Wednesday, May 24, 2017

Masih Tentang Innerchild

Entahlah sudah berapa kali saya dan ibu berdebat, hanya karena hal-hal sepele yang berakhir menjadi besar. Saking seringnya saya selalu berusaha untuk tidak memberikan pembelaan walaupun saya merasa benar. Namun adakalanya saya benar-benar ingin dipahami oleh ibu saya, layaknya ibu lain yang bisa memahami perasaan anak-anaknya.


Namun sayangnya hal tersebut selalu  menjadi boomerang untuk saya. Seperti halnya hari ini, hanya karena akan mengajak si adik ke dokter, dimana si adik sudah saya pakaikan baju yang layak untuk keluar dan saya melarangnya untuk ikut makan es krim bersama kakaknya, oleh ibu adik malah diberi sendok. Sehingga cemong semualah baju adik. Yah, mungkin saya sudah terlalu lelah, bahkan saat saya memprotes ibu, ibu saya malah nyeletuk kalo saya lebay dan sebagainya. Saya benar-benar lelah hingga menyentil telinga si adik berulang kali dan membuatnya menangis. Iya saya sadar disini saya salah, karena melampiaskan kekesalan saya terhadap ibu kepada anak saya yang sebenarnya tak tau apa-apa. Maafkan mamammu ini ya dik...ibumu ini sedang benar-benar berjuang melawan kelelahan hati.

Ibu saya pun semakin marah kepada saya, menurutnya beliau tidak pernah mengajari saya untuk melakukan hal itu saat saya kecil. Entahlah mungkin ibu saya benar, namun ada banyak peristiwa saat saya kecil yang tiba-tiba berkecamuk dikepala saya.

Sempat saya sedikit membela diri namun justru membuat ibu saya semakin berang, sehingga daripada semakin panjang saya segera menyampaikan permintaan maaf saya kepada ibu. Sayangnya ibu saya sudah keburu ngambeg. Bahkan ibu saya sempat marah kepada saya karena merasa beberapa waktu lalu saya sudah dianggap kurang ajar kepada beliau mengatakan beliau "lanangan". Entahlah saya bahkan tidak pernah merasa melontarkan kalimat tersebut, hanya saja saya memang merasa mengatakan bahwa saya tidak suka dengan ibu saya yang lebih mementingkan laki-lakinya daripada kami anak-anaknya.

Jujur berkali-kali saya merasa di posisi dikecewakan oleh ibu saya karena laki-laki pujaan hatinya yang usianya bahkan hanya terpaut 10 tahun dari saya.

Pernah sekali saat itu ibu saya mengadakan arisan keluarga, sebenarnya sejak awal saya sudah mendengar dari nenek saya kalo laki-laki itu akan datang kerumah. Seperti biasa ibu saya tidak pernah menyampaikan di awal. Ada ibu mertua saya juga disana. Saat semua tamu meminta ijin akan pulang, ibu saya melarangnya. Ternyata benar saja tak lama setelah itu si lelaki datang begitu saja ke rumah kami. Saya pun marah dan meninggalkan rumah tanpa berkata-kata karena saya merasa dibohongi sejak awal.

Hal serupa sebenarnya juga pernah terjadi sebelumnya, dimana saat saya memutuskan akan menginap dirumah ibu, tiba-tiba ibu saya membeli karpet baru. Aneh menurut saya sebenarnya. Lalu benar saja saat tiba didepan rumah saya mendengar ibu saya menelpon laki-lakinya untuk datang dan memperbolehkan menginap dirumah. Hey!!! Saya marah? Tentu saya sangat marah dan kecewa. Saat itu keberadaan saya seperti dimanfaatkan. Sehingga saat itu saya mengatakan jika lelaki itu tetap datang dan memaksa menginap silahkan saya akan pulang saat itu juga. Tidak sepantasnya menurut saya ibu mengijinkan seorang lelaki yang bukan muhrimnya menginap dirumahnya. Ibu saya saat itu berdalih saya yang terlalu kekanak-kanakan. Entahlah mungkin saya yang terlalu kekanak-kanakan hingga tidak bisa mengikuti trend jaman sekarang. Yang pasti saya tidak mau dijadikan alasan atau tameng jika terjadi sesuatu saat itu.

