Thursday, February 9, 2017

Terus Berproses Menjadi Ibu Profesional #Belajar Menjadi Lebih Baik

Menjadi ibu bukanlah sebuah perkara yang muda, karena ibu adalah salah satu pondasi keluarga yang berperan paling penting bagi lahirnya generasi selanjutnya. Saat ini ada banyak ibu didunia yang berlomba-lomba untuk menjadi lebih baik dari hari kehari, agar bisa memantaskan diri menjadi ibu yang teladan dan selalu bisa dibanggakan bagi anak-anaknya dan suaminya kelak. Saya pun masih harus banyak belajar.



Beberapa diantaranya saya belajar untuk bisa mengelolah emosi saya agar lebih sabar menghadapi anak-anak. Begitu juga dengan suami, saya berusaha selalu memupuk romantisme. Seperti sebuah pesan dari ibu saya dulu sebelum saya menikah, bahwa kebahagiaan itu tak bisa dicari, tapi bisa ditumbuhkan. Maksud beliau, saat saya menikah maka jangan pernah saya "mencari-mencari" kebahagiaan, karena semakin kita mencari maka kita tak akan bisa menemukannya. Apalagi jika kita membanding-bandingkan kebagahagiaan kita dengan keluarga lain, maka kita akan merasa selalu tidak puas dengan kebahagiaan keluarga kita. Seperti sebuah pepatah, bahwa rumput tetangga pasti terlihat lebih hijau. Padahal kita tak pernah tahu usaha apa saja yang sudah mereka perjuangkan agar rumputnya tetap hijau.

Dengan alasan tersebut saya selalu berusaha memupuk romantisme antara saya dengan suami dengan berbagai cara. Misalnya dengan menghabiskan waktu weekend bersama, yang pada akhirnya berujung jalan-jalan nge-mall saja, dan sering berakhir dengan hal yang membosankan, karena ujung-ujungnya isi dompet sedikit terkuras. Sehingga saya harus mencari cara lain dengan menjadi pasangan yang sedang dimabuk asmara. Salah satunya dengan mencoba mengirim surat cinta.

Beberapa waktu lalu sebenarnya saya sudah pernah membuat surat cinta terbuka untuk suami. Saat itu saya membuat surat cinta serentak dengan beberapa teman di komunitas The Sundulers. Sayangnya saat itu surat cinta yang saya buat justru tidak pernah saya tunjukkan secara langsung kepada suami, karena saya terlalu malu untuk mengetahui responnya setelah membaca surat cinta saya tersebut. Meski demikian saya selalu berharap suami tanpa sengaja membacanya.

Hingga, akhirnya saya memberanikan diri untuk menulis surat cinta di hari ulang tahunnya yang sengaja saya tulis di sini, kemudian memberikan langsung link nya kepada suami melalui whatsapp. Ternyata hal tersebut membuat saya cukup berdebar-debar nderedeg menanti respon darinya.

Bayangan saya sih hanya bakal mendapat respon √√ (centang dua berwarna biru), Alhamdulillah saya mendapat balasan pesan whatsapp "Love you too" dengan beberapa emoticon cinta, yang meski singkat padat dan jelas cukup membuat saya bersyukur dan bisa tersenyum.

Kalau boleh jujur, maunya sih dapat balasan surat cinta yang panjang dan romantis juga. Ah tapi ya sudahlah dapat kalimat Love you too juga sudah bisa bikin senangnya luar biasa, daripada hanya dibaca saja. Saya jadi ingat dulu suami nggak pernah bisa buat surat cinta, jadi ujung-ujungnya hanya nulis kalimat aku cinta kamu sekitar 1 buku penuh.

Selain mendapat balasan whatsapp yang tidak terlalu bertele-tele, saya juga mendapat bonus dibangunkan dengan bisikan romantis dipagi  hari. Kemajuan buat kami menurut saya, maklum biasanya seringnya saya yang bangun lebih dulu sembari heboh tereak-tereak kesana kemari karena kesiangan.

