Thursday, April 27, 2017

Pengalaman Mengikuti Workshop Innerchild

Dulu saya pernah berjanji tidak akan menjadi ibu seperti ibu saya yang menurut saya galaknya setengah mati, yang tidak pengertian sama sekali, bahkan sering membuat sakit hati. Faktanya janji tinggallah janji, karena ternyata saya bahkan tidak bisa menjadi ibu yang lebih sabar dari ibu saya. Sempat merasa mungkin saya sedang gila, mungkin saya butuh di rukyah, atau bahkan mungkin saya perlu di hipnotis agar emosi saya ketika menghadapi anak-anak tidak mudah meledak-ledak. Saya pun mencari tahu tentang keadaan tersebut, hingga saya mengenal banyak istilah dalam dunia parenting. Salah satunya tentang Innerchild. Meski tahu teorinya, tapi bagaimana prakteknya saya tidak ada bayangan. Sehingga beberapa waktu lalu atas saran seorang sahabat saya memutuskan mengikuti workshop healing innerchild.

Selama dua hari workshop tersebut diadakan. Mengingat si adik sudah lepas ASI, suami pun mengijinkan saya untuk mengikuti workshop tersebut.

Dari workshop tersebut saya belajar banyak. Salah satunya ternyata saya tidak sendiri mengalaminya. Bahkan pak Asep selaku pembicara di workshop tersebut memaklumi hal tersebut. Dijelaskan oleh pak Asep, mengapa kita tahu itu salah tapi tetap saja kita ulangi lagi, lagi dan lagi.

Pak Asep Menjelaskan Didepan Peserta Workshop

Ternyata jawabannya simple, karena kita tidak tahu harus berbuat apa saat dihadapkan oleh episode-episode tersebut. Mungkin kita sudah terlalu terbiasa dengan skema marah-marah sehingga bahkan kita tidak mempunyai bayangan skema yang lebih baik untuk menghadapi suatu kejadian yang bisa memancing emosi kita.

Dicontohkan, ketika ada seorang anak berlari dan tanpa sengaja memecahkan asbak, maka kemungkinan ada dua respon yang akan terjadi. Yang pertama adalah kita akan segera memeluk anak kita, sembari menanyakan keadaannya apakah dia baik-baik saja. Atau yang kedua bisa jadi kita akan langsung berteriak histeris, memarahi anak-anak kita karena tidak mau berhati-hati, sehingga memecahkan asbak.

Nah, disinilah efek sebuah kebiasaan tadi. Jika saat kecil kita sudah terbiasa melihat bentakan-bentakan tentu tanpa sadar kita akan menduplikasi episode tersebut. Bagaimana kita bisa menduplikasi hal baik yang bahkan mungkin kita sendiri tidak pernah tahu contoh prakteknya didepan kita.

Pak Asep sendiri menjelaskan jika beliau berada di sebuah lingkungan seperti itu, maka beliau akan mencari satu orang saja yang memiliki skema baik yang bisa mencontohkan didepan semua orang sehingga lingkungan tersebut mempunyai skema baru yang bisa dicontoh.

Yang perlu digaris bawahi memang hal tersebut tidak bisa berubah secara instan, karena ibaratnya kita sudah mendapat contoh skema lama yang sudah berpuluh-puluh tahun melekat di diri kita. Sehingga mau tak mau perlu sebuah pembiasaan berulang-ulang lagi, lagi dan lagi.

Ditambahkan lagi oleh pak Asep di hari pertama bahwa ada sebuah study (scoring) yang diadakan di luar negeri dimana disana jika hasil scorenya diatas 2 maka cukup membuat mereka kuatir. Sedangkan di negara kita sendiri score 4 sudah biasa dan sering ditemui di masyarakat.

Yang sering terlupakan oleh kita, seringkali kita kuatir tentang perilaku bullying yang umumnya sering terjadi di sekolah maupun masyarakat luas, tetapi kita lupa bahwa kita sendiri sering menjadi pelaku bully untuk anak-anak kita dirumah. Sehingga bagaimana bisa kita mengharapkan anak-anak kita akan bisa menghadapi situasi bullying diluar rumah, jika bahkan didalam rumah pun dia sudah menjadi korban bullying atas keegoisan kita sebagai orang tua.

