Thursday, April 6, 2017

Saat Anak Panas, Perlukah Antibiotik?

Seringkali beberapa sahabat saya dibuat bingung saat dihadapkan dengan kondisi buah hatinya yang sedang panas, dan mendapat resep antibiotik untuk sang buah hati. Haruskah antibiotik tersebut diminumkan? Apa kalau badan panas anak harus minum obat antibiotik? Bukankah antibiotik itu untuk melawan bakteri? Apa panas selalu dikarenakan bakteri? Bukannya kalau sering minum antibiotik malah bikin anak jadi kebal? Lalu harus bagaimana dong?



Saya pun terkadang sering dibuat sedikit bingung dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, biasanya saya mencoba untuk menanyakan kembali beberapa pertanyaan terkait tentang resep antibiotik yang sudah mereka terima.
  1. Sudah berapa lama panasnya?
  2. Apa yang dikatakan oleh dokter terkait diagnosa sang buah hati?
  3. Apa saja yang sudah disampaikan ke dokter terkait keluhan sang buah hati?
Sebagai gambaran, kami (suami dan saya) sepakat jika anak-anak panas kurang dari 3 hari biasanya jarang kami bawa langsung ke dokter anak. Alasannya ke dokter anak pun lebih sering hanya memberikan obat panas saja. Biasanya selama 3 hari itu jika memang tidak ada yang mengkhawatirkan maka panas akan turun dengan sendirinya. Meski demikian selama 3 hari sebelum ke dokter tersebut, saya tetap mencoba memberikan obat panas dan home therapy untuk membantu menurunkan panas.

Memang banyak artikel yang mengatakan, seharusnya pun kita tidak perlu memberikan obat panas kepada anak kita saat suhu badan mereka panas, alasannya karena panas itu respon tubuh mereka melawan sesuatu didalam tubuh. Tetapi sebagai orang dewasa, saya merasa jika saya saja merasa tidak nyaman dengan badan panas apalagi anak-anak.

Selain itu saya memiliki riwayat kejang panas saat balita, hal inilah yang membuat saya harus waspada jika anak-anak panas. Meski beberapa berpendapat kejang itu bukan dikarenakan panas, tetapi untuk poin ini saya tidak mau ambil resiko. Semua boleh berpendapat, tetapi apa yang terjadi dengan anak-anak kita nantinya tetap tanggung jawab kita sendiri.

Nah nanti setelah 3 hari jika panas masih berlanjut biasanya baru kami bawa ke dokter anak, dan karena sudah 3 hari maka dokter bisa menyarankan melakukan tes lab. Dari hasil lab itulah nanti bisa terlihat gambaran penyebab panas yang terjadi. Sehingga dokter anak kami bisa memutuskan apakah anak-anak perlu antibiotik atau tidak. Sepanjang yang saya perhatikan biasanya salah satunya dari hasil leukositnya dokter bisa tahu apakah panasnya disebabkan oleh bakteri atau hanya virus.  Selain dari hasil lab, biasanya pemberian antibiotik juga dikuatkan dengan diagnosa adanya radang di tenggorokkan.


Lah terus kalau ini anak saya panasnya baru hari pertama, sudah saya bawa ke dokter terus sudah dapat resep antibiotik gimana dong? Baiknya tetap saya minumkan atau nggak?
Nah menanggapi pertanyaan tersebut, saya justru memiliki 2 jawaban, bisa IYA bisa juga TIDAK.

Dalam artian ketika kita sudah membawa anak ke dokter, artinya kita meyakini bahwa kita membutuhkan bantuan atau saran dari dokter. Sehingga menurut saya jika memang seperti itu tidak ada salahnya kita melakukan diskusi dengan dokter sesaat sebelum dokter mulai meresepkan obat. Misalnya :
Utarakan saja pertanyaan, "Dok anak saya dapat resep apa ya kalau boleh tahu?"
Jika dokter menjawab, "Saya kasih antibiotik ya buk!"

Sehingga kita bisa tahu kenapa sang dokter memberikan antibiotik. Nah disitulah sebenarnya nanti kita bisa mengambil keputusan kira-kira masuk akal atau tidak memberikan antibiotik saat itu.
Nggak dosa kok kita tanyakan alasan sang dokter meresepkan antibiotik saat itu. Asal saat menyampaikan pertanyaan kita memposisikan diri sebagai pasien yang menghargai dokter. Saat kita menghargai seseorang, saya yakin pasti orang tersebut juga memberikan umpan balik baik kepada kita.

