Monday, March 20, 2017

Ketika Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Segera Berakhir

Dulu saat berdiskusi dengan beberapa sahabat tentang parenting, sering kali kami bercanda, "Kok nggak ada kuliah jurusan jadi ibu (yang baik dan benar) ya?". Seperti mendapat jawaban, bersyukur melalui salah satu sahabat, saya dikenalkan dengan institut ibu profesional. Bahkan agar tidak ketinggalan info saya sempatkan intip-intip FP (Fans Page Institut Ibu Profesional) di Facebook setidaknya sehari sekali. Lalu nggak kalah heboh sudah seperti jadwal minum obat setiap ngobrol dengan sahabat saya tersebut, saya selalu menyisipkan pertanyaan, "Sudah ada info belum kapan kelas IIP dibuka?". Hingga akhirnya saya berhasil  masuk, dan mengikuti setiap proses pembelajaran di tiap minggu. Tapi lalu ketika saya sudah asyik mengikuti kelasnya, tiba-tiba saya tersadar kelas  matrikulasi institut ibu profesional akan berakhir. JRENG ... Mak Nyes rasanya ...

Ilustrasi, Sumber : Oke Zone

Saya jadi berpikir apakah ilmu yang saya dapat di kelas matrikulasi selama beberapa minggu ini sudah cukup membuat saya menjadi ibu baik untuk anak-anak saya? Apa iya dengan materi-materi yang saya terima dan NHW (Nice Homework) yang sudah saya kerjakan cukup bisa membuat perubahan pada diri saya?

Entahlah ... Sayapun masih merenunginya sembari mem-flash back setiap cerita di kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional ini.

Sebenarnya yang membuat saya sangat antusias untuk bisa bergabung dengan institut ibu profesional ini, adalah karena selama ini saya merasa belum menjadi ibu yang baik untuk anak-anak.

Sehingga saya berada di titik, saya bukan ibu yang pantas untuk dibanggakan anak-anak saya. Jangankan dibanggakan, bahkan saya sadar dengan betul belum bisa membuat anak-anak bahagia.

Seringnya alih-alih membelikan berbagai macam mainan untuk anak-anak, saya justru belum bisa memberikan perhatian full ekstra untuk anak-anak dengan berbagai macam alasan, yang saat ini setelah mengikuti IIP bisa saya bilang alasan yang saya buat-buat sendiri. Misalnya saya terlalu sibuk. Sibuk apa? Sibuk main gadget #nah!

Hal lainnya, saya menyadari masih terlalu keras kepada anak-anak saya. Apa penyebabnya? Baby blues? Mungkin! Problem Inner Child yang tidak terselesaikan? Bisa jadi! Atau visi misi keluarga yang salah? Siapa yang tau!

Belum lagi saat merasa tidak berguna dan tidak bisa membuat bangga suami. Klop sudah.

Sehingga dengan mengikuti Institut Ibu Profesional ini, saya berharap bisa mendapat ilmu-ilmu untuk menghandel anak-anak. Dulu tujuannya simpel, kalau saya bisa menghandel anak-anak dengan benar minimal nggak bikin saya spanneng jadi saya nggak gampang marah, nggak gampang ngomel ke anak-anak, nggak ngeluh terus bawaannya. Jadi suami juga ikut bangga punya saya sebagai pendamping hidupnya.

Tapi ternyata apa yang saya dapat justru lebih besar dari apa yang saya harapkan. Ibarat saya bermimpi mencari segenggam berlian, saya justru mendapat sekarung berlian. Jadi saya benar-benar menyesal kenapa baru sekarang ketemu sama Institut Ibu Profesional ini 😭
Ilustrasi Berlian, Sumber : Log Viva
Bayangkan bagaiman saya tidak mendapat sekarung berlian jika di sana saya menemukan sahabat-sahabat baru. Para fasilitator yang sudah seperti guru untuk saya, selalu membuat saya sangat terinspirasi untuk melakukan perubahan ke arah lebih baik.

Tak sampai disitu, bahkan jika dulunya saya hanya berharap mendapat ilmu menghandel anak-anak, saya justru diajarkan untuk mengenali diri saya sebenarnya. Saya diajak menemukan potensi kuat saya agar saya bisa memahami makna terdalam mengapa saya terlahir kedunia.

Dengan saya memaknai alasan mengapa saya terlahir dunia, sehingga saya bisa merasa lebih bersyukur menjalani peran sebagai ibu untuk anak-anak saya dan istri untuk suami saya. Tak perlu lagi saya merasa minder dengan teman-teman atau saudara-saudara diluar sana, yang selama ini saya jadikan parameter sukses seseorang.

Dari situlah akhirnya saya seperti memiliki energi terbarukan untuk memetakan apa-apa saja yang harus saya lakukan untuk menjadi seorang ibu baik profesional yang bisa membuat bahagia dan bangga suami dan anak-anak saya.

Untuk menemukan itu semua tentu tak lepas dari andil tugas NHW (Nice Homework) yang diberikan oleh para fasilitator tiap minggunya. Tak ada salah dan benar, tak ada yang mengawasi kita akan melaksanakan tugas tersebut atau hanya sekedar angin lalu, tetapi justru dari situ saya merasa "mental" kami di uji.

Saya bisa saja tak melakukan apa yang saya tuliskan di NHW tersebut, tapi faktanya justru membuat saya semakin berpikir keras di setiap NHW yang diberikan berikutnya. Sehingga mau tak mau hati saya benar-benar memaksa saya untuk bergerak berproses.

Lalu sering kali hati saya seperti diaduk-aduk, kok ternyata apa yang saya tulis belum bisa saya jalankan. Sehingga lagi-lagi mau tak mau saya mencoba untuk benar-benar bisa mengaplikasikan apa yang saya tulis, sembari mencari solusi mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Salah satunya ya diskusi dengan suami.

Dari kelas matrikulasi IIP ini, saya jadi sering intens berdiskusi dengan suami tentang mimpi-mimpi kami. Bukan sekedar mimpi yang muluk-muluk atau yang nggedabrus, tetapi benar-benar sebuah mimpi yang menjadi goal dari visi misi keluarga kami.

Setelah berminggu-minggu mengikuti kelas matrikulasi IIP ini, memang berat rasanya harus merelakan kelas ini segera berakhir. Namun saya percaya akan, berakhirnya kelas matrikulasi ini merupakan babak baru lahirnya  tahapan kelas IIP berikutnya. Semangatttttttttttttt ...

Sertiap tahapan di Institut Ibu Profesional ini benar-benar sangat menginspirasi saya, bahkan untuk saya sempat berinisiatif untuk menularkan apa yang sudah saya rasakan dan saya dapatkan dari kelas IIP melalui beberapa tulisan saya di blog ini.


Sumber : Mbak Evi Fasilitator IIP SBM 2
Noted : Jika ada yang bertanya bagaimana prosedur untuk bisa mengikuti kelas IIP ini, maka saya menyarankan teman-teman untuk memulai menyimak Fans Page Institut Ibu Profesional. Biasanya nanti pasti akan ada pengumumannya saat kelas dibuka.

Atau jika berkenan silahkan follow ig/twitter saya @vety_fakhrudin atau FP nya Vety Fakhrudin @sundulerparents
Nanti kalau ada info bisik-bisik dari teman-teman IIP tentang pembukaan/pendaftaran kelas IIP, Insya Allah saya share langsung. As Soon As Posible ...

Tengkyu 😘

No comments:

Post a Comment