Saturday, April 1, 2017

Bagaimana Agar Anak Tidak Menjadi Korban Kejahatan?

Beberapa waktu lalu sempat heboh tentang berita pedofil pelaku kejahatan pada anak. Mau tak mau berita tersebut cukup membuat panik dan was-was banyak orang tua. Bahkan hampir setiap hari di grup komunitas parenting yang saya ikuti membahas hal tersebut. Diskusi demi diskusi bagaimana cara melindungi anak-anak kita dari kejahatan terus menjadi tema yang menari. Ada banyak sharing dan cara sudut pandang bagaimana cara melindungi anak-anak dari kejahatan tersebut. Meski demikian hanya beberapa yang lebih membuat saya nyaman dengan tips-tips nya. Begini kira-kira sharing yang saya dapat dari obrolan santai bersama teman-teman hebat di Institut Ibu Profesional.


Bismillahirrahmanirrahim, Semoga tulisan saya bisa bermanfaat untuk semua.

Jadi menanggapi kejadian kejahatan pada anak yang merebak akhir-akhir ini, apa yang bisa kita lakukan sebagai orang tua kepada anak? Meski was-was tentu tidak mungkin kita memilih jalan mengurung anak terus menerus. Alih-alih mengurung anak agar selamat di dunia, menurut saya justru membuat anak kudet alias kurang up to date. Menurut saya hal ini malah bisa berpotensi anak menjadi sasaran kejahatan, karena tidak tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukannya.

Sebaliknya bisa jadi anak juga akan semakin penasaran dan membuatnya mencari jawaban sendiri di luar, yang sudah jelas jika tidak kita dampingi maka bisa jadi mereka akan mendapat jawaban yang ternyata salah.

Jadi bagaimana dong kita sebagai orang tua menyikapinya?
Saya pun mendapat share link video youtube dari mbak Gritti sbb :

Dijelaskan oleh Mbak Gritti salah satu teman di IIP dengan background pendidikan psikologi, menurutnya intinya yang harus kita lakukan pertama kali adalah : Memperbaiki Pola Komunikasi dengan Anak.

Caranya, yaitu dengan :
Memperbanyak diskusi (tanya-menjelaskan-tanya-roleplay, minta anak mengulangi). Bukan memberi intruksi lebih dulu, karena Pola Asuh Instruktif akan membuat kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah menjadi tumpul. Sehingga bisa menyebabkan anak tidak bisa berpikir secara kritis, dan membuat gampang lupa dengan apa yang sudah dipesankan (nasehat) dari orang tua. Hal inilah yang justru bisa membuat mereka ketika dalam situasi yang membahayakan akan gampang nurut dengan penjahat.
Adapun Contoh Pola Asuh Instruktif yaitu :
Menyuruh anak melakukan ini itu
Selalu memberi tahu caranya, kurang memberi kesempatan anak untuk berpikir bagaimana cara menyelesaikannya.

Misalnya :
Ketika anak tidak sengaja menumpahkan minuman, lantai menjadi basah. Kita sebagai emaknya pasti panik (kalau saya sih sudah jelas heboh duluan πŸ˜‚).
Kemudian biasanya otomatis kita akan bilang, "Aduh dek, jadi basah kan!!! Kena karpet lagi, ambil pel sana cepet. Itu bagian sana di pel, bagian sini juga." 

Atau bisa juga kalau episode di anak kecil biasanya begini, "Adek, pokonya nanti kalau di rumah tante nggak boleh naik-naik kursi ya. Duduk saja yang manis sama mama. Nanti kalau adek pintar mama kasih es krim ya waktu pulang!"

Juga begini,
"Aduh adekkkkkk, itu mandi kok nggak bersih sih??? Makanya kalau mandi itu yang bagian sini juga digosok, disiram jangan lupa gosok gigi, lidahnya tuh jangan lupa disikat!"

Pola asuh instruktif biasanya sering dilakukan oleh orang tua prefeksionis, karena standart mereka yang tinggi. Meski demikian tidak semua orang perfek melakukannya.

Untuk pola pengasuhan sebenarnya ada beberapa tipe pengasuhan :

Tetapi menurut mbak Gritti sebaiknya semua tipe pengasuhan bersifat situasional, disesuaikan dengan kondisi yang sedang terjadi. 