Seandainya pun kita nggak sreg dengan keputusan dokter meresepkan antibiotik, maka menurut saya mending antibiotiknya nggak usah ditebus, daripada setelah ditebus ujung-ujungnya tetap tidak diminumkan.
Namun dengan keputusan tersebut kita harus bisa mempunyai alasan kuat mempertanggung jawabkan keputusan kita terhadap anak kita. Sehingga kedepannya kita tidak menyesali semua keputusan kita.

Yang perlu digaris bawahi, jika memang tidak ditebus atau tidak diminumkan, dan 3 hari kedepan badan anak masih panas biasanya tentu kita akan membawa anak untuk kontrol ulang. Nah disitu kita wajib menyampaikan yang sebenar-benarnya kalau antibiotiknya memang tidak kita minumkan. Tujuannya agar dokter tahu bahwa memang anak kita belum meminum obat antibiotik tersebut, sehingga dokter tidak akan memberi resep obat yang lebih tinggi dari yang sudah diresepkan sebelumnya. Asumsinya, Untuk apa meresepkan obat dengan kelas tinggi, jika yang sebelumnya saja belum diminumkan, padahal bisa jadi cukup dengan meminum obat tersebut sudah bisa mengobati keluhan sang anak.

Resiko yang harus kita tanggung memang kalau nantinya kita kena "omel" kalau dokter tahu kita nggak meminumkan antibiotik tersebut. Logikanya pasti dokternya akan berpikiran, kalau kita nggak mau nurut saran mereka kenapa kita datang ke mereka untuk minta saran? Dalam hal ini saya menganggap diagnosa maupun resep dari dokter adalah salah satu bentuk saran dari mereka terkait keluhan kesehatan anak-anak kita.

Nah dalam konteks perlu atau tidak memberikan antibiotik ketika anak panas ini, yang perlu diperhatikan lagi adalah bentuk sediaan obatnya. Dimana jika antibiotik yang diberikan dalam bentuk sirup (sudah diracik) maka biasanya penyimpanannya tidak bisa lebih dari seminggu.

Jadi Perlu Nggak Nih Anak Panas dikasih Obat Antibiotik? Soalnya sama dokter sudah terlanjur diresepin antibiotik nih...

Nah kembali lagi jawabannya, pada dasarnya sepanjang yang saya tahu untuk panas hari ke-1 sampai ke-3 belum perlu obat antibiotik. Namun, jika dokter sudah meresepkan maka tidak ada salahnya dikonfirmasikan ke sang dokter lagi kalau memang kita masih ragu. Ini alasan sebenarnya perlunya kita punya nomer telepon sang dokter. Dalam konteks ini saya pribadi nggak pernah berani kasih saran langsung "BOLEH" atau "TIDAK", karena kita tidak tahu apa diagnosa dokter sehingga memberikan antibiotik tersebut. Bisa jadi ada kecurigaan-kecurigaan yang memperkuat alasan sang dokter pada akhirnya memberikan resep antibiotik tersebut. Tapi bisa juga tidak.

Dokter juga manusia, tetapi mereka memiliki ilmu pengetahuan yang lebih mumpuni dari kita sebagai orang awam.
Saat mau mengambil keputusan saya selalu mengedepankan dua hal tersebut, dokter bisa saja salah tetapi bukankah mereka lebih punya banyak pengalaman dibidang medis ketimbang kita? Begitu juga sebaliknya bisa jadi mereka lebih hebat dalam hal dunia medis, tetapi mereka kan juga bukan malaikat?
Jadi nggak ada salahnya kita sharing dan diskusi lagi dengan dokter

Kesimpulannya, kalaupun kita ragu dan memutuskan untuk tidak meminumkan antibiotik tersebut setidaknya kita punya alasan medis kuat yang bisa kita pertanggung jawabkan, sehingga kedepannya kita tidak menyesali keputusan kita. Seandainya pun masih ragu dengan keputusan dokter memberikan antibiotik karena bisa jadi alasan kurang jelas, misalnya dokter kurang komunikatif maka tidak ada salahnya kita mencoba mencari alternatif dokter lainnya atau second opinion.

Yang sakit semoga lekas sembuh ya...
Yang galau semoga segera mendapat pencerahan...
Sehat terus semuanya... Barakallah...😘

No comments:

Post a Comment