Saturday, April 29, 2017

Ternyata Saya Tak Lebih Baik Dari Ibu (Menjadi Ibu Itu Belajarnya Seumur Hidup)

“Ibuuuuuuuukkkkkkkk…”, begitu tangis saya kencang saat itu. Saya yang mungkin saat itu masih duduk di kelas 1 SD, terkejut mendapati banyak darah ditangan karena tanpa sengaja terkena sejumlah paku yang menempel di pintu kamar.


Saya menangis kencang, takut melihat ada banyak darah di tangan.

Ibu pun tergopoh-gopoh dengan panik menghampiri saya dari kamar mandi, sembari bertanya, “Ada apa, ada apa???”

Saya pun mengatakan, “itu bukkk berdarah kena paku…”

Ibu pun seketika langsung berubah menghardik saya, “Halahhhhhhh!!! Kena paku aja! Kirain kenapa! Gitu saja kok nangis! Udah diem! Bikin kaget saja!”

Seketika itu meskipun saya masih takut melihat darah, tapi saya berusaha diam, karena saya lebih takut melihat ibu marah. Tapi dalam hati ada perasaan kecewa, ibu kenapa engkau malah memarahiku, padahal aku benar-benar takut.”

Beberapa waktu setelah itu, tanpa sengaja saya sempat mendengar ibu mengadu kepada ayah, “iya gara-gara vety tuh ibu jadi kaget. Wong ya nggak kenapa-kenapa kok ya pakai nangis kenceng. Jadinya ibu kan kaget, makanya itu mungkin akhirnya keguguran.”

Sejak kejadian itu saya selalu merasa bersalah kepada ibu. Saya menjadi seorang anak yang menyebabkan ibunya keguguran.

Peristiwa itu sudah lama berlalu…

Lalu saya menikah dengan lelaki idaman saya dan memiliki anak.

Yang membuat saya merasa terkejut dan bersalah berkali-kali adalah seringkali ketika saya mendapati anak saya terjatuh dan menangis kencang, tanpa sadar saya langsung membentak dengan kalimat, “Halah cuma gitu saja kok nangis!!!”

Seperti halnya saya saat itu, tentu anak-anak saya akan segera diam melihat saya marah seperti itu.

Saya pun akhirnya menyadari, dan merasa sangat menyesal. Tapi entah bagaimana seringkali episode tersebut terulang kembali.

Bukankah dulu sebelum menikah, saya pernah berjanji bahwa saya tidak akan seperti ibu saya yang menurut saya galaknya ampun-ampunan? Bukankah dulu saya pernah berikrar bahwa saya akan menjadi ibu yang sabar, yang bisa pengertian dengan anak-anak sehingga saya bisa menjadi sahabat mereka?

Lalu apa sekarang? Bagaimana dengan janji-janji itu??? Kemana janjimu itu?


Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam seleksi pesantren penulis#1 tapi termasuk yang belum lolos 😅

Sebagai tambahan catatan, tulisan ini hanya merupakan salah satu cara (media) saya mengoreksi diri, agar bisa menjadi ibu yang lebih baik dari hari kehari. Sehingga harapannya apa yang salah bisa lebih saya perbaiki lagi.

No comments:

Post a Comment