Contohnya :
Saat anak sedang tantrum, sedang melakukan hal-hal yang membuat orang tua malu didepan publik, atau saat anak menolak melakukan sesuatu, begini kira-kira uraian dari mbak Gritti :

πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘§‍πŸ‘¦ Permisifitas atau memanjakan sangat tidak dianjurkan saat permintaan anak berupa barang atau keinginan irasional (tidak masuk akal). Yang perlu digaris bawahi disini yang diminta adalah keinginan bukan kebutuhan. Boleh-boleh saja memberikan sesuatu yang anak suka tetapi sebagai bentuk apresiasi.

Sah-Sah Saja kita bersikap agak memanjakan anak ketika dalam kondisi :
Saat sakit
Saat anak sedang dalam kondisi hati yang terluka, semisal 1 hingga 2 bulan pasca orang tua bercerai.

Yang Tidak Boleh :
Misal orang tua dan anak sedang jalan-jalan di mall, tiba-tiba melihat mainan bagus padahal tidak direncanakan beli mainan. Sehingga anak menangis, meronta, tantrum. Lalu orang  tua merasa kepepet, antara nggak tega dan malu karena dilihat orang banyak, maka diturutilah permintaan sang anak. ← Inilah yang disebut dengan Permisif

Lalu bagaimana jika anak jadi berpikiran ingin sakit saja agar kemauannya dituruti?
(dulu saya sering gitu soalnya πŸ˜‚)
Ternyata jika hal Itu terjadi maka sebenarnya menandakan jika kita miskin perhatian. Artinya problem solving kita buruk.. Sampe berharap sakit biar dapat perhatian ortu.

Anak sebenernya tidak akan berpikir seperti itu jika orang tua selama ini memberlakukan pola asuh dialogis. Perhatian cukup, apresiasi cukup, tidak hanya bisa ngomel-ngomel dan menyuruh.

πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘§‍πŸ‘¦ Instruksifitas, seperti yang sudah dijelaskan mbak Gritti diatas, pengasuhan Instruksifitas ini bersifat satu arah dalam komunikasinya.
Lebih banyak mengkoreksi, dan mengarahkan. Intinya disini ortu ingin membentuk anak melakukan persis seperti apa yang diharapkan ortu. Dalam hal ini pengasuhan menggunakan paradigma behaviorisme

Yang perlu dperhatikan :
✅ Menginstruksi boleh dilakukan bagi anak-anak yg berkebutuhan khusus. Saya masih ingat ust Harry Santosa bilang kalau ABK masih sangat perlu diasuh dengan paradigma Behaviorism.

✅ Boleh menginstruksi untuk hal-hal yg bersifat membahayakan nyawa. Nggak mungkin kan, anak kita mau ketabrak, terus kita bilang, "Menurut adek sebaiknya sekarang adek minggir atau bagaimana?"

✅ Boleh menginstruksi saat menyangkut ritual ibadah. Harapannya sih, anak usia 7 tahun udah jangkep fitrah keimanannya, sehingga ortu hanya perlu memberi keteladanan dan mengajak anak melakukan ritual ibadah, namun kenyataannya masih banyak yg lalai (baik ortu maupun anak), sehingga sampai baligh pun masih sulit sholat. Nah, memberi instruksi sholat tetap harus dilakukan. Dibantu dengan aktivitas2 lain yg membantu dia menumbuhkan fitrah keimanannya.

🚫Sisanya tidak boleh. Saat anak kesulitan, bingung, beri dia kesempatan untuk selesaikan.

Digambarkan oleh mbak Gritti ini sebenarnya hampir sama dengan saat kami diminta mengerjakan tugas NHW#5, dimana saat itu para fasilitator tidak memberikan instruksi dengan detail. Sehingga kami mencoba menyelesaikan dengan menggali informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber.

Saya sendiri pada akhirnya bisa mendapat pencerahan dan bisa mengerjakan NHW#5

Yg perlu digaris bawahi lainnya adalah:
Saat kita memberi banyak pesan ke anak, anak biasanya belum bisa menangkap semua omongan kita, sehingga anak akan lupa, ditambah lagi resiko kemampuan anak dalam mengambil keputusan jadi tumpul.

