Friday, March 3, 2017

Belajar Menjadi Manajer Keluarga Yang Handal #Berproses Menjadi Lebih Baik

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelum-sebelumnya, saat ini saya sedang mengikuti kelas matrikulasi di Institut Ibu Profesional. Sejak awal memang saya mengikuti program tersebut untuk mengupgrade diri saya menjadi istri dan ibu yang lebih baik untuk keluarga kecil saya. Ada banyak PR atau yang biasa disebut dengan NHW diberikan setiap minggu NHW nya cukup membuat perasaan saya teraduk-aduk. Puncaknya ketika saya merasa sepertinya NHW saya tidak berjalan seperti yang saya rencanakan.

Salah Satu Rundown Kegiatan Harian
Sebagai Indikator Keberhasilan

Kemudian saya pun merasa rapuh dan down merasa hilang tujuan. Jika harus merevisi NHW-NHW, saya tidak tahu harus mulai dari mana, karena menurut saya apa yang saya tuliskan itu yang nantinya paling mendekati bisa saya praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika saya turunkan lagi standart/target indikator saya kuatirkan, saya akan kembali ke titik nol lagi, dan saya akan stagnan tidak berubah menjadi lebih baik. Sedih? Iya! Bahkan ketika NHW ke 6 muncul saya sempat merasa hopeless. Hingga suatu ketika saya merasa ada banyak kejadian-kejadian di sekitar saya menyentil saya, dan mengatakan kepada saya bahwa saya tidak boleh seperti ini. Kemudian saya pun seperti mendapat kekuatan untuk bisa bangkit berproses menjadi ibu baik yang profesional, salah satunya dengan ingin belajar menjadi manajer keluarga yang handal.

Untuk bisa menjadi manajer keluarga yang handal, maka setidaknya saya harus bisa memilih 3 aktivitas yang paling penting dan 3 aktivitas yang paling tidak penting. Setelah saya pikirkan dengan seksama, maka untuk saat ini 3 aktivitas yang saya anggap paling penting, yaitu :
1. Menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga kecil kami, agar kami bisa lebih bisa menguatkan visi misi bersama.
2. Menulis. Selain untuk melepaskan stres, saya ingin menghasilkan sebuah karya tulisan yang saya tuliskan dalam sebuah buku agar bermanfaat untuk semua.
3. Membaca. Untuk bisa menulis dengan baik, maka saya harus terus mengupgrade ilmu menulis saya dengan banyak membaca.

Sedangkan 3 aktivitas yang menurut saya kurang penting, diantaranya :
1. Bermain gadget. Bermain gadget ini bisa berbagai macam, bisa sekedar iseng-iseng berselancar di dunia maya, bisa juga terkadang saya mencari-cari info yang saya sendiri terkadang terjebak hilang arah, tak tahu apa yang harus saya cari. Akhirnya ujung-ujungnya salah malah ngerumpi ngalor ngidul nggak jelas di dunia medsos dan terjebak dalam ketidak berdayaan jauh dari gadget yang secara tidak langsung jadi merenggut privasi saya πŸ˜•
2. Mantengin medsos. Adakalanya saat bosan saya sering membuka medsos, tapi lagi-lagi saya nggak tau tadi mau ngapain.
3. Nonton TV.

Sayangnya saya merasa ternyata selama ini waktu saya lebih banyak habis di kegiatan yang menurut saya kurang penting. Sehingga disini saya harus mulai meluruskan niat saya untuk fokus kembali, apa prioritas yang harus saya utamakan.

Baru-baru ini ada kejadian yang semakin menyentil perasaan saya, dimana buah hati salah satu sahabat disebuah komunitas diambil kembali oleh Allah SWT setelah beberapa minggu terlahir kedunia. Saya membayangkan saja tak sanggup. Saya benar-benar ikut merasa sedih. Lalu saya jadi menangis dan ingin memeluk anak-anak saya, terutama si adik yang masih ASI dan selama ini entah tanpa sengaja atau tidak sering saya abaikan, karena keperluan saya lainnya. Padahal seperti janji saya kepada suami, anak-anak merupakan prioritas utama!

