Wednesday, March 1, 2017

Pengalaman Berburu Sekolah Yang Sesuai Visi Misi Keluarga

Sudah sejak tahun lalu sebenarnya saya sudah berniat survey sekolah bersama suami untuk anak-anak, sayangnya banyak alasan yang membuat rencana tersebut tertunda. Hingga akhirnya beberapa waktu lalu akhirnya kami berhasil merealisasikan rencana survey kami ke 2 sekolah yang kami idam-idamkan. Saya pun mempersiapkan diri. Sesuai sharing dengan salah satu sahabat saya Mama Enji, ada beberapa Hal yang harus dipersiapkan sebelum survey sekolah.



Satu hal yang saya dan suami sepakati kami ingin mencari sekolah yang memiliki visi misi sesuai dengan visi misi keluarga kami. Untuk visi misi keluarga kami dalam hal pendidikan anak-anak secara garis besar mungkin bisa dilihat di tulisan saya yang berjudul, Belajar Membuat Desain Pembelajaran ala Keluarga Kami #BerprosesMenjadiLebihBaik.

Sesuai saran sahabat saya mama Enji yang pernah memiliki basic sebagai pengajar dengan murid-murid yang sukses dan dulu sering saya ajak diskusi tentang parenting anak, maka kami memutuskan untuk mencari lokasi sekolah yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Alasannya, agar anak tidak terlalu lelah selama perjalanan.

Mengingat perkembangan jaman semakin maju dan bisa dibilang semakin bebas, maka suami dan saya sepakat untuk mencari sekolah dengan basic agama.

Dari pertimbangan tersebut, kami akhirnya mengerucutkan pilihan di dua sekolahan (tidak perlu saya sebut ya nama sekolahnya). Sebut saja sekolah A untuk sekolah yang kami datangi di awal, dan B untuk sekolah yang kami datangi berikutnya.

Saat mendatangi ke dua sekolahan tersebut, kami tidak hanya terpaku bertanya saja, tapi kami mencoba menggali info dari beberapa civitas sekolah yang ada disana. Seperti di tulisan saya tentang Perencanaan Pemilihan Sekolah Anak Sejak Dini dimana disana dijelaskan oleh mama Enji bahwa seluruh civitas berperan penting dalam kehidupan sekolah anak-anak.

Jadi setelah saya menggali info dan mengamati kegiatan yang ada di sekolah tersebut saya sedikit menyimpulkan beberapa hal dari pengamatan saya.
  • Dari segi kurikulum dan bekal agama
Sekolah A, saya lihat memang bagus dari segi pembekalan agama, tapi untuk kurikulum menurut saya terlalu berat. Meski demikian saya melihat murid-murid yang saat itu belum pulang terlihat ceria bermain menunggu jemputan.

Sekolah B, meski ada kurikulum tentang agama, saya melihat mungkin basic pendidikan agamanya tidak "sekental" di sekolah A. Dari segi kurikulum mungkin lebih ringan, tapi dari segi jam sekolah untuk jenjang SD kelas 1-3 sedikit lebih lama dari sekolah A. Sebenarnya ini yang membuat kami sedikit berat, karena saya sendiri dulu saat SD saya pernah ikut sekolah full day scholl , dimana saat itu saya merasa sangat kelelahan.
  • Dari segi pelajaran Calistung
Saat saya menanyakan bagaimana tentang metode pelajaran TK, apakah anak akan diajarkan calistung?
Baik sekolah A maupun sekolah B mengatakan bahwa di jenjang SD tidak diajarkan pelajaran calistung. Namun, sekolah A menambahkan nantinya anak hanya akan dikenalkan saja dengan huruf dan angka. Meski demikian ada yang saya garis bawahi, yaitu
Sekolah A, pada saat nanti anak masuk ke jenjang SD maka anak akan dikelompokkan sesuai kemampuan membacanya, sehingga bagi anak-anak yang belum bisa membaca nantinya akan mendapat kelas tambahan di drilling agar segera bisa membaca, agar bisa membaca pelajaran yang diperlukan mengikuti kurikulum yang berlaku.

Sekolah B, saya belum sempat menanyakan, apakah nantinya anak akan di drilling agar bisa membaca. Tetapi nantinya anak-anak akan dibebaskan sampai usia anak kelas 3. Namun, dari yang dikatakan sang guru, beliau yakin bahwa anak akan dengan mudah mengikuti pelajaran termasuk membaca jika memang usia anak-anak sudah tepat.
  • Dari segi keamanan lingkungan
Nah untuk yang satu ini, mengingat usia balita bisa dibilang belum usia mandiri maka hal pertama yang saya survey adalah lokasi toilet.