Terkadang Kita Lupa
Bahwa Kita Bisa Jadi Pelaku Utama Bully
Untuk Anak-Anak Kita

Bullying disini saya menangkapnya sebagai tindakan kita yang sering memaksakan kehendak kita kepada anak-anak dengan mengabaikan perasaan mereka yang bisa jadi terluka.

Selain scoring tersebut, ada juga latihan-latihan lainnya yang harus peserta kerjakan dalam workshop tersebut. Sehingga bisa tahu apakah kami masih bermasalah dengan innerchild kami. Untuk saya, tak dipungkiri dari hasil menunjukkan bahwa saya masih bermasalah dengan innerchild saya.

Namun, daripada sekedar menyalahkan masa lalu, di workshop ini saya diajak untuk bertemu dengan innerchild saya di hari ke-2.

Setelah penjelasan yang sangat panjang tentang innerchild, emosi, dan bahkan tradisi-tradisi yang bisa menjadi salah satu hal yang mempengaruhi semua kejadian di masa lalu kita, maka di hari ke-2 kami diajak untuk bisa menyelesaikan masalah innerchild kami.

Awalnya kami diminta menuliskan semua episode yang terjadi dalam hidup baik yang kurang menyenangkan maupun yang menyenangkan. Disitu saya baru sadar ternyata jumlah peristiwa hidup yang kurang menyenangkan di memori saya lebih banyak ketimbang yang menyenangkan.

Dari semua kejadian itu, kami diminta memilih tiga teratas. Kemudian kami disuruh menuliskan peristiwa tersebut dalam latihan berikutnya. Setelah menulis, maka kami dibentuk dalam beberapa kelompok. Dimana disitu beberapa teman psikolog bertindak sebagai terapis, dan untuk yang non psikolog bertindak sebagai klien.

Disinilah ternyata tanpa saya prediksi ada sebuah kejadian dimasa lalu yang saya kira sudah sembuh, ternyata belum sembuh sama sekali. Sehingga bahkan belum juga saya menceritakan, belum juga kata-kata keluar dari mulut saya, malah teriakan histeris keluar dari mulut saya. Sakit rasanya untuk sekedar menceritakannya.

Setelah akhirnya saya bisa menceritakan ternyata semua cerita itu menjadi sebuah runutan peristiwa yang tidak terpisahkan satu sama lain. Hingga akhirnya teman (psikolog) saya mulai menggali banyak info dari saya dengan harapan dia bisa membantu saya menyelesaikannya. Bersyukur saya mendapat jawaban-jawaban yang menguatkan darinya. Sehingga saya mulai bisa mengendalikan kehisterisan emosi saya.

Kemudian setelah tenang, selanjutnya oleh pak Asep, kami diminta untuk memilih satu peristiwa di masa lalu yang sangat membekas tersebut dan diminta mulai menggambar dengan menggunakan tangan kiri. Semua memori-memori luka itu muncul silih berganti dan tertuang dalam sebuah gambar. Kemudian kami diminta menceritakan kepada teman sebangku kami. Disitu saya menceritakan tentang kenangan dimana jika bisa, saya ingin bisa kembali ke waktu itu agar saya bisa memperbaiki semuanya. Salah satunya ada sebuah gambar anak kecil yang sedang riang bersepeda, dimana dalam memori saya selanjutnya ada episode-episode menyakitkan yang ingin saya hapus dari kenangan saya. Salah satunya kenangan ketika ibu memarahi saya karena saya bahkan tidak mau tidur siang, yang mengalir dan berkaitan dengan episode-episode selanjutnya. Duh, lagi-lagi menetes air mata saya mengingatnya. Sebuah kenangan di masa lalu yang mungkin sudah berpuluh-puluh tahun lewat yang mungkin sudah dilupakan oleh banyak orang, ternyata masih membekas didiri saya.

Setelah puas meneteskan air mata, untuk selanjutnya pak Asep meminta kami untuk menulis menggunakan tangan kiri dan kanan, dimana nantinya tangan kiri ini ternyata berperan sebagai si innerchild, dan si tangan kanan menurut saya berperan sebagai pihak yang bisa menasehati innerchild saya.

