Friday, May 26, 2017

Belajar Jujur dari Hal Paling Sepele Kepada Anak

Beberapa hari ini kakak dan adik sedang saking berjama'ah. Entah kenapa keduanya panas badannya cukup tinggi. Si kakak yang awalnya tiba-tiba suhu badannya 39,2°C disusul oleh si adik yang juga saat tidur malam suhu tubuhnya menjadi berada di kisaran 39°C. Kuatir? Tentu... Tapi saya berusaha tenang.

Saat itu juga saya meminta tolong kepada suami untuk membeli obat panas didekat apotek rumah. Tak perlu menunggu terlalu lama, saya tak mau mengambil resiko karena panas keduanya tinggi maka saya segera memberinya obat panas.

Meski sudah meminum obat ternyata semalaman suhu badan keduanya tak terlalu menunjukkan penurunan suhu yang signifikan. Si kakak terutama yang nampak tidur tak nyenyak.

Hari ke-2 pun demikian, ternyata suhu badan kakak maupun adik belum reda juga. Seperti biasa saya masih bertahan untuk tidak buru-buru membawa mereka ke dokter, karena seperti yang pernah disampaikan oleh dokter anak kami nanti biasanya hari ke tiga kalau panasnya tidak reda juga baru dilakukan cek lab.

Sampai hari ke-3 ternyata panas kakak adik tak kunjung reda, sehingga saya segera membawa ke dokter spesialis anak langganan kami. Namun, saat itu baik kakak maupun adik tidak langsung dilakukan tes lab. Sesuai saran dokter ditunggu sehari lagi, jika obat yang diresepkan oleh dokter saat itu tak kunjung reda, maka keesokan harinya saya bisa segera membawa kakak adik cek lab. Dokter pun memberikan form cek lab untuk kakak dan adik.

Ternyata sampai hari ke-4 panas kakak maupun adik tak kunjung reda juga. Sehingga suami dan saya sepakat untuk membawa kakak maupun adik cek lab.

Seperti biasa sebelum melakukan cek lab, sejak awal kami akan memberitahukan kepada keduanya kemana kami akan menuju hari itu.

"Kakak, adik... pagi ini badannya masih panas ya... jadi hari ini kita harus ke dokter." begitu saya sampaikan kepada mereka.

Tak sampai disitu, saya juga menyampaikan yang sebenarnya, "Nanti, kalau diambil darah nggak apa-apa ya..."

"Nggak mauuuuu..." Jelas jawaban mereka.

Nangis mewek-mewek juga jadi senjata mereka menolak. Kalau seperti ini biasanya entah ibu saya atau mertua saya biasanya akan mengeluarkan jurus rayuan membujuk.

Kalimat seperti itu terkadang oleh orang tua kami mungkin dianggap "menakut-nakuti", sehingga anak akan semakin tidak mau ikut.

Mungkin beberapa diantara kita pernah memiliki kenangan, dimana ketika orang tua kita mengajak ke suatu tempat, misal, "Yuk, kita beli es krim..." Faktanya saat kita antusias ikut ternyata kendaraan yang dikendarai oleh orang tua kita beloknya ke rumah sakit. Tau-tau kita sudah jerit-jerit nangis karena mau disuntik.

Gimana tuh rasanya? Duh sakitnya tuh disini... (Ngomong sambil nunjuk dada...)
Masih kecil udah dibikin nyeseg, sakit hati dan patah hati... Bilangnya mau diajak beli es krim nggak taunya mau diajak ke tempat suntik. PHP banget kan ya rasanya...

Namanya anak meski kecil mereka akan terus belajar dari kita. Sekali dua kali dibohongi oke, tapi lama-lama jangan-jangan akan tersimpan dalam memori mereka untuk tidak percaya apa yang kita sampaikan jika kita terlalu sering berbohong.

Ada masanya, nanti mereka akan berpikir, "Mama bilangnya mau ngajak beli es krim, ah... iya ta? Jangan-jangan cuma janji-janji palsu."
Sedihnya...kalau pada akhirnya anak-anak malah nggak percaya kita...
Kalau sudah nggak percaya sama kita, apa mungkin kita akan bisa jadi sahabat untuk mereka???
Lalu kalau kita tidak bisa menjadi sahabat mereka, kemana mereka akan mencari rasa nyaman sahabat???
***

Oleh karena itu suami dan saya sepakat untuk belajar tidak menutupi suatu hal kepada anak-anak sejak awal.

Saya belajar dari dokter spesialis anak langganan kami yang kala itu akan melakukan imunisasi untuk si kakak di usianya yang masih bayi. Saat itu sang dokter sebelum menyuntik menyounding meminta ijin dulu kepada kakak dengan bahasa yang sangat sederhana tapi mendalam.