Dan percaya atau tidak menurut mbak Gritti, bahwa hal seperti ini ternyata bikin IQ menurun drastis.. Kecerdasan genetisnya bisa saja tinggi, tetapi kemampuan analisisnya buruk, karena tidak terbiasa menyelesaikan masalah sendiri.

Tambahan lainnya tipikal anak yg diasuh dengan gaya instruktif, biasanya akan cenderung mekanis, agak mirip mesin, tidak bakal nyala jika tombol power tidak dipencet. Tidak akan berangkat ngelakukan kalo tidak disuruh.

πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘§‍πŸ‘¦ Otoriter. Memerintah & menyalahkan. Mirip seperti instruktif tapi lebih "kejam". Karena biasanya diiringi dengan pemberian konsekuensi fisik ketika anak dianggap melanggar, mulai nyubit sampe mengurung anak di kamar mandi.

Selain kemampuan anak dalam nyelesaikan masalah jadi tidak jalan, biasanya anak lebih suka mengambil cara-cara instan dengan bohong atau kabur. Selain itu anak juga bisa mempunyai karakter yang insecure, tidak aman, penakut, serem lah.. karena trauma-trauma yg ditanamkan oleh ortunya.

Di sisi lain, di anak yang kecerdasannya tinggi, biasanya mudah berulah saat di luar rumah, saat keluar zona nerakanya.

Ditambahkan lagi oleh Mbak Gritti lebih lengkap

🏑 Pola Pengasuhan Inkonsisten
Ini perpaduan jenis pengasuhan permisif-instruktif-otoriter dan jenis inilah yg paling sering dialami banyak keluarga.

Misalnya begini...
πŸ‘¦πŸΌ Kasus jenis 1:
ibulah yg selama ini paling kenceng tentang aturan, tegas, bahkan cenderung mudah memerintah & memberi sanksi verbal (seperti kalimat2 labelling: "adik ini selalu males deh, disuruh mama gini aja ga mau") maupun non-verbal (seperti mencubit atau menjewer). Di sisi lain, ayah lah yg selama ini cenderung selow, karena minimnya waktu ketemu anak, jadi cenderung merasa bersalah & mudah menuruti keinginan anak.

🚫 Hasil kasus jenis 1:
Anak awalnya bingung dengan aturan-aturan yang berbeda antara ibu dan ayah. Lalu akhirnya muncul persepsi-persepsi seperti "ibu galak dan ayah baik", "Ibu monster dan ayah malaikat", "Ibu pelit dan ayah royal", dst.. yg bikin anak merasa lebih nyaman dengan salah satu ortu serta merasa benci dengan figur ortu yg lain.

πŸ‘¦πŸΌ Kasus Jenis 2
Ayah & ibu sudah kompak banget. Sama2 tegas dalam aturan & konsisten menjalankannya. Sayangnya, karena serumah sama mertua/ortu/kakek nenek, aturan2 banyak yg kebobolan. Misalnya, udah sepakat kakak tiap jam 4 sore waktunya mandi. Suatu hari saat ayah masih di kantor dan ibu sedang riweh sama pesenan kue, sedangkan kakak masih asyik nonton kartun, lewat lah aturan itu, lalu mulai rewel si kakak. Neneknya datang kemudian membela kakak, "sekali2 ndapapa lah anak nda harus mandi sore. Jangan keras2 kalo sama anak."

Nah lhooo..

🚫 Hasil kasus 2:
Anak biasanya jadi semakin sulit back to track (balik ke aturan secara konsisten). Kenapa? Karena merasa punya pembela yaitu kakek-nenek. Semakin tahun akan tumbuh jadi anak yang rebellious. Mudah memberontak.

πŸ‘¦πŸΌ Jenis Kasus 3:
Ayah & ibu kompak menerapkan aturan, sayangnya mereka berdua sibuk kerja, sehingga waktu pengasuhan anak didominasi oleh ART, yg hampir selalu membantu si anak majikan dalam segala hal.

🚫 Hasil jenis kasus 3:
Mirip dengan hasil jenis kasus 2.

