mark yang bahkan hampir memenuhi seluruh perutku yang tak pernah seksi dari dulu. Bahkan dirimu tak pernah malu mengajakku menghadiri event-event kantormu.
Ada banyak hal diluar sana yang aku tak pernah up date karena kehebohanku dengan buah hati kita. Namun, engkau tak pernah bosan untuk berbagi informasi yang kau dapat diluar sana. Bahkan engkau sering mengajakku mengunjungi tempat makan baru, atau tempat wisata baru yang belum pernah aku kunjungi.

Seperti pertama kali kau bisa menjejakkan kakimu di pulau Lombok ketika kita belum menikah. Saat itu engkau pernah berjanji untuk mengajakku ke Lombok suatu hari nanti. Seperti sebuah mimpi bagiku saat itu. Namun, ternyata mimpi itu menjadi kenyataan. Bahkan jika ingin merenung, kamu tak hanya pernah mengajakku ke lombok, tapi ke Bali, Jogja, Bandung, Semarang, Bogor, Jakarta, dan beberapa kota lainnya yang mungkin belum aku sebutkan. Ah iya, saat masih menanti buah hati kau pernah mengajakku bermain ke singapore dan malaysia hanya untuk menghibur hatiku yang sedang sedih karena tak kunjung mendapatkan buah hati.


Mimpi kita selanjutnya, masih ada Jepang, Korea, Dubai. Juga menunaikan ibadah haji bersama. Berjanjilah, kau akan terus mengajakku untuk berkeliling dunia meski usia kita tak lagi muda.


Dalam setiap doaku, aku selalu berdoa agar engkau selalu diberi umur yang panjang yang selalu dilimpahkan Barakah oleh Allah SWT. Aku selalu berdoa agar dirimu menjadi jodohku baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan aku juga selalu berharap agar kita bisa menjadi jodoh sehidup semati. Terkesan lebay mungkin, tapi engkau pasti tau maksudku. Kita memiliki cerita yang hampir sama, ketika ibu kita ditinggalkan oleh ayah kita, maka engkau pasti bisa melihat betapa limbungnya mereka. Lalu betapa berubahnya mereka, menjadi orang yang kurang sabar menurut kita sebagai anak-anaknya. Dengan alasan tersebutlah aku selalu berdoa agar kita menjadi jodoh sehidup semati. Aku tak ingin kita berubah menjadi orang tua yang tak sabar bagi anak-anak kita karena merasa kehilangan salah satu sayap kita yang selalu mendukung kita baik suka maupun duka.
video

Bahkan pernah sekali saat kutanyakan kepadamu, bagaimana jika aku pergi lebih dulu? Lalu kaupun menjawab dengan kalimat yang singkat dan jelas, "Entahlah aku nggak bisa berpikir". Kemudian obrolan kita menjadi hening. Yah, kita sudah seperti sepasang belahan jiwa. Kita selalu berdoa agar Allah selalu memanjangkan usia kita berdua sehingga kita bisa bersama-sama saling mendampingi dan saling memberi support dalam menjaga amanah dan mengikuti tumbuh kembang anak-anak kita agar menjadi generasi hebat yang selalu bertakwa kepada Allah SWT, serta memiliki keluarga bahagia dan kehidupan yang sukses baik di dunia maupun di akhirat.

Meski ada beberapa hal yang tak kusukai darimu aku tetap mencintaimu
Meski aku sering marah kepadamu aku tetap membutuhkanmu
Meski aku sering menyebalkan untukmu tapi aku selalu sayang kepadamu
Aku yakin engkapun begitu kepadaku.
Aku selalu yakin, bahwa apa yang kudapatkan darimu seperti apa yang kuberikan kepadamu.
Seperti sebuah nasehat yang pernah kubaca,
Kita akan mendapat pasangan seperti diri kita.
Dimana saat kita menjadikan diri kita pribadi yang baik,
Maka kita akan mendapat pasangan yang baik pula seperti kita.
Begitu juga sebaliknya...

Sayang...maaf ya, di hari istimewamu kali ini aku tidak bisa memberi hadiah apa-apa...
Dengan dalih ingin menemanimu menjalankan tugas, sebenarnya aku tak rela jika ada orang lain yang lebih dulu mengucapkan Selamat Ulang Tahun untukmu...
Hanya surat cinta yang bisa kuberikan untukmu sebagai hadiah ulang tahunmu dari-ku, yang bahkan mungkin sedikit terlambat aku berikan...

Niat hati, ku berikan tepat di hari ulang tahunmu, apadaya aku harus berusaha menidurkan anak-anak terlebih dahulu hingga akhirnya aku ikut terlelap ketiduran...
Maaf tak ada hadiah istimewa untukmu, karena seperti yang kamu tahu uang jatah belanja bulananku pun yang rencananya mau aku sisihkan untuk membeli kadomu, juga ikut terpotong untuk budget membeli tiket pesawat demi menemanimu di hari ulang tahunmu...
Apapun itu, aku cuma mau bilang Aku benar-benar sayang kamu, jadi tetaplah bersabar dengan istrimu ini yang kadang galaknya minta ampun... Aku masih berusaha belajar sabar darimu...😘
Btw, anyway busway...
ditunggu ya balasan surat cintanya...😍

Salam Sayang, Peluk Cinta, dan Cium dari Istrimu
Vety
😘
Cup cup cup mmmuach mmmuach ya...😍😂😚😘😁

3 comments:

  1. Replies
    1. Hahaha...romantis itu diperlukan...biar nggak kalah sama yang masih muda2 :D

      Delete
  2. Selamat ulang tahun ya, suami mba Vety :)

    ReplyDelete