Monday, May 29, 2017

Strong Saat Anak Sakit

Setelah beberapa hari disibukkan dengan banyak kegatan yang super padat, hingga beberapa kali baik si kakak maupun adik sering protes, akhirnya saya bisa sedikit selonjoran. Begitu juga dengan anak-anak yang selama ini mau tak mau harus mengikuti kehebohan saya, akhirnya juga bisa ikut selonjoran. Seperti biasa, si kakak pun menagih jalan-jalan kepada kami di akhir pekan kami. Bermain air di taman kota, itu pilihan mereka saat itu.


Sebahagia  mereka bermain air, suami dan saya pun ikut antusias membersamai mereka bermain air. Tak seperti biasa, kali itu kami membiarkan mereka bermain sedikit agak lama. Sehingga mereka sedikit kedinginan setelah selesai bermain air.

Sepulang dari bermain air, si kakak pun antusias bercerita betapa bahagianya dia diperbolehkan main air.

Tak ada yang aneh keesokan harinya, baik kakak maupun adik pagi hari masih tetap ceria. Hingga malam hari ketika suami pulang kerja, terlihat si kakak yang tidak antusia menyambutnya dengan alasan pusing.

Setelah saya pegang dahinya, benar saja badannya hangat. Saya segera mengambil termometer untuk mengukur suhunya. Ternyata panasnya sudah di angka 39,2°C

Berusaha tidak panik, seperti biasa kami mengambil langkah pertama ketika panas anak-anak tinggi dengan memberinya obat penurun panas. Sayangnya saat itu ternyata saya lupa tidak menyediakan obat penurun panas anak di kotak penyimpanan obat kami. Sehingga suami segera memutuskan menuju apotek terdekat.

Saat itu si adik memaksa untuk minta ikut. Meski awalnya tidak setuju, tapi pada akhirnya suami setuju si adik ikut membeli obat penurun panas untuk si kakak malam itu. Tak lama kemudian suami pun berangkat membeli obat, sekembalinya dari membeli obat kami segera meminumkan obat penurun panas untuk si kakak.

Setelah meminum obat si kakak tertidur, begitu juga si adik juga ikut tidur. Malamnya setelah saya selesai menulis, dan bersiap-siap akan tidur ternyata badan si adik panas juga.

So Wow rasanya...

Malam itu juga akhirnya si adik saya beri obat penurun panas.

Hingga akhirnya pagi menjelang, mungkin karena badannya yang terasa tidak nyaman, maka baik adik maupun kakak semalaman rewel bergantian.

Berusaha tetap tenang dan  tidak panik, pagi itu saya masih memutuskan tidak  membawa mereka ke dokter. Alasannya sepele, karena dokter spesialis anak langganan kami pernah bilang, selama panas masih baru hari pertama sampai ke tiga biasanya tindakan medis pun hanya sebatas memberi obat penurun panas, dan obat penunjang lainnya jika memang terlihat dibutuhkan. Untuk tes lab biasanya baru bisa dilakukan di hari ke-3 atau ke-4, karena jika dilakukan di hari pertama dan ke-2 biasanya memang masih belum nampak hasilnya secara signifikan.

Baiklah, jadi asumsi saya untuk kakak adik yang hanya panas saja kalau saya bawa ke dokter pun seperti biasa paling sebatas diberi obat penurun panas.

Keesokan harinya di hari ke-2 ternyata baik kakak maupun adik badannya masih panas. Obat panas pun masih tetap saya berikan sehari tiga kali. Begitu juga dengan hari ke-3 lagi-lagi panas kakak maupun adik belum kunjung turun secara signifikan. Sehingga saya memutuskan mengajak mereka ke dokter.
di Nebul Untuk Meredakan Batuk
dan Melegakan Pernafasan

Sampai disini saya masih berusaha tenang dan tidak panik menghadapi kondisi anak-anak yang sedang sakit panas berjamaah dan rewel estafet. Alasannya sederhana, karena menurut saya semakin saya panik, justru membuat pikiran menjadi tidak tenang dan tidak nyaman. Padahal saat itu baik kakak maupun adik sudah dalam keadaan rewel, jika saya ikut panik, bisa-bisa nanti saya ikut tantrum rewel juga. Hehe...

Selain itu, jika pikiran tidak tenang dan tidak nyaman tentu membuat kita semakin susah fokus untuk menemukan solusi. Sebenarnya alasan ini juga yang membuat akhir-akhir ini "saya malas mengeluh" baik ke medsos maupun ke orang-orang terdekat saat anak-anak sakit. Sebab jawabannya nanti kalau nggak saya disalahin karena dianggap sebagai ibu yang nggak becus, ya nggak jauh-jauh akan ada banyak saran yang membuat saya semakin gagal fokus.

Itulah mengapa, mungkin beberapa teman mengatakan saya terlihat strong dan cenderung "cengengesan" meski anak sedang sakit. Bukan cengengesan sih ya kalau saya, tapi tepatnya sedang menghibur diri untuk mendatangkan aura positif, agar pikiran bisa tetap fokus.

Jadi apa rahasia saya terlihat "strong" saat anak-anak sakit?
  • Berusaha tenang.
  • Berusaha santai.
  • Berusaha memahami hikmah, dengan melihat dari segala macam sudut pandang.
  • Tidak perlu mengeluh di medsos, karena tidak semua bisa memahami hati kita.
  • Berusaha fokus.

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam #30DWC jilid 6 #day13

No comments:

Post a Comment