Friday, May 19, 2017

Jangan Jadi Orang Ke Dua

Sering kali kita melihat sebuah keluarga yang harmonis dan kompak serta menginspirasi kita. Sehingga dalam benak kita menyimpan mimpi kelak ingin seperti mereka. Kita pun berusaha sebisa mungkin mencontoh, menjiplak semua yang dilakukannya, hingga akhirnya bisa jadi kita menjadi stres dengan standart yang kita tentukan sendiri atas yang kita lihat dari keluarga lain. Beberapa waktu lalu saya mendapat sebuah nasehat hebat dari seseorang yang sudah saya anggap sebagai mentor dalam sebuah komunitas untuk belajar dalam sebuah universitas kehidupan. Seperti yang berulangkali disampaikan kepada saya, "Temukan panggungmu sendiri, sebaiknya jangan jadi yang kedua."

Sebuah kalimat sederhana, tetapi memiliki makna mendalam bagi saya.

Suatu ketika seorang sahabat pernah berceletuk, "Ih mbak Vety itu suaminya asyik ya, mbak Vety juga asyik. Kayaknya mbak Vety dan suami ini bakal jadi Bu Septi dan Pak Dodik wanna be." (Bu Septi dan Pak Dodik merupakan founder dari Institut Ibu Profesional yang sering menjadi inspirasi banyak keluarga).

Mendapat komentar seperti itu jujur saya merasa belum terlalu yakin akan menjadi sehebat bu Septi dan pak Dodik. Meski demikian saya juga tidak berani mengaminkan celetukan teman saya yang saya anggap bisa menjadi doa tersebut.

Lo kenapa?

Bukankah artinya suami dan saya didoakan kelak akan menjadi tim pasangan yang hebat seperti Bu Septi dan Pak Dodik? Bukankah itu menjadi sesuatu yang keren?

Bukan, bukan saya tidak mau didoakan menjadi orang hebat. Namun, saya menyadari bahwa Bu Septi dan Pak Dodik itu bisa menjadi orang hebat tak lepas dari sepak terjang proses yang mereka lewati selama ini.

Layaknya Pak Dodik yang memang "klop-nya" dengan Bu Septi, maka saya juga "klop-nya" dengan suami saya.
Seperti yang kita ketahui, bahwa setiap manusia terlahir ke dunia ini memiliki keunikan masing-masing. Hanya bagaimana kita bisa melihat dan menemukan keunikan tersebut untuk bisa kita asah menjadi sesuatu yang berkilau dan bermanfaat.

Dari sini bisa yang perlu kita garis bawahi, bahwa saya bukan bu Septi, begitu juga dengan suami saya juga bukan pak Dodik. Tentunya kami masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Sehingga nantinya kedepannya juga tidak mungkin keluarga kami bisa ngeplek ketiplek dengan keluarga mereka.

Bisa jadi kami memiliki visi misi yang berbeda
Bisa juga kami memiliki cara yang lain dalam menyelesaikan semua permasalahan dalam keluarga kita, karena tentunya kami pasti memiliki permasalahan dan problemantika keluarga yang berbeda.

Sehingga jangan sampai karena perbedaan-perbedaan tersebut, justru menjadi boomerang untuk kami ketika orang menganggap kami sebagai Bu Septi dan Pak Dodik wanna be, karena akan dianggap Bu Septi dan Pak Dodik kualitas KW.

Kita tentu sering melihat sebuah produk dengan kualitas bagus, dan ketika ada pihak lain yang ingin menjiplaknya persis, sepersis-persisnya jiplakan tetap akan menjadi sebuah jiplakan. Kalau didunia online shop mungkin disebutnya kualitas KW super. Sesuper-supernya tetap KW juga kan.

Nah, disinilah maksud makna mendalam dari nasehat mentor saya untuk tidak menjadi orang ke-2 alias bayangan orang lain.
Simpelnya jadilah diri kita sendiri, karena bisa jadi orang lain terlihat sempurna di mata kita memiliki banyak problemantika yang tidak mungkin bisa kita selesaikan. Begitu juga sebaliknya.

Semua teori yang kita dapat-pun juga harus kita sadari tidak mungkin bisa telan mentah-mentah. Dengan kata lain setidaknya kita harus melakukan improvisasi dalam mempraktekkan semua teori tersebut karena harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi keluarga.

Dari situ mentor saya tersebut sering mengingatkan kepada saya untuk selalu menemukan panggung saya sendiri. Bisa dibayangkan tentu hasilnya akan lebih memuaskan ketika kita menemukan panggung sendiri, ketimbang kita menumpang menjadi bayangan pemeran utama di panggung orang lain apalagi merebut panggung orang lain.

Lalu bagaimana caranya untuk bisa menemukan panggung kita sendiri, agar tidak menjadi orang kedua?
Beberapa diantaranya adalah :
  • Lebih fokus mensyukuri atas apa yang sudah kita miliki, ketimbang ruwet meratapi kekurangan kita karena iri dengan kelebihan orang lain. Seperti kata pepatah, rumput tetangga lebih hijau dari rumput kita, tetapi kita tidak pernah tahu kan apa saja yang sudah mereka lakukan untuk bisa menghijaukan rumput mereka.
  • Menemukan potensi positif diri sendiri sehingga kita bisa mendapat jawaban atas apa tujuan kita terlahir kedunia ini.
  • Berusaha selalu menebarkan hal positif, karena ketika kita menebarkan aura positif maka kita akan bisa menarik hal positif dari luar kedalam diri kita.
  • Tak perlu terlalu obsesi dengan tampilan orang lain. Jadilah diri sendiri, karena bisa jadi baju/atau sepatu orang lain tak cocok untuk kita. Begitu juga sebaliknya.
  • Menyadari kemampuan diri sendiri, sehingga bisa mengasah dan mengisi hal-hal yang masih perlu kita perbaiki dari diri kita sesuai kemampuan kita.
 
Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam #30DWC jilid6 #day4


No comments:

Post a Comment