Meski demikian suami juga memberikan jalan dan support penuh jika saya ingin menulis, sehingga kami memiliki kesepakatan suami akan mengambil alih menemani anak-anak ketika saya sedang ingin fokus menulis.

Sayangnya beberapa hari ini suami sering disibukkan dengan pekerjaannya, berangkat pagi pulang malam. Hal ini tentu mempengaruhi target indikator keberhasilan yang sudah saya tentukan untuk diri saya. Salah satunya yaitu menentukan waktu tidur maksimal dimalam hari, dan waktu bangun dipagi hari. Dengan kesibukan suami yang sering pulang larut, bahkan pernah sekali pulang pagi, membuat jadwal-jadwal tersebut banyak meleset.

Contoh gampangnya, ketika saya sudah menentukan target akan mulai menulis pukul sekian dan berakhir pukul sekian agar saya bisa tidur lebih awal dan memiliki waktu pillow talk yang lebih berkualitas dengan suami, ternyata suami melewati batas jadwal yang saya tentukan. Sehingga jadwal seharusnya dimana saya bisa menulis terganggu dengan kehebohan anak-anak saya. Terutama untuk si adik yang saya lihat dia sepertinya memang sengaja cari perhatian kepada saya. Jika saya sudah mulai membuka laptop saya, karena merasa anak-anak sudah teralihkan dengan hal lain, ternyata si adik langsung tersadar dan mulai menggelayut manja kepada saya, paling sering dia tiba-tiba minta nenen. Padahal belum sampai 30 menit yang lalu adik sudah minta nenen.

Pada akhirnya saya-pun sempat berdebat sesaat dengan suami, karena saya merasa support yang dijanjikan oleh suami kepada saya hanya sebatas mimpi belaka. Saya pun sempat nekad menulis sembari menyusui, hasilnya saya tidak bisa fokus menulis. Sebaliknya saat saya mencoba mengalihkan si adik, tetap saja tidak berhasil. Fix saya down saat itu.

Hingga akhirnya saya mendapat sebuah pencerahan dari salah satu buku berjudul Ubah Lelah Jadi Lillah (Penulis : Dwi Suwiknyo, Penerbit : Genta Hidayah), dimana disitu pikiran saya seperti diarahkan, sebenarnya apa sih tujuan saya menulis, apa hanya untuk melepas stres, mencari prioritas, atau ridha Allah SWT? Kenapa saya bahkan sampai bela-belain "memaksa" mengabaikan anak saya yang masih ASI. Alih-alih saya berpikir kan harusnya adik sudah tidak terlalu sering nenen karena 1,5 bulan lagi sudah lepas ASI, kenapa saya tidak berpikir justru karena tugas memberikan ASI kepada si adik kurang 1,5 bulan harusnya saya memberikan "servis" ASI terbaik untuk si adik!

Coba bayangkan posisi sahabat yang baru kehilangan buah hati tadi, apa saya bisa tega mengabaikan anak-anak? Disini saya sungguh merasa berdosa kepada anak-anak saya!

Setelah membaca saya sedikit mendapat pencerahan, salah satunya untuk apa saya jungkir balik nggetu nabra-nabrak nulis dengan menarget diri saya, sehari harus bisa nulis sekian halaman, tapi saya bahkan mengabaikan prioritas utama saya sebagai ibu?! Saya pun mulai menata hati saya. Saya menyadari bahwa tidak semua prioritas bisa saya kerjakan bersama-sama. Mungkin bisa saja, tapi tentu akan menyebabkan tekanan stres tingkat tinggi. Sehingga saya mulai mencoba belajar memilah-milah mana-mana saja prioritas yang paling penting saat ini? Jika memang semua penting maka saya harus bisa memilih prioritas yang paling diatas prioritas lainnya!

