Monday, May 22, 2017

Belajar Melepaskan Innerchild Yang Terluka

Kurang lebih sudah hampir 2 minggu lebih, setelah kami membagi kue tart syukuran keberhasilan kami memberikan ASI selama dua tahun untuk si adik. Saat itu seperti biasa kami berusaha memikirkan apa yang bisa kami berikan untuk ibu menjelang hari pergantian usia beliau sebagai ungkapan terimakasih kami. Lama memikirkan, akhirnya kami memutuskan untuk memberi kue tart yang sama persis dengan milik adik, alasannya simpel karena selama 2 minggu tersebut ibu beberapa kali menagih meminta saya untuk membelikan kue tersebut.



Harganya sebenarnya tidak seberapa, tetapi untuk membelinya setidaknya saya harus menuju ke kota yang berbeda berjarak sekitar 2 jam lebih dari kota kami.

Meski demikian suami tetap memberi semangat kepada saya. Menurut suami tart itulah yang paling tepat untuk hadiah ibu karena sesuai dengan keinginan nenek. Bocoran dari suami, beberapa waktu lalu bahkan ibu sempat meminta antar untuk berburu tart yang sama di kota beliau tapi tidak menemukannya.

Saya pun akhirnya setuju untuk membelinya. Pagi-pagi sekali saya berusaha menyiapkan segala hal untuk segera berangkat ke kota tempat tart tersebut dijual, demi agar tidak terkena macet. Bahkan jam makan pagi anak-anak sementara saya skipp. Pikir saya nanti kalau tidak ada hambatan, insya Allah kami sampai di rumah ibu pagi, sehingga anak-anak bisa sarapan di rumah ibu.

Dengan ijin suami, saya pun berangkat menuju kota Lamongan. Alhamdulillah perjalanan menuju kota Lamongan lancar, meski jalanan padat saat berada di dalam kota, dan sekali salah jalan saat mencari lokasi toko roti. Saya pun berhasil menemukan lokasi toko roti  yang saya maksud. Suami saat itu tidak ikut, karena harus masuk kerja.

Jalanan Padat, Berjibaku Dengan Para Pejuang Rejeki di Pagi Hari

Sesaat setelah tiba di toko roti yang kami tuju, saya segera membelikan masing-masing kakak adik satu buah roti untuk mengganjal perutnya. Bagaimanapun sebagai ibu saya kuatir kakak adik akan merasa kelaparan karena belum sarapan saat itu.

Setelah tart siap, kami pun segera menuju kota ibu. Sepanjang perjalanan kakak adik menghabiskan roti yang saya belikan dengan semangat, sehingga saya tidak perlu kepikiran mereka merasa lapar. Kebetulan sekali, karena ternyata perjalanan menuju rumah nenek sangat macet. Saya harus berjibaku diantara kendaraan-kendaraan besar yang tidak mau saling mengalah, berusaha saling menyerobot. Meski demikian saya berusaha untuk tidak panik dan tidak terpancing emosi. Toh apa yang saya kuatirkan, saya tidak sedang diburu waktu, anak-anak juga sementara perutnya sudah terisi dengan roti.

Saya berusaha menikmati jalanan yang sedang macet amburadul pagi itu. Setelah berjibaku dengan macet, akhirnya kami tiba di kota ibu. Saya pun melajukan kendaraan saya dengan nyaman menuju rumah ibu.
Menikmati Macet

Sesampai di rumah ibu, saya segera mengetuk pagarnya. Agak lama kemudian ibu membukakan pintu. Ibu sedikit terkejut kami datang, karena mengira saya akan mengabari terlebih dahulu jika akan ke rumah Ibu.

Kebetulan sehari sebelumnya sebenarnya saya menawarkan mengantar Ibu untuk membeli tart tersebut, tetapi atas saran suami daripada sekedar mengantar, mending saya belikan langsung jadi nantinya bisa menjadi surprise untuk Ibu.

Surpriseeeee... begitu teriak si kakak antusias waktu menunjukkan tart yang sudah kami beli sebelumnya untuk neneknya.

