Thursday, May 4, 2017

Belajar Berbagi Cinta Yang Adil (Ketika Kakak Adik Berebut Mainan)


Siang itu seperti biasa terdengar teriakan histeris kakak dan adik bergantian. Ketika saya perhatikan ternyata mereka sedang memperebutkan sebuah tab (gadget) yang sedang dipegang oleh si kakak. Mengetahui sedang saya perhatikan, maka si adik segera lari menghampiri saya sembari menangis berkata dengan kosakata belum jelas, “dedekkkk dedekkkkk...”
Sebaliknya si kakak pun tak mau kalah menangis histeris, “Tapi ini tadi kakakkkkk yang peganggggg mammmmmmmm... adik yang mau rebut-rebut...”



Sedikit termenung saya memikirkan solusi, apa yang harus saya lakukan saat itu. Terbayang peristiwa-peristiwa di pikiran saya disaat saya masih kecil mana yang harus saya pilih ketika menghadapi situasi tersebut.

Jika mau mungkin saya bisa saja langsung mengambil tab yang dipegang oleh si kakak lalu berkata, “Ya sudah sini biar nggak rebutan tabnya buat mamam saja.”

Sudah selesai urusan memang kelihatannya, tapi bagaimana dengan perasaan salah satu dari mereka yang merasa diperlakukan tidak adil jika saya langsung merebut tab tersebut dan menyembunyikannya.

Bisa-bisa mungkin si kakak akan merasa sakit hati karena merasa seharusnya dia bisa bermain dengan leluasa, tetapi hanya karena si adik yang merebut mainannya kakak jadi kehilangan kesempatan bermain. Jangan-jangan nanti si kakak dendam dengan ulah si adik, dan ada pikiran “Gara-gara adik, mamam jadi marah menyembunyikan tab ku.”

Baca Juga : Main Sama-Sama atau Bersama-Sama Main? #Sharing With Friends



Ah, nggak boleh begini nih penyelesaiannya. Saya kemudian ingat nasehat dari salah seorang sahabat dengan background psikologi bernama Gritti, dimana menurutnya sebenarnya dengan membiarkan anak-anak berada di situasi konflik seperti itu secara tidak langsung mengajarkan mereka untuk bisa menyelesaikan masalah.

Setidaknya jika memang salah satu diantara mereka adalah pihak yang direbut, mereka bisa belajar untuk mempertahankan miliknya. Oke, tapi ini mereka sudah dalam tahap histeris dan mengadu kepada saya. Jadi mana sebaiknya yang harus saya bela?

Saya tidak ingin salah mengambil langkah. Sudah menjadi rahasia umum, ketika kita memiliki lebih dari satu anak, maka akan muncul istilah anak emas. Dimana biasanya istilah anak emas ini muncul karena salah satu dari mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh orang tuanya, misalnya dengan selalu membelanya sekalipun dia salah, atau sebaliknya selalu menyalahkannya sekalipun dia benar. Tidak, saya tidak ingin hal itu terjadi.

Hingga akhirnya tak lama kemudian saya mendapat ide untuk mencoba mendekati si adik terlebih dahulu yang kebetulan memang posisinya ada didekat saya. Saya mencoba menanyainya, “Iya dik, kenapa adik nangis? Adik pengen mainan sama kakak? Ya sudah adik boleh mainan tapi nggak boleh rebut-rebut.”

Si adik pun hanya menjawab, “kakak...kakak...” sambil menunjuk ke arah kakaknya.
Saya pun kembali bertanya kepada si adik, “Kenapa kakak? Adek mau pinjam tapi nggak dipinjemin kakak?”

Si kakak dari kejauhan langsung membela diri sambil berteriak, “Tapi adik rebut-rebut loh mam!”
Saya pun mencoba menarik nafas mendengar teriakan dan tangisan sahut-sahutan tersebut. Sembari tenang saya coba mengatakan kepada adik, “Jadi adik mau pinjem? Coba sih adik peluk kakak dulu.”
Dengan menangis sesenggukkan si adik langsung memeluk kakaknya. Kemudian saya pun mencoba mengatakan kepada si kakak,”Yuk kak, coba peluk adik.”

Si kakak pun segera memeluk si adik. Setelah keduanya berpelukan, saya pun segera mengatakan kepada keduanya, “Ya sudah, sekarang kakak adik mau nggak main tab berdua di kamar? Nanti gantian mainannya. Bisa nggak?”

Dan ternyata keduanya kompak berjalan bergandengan tangan menuju kamar sembari si kakak berkata, “Ayok dik main sama-sama, tapi nanti kakak duluan ya yang mainan, gantian kalau sudah nanti baru adik.” Si adik pun menanggapinya dengan anggukan kepala.
Alhamdulillah satu masalah terselesaikan, tanpa perlu kuatir membuat salah satu dari mereka merasa patah hati karena merasa tak dibela.

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam seleksi pesantren penulis#1 tapi termasuk yang belum lolos seleksi 😅

Sebagai tambahan catatan, tulisan ini hanya merupakan salah satu cara (media) saya mengoreksi diri, agar bisa menjadi ibu yang lebih baik dari hari kehari. Sehingga harapannya apa yang salah bisa lebih saya perbaiki lagi. 

Pelajaran yang bisa saya ambil hikmahnya dari kejadian tersebut, adakalanya kita tidak perlu "terlalu jauh" ikut campur akan masalah orang lain, karena bisa jadi mereka sebenarnya sedang berusaha untuk menyelesaikannya dengan cara mereka.

Begitu juga dalam hal ini, dengan memberikan kesempatan anak-anak untuk bisa menyelesaikan masalahnya tanpa ikut campur terlalu jauh, sebenarnya secara tidak langsung kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan problem solving diantara mereka.

Kecuali jika dirasa mereka langsung meminta tolong kepada kita, atau memang terlihat membutuhkan pertolongan karena terjadi hal-hal yang jika dibiarkan bisa membahayakan, maka sebagai individu yang fitrah seharusnya memiliki empati dan simpati, tidak ada salahnya ikut membantu memberi solusi.

1 comment:

  1. Terus almas almira dikamar ngobrol bersama "kenapa tadi kita nangis nangis an ya sis?"
    *pake bahasa bayi
    *terus lali sama tab nya
    *hehehe

    ReplyDelete