🚫🚫🚫
Dari 3 jenis kasus di atas, biasanya menghasilnya anak-anak yang merasa miskin perhatian, tidak pernah merasa cukup perhatian. Kenapa? Karena merasa pernah mendapat perhatian penuh oleh salah satu figur pengasuh, namun kopong perhatian oleh figur pengasuh yang lain. Akhirnya jadi nelongsoan & lebay dalam mempersepsikan aturan.

"Kok ayahku nda lembut kaya ibu.."
"kenapa sih mama papaku jahat nda kayak mbak kakung & uti..."
"kenapa sih orangtuaku keras sama aku? Padahal kan aku anak kandungnya? Kenapa mbak (ART) yg bukan keluargaku malah baik sama aku?"

Selain itu, anak jadi miskin teladan. Bingung ingin meniru siapa, sehingga nggak punya konsep diri. Nda punua cita-cita jelas ingin jadi apa.

🀷🏻‍♀🀷🏻‍♀🀷🏻‍♀🀷🏻‍♀🀷🏻‍♀
Lalu bagaimana?

➡ Samakan visi misi mendidik anak dengan pasangan terlebih dahulu. Setelah sama, baru buat kesepakatan aturan pengasuhan. Jika belum sama, sebisa mungkin menahan diri untuk tidak berkonflik di depan anak saat merasa pasangan melakukan hal yang berseberangan dengan prinsip pendidikan kita. Setelah anak tak ada, baru diskusikan secara asertif.

➡ Saat berseberangan gaya pengasuhan dengan kakek nenek, pahami dulu bahwa mereka melakukan hal itu karena 3 hal:
1. Faktor fisik yang mulai menurun, tak ada energi untuk berkonflik dengan cucu sehingga lebih mudah mengabulkan permintaan mereka.
2. Faktor hormonal, yang mulai tak stabil lalu mempengaruhi emosi, sehingga seringkali bersikap tidak logis karena kebawa emosi
3. Faktor kemapanan finansial, dulu saat punya anak serba hemat karena banyak pos2 pengeluaran. Kini saat punya cucu & punya uang pensiunan tak ada lg yang harus dihemat, kalau cucu minta, kenapa enggak dikasih, toh punya uang banyak.

➡ Setelah itu dorong suami sebagai imam & kepala rumah tangga untuk berdiskusi tentang ketidaksesuaian aturan kakek nenek dengan prinsip pengasuhan yg akan mudah menggelincirkan anak menjadi salah asuh.


Hehehehehe.. mudah di tulisan ya, tapi prakteknya sangaaaaat rumit. Bismillaah.. semoga dikuatkan!

πŸ’ͺπŸΌπŸ˜‡πŸ’ͺπŸΌπŸ˜‡πŸ’ͺπŸΌπŸ˜‡

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lalu bagaimana dengan saat anak mengerjakan PR? Apa anak perlu didampingi juga?
(Pertanyaan oleh Mbak Tri wahyuni)
Soal belajar dan mengerjakan PR, sebaiknya memang dibuat kesepakatan di awal dengan anak, artinya ada atau tidak ada PR, di jam sekian sampai jam sekian adalah saat anak belajar.

Ketika anak mangkir dari jadwal, tanyakan alasannya, andai make sense, seperti sakit, ya tidak masalah libur. Andai dibuat2, ya tetap ajak anak ikuti kesepakatan.

Lalu bagaimana ketika kuatir dengan anak-anak, misalnya,
(Pertanyaan oleh mbak Yunita)
Anak usia 7.5 tahun, beberapa bulan ini mulai tertib sholat jamaah di masjid. Biasanya setiap sholat subuh berangkat sendiri dg sepedanya menuju masjid yg jaraknya 500m dari rumah..

Saat adzan berkumandang si anak juga langsung berangkat menggunakan sepedanya. Begitu juga saat hujan deras tetap dipaksakan berangkat. Tetapi tidak lama kemudian hujannya deras sekali, sehingga sebagai ibu tentu kita akan kuatir. Sebagai orang tua bagaimana kita menyikapinya? Apakah dengan melarangnya berangkat ke masjid akan memudarkan fitrah keimanannya?

