Sunday, March 5, 2017

Salut Usaha Owner Mouza, Dinii Fitriyah

Saya pertama kali bertemu dengan Bunda Dinii Fitriyah (ah sepertinya saya lebih nyaman tetap memanggil mbak Dinii saja kali ya), dulu saat kopdarnas (kopi darat nasional) komunitas Aku Ingin Hamil di Jakarta.



Saat itu posisi saya masih menanti buah hati, sedangkan mbak Dinii sudah memiliki dua buah hati.

Jujur... (boleh jujur ya mbak Dinii), kesan pertama saya bertemu dengannya saya sering mengernyitkan dahi melihat pemandangan mak Dinii menghandel dua buah hati.

Dimana saat itu saya melihatnya sebagai sosok cuek yang tidak memperdulikan anak-anaknya. Justru yang saya perhatikan suami mak Dinii lebih sering menghandle anak-anaknya.

Lalu tak lama kemudian saya mendengar kabar mbak Dinii hamil dan melahirkan anak ke empat.

Tak lama setelah itu saya mendengar kabar kurang menyedapkan tentang servis yang diberikan oleh mbak dinii terkait bisnis (komputernya).

Bahkan saat itu saya termasuk yang ikut gemes, dan suwer ikut nyindir mbak Dinii melalui status facebook saya. Ya Allah maafkan saya mbak *sungkem*

Lama tak pernah ngobrol langsung dengan mbak Dinii karena kehebohan saya dengan kehamilan saya yang pertama dimana ketika si kakak lahir tak lama kemudian saat usianya menginjak 10 bulan saya hamil ke dua.

Disinilah saya mulai merasakan kehebohan menjadi emak kesundulan. Yah disinilah seperti ada yang menegur hati saya, bahwa apa bedanya saya dengan mbak Dinii ketika berada di muka umum?

Mungkin jika bertemu dengan saya secara langsung ditempat umum orang akan mengira saya emak-emak yang cuek nggak mau rempong mikirin anak-anak saya, karena memang yang terlihat aktif justru suami saya. Padahal mungkin dibelakang saya sering mengeluh jika suami lebih mementingkan pekerjaannya.

Semacam emak-emak butuh piknik, jika suami libur maka serta merta saya akan menyerahkan urusan anak-anak kepada suami. Hingga akhirnya saya pun ingin berproses menjadi ibu baik yang profesional.

Lalu sepertinya hati nurani saya menegur, kalau saya seperti itu terus (berlaku cuek kepada anak-anak, ketika ada suami) apa bedanya dengan mbak Dinii?

Ah saya jadi malu ... Merasa sudah terlalu sok tau menilai orang lain hanya karena "asumsi" saya saat itu padahal saya sendiri saat itu belum pernah merasakan kehebohan memiliki buah hati. Dulu saya nggak tahu jika ada istilah babyblues, dsb.

Layaknya emak-emak kesundulan lainnya saya pun merasakan hebohnya menghandel dua balita berjarak usia dekat.

Kemudian saya mulai memperhatikan status-status FBnya.

Hingga akhirnya saya mulai memfollow akun instagramnya. Disitu seperti biasa saya meminta mbak Dinii memfollow balik akun instagram saya.

Sayangnya selang beberapa hari ketika saya mengecek follower instagram melalui sebuah aplikasi instafollow saya mendapati jika mbak Dinii meng unfollow saya.

Kecewa? Tentu ...
Sempat suudzon mungkin mbak Dinii merasa "nggak penting" memfollow akun instagram saya @vety_fakhrudin

Mungkin seperti kata orang, "sopo kowe njaluk difollow wong keren?"

Ih iya siapa saya? Saya bukan siapa-siapa sedangkan mbak Dinii kan sekarang sudah jadi orang keren yang punya bisnis hebat! Bahkan dia sudah sering menjadi pembicara di beberapa talk show atau seminar bisnis.

Mungkin mbak Dinii sudah lupa dengan saya ... Ih mbak Dinii masak lupa sama saya, kan kita dulu pernah sama-sama pas mobilnya mbak Dinii kena tilang polisi.
Eh saya boleh bangga dong tersebab pernah semobil dengan mbak Dinii #eaaaaaa ...

Ada banyak pertanyaan-pertanyaan suudzon bermunculan di kepala ... Apa iya mbak Dinii jadi sombong sekarang???

Lalu saya mencoba berkhusnudzon dengan langsung menanyakan perihal follow unfollow instagram tersebut.