Kami pun segera masuk ke rumah Ibu. Saat itu tart yang kami belikan memang tidak langsung kami apa-apakan. Toh pikir saya paling tartnya nanti cuma dipakai untuk foto-fotoan saja, lalu dipotong dan dimakan bersama. Sudah...

Sayangnya...manusia hanya bisa berencana...
Tak lama menjejakkan kaki di rumah Ibu, dengan tiba-tiba si kakak adik batuk bersaut-sautan. Tak mau berhenti juga batuknya membuat nenek sedikit panik. Lalu dari situlah tiba-tiba Ibu memarahi saya, "Kalau sudah tahu anak lagi sakit itu nggak usah keloyongan kemana-mana."

Mendapat omelan tersebut saya hanya diam saja. Pikiran saya sedang berkecamuk panik juga, karena tadinya baik kakak ataupun adik tidak ada yang batuk parah seperti itu.

Berulang kali batuk kakak dan adik bersaut-sautan seakan tak mau saling kalah. Bahkan si kakak beberapa kali sempat hampir muntah. Jujur saya semakin panik, takut dimarahi oleh Ibu. Meski demikian saya berusaha diam.

Hingga akhirnya lagi-lagi Ibu memarahi saya, dimana intinya beliau mengatakan bahwa beliau tidak menginginkan kue tart tersebut. Entah apa niat beliau mengatakan hal tersebut, yang jelas saya sangat kecewa. Sakit rasanya mengetahui usaha saya untuk membuat beliau senang, ternyata gagal.

Saya pun mencoba meminta pengertian kepada Ibu dengan berkata, "Mbok ya, anaknya ini dihargai sedikit usahanya, jauh-jauh kesini toh juga untuk menyenangkan Ibu."

Berharap mendapat sedikit pengertian, justru malah sebaliknya Ibu mengatakan hal yang menyakitkan, "Itu kan bahagia menurut standart kamu! Kalau menurut standart ibu ya beda lagi!"

Jujur mendapat jawaban seperti itu rasanya sakit sekali, saya ingin menangis, bahkan sedikit menyesal. Tahu begitu untuk apa saya susah-susah usaha membuat beliau bahagia. Tapi saya tahan rasa sakit di hati saya. Buru-buru saya tuangkan perasaan saya kepada suami melalui pesan whatsapp.

Saya katakan kepada suami, ingin rasanya saat itu saya kembali ke rumah membawa anak-anak kalau tidak ingat anak-anak sedang batuk parah. Tetapi suami mengadem-ademkan hati saya.

Saya pun mencoba mengingat-ingat ilmu yang pernah saya dapat melalui workshop innerchild yang dibawakan oleh pak Asep.

Pak Asep Saat Memperagakan Dalam Workshop Innerchild

Ada banyak pikiran berkecamuk dalam benak saya. Saya merenung berpikir apa yang salah dengan saya, dan apa yang harus saya lakukan.

Lalu saya teringat dengan istilah "Skema Baru" yang saat itu sempat dijelaskan oleh pak Asep.

Yah, dari situ saya mencoba menenangkan diri saya, dengan mensounding diri bahwa mungkin apa yang dilakukan oleh Ibu itu lumrah. Lumrah, karena bisa jadi ibu sendiri juga dulunya tidak pernah mendapat skema baru bagaimana harus bertindak ketika menghadapi situasi tidak menyenangkan terhadap orang lain yang berusaha menyenangkan beliau. Seperti yang selalu ditekankan pak Asep, bisa jadi Ibu belum mempunyai skema tentang mengerti perasaan seorang anak yang ingin membahagiakan orang tuanya. Atau mungkin sebaliknya saya lah yang tidak memiliki skema bagaimana harus membahagiakan ibu sesuai standartnya.

Nenek saya sendiri termasuk orang yang galak, jadi ketika hal ini saya kaitkan dengan ilmu yang saya dapat dari workshop pak Asep sedikit masuk akal.

