Thursday, March 23, 2017

BUNDA Sebagai AGEN PERUBAHAN #Berproses Menjadi Lebih Baik

Memutuskan untuk menjalani karir menjadi ibu rumah tangga ternyata cukup membuat saya sempat merasa tidak berguna. Ditambah komentar-komentar pedas dari lingkungan sekitar yang selalu memandang sebelah mata pekerjaan ibu rumah tangga cukup sudahlah membuat saya semakin terpuruk. Namun, melalui kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional saya diajak menemukan potensi pada diri saya, sehingga diharapkan bisa berada di titik Bunda Sebagai Agen Perubahan.

Bunda Sebagai Agen Perubahan

Ketika Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Segera Berakhir maka saya mencoba mengingat-ingat apa saja yang sudah saya kerjakan selama ini agar saya bisa menemukan jawaban apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi agen perubahan.

Berawal dari start belajar di Fakultas Universitas Kehidupan (NHW1), kemudian saya mencoba untuk Keluar Dari Zona Nyaman dengan mengajukan diri menjadi korming (koordinator mingguan) minggu pertama, yang bahkan saat itu saya belum ada pandangan harus berbuat apa. Namun dari situ saya lebih banyak belajar arti sebuah menghargai waktu orang lain. Saya belajar dengan mencoba mengumpulkan tugas NHW (Nice Homerwork) sebelum dead line berakhir setidaknya saya tidak mengambil jatah waktu orang lain (setelah waktu deadline) yang mungkin sudah direncanakan untuk hal lain.

Tak hanya mengejarkan NHW, kami juga sering berdiskusi tentang hal-hal yang berhubungan dengan ilmu parenting. Salah satunya saya jadi banyak belajar tentang Adab Membawa Anak Ke Majelis Ilmu.

Kemudian saya pun mulai Berproses Menjadi Ibu Profesional Bagi Keluarga (NHW2) dan belajar untuk Terus Berproses Menjadi Ibu Profesional (NHW3).

Kemudian saya mencoba Mengoreksi Diri Untuk Menjadi Ibu Profesional (NHW4), dan Belajar Membuat Desain Pembelajaran ala Keluarga Kami (NHW5)

Lalu kami merasa harus bisa Belajar Menjadi Manajer Keluarga Yang Andal (NHW6).
Sehingga saya bisa mengambil langkah berikutnya yaitu berada di Tahapan Menuju Bunda Produktif (NHW7) dan saya mulai belajar untuk memahami makna Menjadi Ibu Rumah Tangga Produktif.

Sehingga saya mulai belajar menemukan Misi hidup dan Produktivitas Untuk Berproses Menjadi Lebih Baik (NHW8).

Lalu untuk tugas minggu ini, kami diminta untuk memposisikan diri bisa menjadi salah satu agen perubahan. Harus mulai dari mana saya bisa menjadi agen perubahan?

Ternyata cukup simpel, setelah banyak tahapan yang saya lalui di kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional, maka saya mulai bisa menemukan ranah passion (ketertarikan minat) saya. Dengan melihat isu sosial yang ada disekitar kami, maka kami diminta belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga maupun masyarakat.

Rumus yang bisa dipakai untuk menemukannya :
PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social Venture merupakan suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik guna mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.

Sedangkan social enterpreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial disekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.

Harapannya, kami bisa membuat perubahan di masyarakat dengan diawali rasa emphaty, sehingga nantinya bisa membuat sebuah usaha berkelanjutan yang diawali dengan menemukan passion kita.

Jadi untuk saya mengingat minat saya adalah dalam dunia kepenulisan, maka nantinya harapan saya melalui hobi menulis sharing pengalaman saya menjalani keseharian, selanjutnya saya bisa melangkah menuliskannya dalam sebuah buku, yang tentunya lebih bermanfaat bagi masyarakat luas.

Tak hanya sekedar sharing keseharian, mungkin bisa juga saya mulai menulis beberapa solusi terkait isu yang sering membuat para orang tua kuatir dan panik yang sudah saya diskusikan dengan teman-teman melalui banyak sudut pandang berbeda sebagai ibu.

Hal lainnya, entah bagaimana saya menyukai mengendarai (menyetir) mobil, mungkin dulu saya pernah punya mimpi menjadi pembalap wanita Indonesia yang diakui di seluruh dunia, tapi apa daya saya sudah jadi emak-emak. Meski tak bisa jadi pembalap wanita Indonesia, setidaknya saya bisa menjadikan hobi saya tersebut untuk memastikan anak-anak saya aman selama dalam perjalanan menuju aktivitas hariannya.

Begitu juga saat harus melakukan perjalanan luar kota, setidaknya saya bisa secara bergantian mengemudi bersama suami, sehingga kami tak perlu membuang waktu untuk istirahat sejenak berhenti dipinggir jalan ketika suami lelah menyetir atau mengantuk. Setidaknya saya bisa menjadi co-driver yang bisa menggantikan tugas menyetirnya sementara.

Untuk apa sebenarnya semua tahapan tersebut?
Ternyata saya mendapat sebuah jawaban tak lain tak bukan untuk mencapai sebuah kemuliaan bersama keluarga.

No comments:

Post a Comment