Beberapa teman yang mengetahui cerita saya, selalu bertanya kenapa sih kamu kok nggak ngebiarin ibumu menikah saja sama laki-lakinya? Yah setiap orang pasti akan bertanya hal itu, dan saya sudah lelah menjawabnya apalagi harus menjelaskan terperinci.

Yang jelas jauh sebelum hal itu terjadi, sebelum mengetahui latar belakangnya saya sempat setuju. Namun lagi-lagi saya dikecewakan dengan satu hal yang ternyata ditutup-tutupi oleh ibu saya sejak awal dengan alasan kalo ibu saya mengatakannya pasti saya akan menolak dan tidak setuju!!! Nyatanya pada akhirnya saya tau dari orang-orang sekitar dan justru semakin membuat saya semakin kecewa. Apa itu? Ibu saya tau pasti jawabannya, dan lagi-lagi saya dikatakan terlalu kekanak-kanakan.

Yah saya memang terlalu kekanak-kanakan hingga terlalu terlalu dalam rasa sakit yang saya terima karena seringnya kepercayaan saya kepadanya dikecewakan. Maafkan anakmu ini bu, mungkin sudah terlalu lelah kau bohongi.

Tak sampai disitu ada sebuah kejadian yang juga cukup membuat saya kecewa. Ibu saya sendiri yang sejak awal  berkata tidak mungkin menjalin hubungan dengan laki-laki yang hanya terpaut 8 tahun usianya dengan suami saya. Namun suatu ketika tiba-tiba saat lelaki itu menelpon ibu saya mengaku sedang berada di tempat kyainya, dan meminta nama lengkap ibu saya beserta nama lengkap kakek saya, ibu saya memberinya. Sejak kejadian itu yang awalnya ibu saya selalu tegas mengatakan tidak mungkin akan menjalin hubungan dengan lelaki itu tiba-tiba berubah menjadi tergila-gila kepadanya. Entahlah saya tidak mau suudzon.

Sepanjang perjalanan saya menuju rumah sakit tempat dokter spesialis anak langganan kami praktek saya menangis. Menangis karena sudah terlalu lelah menahan perasaan hati ini. Entahlah terutama tentang ibu saya yang tidak pernah mengajarkan kekerasan kepada saya, saya sedang berusaha mengingat-ngingat semuanya. Hal itu justru membuat air mata saya semakin mengalir deras.

Yang teringat dibenak saya justru hal-hal yang tidak ingin saya ingat,
Saat SD saya pernah diusir dari rumah dan hanya diberi bekal uang Rp. 10.000,- untuk minggat hanya karena katanya saya tidak mau tidur siang. Samar-samar saya hanya ingat tiba-tiba pintu rumah dikunci dari dalam dan ibu saya memberi perintah kepada si mbak untuk tidak membukakan pintu. Saya yang tidak tahu apa-apa saat itu berusaha menjebol pintu garasi rumah saya dan berhasil. Sehingga saya berhasil masuk ke rumah.

Entah memori apalagi yang terlintas, samar-samar saya ingat pernah menangis mencari ayah saya ketika ayah kerja. Namun saat itu ibu saya justru menghardik saya sembari mengatakan "Nangis saja yang kencengggggg cari ayahmuuuu, ayahmu nggak bakal dengar!!!". Pun ketika ayah saya pulang, saya juga sudah tidak ingin bercerita, karena pikir saya paling-paling ayah saya akan lebih membela ibu saya.

Adalagi memori tentang saat ibu saya tiba-tiba terjatuh setelah mandi dan tidak bisa berjalan. Disitu entah saya hanya berhalusinasi saya ingat benar bahwa ibu saya sempat mengatakan kepada beberapa orang bahwa beliau terjatuh karena ulah saya membuat kotor meja belajar, sehingga ibu saya berinisiatif untuk membersihkan meja belajar saya, sayangnya belum sampai ditempat meja belajar beliau terpeleset.

Belum lagi saat beliau mengalami keguguran. Saat itu mungkin saya masih kelas 1 atau kelas 2 SD. Tiba-tiba tangan saya terkena paku dan berdarah sehingga saya takut dan berteriak histeris sekaligus menangis. Menurut yang saya ingat ibu saya bercerita kepada ayah, beliau kaget gara-gara saya sehingga beliau keguguran saat buang air besar di kamar mandi.