Saya ingin bisa jadi ibu baik yang profesional yang layak dibanggakan oleh suami dan anak-anak. Namun, saya juga ingin bisa menulis sebuah buku, padahal untuk menulis sebuah buku saya harus membiasakan membaca, dan jika saya ingin menulis sebuah buku maka sebaiknya saya punya target naskah selesai dalam waktu 1,5 bulan. Terus saya juga punya target mengalahkan diri sendiri untuk bisa menulis di blog one day one article. Dengan rundown jadwal harian saya yang menargetkan saya harus tidur jam 22.30 selambat-lambatnya jam 23.00 dan bangun jam 3 pagi hari selambat-lambatnya jam 4 pagi, saya jadi pengen pinjem bahasa yang sering digunakan sahabat-sahabat saya ketika mengalami kebingungan, "Terus piye jal coba? Njalukmu sing endi disik nduk?" πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Terus saya ngomelin diri sendiri, kapan saya handel anak-anak full? Kapan saya harus baca? Kapan saya harus nulis? Kapan saya harus nguber-nguber deadline ngalahin diri sendiri nulis blog one day one artikel? Kapan saya harus berpikir dari hati untuk mulai mengerjakan NHW dari IIP? Kapan saya me time bisa ngerumpi sama teman-teman lagi di beberapa komunitas? Apa iya saya nggak boleh intip-intip facebook sejenak untuk refreshing? Itu masih belum keitung tugas utama lainnya seperti cuci piring, jemur pakaian, masak, balik lagi nenenin adik. Terus kapan saya istirahatnyaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚? Jadi superwomen sih sah-sah saja tapi ati-ati entar malah jadi "baby blues" lo!

Oke jadi, saya pun saat ini memilih prioritas memberikan "servis" penuh dalam memberikan ASI selama 1,5 bulan kedepan menjelang adik disapih. Saya memilih hal tersebut, karena saya merasa bahwa toh saya tidak akan selamanya terus menerus menyusui adik, nantinya tentu saya akan merindukan momen-momen tersebut. Nantinya saya yakin, ketika adik sudah lepas ASI, maka saya bisa lebih fokus menulis sebuah buku tanpa diganggu episode adik minta nyusu.

Kecuali mungkin nanti suami tiba-tiba kasih angin segar, "wes nang mulai aja nulisnya, anak-anak tak kancanane setiap jam 7 malam abis shalat isya'!" Wah bisa bahagia sekali saya, karena berarti saya punya waktu 4 jam untuk sekali nulis sebelum tidur ditambah 2-3 jam setelah bangun tidur. Seenggaknya waktu 6-7 jam itu kalau kepotong-potong acara nenenin adik 30 menit per satu jam sekali, ya saya punya fokus 3 jam untuk benar-benar menuangkan ide saya kedalam tulisan saya.

Faktanya itu sementara ini hanya ilusi 😴
Sehingga mungkin saya sadar diri kalau mau benar-benar fokus nulis, saya harus bersabar nunggu si adik lepas ASI dulu. Biar saya bisa benar-benar mengefisiensikan waktu yang saya miliki.

Nah, kalau kayak gini, mungkin rundown jadwal harian saya yang sudah saya buat sebelumnya bisa saya praktekan.

Tapi jika saya harus menulis jadwal secara spesifik, sepertinya saya belum bisa, mengingat si adik masih ASI, dimana hampir semua jadwal harian saya masih tergantung jadwal ASI adik yang masih sering "semena-mena" kapanpun dan dimanapun dia berada πŸ˜…

Saya kuatirkan jika saya memaksakan, maka saya akan tertekan dan merasa bersalah jika tidak menjalankan, sehingga saya lagi-lagi harus mengabaikan si adik.

Mohon maaf untuk mbak-mbak fasilitator IIP, untuk saat ini, inilah yang bisa saya usahakan secara maksimal bagi kebaikan keluarga kecil kami. Nanti ketika anak-anak sudah semakin mandiri, mungkin saya mulai bisa mengatur kembali jadwal yang sudah saya tetapkan.