Saya sendiri jadi teringat, seringkali saya juga membuat kecewa suami, dikala suami berusaha membahagiakan saya, bukan ucapan terimakasih yang saya berikan. Sebaliknya saya malah mengajukan komplain.

Contohnya beberapa kali suami memberi oleh-oleh kepada saya ketika kembali dari perjalanan luar kota, bukan terimakasih yang saya ucapkan pertama kali. Tetapi justru saya mengajukan komplain, "Yah, ngapain sih beli-beli gini! Kan sayang duitnya!"
Disitu sering kali suami protes, "Oalahhh...aku kan cuma pengen nyenengin kamu. Mbok ya kalau gitu bilang makasih dulu kek."

Mak jleb rasanya sebenarnya ingat kejadian itu.
Ya bisa dibilang skema yang hampir sama. Jadi mau tak mau semua tergantung saya. Boleh saja saya baper sakit hati dan menuntut ibu untuk memahami saya, toh selama ini semakin saya menuntut, malah semakin runyam hasilnya, karena selalu akan berakhir dengan episode pertengkaran yang tidak jelas awal mulanya.

Pada akhirnya setelah saya mencoba merenungi semua nya saya berusaha menenangkan diri. Saya mencoba menahan rasa sakit di hati saya yang sedang terluka. Saya coba tarik nafas dalam-dalam hembuskan perlahan.

Tidak mudah memang, tetapi lagi-lagi saya teringat sebuah hadist yang mengatakan tentang nasehat seorang anak tetap harus berbuat baik kepada orang tua meski mendapat perlakuan tidak menyenangkan.

Disini saya mencoba memposisikan diri sebagai seorang ibu untuk anak-anak saya. Kelak mungkin seiring bertambahnya usia meski saya berusaha menjadi ibu yang baik, tapi tidak menutup kemungkinan saya akan menjadi ibu yang menyebalkan.

Dengan berusaha berbuat baik kepada orang tua, minimal saya berharap kelak anak-anak saya akan tetap berbuat baik kepada saya.

Selama ini saya sering membaca teori tentang memaafkan Innerchild, tetapi sering kali terkendala dengan situasi-situasi menyakitkan yang terulang kembali lagi, lagi dan lagi. Dulu setiap saya dihadapkan pada keadaan tersebut saya berusaha untuk membangun tembok tinggi di hati saya. Saking tingginya tembok tersebut bahkan seringkali membuat saya menjadi pribadi yang berusaha tidak mau tahu. Hingga akhirnya saya tersadar bahwa saya tidak boleh terus menerus seperti ini. Saya harus mencari jalan, agar saya tetap bisa memaafkan semua rasa sakit itu.

Kini sedikit demi sedikit saya mulai belajar untuk bisa melepaskan innerchild, beberapa diantaranya dengan :
  • Terus belajar memaafkan.
  • Belajar menjadi pribadi sabar dari orang-orang sabar yang ada disekitar kita.
  • Tidak perlu menuntut sekitar berubah, tetapi perubahan bisa dimulai dari diri kita. Insya Allah dengan kita mau berubah menjadi lebih baik, maka kita juga akan mendapat feedback yang baik juga dari sekitar kita.
  • Menerima semua luka itu dengan terus mencari skema baru.
  • Menikmati semua proses tersebut dengan santai.
  • Belajar mensyukuri apa yang telah kita miliki, tidak perlu banyak menuntut. Semakin kita menuntut, maka ketika tuntutan kita tidak terpenuhi justru akan membuat kita semakin terluka dan terpuruk.
  • Perbanyak shalat dan berdoa, agar hati kita menjadi tentram.
  • Menuangkan dalam tulisan yang bersifat positif.
  • Terluka atau tidak dengan perlakuan orang sekitar, itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Orang lain tidak berhak melukai hati kita ketika kita tidak mengizinkan hati kita terluka.
"Hati kita tidak akan terluka,
jika kita tidak mengijinkannya terluka."

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam #30DWC Jilid 6 #Day6

 

1 comment:

  1. OKS banget iki mba
    Thanks for reminding me yha

    Kindly visit my blog : bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete