Saturday, May 27, 2017

Tentang Sebuah Kejujuran dan Saling Percaya

Siang itu, tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Terlihat nomer ibu di layar ponsel. "Halo, bu... Iya?" Begitu jawab saya di telepon. "Kamu dimana?" begitu tanya ibu di seberang telpon. Saya langsung buru-buru mengingat apa saya belum bilang ke ibu kalau minggu itu tidak pulang ke rumah. Baru saja saya mengingat, kalau seharusnya saya sudah ijin ibu tidak bisa pulang minggu itu. Tiba-tiba ibu bertanya lagi, "Semalam suamimu kemana?"


"Rapat bu," begitu jawab saya.

"Beneran rapat? Tanya lagi deh ke suami mu" tanya ibu.

"Iya kok kemaren sore bilangnya mau rapat. Kenapa memang?" begitu tanya saya.

"Coba deh kamu tanya suamimu dulu. Nanti coba ceritain ke ibu, kalau misal nggak sesuai nanti ibu kroscekin" jawab ibu.

Wah... feeling nggak enak nih...
Sore sebelumnya, seperti biasa suami mengirim pesan whatsapp kepada saya, "Nanti aku pulang malam ya, soalnya masih ada rapat."

"Oke," begitu balas saya singkat.

Selama ini saya berusaha tidak terlalu memusingkan saat suami mengabarkan harus pulang malam karena pekerjaannya. Saya sudah berusaha membuang jauh kecewa saya, ketika suami masih harus menambah jam kerjanya karena suatu dan banyak hal.

Toh, katanya dibalik suami sukses ada istri hebat. Hebat merelakan waktunya disita oleh pekerjaan suaminya yang sering nampak tak berujung. Hehe... 

Kurang lebih pukul 22.30 terdengar suara pagar terbuka. Saya yang masih terjaga seperti biasa sembari mengerjakan tulisan segera membukakan pintu. Anak-anak sudah tertidur saat itu. Seperti biasa saat suami datang, dia langsung cuci kaki tangan berganti baju, tak lama kemudian tertidur.

Kalau sudah gitu saya aman, bisa melanjutkan hobi menulis saya yang sering membuat saya lupa waktu. Padahal nggak jelas apa juga yang saya tulis. Hehe..

Tak ada yang aneh malam itu dari kebiasaan pulang malam suami, hingga saya mendapat telepon dari ibu. Disitu saya segera menanyakan kepada suami, yang sedang mengemudi di sebelah saya. "Kamu semalam kemana sih?" begitu tanya saya sengit.

Suami menjawab dengan geje, "Nggak kemana-mana kok. Kesitu doang."

"Situ mana?!" Tanya saya galak.

Wah, semalam abis nongkrong nih jangan-jangan sama temen-temennya tapi nggak bilang-bilang. Soalnya dua hari sebelumnya kan dia sempat ngajakin saya main ketemu sama teman-teman kuliahnya, tapi saya nggak mau karena saya capek lagi heboh ngurus event wisuda institut ibu profesional Surabaya yang rencananya ngundang gen Halilintar.

"Cafe nih, pasti nongkrong di cafe," begitu suudzon saya dalam hati.

Ternyata saya salah duga.

Suami pun menjawab, "Oh, itu ke situ... duh mana sih ah..."

Nah, dia mau jawab nggak bisa keluar jawabannya.

"Kemanaaaaaaaaaaaa?!!" Tanya saya galak.

"Itu ke TP," begitu akhirnya jawabnya.

"Heh? Ke TP? Ayo balik pulang aja, kita nggak usah kemana-mana sekarang!" begitu amuk saya.

Gimana nggak kesal hati saya, kemaren bukannya dia pamitnya mau rapat, saya jungkir balik handel dua balita yang rewelnya estafet sampai bikin kepala cenut-cenut, eh dia enak aja main-main ke mall. Nggak ngehargai istri banget sih! Beneran ngajak perang nih kalau gini caranya.

"Gimana sih, bukannya semalam pamitnya rapat? Kenapa bisa nyasar ke mall! Gitu ya sekarang! Asyik banget nge-mall, istrinya di rumah jungkir balik bodoh amat gitu ya!" Ngomel, ngomel dah saya.

"Nggak mammm, nggak gitu juga kali! Iya aku lupa semalam nggak langsung bilang karena buru-buru. Aku ke TP juga niatnya bantuin kamu kali." Begitu bela suami.

"Halah, bantuin apa?" Balas saya.

"Jadi semalam, kamu rapat apa jalan-jalan ke TP nih? Bagus banget sih ih suamiku ini..." Begitu omel saya sambil menahan sakit hati.

"Lo, iya aku kemaren sore memang rapat, jam 9 selesai rapat aku nemuin temen di TP untuk bantuin kamu cari info jadwal narasumbermu yang mau kamu undang itu, dari beberapa temen EO yang aku kenal. Kali ada yang tau." Begitu penjelasan suami.

Saya pun segera memberi tahu ibu hal tersebut melalui pesan whatsapp, sembari masih dongkol tentunya dengan suami.

"Bu, kata mas semalam dia ke TP ketemu orang EO" begitu jawab saya singkat.

"Coba tanyain, ketemu temen cewek apa cowok deh." balas ibu.

Duh, feeling nggak enak lagi nih.

Masak iya sih suami tega sama dua buah hatinya...

Tapi harusnya kalau suami bilang EO, orangnya tuh ya cowok, dan nggak jauh-jauh dari orang itu-itu saja. Kebetulan beberapa kali saya sering ikut suami pas ada event kantor, jadi sedikit banyak tahu "penampakan" orang-orang EO yang dimaksud.

Saya pun mencoba bertanya ke suami dengan nada jutek (Iya lah gengsi dong kalau nanya nya pakai nada manja), "Jadi semalam ke TP ketemunya sama cowok apa cewek sih?"

Dengan santai suami menjawab, "Cowok tapi dia sama ceweknya."

Jrengggggggg... Nah, ini nih kayaknya yang bikin berabe...

***bersambung...

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam #30DWC jilid 6 #day11

No comments:

Post a Comment