Ternyata dari pengakuan mbak Dinii, saya mendapat jawaban, bahwa mungkin tanpa sengaja terpencet tombol unfollow saat handphone nya dibuat mainan oleh anak-anaknya.

Ada terselip rasa malu saat ingat rasa "suudzon" itu.

Tapi tak lama kemudian tiba-tiba saya di unfollow lagi tapi lalu tiba-tiba di follow lagi *ah fix nih saya jadi macam stalker follower 😑

Astaghfirullah ...

Lalu saya sempat curhat ke teman, disitu teman saya menyampaikan bahwa dari cerita saya tentang aplikasi yang bisa melihat siapa saja yang sudah meng-unfollow saya, berarti sebaiknya dia mengurungkan niat memakai aplikasi tersebut, biar dia nggak "sakit hati" jika mendapati daftar nama-nama teman-teman yang meng-unfollownya.

Ah benar juga nasehat dia, kenapa saya jadi pusing mikirin siapa-siapa yang meng-unfollow saya. Rasanya kok sepertinya saya terlalu gila follower *huahahahahaha ... Jitak juga nih 😂

Singkat cerita dengan membuang jauh rasa suudzon saya, saya mulai menyambung silaturrahmi dengan mbak Dinii.

Saya salut dengan status-status yang di share melalui facebook.

Satu hal yang membuat saya salut, mbak Dinii ini bisa dibilang salah satu dari sekian banyak emak-emak kesundulan yang sukses. Yah anak ke 3 dan ke 4 nya berjarak usia dekat. Dari banyak cerita yang saya dapat mbak Dinii ini sebenarnya memang sudah menjadi ibu dari 4 buah hati, sedihnya putra ke duanya sudah dipanggil sang khalik ketika baru berusia sekitar satu bulan. Innalillahi wa innailaihi raji'un.

Yang membuat saya makin salut, mbak Dinii ini bisa melewati episode-episode dalam hidupnya, yang bahkan saya sendiri tak sanggup membayangkannya.

Salah satunya ketika dia dan suaminya harus berjuang pindah di sebuah kos sempit berhimpit-himpitan dengan anak-anak dan suaminya, dikarenakan bisnis komputer sebelumnya yang pernah dijalankan tidak berjalan seperti yang diharapkannya.

Meski demikian dia bisa bangkit memulai bisnis baru. Terkesan sepele mungkin hanya bisnis baju busana muslim melalui online shop, tapi meski demikian saya melihat bisnisnya semakin maju, karena ada banyak agen tersebar yang dimilikinya.

Saya salut karena saya sendiri sering merasa tidak berdaya melakukan hal yang bisa bermanfaat untuk keluarga kecil saya. Saya bahkan sering merasa "keteteran" menghandel dua balita saya yang berjarak usia dekat.

Tapi justru dari status-status FB mbak Dinii saya jadi bisa mulai mencoba bertanya pada diri saya sendiri untuk menggali hal apa yang bisa saya lakukan agar saya bisa bermanfaat bagi keluarga kecil saya dan juga lingkungan sekitar saya.

Dari mbak Dinii saya belajar, bahwa seorang ibu kesundulan juga bisa sukses ... Tinggal bagaimana memposisikan diri saja ...

Tak perlu takut dengan anggapan-anggapan orang tentang kita ...

Seperti sebuah nasehat yang pernah saya dapat di sebuah grup, apapun kata orang tentang kita selama kita berniat baik, maka abaikan saja, karena kita hanya punya dua tangan. Dua tangan kita tidak mungkin kita gunakan untuk menutup mulut orang satu persatu yang menjelek-jelekkan kita dibelakang, tapi dengan dua tangan kita, kita bisa menutup telinga kita dari mendengarkan hal-hal yang menyakitkan agar kita bisa terus melangkah menjadi lebih baik.

Pernah juga saya membaca sebuah nasehat, "Jika ada yang membicarakan kita dibelakang kita, berarti kita sedang berada didepan mereka".

Diluar itu semua, satu hal yang ditekankan oleh mba Dinii, sesibuk apapun mbak Dinii, anak-anak tetap jadi prioritas. Mbak Dinii tetap mengantar anak-anak sekolah, kalau sore tetap mengantar mereka mengaji, les, dsb.

Jujur dari tulisan ini, saya ingin mengatakan "Kamu Hebat Mak Din!" Sambil acungin jempol 😍😘

Teruntuk Mbak Dinii, Maafin aku ya mbak Dinii yang sudah suudzon bolak balik sama mbak Dinii 😭

1 comment:

  1. salam kenal mba Vety...maaf baru sempet bw. sy klo bw rapelan gitu hahaha.

    ReplyDelete