Lalu saya menangis mengingat saat ibu saya tiba-tiba memukul saya dengan egrang (tongkat penopang jalannya yang terbuat dari besi) hanya karena saya berebut jepit rambut adik sepupu saya. Disini ibu saya pernah mengakui saat itu sengaja memukul saya karena sakit hati dengan nenek saya yang justru malah membela adik sepupu saya. Yang saya ingat saat itu awalnya adik sepupu saya menyuruh saya memilih jepit rambut, satu berwarna merah satu berwarna hijau. Sayapun memilih satu warna kesukaan saya, sayangnya pilihan saya diminta kembali oleh adik sepupu saya. Sehingga terjadilah perebutan anak kecil yang berakhir saya dipukul egrang besi.

Tak sampai disitu saya juga ingat saat saya duduk dibangku SMA, tiba-tiba salah seorang teman SD yang pernah memfitnah saya datang ke rumah untuk berhutang kepada ibu saya. Merasa saya masih sakit hati dengannya saya pun tidak ikut menemuinya. Hal ini sepertinya cukup membuat ibu saya malu, sehingga sepulangnya teman saya tersebut, ibu saya langsung memukuli saya menggunakan penebah (sapu lidi) sembari berkata ibu tidak pernah mengajarkan saya untuk menjadi pribadi sombong. Bahkan saat itu ibu saya belum menanyakan alasan saya terlebih dahulu sebelum akhirnya memukuli saya sampai puas. Saya pun hanya menangis menahan rasa sakit sabetan penebah tersebut, saya biarkan ibu saya puas memukuli saya. Setelah puas, baru saya sampaikan kepada beliau kenapa ibu tidak menanyakan alasan saya terlebih dahulu? Saya pun menceritakan alasan saya sembari menangis, saya  tidak mau menemui dia karena dia sudah memfitnah saya dan dia itu dulu terkenal pembohong. Ibu saya pun hanya diam mendengar penjelasan saya. Tidak ada pelukan untuk saya.

Saya lupa berapa sering dan karena alasan apa ibu saya sering memukul saya menggunakan penebah. Mungkin itu hanya ada dalam halusinasi saya, karena pernah sekali saat saya menyampaikan kepada ibu, beliau mengatakan tidak pernah sekalipun memukul saya. Mungkin hanya ada dalam bayangan saja saat saya akhirnya ingin ikut kelas beladiri demi bisa menahan rasa sakit akibat pukulan sapu penebah oleh ibu saya, atau bahkan saat ibu saya mengatakan lebih baik beliau memukul daripada mengucapkan sebuah kalimat yang akan berakhir menjadi doa tidak baik bagi saya.

Entahlah mungkin saya seorang anak yang terlalu menuntut banyak kepada ibu saya. Bahkan untuk sekedar ingin mengatakan kepada ibu agar beliau bisa memahami kondisi saya sebagai anaknya pun tak bisa. Saya takut ucapan yang saya sampaikan justru menjadi boomerang dan memicu peperangan lagi antara kami.

Saya sering iri dengan teman-teman yang ditemani oleh ibunya saat melahirkan anak pertamanya. Saat saya utarakan hal tersebut lagi-lagi beliau mengatakan toh beliau juga tidak pernah diajarkan oleh nenek saya cara menghandel anak-anaknya. Yah mungkin karena beliau tidak pernah didampingi oleh nenek saya, maka saya pun harus bisa mandiri menghandel dua buah hati saya bersama suami meskipun tanpa arahan dari beliau.

Hal yang paling membuat kecewa saya saat ini adalah, dulu beliau boleh menentukan calon jodoh untuk saya, namun sebaliknya saya tidak berhak memilih calon lelaki yang bakal menjadi ayah kami. ***

Sekilas membaca tulisan diatas jelas sekali tersirat semua rasa kecewa seorang anak kepada ibunya. Sebagian mungkin akan berpendapat tulisan tersebut ditulis oleh seorang anak yang kurang ajar kepada ibunya. Tetapi sebagian lain mungkin akan memiliki pendapat yang berbeda. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat kejadian tersebut.

Innerchild itulah istilah yang saya kenal baru-baru ini.

