Tuesday, March 28, 2017

Samakah HOME EDUCATION vs HOME SCHOOLING???

Akhir-akhir ini saya sering mendengar istilah home education? Apa home education berbeda dengan home schooling? Jika diartikan sekilas mungkin memang sama artinya, tetapi menurut saya keduanya memiliki makna mendalam yang sangat berbeda. Jadi begini kira-kira tanggapan saya mengenai home education ...

Jika diartikan secara singkat saya mengartikan home schooling adalah sekolah dirumah. Sedangkan home education adalah pendidikan dari rumah. Sekilas tak ada yang berbeda, tetapi saat saya mencoba menyelami kedua istilah tersebut saya menyimpulkan keduanya memiliki makna yang sangat jauh sekali.

Dimana menurut saya home education ini lebih kepada bagaimana peran kita sebagai orang tua mengajarkan anak-anak tentang batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh untuk anak-anak sehingga kedepannya anak-anak menjadi pribadi yang mulia.

Mungkin jika diibaratkan dalam kehidupan sehari-hari, tak dipungkiri selama ini sering kali kita melihat ada banyak anak-anak cerdas dalam berbagai bidang, sayangnya hal tersebut tidak dibarengi dengan mental dan spiritual yang baik. Sering kali kita melihat ada banyak anak pintar, tapi mereka kurang ajar. Nah, menurut saya home education inilah yang berperan penting pada perilaku anak-anak tadi.

Seorang sahabat sempat bertanya kepada saya, jadi kira-kira apa yang harus dilakukan pertama kali untuk melakukan home education ini?

Disini sebenarnya saya tidak bisa menjawab banyak, karena saya sendiri baru mendengar istilah tersebut selama belajar berproses menjadi ibu yang baik bagi anak-anak dan istri yang bisa dibanggakan untuk suami.

Namun, saya memiliki sudut pandang bahwa untuk memulai home education ini kita harus memulai dengan menentukan visi misi keluarga kita harus dibawah kemana. Dengan menentukan visi misi tersebut maka kita bisa menentukan desain pembelajaran ala keluarga kami.

Adapun tujuan membuat desain pembelajaran ala keluarga kami sebenarnya bukan hanya tentang materi pelajaran yang harus diterima anak-anak kami sesuai kurikulum yang berlaku di sekolah, tetapi menurut kami lebih kepada pembelajaran menjadi pribadi yang kelak diharapkan bisa mengenal potensi kuatnya masing-masing.

Dengan mengenal potensi kuatnya, maka setidaknya mereka lebih bisa mensyukuri atas peran mereka di bumi ini, sehingga mereka semakin bisa mengenal jati diri mereka. Untuk apa mereka dilahirkan ke dunia ini, dan mengapa mereka terlahir di tengah keluarga kecil kami.

Untuk bisa mencapai itu semua, maka langkah awal yang harus saya usahakan bersama suami adalah mendidik anak-anak sesuai fitrahnya. Dimana fitrah individu terbagi menjadi 8, dan jika kita berhasil mendidik sesuai fitrah-fitrah tersebut, maka saya yakin anak-anak kita akan menjadi pribadi hebat, yang tangguh dan mulia.

Ada banyak manfaat yang bisa kita petik dengan mendidik anak sesuai fitrahnya. Tentang pembagian fitrah ini saya sudah pernah menulisnya dalam artikel saya berjudul : Berita Penusukan Mantan Kekasih, Menjadi Perenungan Kami Mendidik Anak Sesuai Fitrah 

Langkah selanjutnya yang coba saya usahakan untuk bisa mendidik anak-anak sesuai fitrah yaitu dengan berusaha membuat anak-anak merasa bahagia tentunya. Sehingga suami dan saya sedang belajar untuk tak membiarkan relung jiwa mereka kosong.
Tahapan agar relung jiwa mereka tak kosong, salah satunya dengan berusaha membuat aktivitas bermanfaat yang menyenangkan bagi anak-anak.

Indikator keberhasilan kami mengisi relung jiwa anak-anak dengan melihat mereka bahagia. Sehingga baru-baru ini suami dan saya sepakat membuat raport untuk kami masing-masing.

Jika biasanya kita sering terbiasa memberikan reward kepada anak-anak misalnya dengan indikator raport anak-anak, maka kali ini kami mencoba membuat raport untuk suami dan saya.

Raport Kami Hari Ini, Yeiii Kakak Adik Bahagia 😍😘
Kami sepakat setiap harinya, setelah kami menjalani aktifitas kami seharian bersama anak-anak, maka dimalam hari kami akan melakukan sesi sharing bersama anak-anak, dimana kami akan menanyakan sebuah pertanyaan yang simple tapi bermakna dalam untuk kami, yaitu "Apakah hari ini kalian bahagia?"

Jika tidak kenapa, jika iya apa alasannya. Dari situ kami nantinya akan bisa mengoreksi apa-apa yang kurang dari pola asuh kami sehingga kedepannya kami bisa terusa memperbaiki diri. Sebaliknya jika ternyata kami mendapat jawaban iya, maka setidaknya kami bisa berusaha mempertahankan pola asuh kami dan meningkatkan performa kinerja kami dalam keluarga.

Lalu apa hubungan indikator kebahagiaan anak-anak ini dengan home education? Saya pribadi melihat keduanya saling berhubungan. Dimana ketika anak-anak bahagia maka mereka akan dengan mudah menerima pendidikan, landasan-landasan yang kami berikan kepada meraka sesuai norma.

Salah Satu Usaha Kami Meningkatkan Kemuliaan Anak, Dengan Membacakan Cerita Bermuatan Positif
Nah, iya saya langsung nyambung home education ini lebih kepada landasan pendidikan edukasi dari dalam keluarga, salah satunya dengan tidak membiarkan relung jiwa anak-anak menjadi kosong. Menurut saya hal ini tentu berbeda dengan istilah home schooling yang menurut saya lebih kepada sekolah yang dilakukan dari rumah.

Saat ini kita tidak asing juga dengan istilah home schooling, dimana anak menempuh pendidikan sekolah di rumah tidak di sekolah formal. Meski demikian, yang perlu digaris bawahi entah nantinya kami akan memilih sekolah formal atau home schooling untuk anak-anak, satu yang pasti kami tak boleh melupakan home education untuk anak-anak.

Singkatnya mungkin bisa diibaratkan home education ini serupa dengan konsep "rumah adalah madrasah utama untuk anak". Dengan adanya landasan home education yang kuat dari madrasah keluarga maka kami berharap kelak anak-anak lebih siap saat dilepas berada di tengah masyarakat, karena mereka memiliki sebuah kepercayaan diri terhadap kami keluarganya selaku supporter utama mereka. 

Satu hal lagi yang selalu saya garis bawahi tentang home education ini jika di hubungkan dengan visi misi kami "rumah adalah madrasah utama anak", maka suami dan saya harus sadar dengan benar bahwa anak adalah tanggung jawab utama dari orang tua. Baik tidaknya anak-anak tentu tak bisa lepas dari peran orang tua dalam mendampingi anak-anak selama tumbuh kembangnya.

Doa kami selalu, Nak, Tumbuhlah kalian menjadi pribadi yang mulia 😘

No comments:

Post a Comment