Friday, March 17, 2017

MISI HIDUP dan PRODUKTIVITAS #Berproses Menjadi Lebih Baik

Setelah beberapa tugas dari institut ibu profesional yang selama ini selalu membuat saya sering ketampar-tampar, ketabok-tabok kali ini lagi-lagi saya mendapat tugas yang membuat BAPER. Simpel Sepele tapi DALEM (dalam alias jeruh).


Sebagai Gambaran Tahapan Pembelajaran di IIP
Sumber : Mbak Evi Firdausi Fasilitator IIP SBM 2

Saya bilang dalem karena kita bisa saja hanya sekedar lewat menentukan misi hidup, tapi apalah artinya kalau kita nggak benar-benar berusaha merealisasikannya. Saat mendapat tema ini, saya sempat tidak langsung mengerjakannya, karena beberapa hari lalu tiba-tiba saya kurang fit, jadi saya biarkan saja tugasnya sembari merenungi "nasib". Hingga kemudian tadi malam saya mulai berdiskusi dengan suami, terkait VISI MISI HIDUP untuk Menunjang PRODUKTIVITAS.

Dan Tahapan Saya Berproses Masih Sangat Panjang

Sebagai gambaran saja flash back, saya dulu mengambil kuliah di jurusan farmasi lengkap dengan apotekernya, entah bagaimana saya merasa sebenarnya tidak memiliki potensi dan minat di jurusan farmasi. Kalau diceritakan panjang sebenarnya, detailnya bisa baca di buku, "Ya Allah, Izinkan Kami Menikah" (Yaelah ngiklan lagi nih 😅. Ya Allah, ampuni saya bukan niat modus ngiklan terus, tapi kalau saya ceritakan alasannya, nanti nggak habis-habis ceritanya, karena melebar terus saya lupa nggak jadi ngerjain PR saya). Sungkem satu-satu sama mbak-mbak fasilitator IIP dan teman-teman semua 😂.

Kalau Yang Ini Maaf Iklan Selingan 😅
Sumber : FB Dwi Suwiknyo

Singkat cerita dari kejadian tersebut saya sempat merasa useless karena pada akhirnya saya memilih mendedikasikan diri sepenuhnya untuk suami dan anakk-anak. Meski ibu pernah memberi komentar "Keberhasilan itu tergantung Kebahagiaan kita", tapi tak menutupi rasa kecewa beliau kepada saya karena tidak menjadi seberhasil saudara-saudara lainnya. Sehingga selama ini saya berusaha untuk membahagiakan beliau dengan berbagai cara lain. Sayangnya saya merasa apa yang saya usahakan untuk membuat beliau bahagia seperti sia-sia, karena kami merasa memiliki sudut pandang yang berbeda tentang sebuah keberhasilan, kebanggaan, dan kebahagiaan. Dengan keadaan tersebut saya justru sempat makin merasa terpuruk.

Hingga akhirnya saya bertemu dengan IIP, disini saya pun mulai digiring secara tidak langsung untuk bisa menemukan mulai potensi saya yang sebenarnya. Setidaknya agar saya bisa mencintai diri sendiri dan merasa BAHAGIA. Dengan saya bahagia, maka mimpi saya untuk menjadi ibu baik yang profesional seperti yang saya tulis di tulisan saya berjudul Fakultas di Universitas Kehidupan #Belajar Menjadi Lebih Baik(NHW1). bisa tercapai. Tujuannya agar anak-anak selalu bahagia telah terlahir ditengah-tengah keluarga kecil kami, begitu juga agar suami bangga telah memilih saya sebagai istrinya.

Selain itu saya juga diajarkan untuk menentukan indikator keberhasilan diri saya selama berproses, yang saya tulis di Berproses Menjadi Ibu Profesional Bagi Keluarga #Belajar Menjadi Lebih Baik(NHW2).


Hingga kemudian saya berada di titik saya harus bisa Belajar Menjadi Manajer Keluarga Yang Andal #Berproses Menjadi Lebih Baik(NHW6).

