Friday, May 19, 2017

Memaafkan Masa Lalu Untuk Menjadi Ibu Hebat

Mungkin dulu sempat kita berjanji kepada diri sendiri, bahwa kelak kita akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita. Tak dipungkiri, meski tak semua tapi bisa jadi beberapa diantara kita masih teringat memori masa kecil kita, baik yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan. Sayangnya, apapun alasan orang tua meski demi kebaikan untuk anak, bisa jadi itu justru meninggalkan kenangan yang kurang menyenangkan. Hal inilah yang terkadang membuat luka masa (lalu) anak-anak bisa mempengaruhi pola asuhnya kelak saat tumbuh menjadi dewasa.


Tak dipungkiri, seperti contohnya saya. Saya ingat ada sebuah kenangan dimasa kanak-kanak. Saat itu yang terlintas dalam memori saya adalah ibu memarahi dan meminta saya minggat di suatu siang. Padahal bahkan dalam memori saya saat itu awalnya saya yang masih duduk di usia kelas 2 SD tidak tahu alasan ibu marah kepada saya.

Ibu saya saat itu menyelipkan uang sebanyak sepuluh ribu di angin-angin jendela rumah, dan sempat berkata, "Tuh duit sana kalau mau minggat."

Saat saya mendapati uang sepuluh ribu terselip muncul dari lubang angin-angin jendela, yang terbersit di pikiran saya saat itu adalah, kira-kira dengan uang sepuluh ribu tersebut saya bisa minggat kemana?

Saya sempat berpikir sejenak apa saya harus ke rumah nenek yang ada di gresik, tapi apa iya uang sepuluh ribu akan cukup untuk karcis bus perjalanan Situbondo - Gresik saat itu. Lalu saya sempat berpikir, nanti kalau saya tiba-tiba tersesat dijalan apa yang harus saya lakukan. Uang sepuluh ribu itu akan cukup untuk biaya hidup saya berapa hari kedepan?

Tidak yakin uang tersebut akan cukup hingga sebulan kedepan, maka saya membatalkan niat saya minggat ke rumah nenek.

Sempat terbersit, "Ah apa minggat saja ke kantor Ayah?"

Lagi-lagi saya batalkan niatan tersebut, karena saya pun tidak yakin apa ayah saya saat itu ada di kantor. Bagaimana kalau ayah ternyata sedang ada pekerjaan diluar kantor dan tidak akan kembali kekantor.

Hingga akhinya saya mencoba memaksa masuk kerumah melalui pintu garasi, dengan cara mendobrak-dobrak pintu garasi rumah.

Entah bagaimana ceritanya, pintu garasi rumah yang seingat saya saat itu terbuat dari triplek, tiba-tiba berlubang sangat lebar. Sehingga saya bisa masuk melalui lubang tersebut.

Saya pun masuk ke garasi menuju dapur dan mendapati asisten ibu saya yang terkejut melihat saya. Meski demikian belum sempat si mbak berkata, dari belakang saya sudah mendengar suara ibu yang menggelagar marah kurang lebihnya seperti ini, "Ngapain kamu bukain Vety pintu!!! Biarin saja dia diluar wong dari tadi nggak mau tidur siang!!!"

Mendengar suara ibu yang menggelegar bak suara petir, saat itu saya benar-benar merasa ketakutan. Tapi saya abaikan perasaan takut tersebut dengan mengalihkan perhatian membuka pintu dapur demi bisa memasukkan sepada kedalam rumah dibantu oleh beberapa teman yang sudah menunggu didepan pintu.

Disitu saya pun baru tahu, ternyata sebenarnya ibu saya marah kepada saya karena saya tidak mau tidur siang.

Kejadian itu lama berselang, hingga suatu ketika saya memiliki adik laki-laki. Berbeda dengan saya yang ketika masa kecil sering dipaksa tidur siang, ternyata ibu justru membiarkan adik meski tak tidur siang.

Sempat saya mengajukan protes kepada ibu, "Kok adik nggak dipaksa tidur siang sih kalau nggak mau tidur?"
Ternyata ibu menjawab, "Ya udah biarin adik nggak mau tidur, soalnya jaman kamu sama adikmu itu sudah beda."

Dari situ saya merasa ibu tidak adil memperlakukan saya dengan adik. Saya bahkan tidak tahu apa bedanya? Bukankah jika dipikir-pikir saat itu usia adik sama dengan usia saya saat ibu dulu sering memaksa saya tidur siang meski saya tidak mau tidur. Bukankah ibu dulu bilang ibu menyuruh saya tidur siang untuk kebaikan saya juga, lalu kenapa adik tidak dipaksa tidur?