"Kak, tante dokter minta maaf ya mau nyuntik kamu. Sedikit sakit memang, tapi ini demi kebaikan kamu." begitu kira-kira kalimat yang disampaikan.

Dari situ saya belajar, ya disuntik itu memang sakit, jadi jangan katakan tidak sakit ketika hal itu memang membuat sakit. Sebab apa? Sebab ketika kita mengatakan hal itu tidak sakit, biasanya anak-anak kita akan percaya kepada kita bahwa tidak sakit, tetapi ketika mendapati kenyataan itu sakit, apa yang akan dirasakan oleh mereka? Sakit iya, sebal iya karena merasa dikibulin. "Lo katanya nggak sakit, tapi buktinya sakit gini lo!" mungkin begitu kalau bisa disederhanakan dalam bentuk protes jeritan dalam hati.

Duh, tapi kalau kita omongkan diawal bahwa kita akan ke rumah sakit atau ke dokter jangan-jangan anak-anak malah nggak mau ikut. Gimana dong?

Duh, gimana ya??? Hehe...

Saya pribadi selama ini berusaha selalu mengatakan apa adanya. Biasanya kakak terutama akan bertanya di awal, "Nanti, kakak mau disuntik ya ma?"

Nah kalau memang tujuannya mau disuntik, ya saya bilang iya. Tapi kalau nggak, ya saya bilang, "kita lihat nanti, semoga nggak perlu disuntik ya nak."

Dengan jawaban iya, pasti kakak akan protes tidak mau. Sebagai gantinya biasanya suami dan saya berusaha tawar menawar dengan kakak.

Misal dengan menawarkan, "Nanti, kalau kakak pintar mau disuntik, kakak minta apa?"
Buat kami anggaplah itu sebagai reward karena mereka mau bekerja sama dengan kita melakukan  hal yang tidak mereka sukai.

Duh, apa harus selalu dikasih reward ya?
Nggak juga sih, tergantung situasi dan kondisi juga.

Adakalanya saat "tanggal tua" ya saya bilang apa adanya. Hehe...
Biasanya kalau saya nggak bisa kasih reward, ya saya kasih pengertian. Misalnya dengan kalimat, "Kakak, nanti kakak diambil darah pakai jarum ya. Sakit memang... Tapi ini demi kebaikan kakak... Biar kita tahu kakak sakitnya apa... Nggak enak memang, tapi mamam akan lebih sedih kalau lihat kakak sakit nggak sembuh-sembuh..."

Kalau sudah gitu, nanti biasanya kakak akan sedih dan menangis, tak masalah saya akan membiarkan dia mengeluarkan emosi sedihnya... Lalu saya pun akan berusaha memberikan empati kepadanya, dengan memeluk dan meminta maaf karena sudah membuat dia tidak nyaman.

Bagaimana dengan adik? Sebenarnya hampir sama sih ya... Si adik memang saat ini belum bisa menyampaikan dengan jelas apa yang diucapkannya, tapi si adik ini lebih ekspresif. Contohnya, kemarin sesaat setelah diambil darah, ternyata pengambilan darah harus diulang lagi.

Mau tak mau ya saya bilang terus terang kepada adik, "Dek, maaf ya, adik harus diambil darah lagi, karena tadi adik waktu diambil darah mancal-mancal jadi sampel darahnya nggak bisa diperiksa."
Seketika itu juga si adik nangis protes tidak mau.

Setelah proses pengambilan darah yang penuh episode gulat, karena tenaga adik yang luar biasa saat menolak diambil darah, ya sudah lagi-lagi kami meminta maaf kepada adik.

Dengan polosnya si adik berkata dengan kalimat yang masih cadel, "Mamam...akit...igit amuk..." (Mamam sakit, digigit nyamuk). Mendengar itu saya pun tersenyum, sembari mengatakan, "Iya adik sakit. Maaf ya...adik harus diambil darah lagi tadi. Tapi itu demi kebaikan adik, biar kita tahu adik kenapa badannya panas nggak turun-turun."

Lalu saya pun memeluk adik, sembari mengelus-elus tangannya yang baru saja diambil darah.

Sepele memang bagi sebagian orang, tetapi untuk kami hal tersebut bisa menjadi sangat penting sebagai salah satu cara kami mempondasi rasa percaya dalam setiap unsur keluarga kecil kami.

Adapun beberapa hal yang sering kami lakukan untuk memupuk rasa saling percaya dalam keluarga kecil kami diantaranya :

  • Jujur.
  • Menyampaikan  semuanya di awal jika memang akan ada suatu hal yang tidak menyenangkan.
  • Berusaha menepati apabila sudah berjanji.
  • Meminta maaf apabila tidak bisa menepati janji, sembari memberikan alasan yang sebenarnya.
  • Jangan pernah berjanji, ketika tidak yakin bisa menepati.

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam #30DWCjilid6 #day10


No comments:

Post a Comment