Tak hanya memupuk romantisme dengan suami, kami pun berusaha untuk selalu saling mengingatkan dan berdiskusi tentang keunikan yang dimiliki oleh anak-anak kami. Sehingga jika dilihat dari sisi positifnya, kami bisa mengambilnya sebagai potensi yang dimiliki oleh mereka yang mungkin jika diasah dan diarahkan dengan benar bisa menjadikan sebuah keberhasilan bagi mereka.

Meski kakak adik memiliki usia yang tidak terpaut jauh, ternyata kami melihat mereka memiliki potensi yang unik dan menarik serta berbeda satu sama lain.

Seperti si kakak yang menurut saya cenderung sedikit pemalu jika berada ditempat umum, tapi adakalanya tetap berani show off ketika kami memberinya support/dorongan. Selain itu menurut kami kakak memiliki potensi kosa kata yang luar biasa. Suami dan saya sering dibuat kuwalahahan olehnya saat satu persatu pertanyaan mulai mengalir keluar dari mulutnya. Belum lagi dengan potensi daya ingatnya yang luar biasa menurut kami. Bahkan hal sekecil apapun yang telah berlalu cukup lama, ternyata cukup bisa membekas di memorinya.

Beberapa waktu lalu bahkan saya sempat dibuat pusing dengan pertanyaannya "Kenapa mamam marah sama kakak? Kenapa mamam muka marah? Kakak sayang mamam". Begitu juga dengan memorinya, saat saya iseng berkata "Kakak, besok ulang tahun yayah lo!". Kemudian dia dengan semangat bertanya, "Berarti besok bikin happy birthday dari buah banyak ya mam?". Yah sudah setahun berlalu saya memberikan surprise berupa buah yang saya tumpuk-tumpuk menyerupai kue tart, ternyata kakak masih cukup mengingat pengalaman tersebut. Padahal saat itu usia kakak baru sekitar 2,5 tahun. Selain itu menurut saya si kakak ini memiliki potensi kreatif dan imajinatif. Hal ini biasanya saya perhatikan saat dirinya sedang bermain lego, biasanya tanpa ada yang mengajarkan dia akan berimajinasi seolah-olah dia sedang bermain masak-masakan atau pura-pura berjualan es krim menggunakan media lego.


Serupa dengan si kakak, adik pun sebenarnya juga memiliki sisi pemalu saat berada di tempat umum bedanya si adik akan semakin malu dan sembunyi jika diminta show off didepan banyak orang. Tak tanggung-tanggung si adik akan bad mood jika kami memaksanya. Untuk mengembalikan moodnya menjadi baik biasanya butuh waktu sedikit lama. Namun, meski demikian adik menurut saya memiliki potensi bisa menarik perhatian lingkungan sekitar karena keaktifan dan keberaniannya dalam menaklukkan permainan seperti perosotan atau panjat-panjatan yang lumayan tinggi. Sehingga biasanya saya mencoba untuk memberikan pengertian kepada lingkungan sekitar untuk membiarkannya, karena jika kita mencoba mendekatinya dia akan malas melanjutkan keseruannya.

Selain itu menurut saya si adik memiliki potensi kreatif dan memiliki inisiatif. Hal ini saya lihat ketika si adik menghadapi tantangan kesulitan memanjat kasur yang mungkin terlalu tinggi untuknya, maka dia akan mencari akal agar bisa menaikinya. Begitu juga saat bermain permainan memanjat. Selama mood dia baik maka dia akan berusaha sekuat tenaga menaklukkan permainan tersebut. Begitu juga saat melihat si kakak rewel maka si adik biasanya akan segera memeluk si kakak, atau ketika si kakak mengeluh haus maka si adik memiliki inisiatif untuk mengambilkan sang kakak air putih. Satu hal lagi menurut saya si adik memiliki potensi keras kepala jika merasa apa yang dilakukannya benar, seperti keinginannya untuk terlihat mandiri seperti si kakak. Sebenarnya untuk poin ini mungkin serupa dengan potensi yang saya miliki.

Seperti yang selalu disampaikan oleh suami kepada saya, saya juga memiliki sifat keras kepala dan egois untuk mempertahankan pendapat yang saya anggap benar. Seperti contohnya sifat keras kepala saya dalam mempertahankan anak-anak saya agar bisa mendapat ASI setidaknya selama 2 tahun, maka saya sanggup mengorbankan rasa tak nyaman.

Seperti yang disampaikan oleh suami, potensi keras kepala dan egois ini sebenarnya bisa kami ambil dari sisi positifnya. Menurut suami tak masalah kita menjadi keras kepala dan egois agar bisa mempertahankan suatu hal yang memang benar. Meski demikian, kami dituntut untuk bisa menempatkan diri kapan kami bisa egois dan keras kepala. Jangan sampai saking egois dan keras kepalanya kami menjadi boomerang untuk kami.

Selain itu saya sebenarnya termasuk tipe kurang pede dan sedikit pemalu. Namun, adakalanya saat kepepet saya pun berani pede. Mungkin ini yang dinamakan The Power Of Kepepet. Selain itu menurut suami, saya sebenarnya juga memiliki potensi kreatif, namun potensi tersebut menurutnya tak bisa terlihat karena saya sering merasa kurang pede. Menurutnya, seharusnya saya bisa lebih mengasahnya agar potensi tersebut benar-benar bisa muncul.

Potensi lainnya dari diri saya, mungkin bisa dibilang saya bisa menyampaikan segala dengan sangat meyakinkan. Hal ini sebenarnya sudah diamini oleh 3 orang terdekat saya yang berbeda, yaitu suami saya, ibu saya, dan salah seorang sahabat saya bernama nule begitu biasa saya memanggilnya. Bahkan suami saya sering berkata seharusnya saya berpotensi menjadi seorang marketing, karena apa yang saya sampaikan selalu bisa menarik minat orang sekitar saya untuk ikut mencobanya. Apalagi saya tipe orang yang suka mencoba hal-hal baru. Serupa dengan pendapat ibu saya, dimana beliau pernah mengamini bahwa dalam darah saya mengalir darah pedagang dari kakek dan ayah saya. Dulu saat saya kuliah, pernah sekali saya mencoba berdagang daster sembari kuliah. Sayangnya oleh orang tua, keputusan saya tersebut ditentang. Dengan alasan jika saya sudah merasakan nyamannya memegang uang sendiri maka saya akan terlena dan melupakan kuliah saya. Sehingga saya pun diminta berhenti untuk tidak melanjutkan keseruan saya berdagang.

Potensi lainnya, saya termasuk orang yang suka menghabiskan banyak kata untuk bercerita. Sehingga untuk menyalurkannya saya suka untuk menuliskannya. Beri saya beberapa kata, maka saya bisa mengolahnya menjadi sebuah tulisan yang ingin saya ceritakan. Saya tidak bisa puas menjelaskan suatu hal secara singkat, karena menurut saya akan banyak hal yang belum tersampaikan jika tidak saya sampaikan secara mendetail, panjang kali lebar.

Untuk visi misi saya dan suami sebenarnya memiliki perbedaan yang sangat jauh dari visi misi orang tua kami. Dimana seperti yang kami tangkap selama ini, mindset keluarga kami selalu berpatokan orang berhasil adalah orang yang memiliki pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri (PNS), dokter, apoteker, tenaga kesehatan, pekerja kantoran, dsb.

Sebenarnya saya bersyukur terlahir ditengah-tengah keluarga yang memiliki prinsip tersebut. Sehingga kami bisa menilai plus minusnya, dan membuat kami lebih terbuka memiliki sudut pandang dari sisi lain tentang goal keberhasilan bagi anak-anak kami kelak.