Bagaimana tidak ketika tangan kanan saya menyapa melalui tulisan "Hai, sedang apa?"
Tiba-tiba otomatis saja tangan kiri saya menuliskan sebuah jawaban "Ngapain tanya-tanya?!" Hahaha...ternyata sisi jutek saya yang keluar duluan...
Meski demikian pada akhirnya baik tangan kanan maupun tangan kiri bisa ngobrol santai dan bermain bersama.

Setelah itu, kami diminta untuk menggambar lagi di sebuah kertas kosong menggunakan tangan kanan. Disana saya menggambarkan banyak hal seakan-akan saya mengeluarkan semua innerchild yang ada dalam diri saya untuk melakukan hal-hal yang ingin dilakukan selama ini.

Puas bermain-main dengan innerchild, di akhir workshop kami diminta untuk membuat sebuah puisi yang dibuat oleh innerchild untuk menasehati diri kita sendiri agar bisa berkembang menjadi lebih baik.


31 tahun sudah kau lewati
Ada suka ada sedih dalam memori
Tak sedikit luka dihati
Tapi kau masih berdiri disini
Berusaha mencari jati diri
Dan kini kau sadari
Bahwa kau bisa sampai disini
Karena semua yang kau alami
Kini tak perlu ada yang kau sesali
Mungkin tanpa kau sadari
Ternyata kau punya sisi yang gigih berani
Kini kau bisa menyadari
Bahwa apa yang sudah terjadi sampai hari ini
Mempunyai sisi tersendiri
Kau terlahir di dunia ini
Mungkin disiapkan membawa misi
Misi untuk berbagi pengalaman pribadi
Untuk menjadi sebuah pelajaran sejati
@vety_fakhrudin

Dari mengikuti workshop tersebut saya jadi banyak belajar, salah satunya bahwa apa yang kita torehkan di kenangan masa anak-anak kita bisa jadi akan menjadi sebuah memori yang tidak terlupakan oleh mereka walaupun hal tersebut sudah lama kita lupakan. Sehingga saya ingin sekali berusaha memperbaiki diri agar hanya melukiskan kisah-kisah indah dalam memori anak-anak saya nantinya.

Hal lainnya, apa yang kita tunjukkan didepan anak-anak kita bisa menjadi sebuah skema yang nantinya akan diduplikasi dan ditiru mereka untuk mendidik generasi-generasi kita selanjutnya. Tidak bisa disalahkan bisa jadi kita sendiri memang belum memiliki skema baru, tetapi saya memiliki pandangan bahwa saya bisa mencari skema-skema baru tersebut dari banyak hal. Misalnya dengan meminta bantuan kepada suami untuk memberikan contoh kepada saya secara berulang-ulang dalam menghadapi suatu situasi yang mungkin saya belum memiliki skema baik dalam menghadapinya.

Materi Selama Workshop

Selain dari suami, saya juga bisa mencari skema-skema baik tersebut dari mengikuti komunitas-komunitas, seminar-seminar atau bahkan workshop-workshop ilmu parenting yang ada.

Menerima Sertifikat Workshop
Yang Diserahkan Oleh Pak Asep Haerul Gani
Selaku Pembimbing Workshop

2 comments:

  1. Ya Allah Mbak, andai waktu itu tahu ada pelatihan ini, apalagi di Surabaya, tahu gitu aku ikut. Apalagi bisa barengan sama sampean pulangnya ke Lamongan.
    Selama baca tulisan sampean ini aku sempet nangis. Ada beberapa hal di masa kecilku yang juga nggak tuntas. Fenomena innerchild ini yang akhir-akhir ini aku pikirin, jadi masalahku, tapi aku nggak tahu solusinya. Jazakillah Mbak. Tulisannya ini akan coba aku praktekkan kerja sama dengan suami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bismillah semoga berhasil ya mbak. Ini saya juga masih banyak PR sebenarnya. Saya masih jauh dari kata baik, tapi selama kita mau berusaha berubah lebih baik insya Allah selalu ada jalan. Amin

      Delete