Tuesday, March 14, 2017

Belajar Menjadi Ibu Rumah Tangga Produktif

When I Become a Mother, Salah Satu Komik Yang Menginspirasi Saya Untuk Menjadi Ibu Baik Yang Profesional
Sebenarnya dengan beberapa alasan pada akhirnya saya memutuskan untuk mendedikasikan diri full di rumah untuk suami dan anak-anak. Sehingga bisa dibilang untuk saat ini, ibu rumah tangga menjadi pilihan saya. Sayangnya terkadang pilihan tersebut cukup membuat saya BaPer (keBawa Perasaan). Apalagi melihat teman-teman diluar sana banyak yang memiliki karir sukses, dan memiliki kemandirian materi tanpa harus mengandalkan pemasukan dari suami. Belum lagi kebutuhan yang mau tak mau tanpa kita sadari terus meningkat. Lalu seorang teman pernah berpendapat, sebagai ibu rumah tangga kita seharusnya tetap "produktif", sehingga memiliki kemandirian finacial juga. Tujuannya agar hidup kita bisa terus berjalan seandainya sewaktu-waktu pasangan kita tidak bisa lagi kita andalkan.


Menurutnya tak kurang, banyak wanita diluar sana yang hidupnya jadi hancur morat marit, saat tiba-tiba lelakinya kabur dengan wanita lain. Mereka yang biasanya menggantungkan diri ke pundak suami dalam hal materi tentu menjadi limbung tak karuan. Belum lagi ketakutan-ketakutan lainnya. Naudzubillahimindzalik ...

Konteks ibu rumah tangga produktif disini saya menangkap dari sudut pandangnya, berarti meskipun menjadi ibu rumah tangga, kita juga harus punya pekerjaan sampingan yang bisa dikerjakan dari rumah sembari mengasuh anak.

Saya pun merenungkan hal tersebut, tapi saya merasa jika saya harus produktif menghasilkan uang maka lagi-lagi saya harus mengorbankan sedikit prioritas saya untuk menghandle anak-anak saya. Anggap saja semisal saya ingin berbisnis online shop maka mau tak mau untuk keberhasilan saya diawal saya tidak bisa jauh dari gadget. Nantinya bisa-bisa saya jadi terlalu fokus dengan gadget, dan anak-anak jadi terlantar.


Seperti nasehat suami saya dulu, kalau mau kerja mending kerja beneran di luar, jadi saat kita keluar rumah anak-anak tau kita memang sedang bekerja. Berbeda jika saya di rumah lalu seharian utak atik pegang gadget pasti mereke mengira saya hanya sedang bermain HP.

Selain itu saya pasti akan merasa keteteran jika harus mengirim paketan sembari membawa anak-anak. Jangankan kirim paketan berbungkus-bungkus, mau kirim satu dua biji paketan untuk teman saja saya minta bantuan suami. Yap, alasannya saya nggak bisa bawa motor, lah kalau bawa mobil tempat parkirnya susah saya orangnya panikan #fix banyak alasan!

Pernah saya sharing dengan suami, bagaimana kalau saya bisnis online shop nanti kirim paketannya minta tolong dia. Dan fix saya ditolak mentah-mentah. Alasannya dia sendiri kerjaan udah banyak, berangkat pagi (sering) pulang malam (untung-untung nggak pulang pagi).

Intinya setelah diskusi panjang suami maunya saya di rumah saja full handel anak-anak nggak usah neko-neko. Nasehat suami sih, boleh saya punya bisnis tapi yang nggak boleh menomer duakan anak dan nggak boleh merepotkan kesibukan (kewajiban) utama dia 😑

Sempat kepikiran bagaimana dengan bisnis makanan, tapi saya cuma bisa ketawa meringis mengingat boro-boro bisnis makanan, masak saja saya amburadul nggak karuan.

Jadi ditengah kegalauan, tiba-tiba saya seperti digiring mendapat jawaban atas kegalauan saya. Tiba-tiba saya dikenalkan dengan Institut Ibu Profesional (IIP) oleh sahabat saya Mbak Angie Izzaty (biasa saya panggil mbak Enji).

Saya pun semangat mengikuti setiap kelas matrikulasi IIP, sebab disana saya merasa seperti diarahkan untuk menemukan potensi saya. Jika dulu saya sering merasa, apa iya ada manusia yang dilahirkan ke dunia ini tanpa bakat dan menjadi pribadi yang tidak berguna, maka di IIP saya dilatih untuk menggali pertanyaan pada diri saya sendiri, "Kenapa Allah melahirkan saya di dunia ini? Seharusnya tidak ada yang sia-sia akan apa yang diciptakan oleh Allah SWT. Sehingga saya pun harus yakin bahwa saya bukan pribadi yang useless, hanya mungkin saya belum menemukan dimana letak potensi saya."

Bahkan Sejak Ikut Kelas IIP, Saya Jadi Semangat Belajar Jadi Lebih Baik. Salah Satunya Bikin Cemilan Untuk Anak-Anak. Padahal Dulu Paling Males Ke Dapur😅
Setiap tugas NHW (Nice Homework) yang diberikan oleh kelas matrikulasi IIP mau tak mau sering membuat hati dan pikiran saya ketabok-tabok. Sesekali saya sudah merasa benar berada di jalur yang tepat, tapi tak jarang berulang kali saya pun merasa sepertinya masih kurang pas jalur saya, sehingga saya tetap harus berproses dari hari ke hari.

Saya pun seperti dituntut harus bisa Belajar Menjadi Manajer Keluarga Yang Andal.
Sebagai istri dan ibu tentunya tugas utama saya adalah menjadi manajer keluarga. Untuk menjadi manajer maka mau tak mau saya harus bisa diandalkan oleh keluarga dalam berbagai hal. Saya pun kemudian menyadari untuk menjadi manajer keluarga maka saya harus menjadi ibu rumah tangga yang produktif, saya juga belajar tidak banyak mengeluh, yah meskipun di poin ini saya masih banyak ngeluh kewer-kewer ke suami.

Untuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang produktif maka saya harus berproses melalui Tahapan Menuju Bunda Produktif.

Pada tahapan ini pikiran saya sedikit banyak jadi terbuka tentang makna Bunda Produtif yang sesungguhnya.
 
Beberapa waktu lalu saya mendapat masukan sharing dari mbak Evi Firdausi salah satu fasilitator di kelas matrikulasi IIP SBM 2. Mbak Evi memberi pandangan bahwa pada dasarnya kita sebagai wanita tidak masalah memiliki konsep mandiri financial, punya usaha dsb, asalkan suami dan anak-anak oke (memberi ijin). Namun yang perlu digaris bawahi niatkan kemandirian financial kita agar bisa membawa manfaat. Misal dengan memiliki kemandirian financial, kita jadi memiliki tabungan lebih, sehingga kita bisa infaq lebih banyak, membantu orang  tua, tetapi bukan untuk mengkhawatirkan hal-hal diluar kuasa kita.

Menurut mbak Evi, toh Siti Khadijah juga tetap berdagang untuk bisa mensupport Rasul berdakwah.

Tak sampai disitu kegalauan pertanyaan-pertanyaan saya tentang ibu rumah tangga produktif seperti mendapat jawaban lagi, saat bu Septi Peni menjadi guest star di kelas IIP SBM 2.

Dari bu Septi saya mendapat beberapa poin yang membuka sudut pandang saya tentang bunda produktif.

Sebagai Istri dan Ibu yang ingin menjadi profesional tentu kita tetap harus produktif. Bunda Produktif yang profesional adalah bunda yang berikhtiar menjemput rizqi tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga. Namun, jawaban ini menurut saya tidak serta merta bisa ditelan mentah-mentah begitu saja, karena masih ada beberapa poin selanjutnya yang patut saya pertimbangkan.


Seperti jawaban bu Septi tentang Indikator profesional. Dimana kita bisa disebut sebagai Ibu Profesional jika kita bisa menjadi kebanggaan keluarga. Sehingga seperti yang dijelaskan oleh bu Septi pertanyaan yang harus dilemparkan untuk diri kita saat ini "Apakah diri kita bahagia dengan kondisi saat ini, apakah suami dan anak-anak bangga dengan diri kita saat ini? kalau iya lanjut, kalau tidak, maka kita harus berubah."


Jadi tugas kita sebagai Bunda Produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban "Dari Mana" dan "Untuk Apa" atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.


Nasehat lainnya dari Bu Septi bahwa Allah berjanji menjamin rizqi kita, maka melalaikan ketaatan pada-Nya, mengorbankan Amanah-Nya, hanya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah sebuah kekeliruan besar.

