Saturday, March 25, 2017

Mengatasi Anak Membantah Karena Sibling Rivalry

Beberapa waktu lalu seperti biasa terjadi obrolan ringan antara teman-teman dan saya terkait tumbuh kembang anak. Hingga akhirnya salah seorang sahabat melemparkan pertanyaan kepada kami, bagaimana cara mengatasi anak (balita) yang suka membantah setelah sang adik lahir? Kebetulan ada seorang sahabat lainnya yang sedang mengalaminya.

Ibu Hebat Lagi Rumpi
(Hanya Ilustrasi)



Dari ceritanya, anak balitanya ini sekarang susah diatur. Jadi terjadilah fase sibling rivalry.

Untuk kasus yang satu ini, saya nggak berani ikut komentar langsung. Saya sedang merenungi bagaimana saya dulu awal-awal berusaha menghandel anak-anak agar tidak terjadi sibling rivalry.

Satu yang saya ingat, memang ada sebuah kejadian ketika adik sedang minta menyusu, lalu suami dan mertua berusaha mengalihkan perhatian kakak agar saya bisa fokus menyusui, tiba-tiba saja kakak marah berat.

Saat itu kakak langsung marah membentak sambil mendorong mertua dan suami keluar kamar, lalu menutup pintu, dan dia lari memeluk saya. Seakan-akan dia tidak mau dipisahkan dengan saya.

Dari situ akhirnya saya banyak belajar. Saya berusaha mengubah dan mengeroksi serta berimprovisasi dalam menghandel anak agar tidak terjadi kejadian seperti itu.

Nah, jadi sebenarnya kalau dari curcolan sahabat saya tadi kenapa anak sahabatnya bisa seperti itu apa yang salah? Menurut saya hanya ibunya sebenarnya yang tahu dimana letak kesalahannya, sehingga bisa segera mengoreksinya.

Terus sahabat saya bilang, iya menurutnya anak sahabatnya seperti itu sejak diasuh kakek neneknya.

Kalau dalam poin ini menurut saya, kita tidak boleh menyalahkan kakek nenek penyebab perubahan tingkah laku anak.

Apapun itu anak adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua, jadi seandainya ada perubahan tingkah laku anak kita yang kita anggap karena kakek neneknya, maka yang salah tetap balik lagi kepada kita.

Loh kok bisa?

Jadi begini menurut saya, kakek nenek itu ya porsinya sebagai kakek nenek dimata anak-anak, tidak menggantikan posisi kita sebagai orang tuanya.

Terutama porsi posisi ibu yang paling penting peranannya sebagai pengisi relung jiwa hati anak sebagai pondasi kenyamanan hati.

Ibaratnya begini, seringkali adakalanya mungkin kita berpendapat ke anak kita, "Lo siapa yang mengajari seperti itu? Ibu lo nggak pernah kasih contoh seperti itu!"

Faktanya kita sering lupa, bisa jadi anak-anak mencontoh seperti itu dari lingkungan sekitar selain kita. Lantas siapa yang salah? Lingkungan sekitar? Mengapa harus menyalahkan lingkungan sekitar? Bukankah seharusnya tanggung jawab kita sebagai ibu untuk bisa mendampingi dan membimbing anak-anak agar tidak terbawa arus lingkungan sekitar?

Nah, kalau sudah begitu menurut saya sudah saatnya kita sebagai ibu terus mengupgrade diri tanpa melupakan kewajiban kita untuk menjaga amanah kita.

Bagaimana cara untuk mengupgrade diri? Lagi-lagi saya merasa seharusnya hanya diri kitalah yang paling tahu bagaimana cara mengupgrade diri kita sendiri.

Satu hal yang selalu saya garis bawahi adalah jangan sampai diri ini merasa paling hebat, karena ketika kita merasa paling hebat maka diri kita merasa tidak harus melakukan apa-apa (diam ditempat), padahal bisa jadi ketika itu semua orang diluar sana-sana justru sedang berlomba-lomba menjadi lebih hebat dari hari ke hari. Sehingga ketika suatu saat kita tersadar, kita baru menyadari jika kita sudah tertinggal jauh.

Saya sendiri belum berani memberikan saran bagaimana seharusnya bersikap, karena untuk konteks permasalahan sahabat saya tadi saya tidak mengalaminya sendiri. Nanti daripada saya dibilang sok pintar. 😅 Nggak ngalamin kok kasih pendapat. 😂😅

Hanya saja menurut saya kunci jawaban setiap permasalahan anak ada pada orang tua.

Mengapa anak kita begini? Apa yang salah dengan pola asuh kita? Apa yang sudah kita berikan kepada mereka? Ajak suami diskusi dimana salahnya agar segera bisa kita perbaiki.

Baca Juga : Gimana Dong Kalau Nggak Sepaham Pendapat Dengan Suami?

Gali terus terus dan terus. Jika masih berulang, belajar lagi lagi dan lagi. Cari informasi dan sharing dari luar lalu tak ada salahnya juga berusaha melakukan improvisasi dari waktu kewaktu menyesuaikan kondisi di lapangan.

Salah Satu Usaha Saya Mengajarkan Arti Kerja Sama
Kepada Anak Anak

Saya sendiri pun tak mau mengingkari tetap harus selalu belajar dari waktu ke waktu. Jika ada yang tak sesuai dengan hati nurani biasanya saya bicarakan dengan suami, kemudian kami jadikan koreksi diri kami untuk segera menemukan solusi bersama dan saling support. Dalam hal ini kami menyadari bahwa kami memiliki peran yang sama-sama penting dalam keluarga.

No comments:

Post a Comment