Sunday, March 12, 2017

Gimana Dong Kalau Nggak Sepaham Pendapat Dengan Suami?

Bagaimana Menyikapi Perbedaan Pendapat Dengan Pasangan Setelah Menikah?
Beberapa waktu lalu, seorang sahabat tiba-tiba bertanya kepada saya melalui chat Apakah saya dan suami memiliki beda "paham"? Paham disini mungkin maksudnya dalam hal beda pendapat. Sehingga menurut saya jika dalam keluarga saya, hal ini bisa mempengaruhi keberlangsungan visi misi keluarga kami.



Lalu, sahabat saya bertanya lagi kepada saya, "Apakah saya sepaham dengan suami?"

Jawabannya sebenarnya bisa iya bisa tidak. Tidak jarang kami sering berdebat hanya karena beda pendapat karena pemahaman yang berbeda dalam menanggapi suatu kejadian sepele sampai hal-hal lainnya. Tapi justru dari sanalah akhirnya kami belajar untuk selalu kompak dalam mengambil suatu keputusan.

Seperti yang ditakutkan oleh sahabat saya, menurutnya kalau kita beda "paham" dengan suami nanti kan susah pas nentuin sekolah untuk anak-anak.

Ehm ... sebenarnya kalau untuk urusan menentukan sekolah saya agak bingung juga menjelaskan. Saya sendiri penentuan sekolah anak ini sudah beberapa kali belajar dengan sahabat saya Mbak Enji (Udah ah disini saya panggil embak aja, capek manggil Mama Enji mulu ... hehehe, abis kerasa lebih akrab kalau saya manggilnya Mbak Enji).

Mbak Enji pernah sharing dengan saya sebelum saya menulis tentang "Perencanaan Pemilihan Sekolah Anak Sejak Dini", saat itu mbak Enji bercerita bahkan mbak Enji dan Suaminya sudah memiliki visi misi sebelum menikah untuk menentukan mau dibawa kemana arah pernikahan dan keluarga mereka.Wah mendengar cerita tersebut sepertinya saya sudah beda start nih sama mbak Enji, karena sejak awal  menikah saya nggak pernah sekalipun memikirkan tentang visi misi keluarga kecil kami.

Seingat saya, saat itu yang ada dibenak saya yang penting saya mencari kriteria suami yang memenuhi syarat utama dari orang tua saya. Poin penting yang selalu saya utamakan yaitu :
1. Muslim
2. Tidak Merokok
3. Kerja

Tiga poin itulah yang dulunya saya sampaikan kepada orang tua sebagai bahan seleksi agar saya mendapat restu. Alasannya simpel (saya dulu mikirnya nggak jauh-jauh), Saya mencari suami Muslim karena saya perempuan muslim, dimana saya butuh iman yang bisa membimbing saya. Jika pun ternyata kami sama-sama awam tidak masalah, karena nantinya kami bisa belajar bersama (saling melengkapi satu sama lain).

Alasan kedua, tidak merokok, karena almarhum ayah saya pengidap asma berat. Jadi yang saya bayangkan nggak mungkin banget kalau saya bawa cowok perokok kerumah, karena bayangan saya nanti sama saja saya bunuh ayah saya pelan-pelan. Saya pun memang tidak pernah berencana mencari cowok perokok lalu menyuruhnya berhenti merokok setelah menikah dengan saya, karena saya memiliki prinsip pasangan saya harus bisa menerima apa adanya, jadi ya saya harus bisa menerima pasangan saya apa adanya. Nah, rasanya kok nggak adil kalau saya tiba-tiba maksa pasangan saya yang mungkin sudah kenal rokok lebih dulu dari saya untuk berhenti merokok, karena menurut yang saya tahu berhenti dari kebiasaan merokok itu tidak mudah. Ya, meskipun banyak juga sih yang pada akhirnya rela menghentikan kebiasaan merokoknya karena cinta, tapi kalau buat saya, saya nggak mau gambling. Hehehe ...

Yang ketiga, calon pasangan saya harus mau kerja, karena seperti nasehat ibu saya, sehingga setidaknya pasangan saya nanti bisa memberi makan saya dan memenuhi kebutuhan rumah tangga kami.

Setelah menikah pun kami nggak punya target muluk-muluk. Dulu sih pengennya setelah menikah, punya anak yang pintar yang bisa lebih sukses dari kami orang tuanya. Simpel banget bukan?

Hingga akhirnya setelah beberapa waktu lalu mbak Enji bercerita tentang pemilihan sekolah, dimana sebaiknya kami memilih sekolah yang sama dengan visi misi kami. Sehingga sejak itu suami dan sepakat mulai memikirkan kemana arah keluarga kecil kami ini akan kami bawa melangkah.

So, kami mulai berdiskusi goal anak kita nantinya mau seperti apa? Apakah mau anak-anak sekolah di luar negeri, atau mau mereka jadi hafidzah, atau mau mereka jadi PNS atau jadi apa?

Dari situ kami mulai memikirkan langkah-langkah apa saja yang harus kami lakukan. Kami mulai menyamakan visi misi, sehingga nantinya kami bisa menyamakan kriteria sekolah yang kami harapkan untuk anak-anak.

Satu hal yang selalu saya garis bawahi tentang visi misi kami yaitu, kami sepakat bahwa Madrasah Utama anak adalah Rumah, dimana nantinya dituntut ibu sebagai gurunya, dan ayah sebagai kepala sekolahnya.

