Tuesday, February 21, 2017

Tahapan Mengajarkan Balita Cebok Sendiri

Sudah sejak umur 2 tahun sebenarnya si kakak mulai saya ajarkan toilet training agar bisa lepas pampers. Tapi saya sendiri malah belum kepikiran buat mengajarkan si kakak belajar mandiri ke toilet sendiri, karena pikir saya masih kecil ini. Nanti, lama-lama juga bisa. Tapi terus saya dihadapkan pada kondisi dimana sering kali si kakak heboh minta antar ke toilet, disaat saya sedang sibuk dengan hal lain. Cukup bikin nelangsa, kalau pas baru saja saya memposisikan diri menyusui si adik, si adik belum juga kenyang nyusu, tiba-tiba si kakak heboh minta ke toilet. Dari situ akhirnya saya mulai mencoba mencari tahapan apa saja yang harus saya persiapkan untuk mengajarkan balita saya bisa cebok sendiri.

Kapan Kita Bisa Mulai Mengajarkan Balita Kita Cebok Sendiri


Ternyata dari sekian banyak sharing di internet belum ada yang spesifik memberikan gambaran tahapan mengajarkan balita cebok sendiri. Kebanyakan tips yang diberikan merupakan tahapan untuk memulai toilet training, dimana saya sendiri juga pernah menulis tentang mengajarkan toilet training si kakak sebelumnya sebagai bahan pengingat saya ketika nantinya akan mulai mengajarkan toilet training untuk si adik.

Bersyukur saya mendapat gambaran tentang tahapan mengajarkan balita cebok sendiri dari Mbak Pitaka Anggritti (kami biasa memanggilnya mbak Gritti) yang memiliki background psikologi yang kebetulan satu grup dengan saya di kelas online matrikulasi Institut Ibu Profesional.

Dari yang dijelaskan mbak Gritti, karena tahapan cebok lebih rumit, maka biasanya bisa dimulai di usia 3 tahun, atau bisa juga jika tangan si anak sudah bisa menggapai area belakang (anus), maka latihan cebok sudah bisa dimulai.

Kalau melihat usia si kakak sekarang 3,5 tahun berarti seharusnya sudah saat yang tepat mengajarkan mandiri bisa cebok sendiri.

Sebenarnya tahapan mengajarkan cebok buang air kecil lebih mudah. Bisa dimulai saat anak mulai paham  dan bisa diajak berkomunikasi dua arah yang mungkin membutuhkan kalimat panjang. Hal ini dikarenakan saat melatihnya kita butuh memberikan instruksi yang panjang sembari terus memberikan contoh.

Untuk memberikan contoh, bisa dilakukan dengan mengarahkan anak menirukan gerakan tangan kita saat menceboki dia sebelumnya. Saat kita belum yakin bersih, sebaiknya kita tidak langsung mengambil alih untuk membantu membersihkan. Namun, kita bisa mengajak anak kita berdiskusi, misalnya dengan kalimat, "Menurutmu apa sudah bersih nak? Sepertinya cepat sekali, yuk kita ulangi biar lebih bersih".

Tambahan lainnya menurut Mbak Gritti, sebagai orang tua saat mengajarkan cebok sebaiknya kita mengenalkan area kemaluan dengan nama "kemaluan", bukan dengan istilah burung, titit, dsb agar anak bisa diberi pemahaman kenapa area tersebut disebut kemaluan. Tujuannya agar anak bisa memahami, bahwa area tersebut memang harus ditutupi. Tidak boleh dilihat apalagi dipegang orang, karena akan membuat kita malu, dan tidak nyaman.

Jadi untuk tahapan mengajarkan cebok kepada anak-anak, mengingat bak mandi di kamar mandi saya sedikit tinggi dan gayungnya berukuran besar, mungkin sebaiknya saya menyediakan bak kecil khusus yang bisa saya taruh dibawa agar mudah dijangkau oleh si kakak, dan gayung dengan ukuran lebih kecil, juga bisa dengan gambar yang menarik yang dipilih oleh anak saya sendiri agar mereka lebih tertarik belajar cebok sendiri.

Dari sharing tersebut, saya juga mendapatkan tambahan sharing dari mbak Sri Liana, dimana sebelum kita mulai maka sebaiknya ada beberapa hal yang harus kita pahamkan kepada anak tentang cebok, yaitu :

1. Tahapan
Sebelum anak belajar cebok, maka anak harus mengetahui BAK/BAB dengan cara dan tempat yang benar pada tempatnya. 

2. Cara
Setelah paham cara  BAK/BAB, maka tugas kita sebagai orang tua memandu sembari melihat prosesnya.
Untuk standart hasil akhir bahwa benar-benar bersih mengikuti standart kesucian, yaitu tidak berwarna, tidak berbau, tidak ada kotoran yang tersisa. Jika menggunakan sabun, maka pastikan tidak terasa licin. Kalau perlu tidak ada salahnya mencium tangannya, untuk memastikan bau yang tersisa.

3. Hal-hal yang penting pengetahuan seputar aurat/kemaluan dan kebersihan, kesucian.
Senada dengan yang disampaikan mbak Gritti, anak juga perlu tahu bahwa area kemaluan tidak boleh ditunjukkan atau dipegang oleh sembarang orang.
Selanjutnya anak diajarkan tentang suci, bersih yang berhubungan dengan kesehatan dan ibadah.

Untuk poin mengajarkan malu tersebut saya jadi ingat sebuah video kisah si Geni (video UNICEF) yang saya dapat dari share (melalui viral) di medsos tentang mengajarkan anak bagian-bagian yang tidak boleh dipegang oleh orang lain.


Setelah mendapat sharing tersebut, saya jadi mempunyai gambaran kenapa sebaiknya anak mulai diajarkan bisa cebok sendiri. Salah satunya agar nantinya ketika mereka memasuki usia sekolah, mereka sudah benar-benar mandiri tidak menggantungkan diri kepada orang lain, sehingga sebagai orang tua tentunya tidak perlu merasa was-was.

Saya pun mulai ada gambaran tahapan apa saja yang harus saya persiapkan. Kemudian saya buru-buru sharing dengan suami (lebih tepatnya mengajukan proposal) untuk minta dibelikan bak dan gayung kecil untuk memulai start mengajarkan si kakak cebok sendiri.

Saya jadi ingat salah seorang kerabat dulu pernah menyarankan saya untuk menyekolahkan anak saya saja, karena nanti enak tiba-tiba anak-anak sudah bisa lepas pampers. Saat itu saya belum menyadari ternyata menjadi orang tua itu memang memiliki tanggung jawab yang besar. Saya sempat berpikir, nanti kalau sudah waktunya pasti anak-anak bisa sendiri. Jelas pikiran yang salah, bagaimana anak-anak bisa sendiri kalau kita sebagai orang tua tidak pernah mencontohkan atau mengajarinya??? Lalu saya justru bersyukur karena bisa menikmati proses tersebut. Proses mengajari anak-anak toilet training, dimana ketika si kakak berhasil lepas pampers karena usaha kami, disitu kami benar-benar mendapatkan sebuah kepuasan tersendiri.

Untuk step berikutnya, PR untuk kami akan belajar mengajarkan anak-anak cebok sendiri, agar bisa lebih mandiri ketika sudah memasuki usia dimana kita tidak bisa selama 24 jam full mendampinginya terus menerus.

1 comment:

  1. mengajarkan TT pada anak memang harus konsisten ya mba...

    ReplyDelete