Setelah mengikuti sebuah healing workshop innerchild yang diadakan oleh Pak Asep, sebagai orang awam saya menangkap Innerchild adalah sebuah perasaan anak-anak yang terkurung dalam tubuh orang dewasa. Ada banyak hal yang menyebabkan Innerchild tersebut ada, beberapa diantaranya adalah luka masa anak-anak yang belum terserlesaikan dan terbawa hingga dewasa.

Hal yang paling mengerikan adalah innerchild ini juga memberikan skema (contoh gambaran) yang kurang baik pada anak-anak, ketika saat menjadi orang tua mereka tidak memiliki skema baik bagaimana harus bersikap kepada anak-anak mereka ketika dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan.

Seharusnya innerchild ini terselesaikan sebelum kita memutuskan menikah dengan pasangan kita. Sehingga kita bisa memaafkan semua masa lalu dan kita bisa melangkah menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita.

Adapun workshop healing innerchild sendiri bertujuan untuk menyelaraskan Innerchild yang terkurung dalam tubuh dewasa kita.

Lalu bagaimana cara untuk menghealing innerchild tersebut?
Salah satunya dengan menyadari bahwa apa yang terjadi itu lumrah. Anggaplah ketika kita marah besar dengan anak, kita akan merasa bahwa kita sedang gila. Faktanya kita tidak sedang gila sendirian. Di luar sana mungkin tak sedikit ibu yang juga memiliki masalah yang sama. Bersyukurlah bagi kita yang tidak mengalaminya.

Meski bisa dibilang lumrah, tetapi sebagai orang waras seharusnya kita mau belajar untuk berubah menjadi lebih baik bukan?

Lalu bagaimana caranya? Salah satunya dengan memaafkan masa lalu. Bagaimana cara memaafkan masa lalu? Salah satunya bisa dengan meluapkan apa yang mungkin menjadi ganjalan kita selama ini. Salah seorang sahabat pernah melakukan dengan meluapkan semua emosi dan keluh kesahnya disebuah ruang kosong hingga terasa lega. Cara lainnya mungkin bisa dengan meluapkan melalui gambar atau tulisan. Setelah puas melepaskan semua ganjalan, maka maafkanlah semuanya.

Apakah semudah itu memaafkan? Bagaimana jika ternyata ada episode menyakitkan berulang yang kita terima?
Suami saya memberi saran beberapa diantaranya dengan :
  • Berusaha menerima rasa sakit tersebut, lalu maafkanlah. Tarik nafas, keluarkan perlahan.
  • Sebisa mungkin untuk menahan diri tidak menimpali saat kita sedang merasa sakit hati, karena biasanya hal tersebut justru bisa memperunyam keadaan.
  • Berusaha untuk tidak menuntut orang tua kita menjadi seperti yang kita inginkan. Sebaliknya jadikanlah hal tersebut sebagai koreksi diri kita agar bisa menjadi orang tua yang lebih baik bagi anak-anak kita. Seperti halnya saat kita menjadi orang tua maka kita juga sedang belajar menjadi orang tua baik untuk anak-anak kita, maka percayalah orang tua kita juga selalu berusaha menjadi orang tua yang baik untuk kita.
  • Seperti halnya suami kita adalah pasangan yang tepat untuk kita, maka begitu juga orang tua kita adalah orang tua yang tepat untuk kita, dan kita adalah anak yang tepat untuk mereka. Pernah melihat Film Doraemon, dimana dalam episode tersebut Nobita bertukar orang tua dengan teman-temannya? Apa yang terjadi? Bayangan mendapat orang tua yang sempurna ternyata malah pupus sudah, karena bahkan saat itu Nobita tidak nyaman dengan orang tua barunya yang tak lain tak bukan adalah orang tua dari Shizuka.
  • Bersabar, dan terus belajar memahami.
  • Mendoakan hal baik untuk orang tua kita.


Ya Allah, Ya Rabbi, Ampunilah semua dosa kami yang mungkin sering keterlaluan kepada orang tua kami. Kami hanya manusia biasa, hanya seorang anak yang terkadang hanya ingin dimengerti oleh orang tua kami.
Barakahilah kami agar kami bisa menjadi seorang anak yang membanggakan dan tidak mengecewakan bagi orang tua kami.
Limpahkanlah Rahmat dan Barakah kepada orang tua kami.
Berilah orang  tua kami kebaikan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.
Amin Amin Ya Rabbal Alamin.

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam #30DWC #day8

No comments:

Post a Comment