Haruskah Anak Dipaksa Tidur Siang?

Disini secara tidak langsung muncullah perasaan, sepertinya ibu lebih meng-anak emas-kan adik.

Tak hanya kejadian itu saja masih banyak kejadian-kejadian lainnya di masa kecil yang berbekas tidak menyenangkan di hati saya. Disitu ternyata tanpa sadar membuat pola tersebut terduplikasi secara tanpa sadar di diri saya.

Sayangnya seringkali ibu tidak merasa mengajarkan hal tersebut kepada saya.
Disitu tentu membuat saya semakin terluka.
Ada semacam perasaan yang ingin mengatakan, "Sudah bu akuilah ini adalah pola yang telah engkau tanamkan kepada ku. Toh setelah ibu mengakui, aku bisa legawa menerimanya."

Ternyata tanpa disadari rasa luka tersebutlah yang justru bisa memicu munculnya pola-pola kurang menyenangkan saat mengasuh anak. Sempat merasa hampir gila, dan kehilangan arah bagaimana harus mengasuh anak-anak dengan baik dan benar agar semua pola tidak menyenangkan itu tidak muncul.

Saya pun mulai mencoba mengikuti beberapa komunitas parenting yang memiliki muatan nilai-nilai posititif serta mengikuti workshop, maupun sharing/seminar yang diadakan oleh beberapa narasumber berbeda.

Disitu saya berusaha mempelajari dan mencari jawabannya. Hingga saya menemukan suatu kesimpulan. Bahwa saat kita merasa terluka dengan masa lalu (masa kecil) kita semua bayangan tersebut akan selalu ada dalam diri kita, sehingga secara tidak langsung hal tersebut menjadi terpatri dalam memori kita dan bisa menjadi skema bayangan yang akan selalu kita tiru, karena kita susah move on.

Tanpa kita sadari sebagian diri kita tentu akan menuntut kepada orang tua kita agar bisa memberikan contoh yang baik kepada kita, tapi hasilnya nihil. Lagi-lagi saya mendapat jawaban kenapa bisa nihil? Karena bisa jadi bahkan orang tua kita dulunya juga mendapat skema kurang menyenangkan dimasa kecilnya.

Dan tugas kitalah yang harus bisa memutus siklus tersebut agar tidak terus berlanjut kepada anak-anak kita kepada anak-anak mereka kelak, karena jika hal tersebut terus berlangsung dikuatirkan akan terjadi kerenggangan hubungan kita kepada anak-anak kita, dan ini tentu bisa membuat kurang kuatnya pondasi visi misi yang sudah kita tentukan sejak awal dalam keluarga kita.

Lalu bagaimana agar siklus tersebut tidak berulang? Salah satunya bisa dengan kita mencari skema atau contoh perilaku orang tua baik yang bisa kita "lihat" dan "tiru", bukan hanya sekedar teori, karna terkadang teori tidak seindah prakteknya.

Hal lainnya yang bisa kita lakukan adalah, memaafkan masa lalu. Setidaknya kita belajar memahami bahwa menyadari bahwa orang tua kita dulunya juga belajar sama dengan hal-nya kita yang terus dan terus belajar berusaha memperbaiki diri agar bisa menjadi ibu idaman anak-anak juga istri kebanggan suami.

Dengan kita memaafkan orang tua, setidaknya hati kita menjadi legawa plong, tidak ada aura negatif lagi dalam diri kita. Meski demikian tak menutup kemungkinan, orang tua kita akan terus melukai hati kita dengan hal-hal yang tidak kita sukai. Untuk hal seperti ini saya sendiri berusaha untuk mengabaikan hal-hal yang melukai tersebut. Saya pernah membaca sebuah hadits kurang lebihnya, kita tetap harus berbuat baik kepada orang tua kita, sekalipun orang tua melakukan hal yang tidak menyenangkan.

Terkesan tidak adil memang, tetapi ketika kita berusaha untuk menyadari, memahami, dan memaafkannya maka semua akan terasa lebih ringan. Secara tidak langsung hal ini tentunya menjadi sebuah perjuangan untuk bisa mengalahkan diri kita sendiri agar bisa mengendalikan hati dan perasaan kita yang kurang nyaman tadi.

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam #30DWC jilid 6 #day3


No comments:

Post a Comment