Melakukan semua itu butuh proses, dan saya tak bisa hanya berdiam diri berpangku tangan saja. Proses matrikulasi setiap minggu itulah yang membuat saya banyak berpikir dan meyakinkan diri bahwa saya bisa menemukan siapa diri saya sebenarnya, kenapa saya terlahir di dunia ini?

Saya pun mulai menemukan potensi kuat dan potensi lemah yang bisa menghalangi saya untuk melakukan Tahapan Menuju Bunda Produktif #Berproses Menjadi Lebih Baik(NHW7).

Tak dipungkiri banyak orang, keluarga atau kerabat yang mungkin bahkan memandang saya sebelah mata. Namun, saya bersyukur suami selalu menjadi penyemangat saya untuk menemukan jati diri saya sebenarnya. Salah satunya, suami selalu memasrahkan kepada saya kemana arah tujuan keluarga kami akan kami bawa melangkah. Tetapi, tak dipungkiri "memasrahkan" disini meski mungkin bisa dianggap suatu nilai positif bagi saya ini menjadi titik kelemahan kami.

Mungkin seharusnya orang akan berpikir, kenapa justru menjadi titik kelemahan? Bukankah saya jadi bisa sesuka hati menentukan tanpa perlu kuatir suami tak setuju? Memang benar adanya saya bisa sesuka hati, tetapi saya justru merasa "sendiri" menentukan kemana arah kapal yang kami tumpangi ini akan berlayar. Sehingga seperti banyak saran dari para fasilitator, Bu Septi dan Pak Dodik (yang sempat menjadi guest star di kelas matrikulasi beberapa waktu lalu), saya memutuskan untuk benar-benar membicarakan hal tersebut dengan lebih serius.

Setelah saya menuliskan beberapa ranah aktivitas yang saya sukai dan bisa, maka saya ingin memberi tahu diri saya tentang beberapa hal, yang mungkin selama ini bahkan saya sendiri belum pernah menyadarinya, karena sudah terlalu jauh tersesat mencari potensi diri saya sebenarnya.

Berkali-kali saya menanyakan pada diri sendiri, Ingin menjadi (BE) apakah saya?
Disini saya menemukan jawaban, saya ingin menjadi seorang ibu, dan istri baik yang profesional yang selalu membuat keluarga kecil saya bahagia dan bangga memiliki saya ditengah mereka. Hal lainnya saya tidak ingin menjadi seseorang yang selalu merasa tidak berguna, sehingga berbekal dengan kesukaan saya menulis (yang mungkin saya akui masih jauh dari kata sempurna), saya ingin juga menjadi seorang penulis profesional.

Lalu apa yang saya lakukan (DO) untuk bisa mencapai hal tersebut?
Apa yang ingin saya lakukan tidak terlalu muluk-muluk, saya hanya ingin BAHAGIA. Dengan bahagia maka saya bisa menyebarkan aura positif dalam keluarga saya.

Bagaimana agar saya bahagia?

Untuk bisa bahagia, maka saya harus bisa melepaskan semua tekanan baik emosi dan rasa stres saya, misalnya dengan menuangkan sebagian apa yang tersimpan dalam otak saya kedalam sebuah tulisan. Dengan menulis setidaknya saya merasa bisa mengurangi beban pikiran yang ada di otak saya.

Menulis Bisa Menjadi Salah Satu Wadah Saya Melepas Stres

Selain itu saya ingin mulai melakukan hal yang bisa dan sukai tanpa meninggalkan kewajiban saya menjaga amanah saya sebagai ibu dari anak-anak saya dan istri dari suami saya.

Misalnya, saya bisa mengajak suami dan anak-anak melakukan hal-hal yang kami sukai bersama, misalnya berenang, atau mengunjungi toko buku bersama, atau mengemudi bersama-sama sembari membicarakan mimpi-mimpi kami.

Jika saya ditanya, ingin memiliki (HAVE) apa?
Saya ingin memiliki kemampuan untuk bisa memanajemen diri dengan baik, termasuk manajemen waktu, manajemen stres, manajemen emosi, dsb. Satu lagi saya ingin suami memiliki waktu yang berkualitas untuk kami keluarga kecilnya.