Yang penasaran tentang pembagian 8 fitrah individu pernah saya tulis di : Berita Penusukan Mantan Kekasih, Menjadi Perenungan Kami Mendidik Anak Sesuai Fitrah

Ternyata begini jawaban mbak Gritti,
Iya. Larangan kita akan memudarkan fitrah keimanan. Maka kita harus cari cara-cara lain agar anak bisa menjaga diri ketika di luar sana.
Sebaiknya ajak anak berpikir, bagimana caranya agar kakak bisa berangkat ke masjid tapi aman & bikin mama nggak ngerasa khawatir.

Misal dengan berkomunikasi :
"Kak, mama bangga banget kakak bisa rajin ke masjid. Seneng sekali mama. Mama agak khawatir aja sih, kalau kakak kehujanan, atau jatuh. Sebelum berangkat sebaiknya gimana nak? Kalau mama sih, ke mana-mana bakal berdoa & banyak dzikir, biar Allah selalu melindungi mama. Menurut kakak bagaimana?"

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lalu untuk kasus pedofilia yang merebak akhir-akhir ini bagaimana orang tua sebaiknya bertindak?

Mbak Ilva selaku salah satu fasilitator kami ikut menambahkan sharing kepada kami, yang didapatkan dari jawaban oleh : Ustadz Adriano Rusfi, Psi._@ WAG Kader Nasional HEbAT

*Allah adalah pelindung terbaik*
Sedang sangat khawatir dgn berita pedofilia y merebak.. Tiba2 dapat pencerahan masyaAllah... Kenapa harus begitu panik?????Dimanakah "Allahusshamad" y sering kita baca?
Jazakallah ust. Aad.
πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“

Pedofilia itu pada dasarnya lahir dari kombinasi dua permasalahan sekaligus : pertama, ada orang-orang yang memiliki dorongan seksual namun tidak bisa menyalurkan nya secara normal karena beberapa alasan.

Kedua adanya anak-anak yang telah memiliki percik-percik atau guratan-guratan pesona seksual, yang ia begitu mudahnya dipengaruhi, diperdaya, diajak, dijebak dan sebagainya.

Jadi mengatasi persoalan pedofilia ini kita memang harus berhadapan dengan 2 front sekaligus : bukan semata-mata berurusan dengan mereka mereka yang menjadi penjahat pedofilia itu sendiri, tapi juga berhadapan dengan kepribadian anak-anak kita yang merupakan hasil dari bentukan pendidikan kita sendiri.

Pertama dengan penjahat pedofilia itu sendiri. Ada banyak hal yang membuat mereka berperilaku seperti itu. Mungkin mereka sendiri adalah korban pedofilia di masa kecil,  atau mereka adalah orang-orang yang tak cukup percaya diri untuk menyalurkan hasrat seksualnya secara normal kepada lawan jenis yang dewasa, atau mereka tak memiliki kedewasaan aqil untuk meminang seorang perempuan dan membangun rumah tangga bersamanya.

Sedangkan anak-anak yang menjadi korban pedofilia adalah mereka-mereka yang begitu mudahnya dipengaruhi, begitu mudahnya diajak, begitu mudahnya dirayu.

Mereka tak cukup punya ego untuk menolak, tak cukup punya kepercayaan diri untuk melawan, tak cukup memiliki individualitas dalam mempertahankan privasi dan hak-hak tubuhnya.

Mereka adalah orang-orang Yang merindukan kehangatan sosok orang dewasa, merindukan rengkuhan tangan seorang ayah, merindukan pelukan pelukan yang bisa menimbulkan rasa damai dalam dirinya.

Alhasil pedofilia itu terjadi ketika bertemu dua sosok manusia yang kesepian di masa kecilnya, pada waktu yang berbeda. Keduanya diperkirakan kehilangan sosok Ayah, sosok dewasa, sosok matang, dan sosok hangat yang mampu memberikannya ego, kepercayaan diri, individualitas, keberanian untuk menolak, keberanian untuk tampil berbeda, mandiri dan sebagainya.