Dengan menggaris bawahi hal tersebut tentu suami dan saya tidak perlu bingung lagi menentukan sekolahan untuk anak-anak kami. Dimana kami akan mencari sekolah yang memiliki visi misi sama dengan kami. Jika kami tak menemukan yang sama maka kami bisa mencari yang mendekati, dan jikapun tak ada kami akan mencari sekolah yang paling baik dari yang ada. Sisanya nanti tugas madrasah utama (rumalah) yang melengkapi.
Terus, sahabat saya berkata, "Enak dong Vet, kamu sama suamimu sudah sepaham sejak awal".

Lo, masih belum paham juga ... hehehe ...
Seperti yang saya bilang diawal, saya juga sering berdebat dengan suami, eyel-eyelan juga sering. Tapi kami selalu belajar untuk menghargai pendapat satu sama lain. Kami selalu berusaha untuk mencari garis tengah perbedaan pendapat kami. Jika pun tidak ketemu, terutama soal agama, biasanya kami meminta pendapat dari ustadz, kyai, ulama' atau orang yang menurut kami memiliki pemahaman lebih baik dari kami.

Nantinya, ketika kami mendapat jawaban dari ahlinya ya mau nggak mau, kami harus mau menerimanya, nggak boleh ngeyel ngerasa udah bener, karena seperti yang saya bilang di awal kami ini kan masih awam, jadi ya nggak boleh sok tahu.

Kalau nggak tau ya tanya, nanti setelah dapat jawaban kalau ternyata salah ya udah berusaha dibenerin.

Intinya perbedaan pendapat diantara kita bukan jadi penghalang untuk kita menjadi pasangan yang kompak. Justru dari perbedaan tersebut kami belajar saling melengkapi.

Hal lainnya yang juga selalu saya garis bawahi yaitu sejak awal menikah, saya selalu menganggap suami saya adalah pemimpin keluarga, sebaliknya saya suami selalu menganggap saya sebagai partnertnya. Sehingga jika ada perbedaan pendapat kami sudah paham masing-masing harus bagaimana memposisikan diri. Sebagai partnertnya dalam memimpin keluarga maka sering kali saya memberi masukan kepada suami jika saya rasa pendapat suami saat itu salah. Nantinya kalau suami masih merasa ragu dengan pendapat saya, ya kami diskusikan bersama, ya meskipun kadang seringnya bikin eyel-eyelan tapi kami berusaha untuk tidak merasa "paling pintar", "paling benar".


Tapi manusiawi terkadang perasaan anggapan bahwa pendapat kami masing-masing benar itu muncul. Tapi suami dan saya selalu belajar untuk memahami, sebatas mana kami bisa "memaksakan" pendapat kami. Jadi kami sudah paham harus sejauh mana kami eyel-eyelan (berdebat).

Kalau sudah begitu biasanya ya kami endapkan dulu diskusi kami, biar nggak memanas. Lalu kami mencoba merenungi dan mengoreksi pendapat kami masing-masing di lain waktu. Kemudian mencari pendapat yang benar dari luar, tanpa memaksa mencari "pembenaran".

Biasanya kami juga melibatkan orang tua untuk meminta pendapat, dan nggak jarang juga orang tua kami merasa nggak sepaham dengan salah satu dari kami tentang suatu hal. Kalau sudah gitu ya dikoreksi lagi.

Sebagai manusia kita pasti tahu bahwa kita dibekali dengan akal, tidak hanya nafsu saja. Sehingga saat kita menerima informasi yang mungkin nggak sesuai dengan pemahaman kita, ya kita jangan keburu nafsu menyanggah habis-habisan apalagi sampai debat berkepanjangan. Namun, kita juga nggak boleh langsung telen mentah-mentah info yang kita dapat. Kunyah dulu pelan-pelan, rasakan dulu, nanti kalau memang merasa sesuai baru di telen, kalau nggak sesuai ya dilepeh.

Terus, gimana dong biar bisa sepaham?
Ya, kurang lebihnya kayak yang saya ceritakan diatas, mungkin kalau dijelaskan secara teori agak susah yah bayanginnya. Teori dan praktek biasanya emang beda sih ya. Jadi kalau ditanya gimana dong biar sepaham ama pasangan kita nanti? Ya jawabannya sekarang nikah dulu aja. Nggak perlu berandai-andai nanti kalau nggak sepaham sama pasangan gimana? Kalau nggak sependapat ama pasangan gimana? Kalau yang dipikirin itu terus nanti bisa-bisa malah nggak nikah-nikah. Coba deh baca buku antologi berwarna pink dengan judul "Ya Allah Izinkan Kami Menikah!" #Buku Keren Yang Kekinian. Yah, ngiklan deh ... 😅😂

Iya Buku Yang Pink Itu 😍😎

Intinya sekarang kalau sudah ada calonnya ya yuk langsung menikah, jangan kelamaan nunggu ini itu, keburu disabet orang calonnya. Nanti lainnya sambil jalan sembari learning by doing. Jangan mikir yang nggak-nggak dulu.

Yang penting kalau saya sih dulu kriteria calon suami saya mendapat restu dari keluarga, karena buat saya menikah itu bukan tentang cinta aku dan kamu saja. Menikah itu tentang menyatukan dua keluarga yang mungkin adakalanya pasti punya perbedaan cara pandang.

Terus habis menikah bukan berarti ya sudah selesai urusan. Sampai sekarang sih dengan menikah, kami masih terus belajar melangkah untuk membawa keluarga kecil kami selangkah lebih hebat dari kemarin. Iya cuma selangkah dari kemarin tapi nanti kalau sudah sebulan, dua bulan, setahun, sepuluh tahun kan kalau di total sudah jadi berlangkah-langkah hebat.

Urusan beda pendapat, eyel-eyelan, sudah jadi makanan sehari-hari. Tinggal bagaimana kami menanggapinya bersama nantinya.

1 comment: