Saturday, April 22, 2017

Ujian Akhir Nasional Sebaiknya Dihapus Atau Tidak?

Seringkali kita merasa cemas tentang perubahan kebijakan Ujian Akhir Nasional yang akan dihapus atau tetap diadakan. Kebanyakan dari kita akan berbondong-bondong memberikan respon keberatan dengan kebijakan tersebut jika dirasa tidak sesuai hati nurani kita. Sehingga seringkali hal ini membuat kita lupa akan tanggung jawab kita sebagai orang tua dalam mendidik anak-anak kita sesuai fitrah mereka. Padahal jika kita bisa menumbuhkan dan mendidik anak-anak sesuai fitrahnya maka mereka akan bisa bertahan dalam kondisi apapun. Sehingga daripada sekedar memusingkan tentang kebijakan ujian nasional, alangkah baiknya kita bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh apa usaha kita sebagai orang tua dalam mempersiapkan anak-anak kita menjadi generasi yang hebat?


Generasi yang hebat tak akan takut saat harus menghadapi sebuah kebijakan ujian nasional yang berlaku, karena mereka sudah dipersiapkan sejak awal untuk bisa mengkondisikan diri mereka menghadapi apapun yang ada didepan mereka.

Daripada sekedar memusingkan kebijakan Ujian Akhir Nasional yang bisa jadi dihapuskan atau tidak, alangkah baiknya kita lebih fokus pada poin mempersiapkan generasi hebat, salah satunya dengan terlebih dahulu mengenali anak kita lebih jauh. Sehingga kita bisa mengetahui bakat dan potensi mereka.

Setelah kita mengetahui bakat dan potensi mereka maka kita tak perlu lagi kuatir dengan yang namanya Ujian Akhir Nasional. Seperti sharing dari salah seorang sahabat yang dulunya pernah menjadi seorang guru di sebuah sekolah inklusi. Dimana dia memberi nasehat kepada saya, kelak saat saya mencarikan sebuah sekolah untuk anak-anak maka carilah sekolah yang memiliki visi misi sama dengan visi misi keluarga kami. Jikapun tak ada yang sama maka carilah yang mendekati, dan kalaupun sampai tidak ada yang mendekati maka carilah sekolah yang paling baik menurut kami diantara sekolah yang ada saat itu. Nantinya, tugas kamilah sebagai orang tua yang menutup kekurangan-kekuragan dari sekolah tersebut. Seperti yang selalu ditekankan olehnya kepada saya, “Ingat bahwa Rumah adalah Madrasah Utama Anak, sehingga tugas utama orang tualah yang utama dalam mendidik anak, jangan sampai kebalik.”

Saya pun sempat bertanya kepadanya, “Bagaimana jika suatu saat kami harus berada disebuah kota yang sangat tertinggal dalam hal pendidikan?”
Satu nasehat darinya. “Tak perlu kamu kuatir dengan kurikulum yang ada saat itu, tapi yakinlah ketika kamu berhasil mendidik anak-anakmu dan mengarahkan mereka sesuai bakat dan potensinya, maka mereka akan memiliki kekuatan untuk bisa memperjuangkan cita-citanya”

Sebenarnya saya salut dengannya, karena banyak siswa/siswinya yang berhasil menggapai cita-citanya karena mereka sudah bisa mengenali potensinya sejak awal.
Sejak itulah saya memiliki sebuah sudut pandang yang berbeda tentang sebuah kurikulum pendidikan termasuk kebijakan ujian nasional yang ada di negara kita ini. Dimana saya berpegang pada nasehatnya, bahwa saya harus percaya dengan kemampuan anak-anak menghadapi Ujian Akhir Nasional jika pun memang tetap diadakan, dan andaipun dihapus maka saya percaya bahwa anak-anak sudah teruji dengan sendirinya sekalipun tanpa harus mengikuti ujian akhir nasional yang nilai-nilainya dianggap sebagai parameter prestasi anak-anak kita.

Saya sendiri memang lebih suka melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda untuk mempertimbangkan banyak hal. Seperti hal nya ketika ujian akhir nasional tetap ada maka saya harus legawa menerima kebijakan itu karena saya yakin itulah yang terbaik untuk anak-anak saya dari Allah SWT. Mungkin mereka memang diminta harus membuktikan pada dunia melalui angka-angka nilai ujian akhir nasional kepada dunia sebagai bentuk prestige mereka dimata dunia.

Sebaliknya jika memang dihapus, maka saya tak perlu ambil pusing. Saya tetap menganggap bahwa itu yang terbaik untuk mereka, karena setidaknya mereka tidak perlu pusing memikirkan menghadapi jadwal-jadwal ujian didepan mata yang ada. Seperti nasehat ibu saya bahwa Allah lah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Dalam hal ini Allah lah yang maha membolak balikkan hati pembuat kebijakan ujian akhir nasional di negara kita. Dimana saya pun percaya seandainya memang ujian akhir nasional tetap harus berlanjut ataupun dihapus maka semua itu sudah atas kehendak Allah SWT.

Sebenarnya saya pribadi lebih menanggapi adanya ujian akhir nasional atau tidak juga memiliki banyak sisi positif dan negatif dibeberapa poin. Semisal ketika diberlakukan ujian akhir nasional maka anak akan belajar berkompetisi. Hal baiknya anak akan belajar menjadi yang terbaik. Sebaliknya efek negatifnya jika ujian akhir nasional dihapus, maka mereka akan merasa kecewa, karena mereka merasa untuk apa belajar susah-susah selama ini jika pada akhirnya toh tidak ada parameter keberhasilan untuk mereka. Sehingga dinegara kita yang segala sesuatu masih lebih banyak diukur dengan nilai ujian membuat sedikit banyak berpengaruh nantinya, karena anak-anak akan merasa tidak adil dengan apa yang sudah dicapainya tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan selama ini yang dianggap tidak mendapat pengakuan sebagaimana seharusnya.

Hal lainnya mengapa sebaiknya kita lebih mempersiapkan anak-anak kita terhadap semua kemungkinan yang ada dari pada memusingkan kebijakan ujian akhir nasional yang bisa saja dihapus atau tidak, karena toh keduanya sama-sama memiliki sisi positif maupun negatif.

Anggaplah, jika ujian akhir nasional akan dihapus maka akan banyak sekolah-sekolah kurang maju yang merasa semakin santai merasa tidak perlu mempersiapkan murid-muridnya. Hal ini tentu dikuatirkan efeknya akan menumbuhkan generasi yang santai yang suka sekali menggampangkan sesuatu. Bagaimana hasilnya? Tentu saya tidak berani membayangkan!!!

Sebaliknya jika ujian akhir nasional tetap ada maka setidaknya akan ada parameter yang harus dicapai oleh suatu sekolah tersebut, sehingga mau tak mau mereka pun akan berlomba-lomba berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari tahun ke tahun. Meski demikian tentu lagi-lagi kita tak boleh melupakan fasilitas sarana dan prasarana yang tersedia di sekolahan, yang tentunya hal ini juga bisa menjadi boomerang, dimana ketika sebuah sekolah tidak memiliki fasilitas mumpuni maka lagi-lagi bisa menyebabkan sekolah beserta seluruh civitas akademisnya semakin terseok-seok dan semakin tertinggal jauh dibanding sekolah yang sudah lebih maju.

Terkadang mungkin kita terlalu dipenuhi dengan rasa kuatir akan suatu hal yang terjadi, seperti halnya jika ujian akhir nasional tetap diadakan kita akan panik, kecewa merasa bahwa segala sesuatu hanya diukur dari sebuah angka nilai saja bukan dari prosesnya. Faktanya dengan target angka nilai yang dicapai tersebut anak-anak jadi banyak belajar berproses. Salah satunya tak dipungkiri selain usaha belajar mereka pasti akan lebih rajin beribadah. Seperti sebuah nasehat yang selalu mengatakan bahwa, manusia boleh berusaha tetapi Allah jugalah sang penentu hasil akhirnya.

Sehingga dengan adanya ujian akhir nasional logikanya memang akan muncul kekhawatiran tidak lulus yang bisa jadi mengganggu pikiran, tetapi dengan adanya hal tersebut mereka jadi berpasrah kepada Allah SWT setelah usaha maksimal yang dilakukannya. Contoh, seperti saya dan teman-teman dulu ketika jaman SMA memang merasa sangat tertekan dengan adanya ujian akhir nasional, tetapi dengan begitu teman-teman sepakat mengadakan doa bersama setiap pagi dengan membaca surat yasin sebelum kelas dimulai. Disitulah kita jadi memahami indahnya berdoa bersama.

Mungkin ini akan berbeda dengan yang kita rasakan jika kita tidak ada tantangan menghadapi ujian akhir nasional. Bisa jadi memang pikiran kita terasa fresh, tidak stres karena tidak ada tekanan beban batin, dan merasa sangat santai. Namun, yang perlu dikuatirkan dengan merasa santai anak-anak jadi merasa tidak memiliki tanggung jawab, misalnya mereka lebih memilih kongkow di mall, dengan asumsi mereka akan berpikir, “Halah...santai nggak belajar juga nggak masalah toh saya juga bakalan tetap lulus, wong nggak ada ujian akhir nasional ini.”

Sehingga bisa dibilang dengan dihapuskannya ujian akhir nasional tidak menutup kemungkinan mereka akan santai sehingga jauh dari ibadah. Meski demikian tak menutup kemungkinan juga dengan adanya ujian akhir nasional dapat menjauhkan dari ibadah. Contohnya bisa jadi beberapa pihak mencari jalan pintas mendatangi dukun.
Sebagai tambahan lainnya mengapa jika kita melihat secara seksama sebenarnya baik dihapus atau tidak ujian akhir nasional keduanya sama-sama memiliki sisi positif dan negatif. Tanpa kita sadari sebenarnya ujian nasional sendiri juga bisa menjadi sarana mendekatkan diri orang tua dengan anak, karena dengan adanya ujian nasional orang tua menjadi lebih perhatian kepada anak, semisal dengan memperhatikan nilai-nilai sekolahnya sehingga orang tua berusaha utuk lebih memperhatikan perkembangan nilai anaknya dari hari ke hari agar bisa mengetahui sampai dimana posisi anaknya dalam hal pelajaran di sekolah. Dengan begitu orang tua juga akan berusaha memenuhi gizi untuk anak-anaknya salah satunya untuk menghadapi ujian akhir nasional. Asumsinya saat gizi anak terpenuhi maka anak akan bisa berpikir dengan maksimal.

Sebaliknya ketika anak tidak perlu susah-susah menghadapi ujian akhir nasional bisa jadi perhatiaan orang tua tidak sebesar jika anak menghadapi ujian akhir nasional. Bisa saja orang tua merasa jadi sangat santai karena tidak perlu dipusingkan dengan perasaan kuatir anak yang akan lulus atau tidak menghadapi ujian akhir nasional. Meski demikian dengan adanya ujian akhir nasional juga tak menutup kemungkinan anak akan menjadi semakin jauh dari orang tua karena sebagai bentuk protes kepada orang tua. Contoh gampangnya ketika anak akan menghadapi ujian akhir nasional orang tua menjadi panik, sehingga menuntut anak-anaknya untuk mendapat nilai memuaskan dengan menekan anak agar mengikuti banyak les ini itu.

Oleh sebab itu disini saya merasa bahwa sebenarnya ada baiknya kita tak perlu mengkhawatirkan kebijakan ujian akhir nasional akan dihapus atau tidak, karena justru ada yang lebih penting untuk kita khawatirkan, yaitu bagaimana kita mempersiapkan anak-anak kita sehingga bisa menjadi generasi hebat yang sanggup dihadapkan pada berbagai macam kondisi kurikulum pendidikan di negara kita atau manapun nantinya.

Kesimpulannya, mau ada atau tidak, yang penting bagaimana kita sebagai orang tua mempersiapkan anak-anak dari dalam rumah, salah satunya mulai mendidik anak sesuai fitrah melalui home education. Dengan adanya home education yang kuat, insya Allah anak bisa menemukan jati dirinya sehingga bisa menaklukkan apapun yang ada didepan mereka dan tetap bisa mengkondisikan diri menjadi yang terbaik sekalipun tidak ada tantangan yang harus ditaklukkanya.

Pada akhirnya suami dan saya menyadari bahwa, memiliki 2 balita yang sedang bertumbuh aktif memaksa kami harus mau terus belajar menjadi orang tua hebat. Oleh karena itu kami sepakat daripada sekedar mengkhawatirkan hal-hal yang belum jelas terjadi, ada baiknya kami tetap berusaha lebih fokus mempersiapkan anak-anak kami untuk bisa menyongsong masa depan mereka. Sehingga nantinya kami harapkan mereka menjadi pribadi tangguh yang mampu menghadapi segala hal yang ada dihadapan mereka, termasuk tentang ujian nasional yang entah akan dihapus atau akan tetap ada.

Noted : Tulisan ini diikut sertakan dalam kelas nonfiksi (kelas online) yang diadakan oleh Dwi Suwiknyo penulis buku motivasi islam best seller di Indonesia.

No comments:

Post a Comment