Yang kita cemaskan pada fenomena Pedofilia bukanlah pada kegagalan orangtua dalam melindungi anaknya... Bukan pada kegagalan anak dalam melindungi dirinya... Tapi pada kegagalan untuk mengimani dalam praktek bahwa Allah adalah pelindung terbaik bagi anak-anak kita.
πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“

Hatur nuhun Ustadz πŸ™. Punten, izin bertanya bagian ini :

" Yang kita cemaskan pada fenomena Pedofilia bukanlah pada kegagalan orangtua dalam melindungi anaknya... Bukan pada kegagalan anak dalam melindungi dirinya... Tapi pada kegagalan untuk mengimani dalam praktek bahwa Allah adalah pelindung terbaik bagi anak-anak kita."

Apakah maksudnya :

kita jangan sampai terjebak di kekhawatiran saja, sehingga abai dengan prinsip untuk meyakini anak kita dilindungi oleh pelindung terbaik yaitu Allah.

Tepat kah persepsi ini Ustadz ?

Betul, saat kita terlalu yakin bahwa kitalah pelindung terbaik anak-anak kita, maka saat itu hilangkan jiwa tawakkal itu. Maka Allah (dapat) berlepas tangan terhadap keamanan dan keselamatan anak-anak kita

Kalau gara-gara maraknya Pedofilia ini membuat kita semakin protektif terhadap anak-anak kita, dan tak seimbang dengan peningkatan tawakkal kita padaNya, maka kita akan dikejutkan olah Allah bahwa perlindungan kita nggak ada apa-apanya.

Jangan lupa, pelaku Pedofilia kebanyakan justru orang-orang yang dekat dengan anak-anak kita.
Maka, mari kita makin rajin membaca dan menghayati surah 112-113-114, agar tawakkal itu menguat
Ajari anak kita untuk melindungi dirinya... lepas dia ke kehidupan dengan tawakkal kepada Sang Pemilik... ajarkan mereka doa :

"Bismillahit tawakkaltu 'alallah. Laa hawla wa Laa quwwata illa billah"

 rahmahaththahirahummufive: Innalillah😭😭😭.
Astagfirullah.. πŸ™ˆπŸ™ˆ

Jazakallah ust.. Jazakallah.. Terlalu haru saya malam ini.menyadari bahwa kadang2 kita tak sadar terlalu membebani diri bahwa kitalah penjaga anak2.πŸ™ˆduh gusti..

Padahal anak2 hanya titipan. Ada Allah tempat kita kembalikan segala resah. Agar Allah lah y menjaga mereka.

MengJak anak2 mendalami 3qul dan maknanya...
Mengenal Tuhannya dan penjaganya dimanapun dan kapanpun.

Jazakallah ust..♻♻♻♻♻♻
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ditambahkan juga oleh mbak Evi Firdausi salah satu fasilitatro lainnya
Bahwa yang perlu ditekankan dalam hal apapun....semuanya balik sama yang diatas ya....😊
Lalu bagaimana menghadapi kondisi dimana kita merasa ada seseorang yang menurut "insting" kita berbahaya untuk anak-anak?
Misal dari gesture, dsb

Menurut jawaban mbak Ilva, saya sebaiknya mengikuti saja karena terkadang intuisi seorang ibu itu benar


Ditambahkan juga share dari mbak Sukma Juwita Kristanti yang berasal dari RESUME WEBINAR BAGIAN 1

Raising Safe Kids in an Unsafe World
(Jan Wagner)

Devi Sani Rezki, .Psi, Psikolog

Yellow Dino : sebuah pendekatan non-fearful (tidak menakut-nakuti) untuk mengajarkan anak bagaimana menjaga diri.

Materi kali ini di sarikan dari buku Raising Safe Kids un an Unsafe World, penulis Jan Wagner.

1 dari 5 anak akan bertemu dengan child predator. Dengan Yello Dino, Anda bisa mengajarkan mereka bagaimana untuk tetap aman.

Mengapa anak perlu diajarkan tentang Safety Procedure (menjaga diri)?
1. Orang tua tidak selalu bisa berada disamping anak. Alangkah tidak baiknya, jika orang tua tidak mengajarkan bagaimana anak menjaga diri.

2. Anak perlu diajarkan mampu membuat keputusan yang tepat, saat situasi darurat atau saat menghadapi situasi "membahayakan" sehingga anak mampu membuat keputusan tepat jika diberi pengetahuan yang tepat pula.

