Tuesday, May 30, 2017

Diary Catatan Saat Anak Sakit

Setelah hampir seminggu baik kakak maupun adik badannya panas tiap malam, dan sudah dua kali suami dan saya membawanya ke dokter, ternyata belum ada perubahan yang signifikan.


Kamis itu, akhirnya kami sepakat membawanya ke UGD, dengan alasan tanggal merah, praktek dokter libur semua.

Meski panas, baik kakak maupun adik masih tetap ceria, sehingga nampak dari raut tenaga medis yang ada di UGD saat itu seperti tidak percaya kalau anak-anak kami sakit.

Terutama si kakak yang tadinya nampak lemas karena suhu badannya tinggi, nyatanya sampai di UGD dia masih bisa sumringah.

"Wah, jangan-jangan saya yang lebay nih," begitu pikir saya...

Tapi tadi memang si kakak maupun adik sebelum ke UGD kelihatan sakit, lemas, dan suhu badannya tinggi kok...

Ah ya sudahlah, toh dokter anak kemaren bilang kalau hari ke-3 masih panas, karena tanggal merah poliklinik tutup maka boleh ke UGD untuk minta rujukan cek lab.

Setelah perjuangan keras pengambilan sample darah untuk cek lab, dengan teriakan histeris anak-anak ketika jarum ambil darah mulai menancap di kulit, kami pun diminta menunggu hasilnya selama kurang lebih se-jam.

Belum juga se-jam, suami yang saat itu memang menunggu di ruang tunggu segera dihubungi oleh perawat, karena harus dilakukan pengambilan ulang sampel darah si adik tersebab sampel yang diambil pertama tadi rusak.

Duh, kalau seperti ini gemes rasanya saya dan suami... Bagaimana tidak anak yang sudah tenang sumringah bakal dibuat nangis lagi... -_-

Baiklah, meski sedikit gemas, saya berusaha tenang. Toh, ini untuk kebaikan mereka juga.  Saya pun kembali mengantar si adik untuk diambil darahnya lagi.

Mengingat pengambilan darah harus diulang lagi, mau tak mau saya harus rela menunggu hasilnya keluar sejam lagi. Dalam kebosanan menunggu hasil lab keluar, kami menghabiskan waktu sembari ngobrol dan bermain bersama anak-anak di ruang tunggu.

Oh ya, tadi sebelum diambil darah saat diukur suhunya, memang suhu badan adik sangat tinggi sekitar 39°C lebih. Sehingga oleh dokter, si adik sempat diberikan obat penurun panas berbentuk suppositoria melalui dubur. Tak perlu menunggu lama, panas badan si adik mulai turun. Mungkin dengan alasan tersebut si adik pun menjadi ceria.

Beberapa waktu kemudian, akhirnya hasil lab keluar. Dari hasil lab menunjukkan bahwa semua baik-baik saja. Alhamdulillah DB negatif, typus juga negatif. Meski demikian dokter sempat menyarankan si adik untuk opname saja mengingat sudah hari ke-4 panas. Harapannya dengan opname bisa dicari penyebab panasnya yang masih naik turun.

Disitu saya keberatan, karena kakak pun kondisinya juga sedang sakit.

Kalau adik harus opname, kakak bagaimana?
Jika kakak ikut di RS saya merasa pasti kakak akan tidak nyaman. Sedangkan jika saya tinggal di rumah, saya malah kepikiran...

Duh, jadi galau...

Tapi pada akhirnya kesepakatan suami dengan saya, sementara adik tidak usah opname saja. Cukup rawat jalan saja. Sehingga kami memutuskan untuk pulang kerumah.

Keesokan harinya, saya kira baik adik maupun kakak sudah sehat. Faktanya ketika malam menjelang panas kakak maupun adik mulai naik lagi. Berusaha tenang, menunggu malam berganti pagi kami mencoba beristirahat sejenak.

Paginya lagi-lagi kami mendapati kakak maupun adik terlihat sehat kembali. Sempat membatalkan rencana ke dokter sesaat, tetapi akhirnya kami bergegas buru-buru ke dokter, karena melihat si adik saat tidur nafasnya terlihat memburu.

Sesampainya di dokter saya harus pasrah antri sedikit lebih lama, karena memang belum mendaftar sebelumnya. Hanya bisa berharap dokter tidak pulang sebelum saya berhasil daftar.

Bersyukur ternyata saya bisa mendaftarkan adik dan kakak untuk diperiksa. Kami pun menanti giliran dipanggil.

Saat akhirnya nama adik dipanggil, kami masuk bersama-sama. Seperti biasa dokter spesialis anak langganan kami tersebut sudah hapal dengan kami. Baik kakak maupun adik diperiksa satu persatu. Dari situ ada kecurigaan diagnosa dokter mengarah ke bronchopneumonia.

Namun, sebelum menegakkan diagnosa tersebut, sang dokter menyarankan adik untuk difoto rontgen. Kami pun segera melakukan foto rontgen sesuai saran dokter. Tak lama kemudian saat hasil foto keluar kami segera membawa ke dokter.

Ternyata kecurigaan dokter benar, sehingga dokter meminta si adik untuk opname.
Lalu bagaimana dengan kakak?
Sementara diagnosa tidak ada kecurigaan mengarah ke bronchopneumonia, sehingga kakak tidak perlu opname. Meski demikian, mau tidak mau seperti biasa kami harus rombongan piknik menginap di RS.

Sekilas nampak egois memang, tetapi saat itu kami mempertimbangkan hal yang terbaik dari yang paling buruk.

Saya mencoba tetap tenang dan berusaha melihat dari segala sudut pandang. Mungkin kelak saat anak-anak tumbuh besar, justru kami akan merindukan kedekatan seperti saat ini, dimana kemana-mana kami harus satu paket, tak terpisahkan. Hehe...

Lekas sembuh ya nak... Amin Amin Ya Rabbal, Alamin...

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam #30DWC jilid6 #Day14

No comments:

Post a Comment