Saat mengambil keputusan tersebut saya termenung semalam. Apa iya saya tidak bisa melakukan hal yang saya sukai sembari melakukan kewajiban saya? Lalu di antara kegalauan tersebut, saya mencoba tarik nafas dalam-dalam, dan mencoba membaca buku Lelah jadi lillah lebih lanjut. Inilah gunanya menulis tak langsung di publish πŸ˜‚πŸ˜…


JENG JENG JENG...
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jadi akhirnya saya mencoba menata hati saya lagi, dan menulis ulang tanpa menghapus tulisan saya sebelumnya, agar sebagai pengingat bahwa saya memang sedang berproses 😊.

Entah bagaimana saya seperti mendapat jawaban akan tugas yang diberikan oleh para fasilitator kepada saya di kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional. Salah satunya tentang manjemen waktu. Satu halaman yang membuat saya tertarik, yaitu ketika disitu disarankan untuk menjadikan waktu shalat sebagai waktu untuk istirahat.

Kemudian saya mulai mengingat-ingat jadwal harian saya. Toh selama ini saya memang merasa harus melaksanakan shalat tepat waktu, tapi disisi lain justru karena saya mewajibkan diri mengerjakan shalat tepat waktu, saya justru mendapat waktu istirahat untuk merefresh otak saya setelah mengerjakan pekerjaan rumah yang bertubi-tubi tanpa jedah.
Saya pun mulai membalik-balik halaman, dan saya menemukan tabel jadwal yang mirip dengan rundown kegiatan harian saya. Jika saya sambungkan dengan shalat sebagai waktu istirahat, maka sebenarnya justru jadwal kegiatan saya sebenarnya lebih bisa dikondisikan.


Setelah saya pikir-pikir bayangan jadwal harian yang sering saya rasa nggerundeli di otak, jadi seperti mendapat jawaban satu persatu-satu. Selama ini yang saya kuatirkan semua pekerjaan saya tidak selesai tepat pada waktunya. Faktanya jika saya benar-benar mengikuti jadwal yang berlaku, dan tidak menunda-nunda pekerjaan yang ada saya tidak perlu kelabakan menyelesaikannya.

Akhirnya saya membuka kembali rundown aktivitas harian saya yang pernah saya buat sebelumnya. Lalu saya mencoba mencari celah jadwal kosong, disitu saya mulai mencoba menulis ulang jadwal harian agar lebih "pas". Ada beberapa poin yang memang harus saya perbaiki sesuai dengan kandang waktu yang saya tentukan.

Mengkandangkan Rutinitas Harian
Dengan Menjadikan Waktu Shalat Sebagai Waktu Batasan

Setelah saya menentukan kandang waktu, saya pun mulai mengurutkan jadwal tersebut, agar saya lebih mudah mengingat-ingat pada pukul sekian saya harus mengerjakan apa, dan kapan saya harus berhenti.

Merubah Kandang Waktu Dengan Mengurutkan Waktu

Saya juga sempat berdiskusi dengan salah satu sahabat saya, yang juga memiliki bisnis online ramai, padahal suaminya juga sering pulang malam, dan dia juga sama dengan saya sedang mengikuti kelas online matrikulasi IIP. Seperti yang disampaikannya, dia sudah lama membuang jauh kecewanya.

Ah saya jadi merenungi diri saya sendiri. Apa iya saya juga harus membuang jauh kecewa saya. Kecewa saat jam pulang kantor suami tidak langsung mengabari jika dia hari itu tidak langsung pulang? Apa iya saya harus membuang kecewa ketika dia tidak bisa memberikan waktunya untuk pulang lebih awal seperti dulu?