3. Para penculik dan abuser anak semakin "canggih"

4. Orang tua merasa topik ini tidak penting untuk
diajarkan karena merasa :
- "this is too much for me to think about right now" orang tua sudah kerepotan dengan hal lain, sehingga orang tua menolak mengajarkan ini.
- "anak saya masih terlalu kecil" hal itu tidak benar, karena ketika child predator di wawancarain, anak kecil lah yang menjadi sasaran utama karena anak kecil lemah dan tidak melawan.
- "tidak akan terjadi di tempat saya" penculik yang telah diwawancarai mengatakan, justru penculik beroprasi di kota kecil karena orang orang dikota
kecil mudah percaya dengan orang baru.
- Terlalu takut untuk membahas dan takut berawal dari ketidaktahuan, oleh karena itu perlu knowladge.

Faktanya?
Kalau tidak diajarkan KPA mengatakan tingkat penculikan meningkat,dan
kekerasan pada anak (fisik/seksual) yang paling sering terjadi kekerasan seksual.

8 Bendera Merah untuk mengidentifikasi Child Predator
1. Orang dewasa yang menikmati menghabiskan waktu bersama anak anda lebih dari anda sendiri. Orang tua harus memperhatikan tidak hanya orang yang
baru dikenal, tetapi juga orang terdekat kita.

2. Orang dewasa atau anak yang lebih tua mau menghabiskan waktu yang sangat banyak dengan anak anda (secara tidak wajar)

3. Anak anda memiliki mainan atau barang baru yang tidak anda kenali.

4. Anak anda bicara tentang suatu tempat atau aktivitas secara detil sekali padahal anda belum pernah kenalkan.

5. Seseorang secara konstan menawarkan untuk mengasuh anak anda dengan alasan agar anak anda punya me time (biasanya bersedia tidak dibayar).
Trik jitu child predator, menjadi baby sitting secara gratis.

6. Orang dewasa sering datang ke rumah dan bersedia mengantarkan anak-anak dan menghabiskan waktu bersama. Seperti : tetangga, teman kantor

7. Sering terlibat dalam aktivitas berdua saja dengan anak

8. Sering menatap anak anda (secara berlebihan atau tidak wajar)

PENTING : tidak selalu demikian ciri child predator tapi merupakan langkah awal mengenal potensi masalah.

Jadi, tunggu apalagi? Mari segera lakukan langkah proaktif dengan membekali anak kita.

Prinsip yang perlu diingat saat mengajarkan Safety Procedure

1. Selalu ulangi dan ulangi. Selalu ingatkan!

2. Berikan informasi yang sesuai dengan usia anak
"Adee, ga semua orang baik lho de... hati-hati sama orang yang tiba-tiba baikin ade..."
Anak 2 tahun belum bisa membedakan, mungkin anak 6 tahun sudah bisa.

3. Sesuaikan prosedur dengan keunikan anak

4. Buatlah rencana prosedur keamanan bersama (contoh : siapa yang menjemput anak jika orang yang biasa menjemput tidak bisa, kemana anak harus bertanya saat ia tiba-tiba terpisah di mall, dsb)

5. Selalu ajarkan dengan contoh

6. Praktekkan!

Tujuan utama : Anak harus mampu melindungi dirinya sendiri!

Bekali anak dengan 30 langkah ini :
- 8 langkah awal

LANGKAH 1 : AJARKAN ANAK UNTUK MAMPU BILANG TIDAK
Kesulitan orang Indonesia adalah, ga enakan untuk menolak atau tidak sopan jika menolak sesuatu.

- Ajarkan anak bahwa "it is better to be safe them polite"

- Anak boleh mengatakan TIDAK atau TIDAK MAU jika ia merasa nyaman atau takut dalam melakukan suatu hal yang disuruh oleh orang dewasa disekitarnya

- Bisa juga katakan "Tolong berhenti. aku ga suka, itu ga lucu."

- Contoh : saat lebaran ada keluarga yang mau peluk anak erat, anak tidak nyaman, anak berhak untuk bilang tidak mau.

- Latih anak untuk bisa berkata tidak dengan lantang!

- Katakan pada anak, Anda sebagai orang tua anak selalu membelanya, saat ia bilang tidak karena tidak nyaman atau takut, bukan malah memarahinya karena tidak sopan.