Sekolah A, memberlakukan sistem adanya guru pendamping di toilet, tapi sayangnya ketika kami survey saat itu karena jam pelajaran sudah berakhir, maka saya hanya melihat kondisi toilet sudah kosong. Tapi saya sempat survey kondisi toiletnya, karena kebetulan anak saya minta antar ke toilet. Disana saya lihat terdapat 2-3 bangku kecil yang menurut saya mungkin itu tempat  guru pendamping berjaga didalam toilet jika ada murid yang ingin ke toilet. Ketika saya tanyakan kepada salah satu guru yang menyambut saya tadi diawal, biasanya jika murid memang sudah bisa mandiri (bisa cebok sendiri) maka sang guru tidak akan membantunya, hanya akan mengingatkan bahwa apakah cara ceboknya sudah benar, dan apakah closet sudah disiram dengan benar.

Sekolah B, juga memberlakukan pendamping toilet. Tapi saat saya datang, saya tidak melihat adanya pendamping toilet didepan kamar mandi. Ternyata setelah saya perhatikan agak lama saya baru tahu jika ada seorang ibu yang memang dari tadi riwa-riwi dari kantin ke toilet karena harus membereskan sesuatu di kantin itu lah yang merupakan pendamping untuk siswa yang ingin minta antar ke toilet. Ketika saya pancing si ibu, tentang bagaimana cara si ibu menghandel anak-anak yang ingin ke toilet, apakah ada anak yang sudah mandiri? Ternyata si ibu menjawab, sebenarnya ada banyak yang sudah bisa mandiri ke toilet sendiri, bisa cebok dan pasang celana sendiri, tapi beliau tetap tidak tega sehingga seringnya beliau tetap membantu para murid yang membutuhkan ke toilet.

Selain survey toilet saya juga mengamati bangunannya, dimana seperti yang saya amati ada perbedaan yang mencolok.

Sekolah A, meskipun ada beberapa pintu masuk tapi ruang kelasnya loss jadi satu. Saya jadi ingat cerita salah seorang teman saya yang juga survey sekolah untuk anaknya. dimana satu hal yang membuat dia lega saat memilih sekolah adalah karena tidak ada bagian sedikitpun dari ruang kelasnya yang bisa memicu hal-hal yang tidak diinginkan, atau dengan kata lain tidak ada sudut ruangan yang bisa lepas dari pandangan gurunya. Ruang kelasnya juga berada di lantai satu, sehingga jika pun anak tidak betah dikelas, mereka tidak perlu naik turun dan lepas dari pengawasan sang guru.

Sekolah B, seperti yang saya perhatikan ada beberapa ruangan, dimana untuk kelas TK ternyata berada di lantai dua. Untuk tangga berbelok dan terdapat celah ruang kecil kosong di belokan tangga, yang menurut saya jika sang guru lengah dikuatirkan menjadi celah hal yang tidak diinginkan. Begitu juga lapangannya yang sangat luas dan play ground bida dibilang menjadi satu dengan lapangan SD sebenarnya membuat saya sedikit waspada. Tapi menurut sang guru tidak masalah karena sejak awal anak-anak sudah diberi peringatan bahwa mereka tidak boleh dimana dan hanya boleh dimana.
  • Tenaga Pengajar
Sekolah A, dalam satu kelas terdiri dari 12 siswa dengan 1 pengajar. Seluruh pengajarnya saya lihat perempuan.

Sekolah B, dalam satu kelas terdiri dari 15 siswa dengan 2 pengajar. Pengajar tidak hanya perempuan, tapi ada pengajar laki-laki.

Jujur untuk yang satu ini saya lebih merasa nyaman dan aman jika seluruh pengajarnya perempuan semua.
  • Transportasi
Sekolah A, menggunakan sistem antar jemput menggunakan tenaga dari orang dalam saja. Sehingga insya Allah lebih bisa dijamin keamanannya.

Sekolah B, menggunakan sistem antar jemput kerja sama dengan pihak luar dengan sistem kontrak. Dimana setelah saya gali, sekolah tersebut pernah memberhentikan sopir dan tidak memperpanjang jasa antar jemput yang biasa digunakan karena ada keluahan dari wali murid.
  • Fasilitas Parkiran
Sekolah A, memiliki lahan parkiran yang sempit, sehingga saya kurang yakin akan bisa mendapat parkiran dengan nyaman saat mengantar anak sekolah. Namun, menurut sang guru pada saat pagi hari mereka akan berada di halaman parkir untuk menyambut para murid datang.

Sekolah B, memiliki lahan parkir yang lebih luas. Setelah saya korek informasi dari security yang menjaga gerbang, menurutnya selama ini tidak pernah ada mobil yang tidak mendapat parkir. Selain itu dipagi hari juga sang guru akan menyambut di pintu gerbang sekolah, sehingga memudahkan saya jika memang hanya ingin mengedrop anak tanpa harus parkir.

Dari beberapa list tersebut sebenarnya saya masih agak kurang sreg, saya dan suami masih memiliki beda pandangan. Disatu sisi suami lebih condong anak-anak memilih sekolah A, dengan alasan jangan sampai kami merebut masa kecil anak-anak yang seharusnya digunakan bermain malah digunakan untuk menerima pelajaran yang berat.

Namun, saya sendiri masih keberatan dengan pilihan tersebut, karena menurut saya, pendidikan agama di sekolah A belum "sekental" di sekolah B. Atas dasar pertimbangan tersebut, beberapa hari berikutnya kami sepakat survey satu sekolah lagi yang menurut kami memiliki track record keren. Sebut saja sekolah C.

Di sekolah C, awalnya pihak sekolah yang menerima kami sepertinya mengira kami salah tujuan, karena beliau menanyakan, "ibu mau tanya tentang sekolah SD atau TK ya?". Ketika saya menyebutkan, kami memang berniat survey sekolah SD, pihak sekolah yang menerima kami sempat tersenyum agak aneh. Mungkin kami dikira hanya iseng-iseng saja. Namun, setelah saya jelaskan bahwa tujuan saya survey sekolah lebih awal, adalah karena dikuatirkan kuota penerimaan sudah penuh beberapa tahun sebelum pendaftaran dibuka seperti yang pernah diceritakan oleh guru SD adik saya di sekolahannya.

Hal pertama yang saya tanyakan adalah tentang kurikulum tingkat SD nya. Dari info yang diberikan, sekolahan tersebut menggunakan 3 kurikulum, yaitu diknas, kurikulum sekolah tersebut (kebetulan sekolah tersebut memiliki link sekolah yang sama di kota lain), dan kurikulum luar negeri. Agak berat menurut saya.

Dengan alasan tersebut maka diharapkan siswa yang mendaftar di sekolah tersebut diharapkan sudah harus bisa membaca saat masuk. Tambahan lainnya menurut saya sekolah tersebut juga mengajarkan para siswanya untuk berkompetisi. Hal ini terlihat, ketika saya menanyakan apakah kurikulum tersebut tidak terlalu berat untuk para murid? Apakah anak-anak tidak stres? Ternyata menurutnya, selama ini tidak ada murid yang stres, mereka justru antusias "berlomba-lomba" belajar saat ada pemberitahuan pertukaran pelajar luar negeri.

Terkesan kurang adil sebenarnya jika saya memutuskan menyudahi survey saya kali itu tanpa melihat lebih jauh bagaimana lingkungannya. Meski sebenarnya salah satu visi misinya mirip dengan cita-cita keluarga kami agar anak-anak bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri, tapi mengingat kurikulum yang menurut kami sangat berat maka kami memutuskan undur diri.

Kami menyempatkan diri survey ke jenjang TK, dimana dari info yang kami dapat, di jenjang TK anak-anak memang tidak diajarkan calistung. Saya sebenarnya masih belum ada gambaran gimana nantinya ketika TK tidak diajarkan tapi saat mendaftar SD disarankan sudah bisa membaca.

Sekilas saya melihat lingkungannya, jika boleh jujur saya melihat para murid disana termasuk anak-anak dari kalangan menengah atas. Bagaimana tidak, jika salah satu sepatu yang digunakan muridnya saya kenali berharga lima ratus ribu. Saya agak menciut sebenarnya melihat hal tersebut, yang saya takutnya nanti anak saya akan terbawa kompetisi siapa yang lebih keren dengan teman-teman sekolahnya dalam hal fashion.

Ternyata beberapa hari kemudian saya mendapat info dari salah satu tetangga yang anaknya bersekolah disana, hal yang menurutnya membuatnya kurang sreg adalah komunitas ortu disana ada membentuk geng-geng an, dan tidak semua orang bisa masuk. Nice info sekali menurut saya, setidaknya saya ada gambaran bagaimana lingkungan sekolahnya.

Jadi dari tiga sekolah tersebut kami berdiskusi mana sekolah yang lebih baik untuk anak-anak saya? Seperti yang pernah saya sharingkan dengan mama enji, bahwa sekolah yang terbaik adalah sekolah yang memiliki visi misi yang sama dengan sekolah kita.

Tetapi biasanya tidak semua sekolah memiliki visi misi 100% sama seperti kita, jika sudah seperti itu maka kita bisa mencari sekolah dengan visi misi yang paling mendekati. Jika pun tak ada yang mendekati maka kita bisa mencari sekolah yang terbaik dari yang ada. Nanti apa yang kurang dari sekolah tersebut bisa kita tambahkan dari luar jam sekolah.

Seperti yang selalu ditekankan oleh mama Enji, intinya jangan lupa rumah adalah madrasah utama anak, sehingga anak adalah tanggung jawab utama orang tua, jangan sampai kebalik, dengan merasa sekolah yang kita pilih baik lantas membenarkan kita untuk pasrah urusan anak kepada sekolah. Tidak ada yang lebih bertanggung jawab atas anak kita kecuali kita sebagai orang tua nya.

Sehingga seandainya harus memilih sekolah negeri pun juga tak ada yang salah. Nanti bagaimana tugas kita sebagai orang tua agar bisa membekali anak-anak dengan bekal ilmu agama yang kuat dari rumah. Untuk urusan cita-cita atau goal mereka, menurut mama Enji saya tak perlu kuatir, selama saya bisa mensupport anak-anak untuk bisa menemukan potensi dan jati dirinya, maka anak-anak akan bisa bertahan di manapun berada dalam segala situasi.

No comments:

Post a Comment