Thursday, May 18, 2017

Belajar Dari Luar Zona Nyaman

Beberapa waktu lalu seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, saya mengambil keberanian untuk menjadi ketua panitia dalam sebuah acara wisuda yang diadakan oleh sebuah komunitas bernama ibu profesional surabaya. Sedikit gila mungkin sebenarnya yang terlintas dibenak orang-orang yang mengenal saya, karena bahkan saya yang geje ini tidak pernah punya pengalaman hebat dalam berorganisasi.




Saya hanya bisa yakin ketika niat kita mulia maka akan selalu ada cara untuk memudahkan melakukan tugas kita.

Namun justru disitulah hebatnya komunitas tersebut yang menurut saya justru memberikan kesempatan kepada seluruh anggota yang memang mau belajar berproses menjadi lebih baik.

Sebelum mengambil keputusan tersebut, tentu saya meminta izin terlebih dahulu kepada suami selaku kepala keluarga dalam rumah. Bagaimanapun sendablek-ndableknya dan segeje-gejenya saya, sejak awal pernikahan saya sudah berkomitmen apa yang saya lakukan harus seizin suami, alasannya sederhana karena janji awal sebelum kami menikah adalah pernikahan kami harus selalu dilandasi kejujuran satu sama lain. Sehingga dengan mengutamakan sebuah kejujuran, kami akan lebih mudah untuk menjaga perasaan saling percaya satu sama lain.

Bersyukur suami merupakan orang yang benar-benar mensupport saya untuk terus melakukan kegiatan bersifat positif yang dianggap bisa membawa kebaikan untuk saya dan tentunya akan berimbas baik untuk anak-anak dan suami.

Seperti janjinya, suami akan terus berada dibelakang saya untuk mensupport dan mendorong saya agar terus maju. Tak dipungkiri tak pernah memiliki pengalaman hebat dalam berorganisasi membuat saya merasa sering tidak nyaman dan lelah saat beberapa kali dihadapkan pada situasi yang tidak nyaman.

Ada saatnya ketika saya merasa pendapat saya tak didengarkan oleh semua teman-teman, itu sungguh membuat saya sangat kecewa luar biasa. Sempat terbersit perasaan ingin mengundurkan diri saja dari kepanitiaan tersebut.

Namun, ketika saya mulai lelah dan ingin kabur dari kenyataan hebohnya persiapan wisuda tersebut, suami dengan santai akan menjawab dari belakang saya dengan kalimat, "Katanya ibu profesional? Ibu profesional itu ya harus tanggung jawab dong. Nggak boleh kabur-kaburan."


Adakalanya saya lelah ketika beberapa kali mendapat "kabar horor" entah tentang biaya operasional ataupun tentang kejelasan narasumber yang akan kita undang saat itu. Sumpah hal ini benar-benar membuat hati saya dag dig dug setiap hari, sampai terkadang terasa "mencelos" begitu saja.

Pernah suatu ketika saya dalam hati bertanya, "Apa sih yang kamu cari dari kehebohan ini? Kenapa juga kamu kemaren nekad ambil posisi itu? Nggak enak toh sekarang?"

Nyesel??? Ya iyalah sempat ada pikiran menyesal... dan sempat berpikir duh lain kali jangan ambil posisi-posisi penting gitu ya. Dihhh...ngeriiiii...hidup berasa nggak nyaman banget...

Hingga akhirnya acara wisuda berhasil terlaksana dengan baik. Tentunya semua tak lepas dari campur tangan Allah SWT Sang Maha Penolong.

Meski bisa dibilang sedikit molor dari target rundown acara, dan sempat terbersit akan banyak peserta yang meninggalkan acara sebelum acara berakhir, tapi alhamdulillah acara tetap berjalan sebagaimana mestinya dengan jumlah peserta yang menyenangkan.

Diluar prediksi narasumber yang awalnya dikabarkan akan datang 3 orang saja ternyata hadir dalam formasi lengkap 11 orang anak bersama orang tuanya, yaitu gen halilintar.

Berfoto Bersama Gen Halilintar
Flower @by.kenese

Bahkan tak sampai disitu kami berhasil menyisipkan sebuah acara surprise memberikan sebuah penghargaan berupa bucket bunga mungil untuk para fasilitator (mentor) kami dikelas sebelumnya.

Surprise Bucket Bunga Untuk Para Fasilitator
Flower @by.kenese

Setelah acara selesai, rasanya hati menjadi plong... Lalu dengan kehebohan yang pernah ada tersebut saya sempat berpikit untuk tidak mau keluar dari zona nyaman lagi, karena bikin hati menjadi dag dig dug tiap hari, seakan sedang melakukan sport jantung.

Namun hal ini ditanggapi berbeda oleh suami, menurutnya ketika kita keluar dari zona nyaman, justru saat itulah kita bisa belajar untuk menjadi lebih baik lagi.

Diibaratkan oleh suami, ketika kita berada di zona nyaman maka kita akan terlena, sehingga tidak menyadari bahwa diluar sana sudah banyak teman-teman kita yang berkembang menjadi lebih baik, sedangkan kita justru diam saja tidak bergerak sama sekali. Saat kita sadar bisa jadi semua sudah terlambat.

Suami juga menambahkan ketika kita keluar dari zona nyaman, maka ibarat kurva grafik yang mulai menurun karena performa kinerja kita yang biasa-biasa saja. Maka untuk bisa mendapat performa kerja yang lebih baik mau tak mau keluar dari zona nyaman juga bisa menjadi salah satu cara untuk terus belajar.

Ibaratnya ketika kita sudah terbiasa memakan sambal level 1, maka kelak kita akan menganggap sambal level 1 tersebut tidak terasa pedas. Sebaliknya ketika kita mencoba memesan sambal level yang lebih tinggi tentu kita akan memberikan standart lebih tinggi pada respon tubuh kita agar bisa menikmati rasa pedas sambal yang lebih tinggi.

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam #30DWC jilid 6 #Day2


1 comment:

  1. Cobak nonton lengkap youtube gen halilintar mbak..
    Anak 11 kebagian job komplit..bagian masak, bagian laundry, bagian travelling, bagian building maintenance rumah..lumayan pandangan buat geng adik adik almas almira dan al al al berikutnya *eeeeh

    ReplyDelete