Haruskah saya menyerah akan mimpi saya mulai menulis buku? Saya sempat mendiskusikan kembali tentang hal tersebut kepada suami, tapi lagi-lagi saya seperti menemukan jalan buntu, karena suami hanya memberi clue bahwa dia akan sibuk mulai tanggal segini sampai segini. Tapi itupun saya juga nggak yakin kalau nanti setelah tanggal yang disebutkan tersebut dia juga tidak lebih sibuk dari sebelumnya. Tidak ada yang bisa menjamin bukan?!

Baiklah saya mencoba mengikuti saran sahabat saya untuk membuang kecewa saya. Salah satunya saya harus bisa berusaha tidak menggantungkan nasib keberlangsungan hobi saya kepada suami. Yang penting saya sudah mengantongi ijin dari suami untuk mulai menulis, biar barakah. Urusan jadwal nulis, sepertinya memang harus terserah saya bagaimana membagi waktu.

Bayangan rasa bersalah saya terhadap adik yang sering minta nenen tanpa kenal waktu seperti mendapat jawaban dari dalam hati. Ya sudah biarkan adik tetap minta nenen seperti biasa nanti saya bisa mengerjakan hal lain sembari menyusui adik. Kalaupun terpaksa mungkin saya bisa menyusui adik sembari menulis (mengetik tulisan) πŸ˜‚πŸ˜…. Kalaupun saya tidak bisa menyusui sembari mengetik, saya bisa sambil membaca buku, sehingga saya bisa mengenalkan si adik untuk cinta membaca secara tidak langsung.

Saya menguatkan diri saya, yah saya kan ingin menjadi seorang ibu profesional. Seharusnya ibu profesional tak pernah mengeluh. Ibu profesional harusnya bisa menempa diri agar tidak mudah rapuh!

Satu hal yang saya garis bawahi, jangan lupa istirahat biar tetap waras.

Yuk Jangan Lupa Istirahat Biar Waras

Meski demikian saya tidak perlu menghabiskan waktu istirahat terlalu banyak, karena seperti nasehat yang pernah saya dapat dulu, jadikan tidur sebagai salah satu kebutuhan untuk hidup bukan hidup untuk tidur! Sehingga kita bisa memiliki waktu yang lebih berkualitas.

Ubah Lelah Jadi Lillah, Semoga rutinitas yang terkadang adakalanya menjadi suatu hal yang melelahkan menjadi sesuatu yang di Ridhai Allah SWT.

Seperti nasehat dari Mbak Itsnita Husnufardani (Mbak Farda Semanggi) salah seorang ketua Ibu Profesional Surabaya Raya, yang bisa menjadi support untuk saya saat ini.

Menjadi Ibu Profesional, bukanlah sebuah predikat yang tersemat. Namun, sebuah upaya berbenah yang panjang dan terus menerus. Maka, jangan berhenti , jangan lelah apalagi menyerah.

Semangat konsisten, sampai bergelar Almarhumah.

Terus saya tiba-tiba ketampar dari sebuah gambar yang dibagikan oleh mbak Ilva salah satu fasilitator IIP Surabaya SBM 2.

Plaaaakkkkkk πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Bahagia Yuk Mas... πŸ˜…πŸ˜
***Artikel ini ditulis, terinspirasi dari tugas NHW#6 yang diberikan dikelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional yang sedang diikuti oleh saya sebagai penulis blog sundulerparents ini. Sehingga tidak menutup kemungkinan tulisan di halaman ini bisa dirubah sewaktu-waktu mengikuti NHW minggu berikutnya


Untuk masing-masing tugas NHW bisa dilihat di artikel berikut :

2 comments:

  1. Mbak, salam kenAl yaa. Saya mau tanya, caranya gabung di kelas online institut ibu profesional gimana ya?

    ReplyDelete
  2. Aaaaw. Senasib tidak sepenanggungan. Ayo semangat! Cek semua. Siap maju. Kesel yo bobok cantik dulu. Sekarang mungkin masih berbagi beban, suatu saat kita buktikan bahwa kita mengarah dan bertujuan membagi kebahagiaan.

    ReplyDelete