LANGKAH 2 : IDENTIFIKASI SIAPA SAJA YANG TERMASUK ORANG ASING

-. Anak masih tidak jelas siapa orang asing sebenarnya, jelaskan secara detil jadi hal yang penting. Seperti apakah orang asing? apakah yang pakai topeng seram? pakai baju compang camping?

- Orang asing : orang yang tidak kita kenal dekat, termasuk yang sering kita jumpai, seperti tetangga, satpam, penjaga toko, tukang sapu komplek, dll (kita
sedang tidak membahas profesi ya...)

- Jelaskan pada anak, bahwa orang lain penampilan luar bisa baik, tapi dalamnya kita tidak tahu pasti. Kenalkan konsep "ORANG YANG MENCURIGAKAN"

- Buat daftar detil dengan anak berisi nama mana orang yang asing (contoh nama teman kantor), mana yang aman.

- Usia 2 tahun belum bisa bedakan, jadi minta ia untuk tidak pernah berpisah dengan anda di ruang publik.

- Selalu jaga jarak dengan orang yang tak dikenal

- Perhatikan anak anda baik baik saat bicara dengan orang asing didepan anda, apakah ia tipe anak yang mudah terbuka?

- Persiapkan anak agar bisa memilih stanger yang tepat saat diperlukan
- Saat hilang di tempat ramai, yang terbaik adalah meminta tolong pada ibu-ibu yang membawa anak. Mereka tergolong pada safe stranger!!

LANGKAH 3 : HATI-HATI TERHADAP ORANG YANG MENCURIGAKAN

- Diskusikan pada anak tentang cara-cara apa yang dipakai child predator untuk 'memancing' anak.
Contoh :
 "Dek, tolong om punya anak anjing disana yang lagi terluka"
 "Dek, saya teman mama kamu disuruh jemput"
 "Dek, ikut om yuk. mama kamu lagi kecelakaan, om disuruh jemput."
 "ikut yuk,nanti dikasih eskrim"
 "Ketemuan yuk,nanti saya buat jadi artis." (misalnya lagi chatting)

- Setiap malam, mainan permainan what-if. Contoh :
misalnya : "bang... abang pulang sekolah, ada yang deketin, terus bla bla bla, abang mau ikut ga?" kalau anak bilang tidak, langsung puji dia "iya, betul... jangan ikut kalau diajak orang yang tidak dikenal." Tapi hati-hati kalau anak ternyata bersedia ikut.

- Hati-hati dengan orang yang mengaku figur otoritas. Contoh : mengaku satpam, polisi, guru, dan lainnya kepada anak.

Jakarta 8 Februari 2016
Ardyah Miranti

Ditambahkan lagi oleh mbak Siti Cholaifatul Rosidah, tentang 13 permintaan anak yg mungkin tidak pernah mereka ucapkan:

1. Cintailah aku sepenuh hatimu.

2. Aku ingin jadi diri sendiri, maka hargailah aku.

3. Cobalah mengerti aku dan cara belajarku.

4. Jangan marahi aku di depan orang banyak.

5. Jangan bandingkan aku dengan Kakak atau adikku atau orang lain.

6, Bapak Ibu jangan lupa, aku adalah fotocopy-mu.

7. Kian hari umurku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku anak kecil.

8. Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku bila salah.

9. Jangan membuat aku bingung, maka tegaslah padaku.

10. Jangan ungkit-ungkit kesalahanku.

11. Aku adalah Ladang Pahala bagimu.

12. Jangan memarahiku dengan mengatakan hal-hal buruk, bukankah apa yang keluar dari mulutmu adalah doa bagiku?

13. Jangan melarangku hanya dengan mengatakan "JANGAN" tapi berilah penjelasan kenapa aku tidak boleh melakukan sesuatu.

"SEMOGA BERMANFAAT.... BAGI PARA ORANGTUA"

Dari resume sharing diatas semoga kita sebagai orang tua sudah memiliki bayangan sehingga bisa mengambil langkah bagaimana harus bersikap mulai sekarang. Barakallah.

Note : Tulisan ini merupakan hasil resume sharing harian (obrolan ringan) di luar tema materi dan NHW (Nice Home Work) di kelas matrikulasi IIP

No comments:

Post a Comment