Meninggalkan anak dan keluarga disini tidak harus selalu dimaknai fisik, secara psikis juga bisa. Misal apakah dengan bekerjanya kita di luar akan menambah kemuliaan anak-anak kita, atau justru mereka terkorbankan?

Sehingga seandainya kita menjadi ibu yang bekerja di ranah publik, maka bagaimana kita bisa benar-benar memanage diri kita, pikiran kita dan hati kita untuk anak-anak.

Dari semua penjelasan bu Septi dan sharing dari mbak Evi tersebut, saya menjadi memiliki sudut pandang tentang makna dari bunda produktif.

Makna bunda produktif bukan sekedar tentang seorang ibu yang bekerja untuk mendapatkan "penghasilan" agar tidak dianggap sebagai "pribadi yang useless".

Namun menurut saya, seorang bunda produktif adalah seorang ibu yang bisa dibanggakan baik oleh anak dan suaminya dengan apapun yang dilakukannya, tanpa melupakan tugas (fitrah) utamanya sebagai ibu dan istri.

Untuk sampai tahapan bisa dibanggakan tersebut saya tidak boleh merasa useless sehingga harus bisa menemukan potensi kekuatan dari dalam diri saya, yang bisa di blow up keluar agar bisa menunjang diri saya mencapai mimpi menjadi ibu baik yang profesional dan hebat.

Sehingga apapun pilihan saya untuk bisa menjadi produktif tidak ada yang salah selama itu masih dalam konteks niat dan tujuan yang mulia. Tidak sekedar mencari "kemandirian finansial" demi "materi" semata.

Seperti nasehat dari Bu Septi,
Bersungguh-sungguhlah kita di dalam, maka kita akan keluar dengan kesungguhan itu. Selesaikan urusan domestik kita terlebih dahulu, maka kita akan bisa masuk ke ranah publik dengan bahagia. Be Professional, Rejeki Will Follows.

Oh ya dalam sesi tanya jawab di kelas matrikulasi bersama bu Septi tersebut sempat ada pertanyaan dari salah seorang teman kurang lebihnya tentang bagaimana dengan pengaturan waktu ibu rumah tangga yang berbisnis online. (Ini seperti mewakili menjawab pertanyaan saya beberapa waktu lalu yang ingin menjalankan bisnis online shop).

Bu Septi menjawab, jika kita memiliki bisnis online shop, maka kita harus tetap bisa menentukan jam kerja dan mematuhinya. Seandainya saya sudah menetapkan online 4 jam, maka saya harus menentukan waktunya dan minta ijin ke anak-anak. Jika sudah 4 jam berlalu maka saya harus segera meng-off kan kembali hp saya. Nasehat Bu Septi, kita tak perlu khawatir akan kehilangan, customer, karena anak-anak kita tak ternilai harganya dibandingkan dengan jumlah keuntungan yang kita dapatkan di dunia jualan online.

Saya jadi ingat sharing sahabat saya Rika Owner Bisnis Online Shop Omah Jilbab yang sama-sama juga sedang menempuh kelas lain matrikulasi IIP, menurutnya mungkin mencari admin bisa menjadi alternatif jalan keluar kesibukannya menghandle bisnisnya sembari tetap mencurahkan seluruh waktunya untuk anak-anaknya.

Lalu bagaimana dengan saya? Sementara ini mungkin tahapan saya menjadi bunda produktif baru dalam tahap sekedar menulis apa yang bisa saya tulis dari inspirasi kelas matrikulasi institut ibu profesional yang sedang saya ikuti sekaligus menulis hal-hal lainnya yang saya anggap bisa bermanfaat untuk semua.

Semoga kedepannya semua tulisan saya ini bisa bermanfaat dan bisa mendatangkan keberkahan bagi keluarga kami juga untuk semua teman-teman yang membacanya. Yah, saya yakin Allah menciptakan saya terlahir kedunia ini bukan tanpa alasan. Tidak ada ke sia-sia an dalam semua ciptaan-Nya.

Tinggal bagaimana kita melihatnya dan memaknainya dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda.

2 comments:

  1. Semangaaat mbaaak
    We can do it , what ever we choose what we want to be

    ReplyDelete
  2. sebagai ibu rumah tangga, saya pun kadang dihantui ketakutan-ketakutan seperti itu. Ya, saya pun mencoba menjadi bunda produktif untuk mengurangi keresahan itu :)

    ReplyDelete