Awalnya saya sempat merasa tersesat seperti tak mempunyai tujuan, karena saya sendiri bahkan dulunya tak bisa mengenali bakat dan minat saya, atau mungkin lebih tepatnya saya tak mempunyai rasa percaya diri untuk mengakui semua potensi yang saya miliki, karena sudah terlalu lama potensi tersebut terkubur dalam-dalam. Namun, seiring dengan waktu, akhirnya saya mulai menyadari alasan-alasan mengapa Allah menghadirkan keluarga kecil kami disini.

Saya tak menyalahkan orang tua saya yang memaksa saya agar saya mengambil jurusan IPA dan farmasi, karena saya tahu mereka menyarankan hal tersebut dengan niat demi kebaikan saya. Namun, saya belajar banyak dari hal tersebut, bahwa apapun itu bisa saya paksakan kepada anak-anak saya, tapi akan percuma jadinya jika hati anak-anak saya tidak "klik" dengan paksaan kami. Yang kami kuatirkan justru mereka akan semakin kehilangan jati diri, sehingga membuat potensi yang seharusnya bisa kami asah secara maksimal dan membuat mereka sangat bersinar justru tidak pernah bisa muncul.

Ini sebenarnya hampir sama dengan nasehat dari sebuah buku parenting Ayah Edi yang pernah saya baca, dimana disitu kurang lebihnya dijelaskan, bahwa ibarat seekor ikan yang jago berenang maka mereka tentu akan sangat kesulitan jika harus dipaksa belajar terbang. Begitu juga sebaliknya seekor burung yang jago terbang tentu akan merasa kesulitan jika dipaksakan untuk belajar berenang. Menurut saya ini bisa jadi semacam pembunuhan potensi jika kita memaksakan anak-anak melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan minat bakat, kemampuan dan potensinya.

Tidak mudah memang mengingat kami masih berada dilingkungan yang menilai suatu keberhasilan dari nilai atau angka akademik. Ada banyak rasa was-was yang sering muncul dibenak saya. Tak dipungkiri masih sering muncul rasa kuatir langkah yang akan saya ambil salah. Bagaimanapun saya menyadari bahwa keberhasilan anak-anak tentu tergantung dari bagaimana langkah orang tua yang diambil sejak dini. Bayi lahir ibarat sebuah kerta putih yang masih bersih, dimana nantinya tergantung bagaimana kita menorehkan kisah diatas lembaran kertas putih tersebut hari demi hari.

Dengan alasan  tersebut maka saya selalu mengingatkan diri saya untuk harus terus mau belajar berproses menjadi ibu yang lebih profesional dari hari ke hari. Begitu juga dengan suami, kami sepakat untuk terus saling mengingatkan akan visi misi keluarga kecil kami. Selain itu, suami dan saya juga sepakat untuk terus berusaha belajar menggali potensi yang dimiliki oleh anak-anak kami. Sehingga kedepannya kami lebih bisa mengasahnya lebih terarah lagi. Goal kami, anak-anak kami kelak menjadi generasi yang bersinar layaknya berlian yang selalu menjadi batu paling istimewa, serta membanggakan seperti seorang putri yang mulia, dan tetap memiliki akhlak yang baik dalam segala tindak tanduknya.


***Artikel ini ditulis, terinspirasi dari tugas NHW#3 yang diberikan dikelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional yang sedang diikuti oleh saya sebagai penulis blog sundulerparents ini.

2 comments:

  1. Setujuuuuu, kebahagiaan itu bukan dicari. Terus bahagia ya mbaaa. Create our own happiness.

    ReplyDelete
  2. Mba vety ikut IIP juga ya... Wahhh kereenn...

    Tetep semangat selalu ya mba buat jd best mom buat si kecil. Aku juga mash banyak belajar. Yang paling susah itu belajar mengontrol emosi kita sendiri dihadapan anak..

    ReplyDelete