Sehingga saya mulai mencoba lagi dari "nol" untuk membicarakan semua visi misi keluarga kami, ingin dibawa kemana kapal ini kami berlabuh. Kami tetap sepakat dengan motto Rumah adalah madrasah utama anak-anak, dimana ibu memiliki peran sebagai guru, dan ayah sebagai kepala sekolah. Layaknya kepala sekolah maka menurut saya, ayah tak bisa hanya memasrahkan semua kurikulum keluarga kepada ibu saja. Mau tak mau ayah juga harus ikut peran aktif dalam mendidik "guru" untuk ikut membuat "murid-murid" berhasil melalui madrasah yang kami buat.

Untuk mendiskusikan hal tersebut, maka saya perlu mencari timing yang tepat.

Sebagai gambaran biasanya saya lebih nyaman membicarakan hal-hal serius dengan suami ketika kami sedang berkendara di jalan. Alasannya simpel, biar suami nggak ngorok pas diajak ngobrol serius 😑

Sehingga, saya putuskan mengobrol bersama suami sembari berkendara di jalan. Satu poin peningkatan bagi saya, menemukan cara ngobrol santai bersama suami tanpa perlu merasa was-was yang diajak ngobrol ketiduran. Yeiii ... 😍😘

Lalu kami mulai membicarakan dan menentukan kemana arah labuhan keluarga kecil kami. Selama ini meski kami sudah sering membicarakan bersama, tapi saya tetap merasa hal tersebut hanya sebagai "Omong Kosong". Sehingga saya merasa ketika semua keluarga sudah melangkah setahap demi setahap, kami masih tetap stagnan di sini dengan mimpi-mimpi "bualan kami". Dari sini kami benar-benar harus memperbaiki diri.

Sehingga kami mulai membicarakan apa peran kami masing-masing yang seharusnya. Apa keberatan kami terhadap pasangan kami (saya terhadap suami, begitu juga suami terhadap saya). Lalu kami mulai menentukan 3 aspek dimensi waktu yang ingin kami capai.

Ketika kami mulai berdiskusi apa yang ingin kami capai dalam kurun waktu kehidupan (lifetime purpose) ada perubahan goal yang ingin kami capai. Tak dipungkiri terlahir ditengah keluarga dengan mindset keberhasilan diukur dengan materi sempat membuat kami tersesat menentukan goal. Alih-alih ingin membahagiakan dan membanggakan keluarga dengan berusaha mengumpulkan "materi", justru lelah yang sering kami dapat. Toh, setelah (misalnya) kami berhasil memiliki rumah, mobil dsb mereka hanya akan "terkagum" sejenak. Nantinya, ketika ada yang lebih "wah" dari kami, ya sudah kami dilupakan 😅.

Menyadari kesalahan tersebut, kami sepakat untuk mengubah target pencapaian kami. Satu hal yang ingin kami capai dalam kurun waktu kehidupan kami adalah sebuah kemuliaan di setiap langkah kehidupan kami.

Lalu kami mulai berbenah dan memiliki gambaran untuk menentukan target satu tahun kedepan kami, yaitu

1. Saya ingin memiliki setidaknya satu karya buku tulisan saya, sebagai bentuk dedikasi kepada suami dan anak-anak, karena mengijinkan saya menuangkan segala emosi yang bisa meledak sewaktu-waktu menjadi sebuah karya yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Yah, dengan menulis saya bisa melepas segala beban di hati dan pikiran saya.

2. Saya menjadi pribadi yang lebih sabar. Sabar, Sabar, dan Sabar itulah hal yang ingin saya capai dengan segera, sebelum anak-anak saya tumbuh menjadi dewasa. Meski ibu saya selalu mengatakan kepada saya, bahwa beliau tidak pernah mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang "keras", entah mengapa semua memori yang terlintas dibayangan saya adalah sosok beliau yang sangat galak, dan tidak pernah bisa memahami keinginan atau posisi saya sebagai anaknya. Hal itulah yang saya takutkan terjadi kepada anak-anak. Saya kuatir kelak saat dewasa bayangan saya sebagai orang tuanya yang galak akan selalu menghantui mereka. Tersebab itulah menjadi sabar saat ini merupakan pencapaian target saya untuk misi satu tahun kedepan.

Saya ingin mulai belajar memaafkan inner child saya secepatnya, agar saya bisa mendidik anak-anak bersama suami dengan bahagia, tanpa dibayang-bayangi memori masa kecil yang kurang menyenangkan.

Yah, ditahap ini saya mengakui menjadi orang tua itu tidak mudah. Mungkin ibu saya dulu berniat melakukan hal terbaik untuk saya, tetapi mungkin yang tertangkap di memori saya adalah beliau tidak bisa memahami keinginan saya sebagai anaknya. Dalam hal ini dengan support dari suami saya benar-benar ingin berbenah.

Belajar Santai Menghadapi Rumah Yang Berantakan
3. Saya ingin mulai mengubah pola hidup menjadi lebih baik, agar badan terasa fit. Parameter nyatanya mungkin berat badan turun dulu dengan cara sehat. Biar saya nggak perlu bingung memikirkan baju kerja dirumah selayaknya seorang manajer rumah tangga yang andal.

4. Saya ingin mulai merencanakan segera memiliki anak ke 3. Ini berhubungan dengan target pencapaian 5-10 tahun kedepan untuk bisa menunaikan ibadah haji bersama suami, agar saat kami menunaikan ibadah haji, anak-anak sudah menjadi pribadi mandiri.

Modus Ini

5. Kami sudah menemukan sekolah untuk anak-anak yang sesuai visi misi keluarga kami, agar anak-anak bisa menemukan potensi dirinya dengan tepat dan bisa tumbuh menjadi pribadi yang berbahagia.

6. Target pencapaian suami yang juga menjadi mimpi kami. Setidaknya karir suami sudah bergerak, seandainya pun harus move dari Surabaya Insya Allah saya dan anak-anak siap mendampingi dan mensupport. Dengan alasan yang tidak bisa dijabarkan satu persatu disini, kondisi karir suami saat ini, kami (saya terutama) merasa tidak bisa mencapai target kemuliaan keluarga kami bersama.

Apalah arti materi berlimpah jika bekerja dengan hati tak tenang, karena dibayang-bayangi rasa berdosa beberapa kali sering melihat "dengkul" mulus bertebaran dimana-mana hanya dengan dalih "tuntutan pekerjaan". Sakitnya itu disini mas, Mana kacamata kuda mana ... #Eh, kok curcol 😅

Maunya sih nunduk terus kalau jalan, tapi kalau nggak lihat kedepan kan kuatir bisa njerungup nyungsep.

Dengan karir bergerak harapan kami, semakin bisa meminimalisir hal-hal yang selama ini menjadi batu ganjalan kami untuk mendapatkan sebuah kemuliaan keluarga.
Bersungguh-sungguhlah mencari kemuliaan untuk keluargamu, maka rejeki Insya Allah akan mengikutimu.

Doa saya sebagai istri : Ya Allah, Limpahkanlah selalu barakah-Mu di setiap jejak dan langkah karir suami, agar kami bisa bersama-sama meraih kemulian Engkau untuk keluarga kami.

