Wednesday, March 8, 2017

Menjadi Ibu Yang Hebat Itu ...

Jika ada yang bertanya bagaimana kriteria ibu yang hebat itu? Menurut saya, ada banyak kriteria ibu hebat di dunia. Saya sendiri sempat memiliki pendapat yang berubah-ubah dari waktu ke waktu.




Pernah saya berpikir, ibu dan istri hebat itu yang punya pekerjaan "profesional" di luar rumah. Dimana saat sang anak ditanya, sang anak bisa dengan lantang menjawab, "Ibuku adalah ibu hebat karena bekerja di ...".

Lantas kemudian saya juga pernah berpikir ulang, bahwa ibu hebat itu ibu yang rela meninggalkan karir-nya demi mengabdikan diri hanya untuk keluarganya. Sejatinya waktu itu saya berpikir tidak semua orang mampu dan sanggup melepaskan karirnya yang tinggi hanya demi berjibaku dengan pekerjaan rumah yang tak pernah ada habisnya.

Pernah juga saya beranggapan bahwa menjadi ibu hebat itu jika kita bisa mempunyai karir tinggi tapi tetap bisa menghandle seluruh pekerjaan rumah sendiri. Ibarat kata ibu hebat itu harus perfect bisa melakukan semua hal secara multitalenta tanpa merepotkan orang lain.

Namun, untuk saat ini saya memiliki sudut pandang yang berbeda. Saya merasa untuk menjadi ibu hebat saya tak perlu menjadi ibu yang perfect.

Untuk menjadi ibu hebat, saya cukup berusaha membuat anak-anak bahagia memiliki saya sebagai ibu mereka, dan suami menjadi bangga karena telah memilih saya sebagai istrinya.

Sehingga saya merasa tidak perlu menjadi perfect untuk membuat mereka bahagia, sebaliknya saya akan merasa menjadi ibu yang "perfect" saat mereka bahagia karena telah memiliki saya sebagai ibu mereka.

Untuk membuat mereka bahagia maka saya hanya perlu merasa bahagia dengan menjadi istri dari suami saya dan menjadi ibu dari anak-anak saya.

Saya tak ingin kelak ketika mereka dewasa, usia saya semakin senja lalu merasa kehilangan banyak kebahagiaan di masa muda, hanya karena merasa terlalu "membaktikan" diri kepada keluarga, sehingga saya merasa tanggung jawab saya sudah usai dan saya "menuntut" meminta semua "kebahagiaan" yang telah lewat dulu.

Hal ini tentu akan membuat anak-anak terluka nantinya. Alih-alih saya merasa sudah membaktikan diri kepada mereka, justru akan membuat seakan-akan saya ibu yang tidak lillahita'alah dalam membesarkan mereka. Bagaimana bisa disebut lillahita'alah jika saya menuntut imbal balik.

Lalu bagaimana agar saya merasa bahagia?

Untuk bisa bahagia maka saya bisa mengerjakan apa yang saya suka dengan support dari suami dan anak-anak saya, tanpa mengabaikan mereka.

Selain itu untuk merasa bahagia maka saya juga perlu istirahat disela-sela kesibukan saya menjalani rutinitas harian, agar saya tetap waras.

Bahagia-Waras-Lelah ini menurut saya tiga hal tersebut sudah menjadi satu kesatuan.

Tak sedikit ibu yang merasa lelah menjalani rutinitas hariannya jadi merasa tidak bahagia, sehingga menjadi sedikit tidak waras. Misalnya tiba-tiba melakukan KDRT. Naudzublillahimindzalik.

Sehingga support dari suami yang selalu menyarankan saya istirahat sejenak ketika saya merasa lelah ada benarnya. Tidak ada salahnya mendelegasikan beberapa pekerjaan rumah tangga kepada pihak lain selama pekerjaan tersebut bukan hal yang krusial menurut saya.

Menurut saya menjadi ibu hebat itu tidak harus menjadi ibu yang perfeksionis bisa melakukan ini itu dengan mengabaikan kebahagiaannya.

Sebaliknya, bahagia itu memang perlu tapi jangan sampai demi kebahagiaan kita mengabaikan prioritas kita sebagai ibu dan istri.



Tulisan ini ditulis oleh seorang ibu rumah tangga biasa yang punya mimpi menjadi hebat dan sedang berproses untuk keluarga kecilnya.

No comments:

Post a Comment