7. Kakak sudah mulai mandiri bisa melakukan aktivitas mandi sendiri, cebok sendiri, dan makan sendiri.

8. Adik lulus Toilet Training, alias lepas popok. Biar post pengeluaran bisa nafas sedikit, sebelum nantinya akan menyambung pengeluaran popok untuk adik berikutnya #Niat banget 😆

Timbunan Popok di Rumah 😌

9. "Ganti Mobil Merah". Ada sebuah mimpi terpendam sejak tahun lalu, kami ingin mengganti alat transportasi kami dengan yang lebih bisa memenuhi kebutuhan kami untuk mencapai kemuliaan kami. Mengingat saya tidak bisa mengendari motor, maka ada saatnya saya pasti harus mengantar jemput anak-anak pulang pergi sekolah. Dengan mimpi menambah anggota baru (baca : adik baru), maka mau nggak mau alat transportasi yang kami gunakan harus bisa menyesuaikan. Kalau kata orang "yang bisa ngangkut orang banyak". Siapa tahu hobi nyetir saya bisa diberdayakan untuk antar jemput anak-anak, dan beberapa temannya. Sehingga saya bisa menjamin keamanan dan kenyamanan beberapa sahabat.

Jadi mau bisnis antar jemput nih modusnya ? 😅

Nggak, hanya beberapa waktu lalu saat survey ke salah satu sekolah, salah seorang guru jutru setuju jika saya bersama beberapa orang tua wali murid (ibu-ibu) lainnya mulai berpikir untuk bekerja sama bergantian mengantar jemput anak-anak, agar bisa lebih terjamin keamanan dan keselamatannya.

Untuk warna merahnya sih, nggak lebih nggak kurang karena seperti request kakak. Apapun mobilnya pokoknya minta warna merah, tapi bukan mobil damkar ya. 😟

10. Terbiasa menggunakan sepatu kemana saja saya pergi. Sebenarnya ini lebih kepada agar saya bisa menjaga kemuliaan diri untuk keluarga saya, dimana saya baru-baru ini menyadari ternyata kaki masih masuk dalam aurat yang harus tertutupi, dan tidak mungkin tertutupi jika kemana-mana saya hobinya pakai sandal jepit, kecuali saya menggunakan kaos kaki. Sayangnya suami orang pertama yang bakal protes ketika saya menggunakan sandal dengan kaos kaki. Jadi solusinya mungkin bisa mengganti kenyamanan sandal jepit dengan sepatu #Sederhana tapi perlu pembiasaan 😉

Berusaha Membiasakan Diri Bersepatu
Dan kami mulai membicarakan target pencapaian 5-10 tahun kedepan.

1. Menunaikan ibadah haji. Sebenarnya ini kami ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sangat dalam kepada ibu saya yang sudah mendaftarkan kami haji sesaat sebelum saya hamil anak pertama. Namun, untuk bisa merealisasikannya kami tetap harus bersabar mungkin 10 tahun ke depan. Sehingga setidaknya mulai sekarang kami bisa mulai sedikit demi sedikit menabung.

2. Suami mulai menemukan potensi kekuatannya untuk bisa memulai bisnis atau mimpinya sebagai bekal meningkatkan misi kemuliaan keluarga kami. Misi kemuliaan kami, disini kami bermimpi bisa selalu membantu banyak orang di Jalan Allah, tanpa "perhitungan" dan "pertimbangan", sekalipun nanti kami berada di masa pensiun.

3. Saya bisa menularkan hal-hal positif yang sudah saya dapat selama berproses menjadi lebih baik, melalui karya tulisan saya yang lebih banyak.

4. Hutang lunas semua tanpa melibatkan hal-hal yang berbau riba'. Semoga Allah memberkahi setiap usaha langkah kami untuk menjadi lebih baik.

5. Bersama suami sudah bisa mengenali potensi, bakat, dan minat anak-anak, agar anak-anak bisa menentukan masa depannya dengan bahagia.


Dengan memulai semua mimpi kami tersebut, maka saya hanya bisa memulai dengan ucapan Bismillah, Semoga Allah selalu meridhai dan meberkahi semua langkah yang akan kami lewati. Doa kami, agar Allah selalu memberikan kami kesehatan, dan umur panjang yang barakah. Amin, Amin Ya Rabbal Alamin.

Bismillahirrahmanirrahim
Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

La haula Wala Quwwata Illa Billah
Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan Izin Allah SWT

Insya Allah, Atas Seizin Allah maka semua mimpi kami akan tercapai satu persatu.
Amin Amin Ya Rabbal Alamin. 

No comments:

Post a Comment