Sunday, May 28, 2017

Tentang Sebuah Kejujuran dan Saling Percaya (Part-2)

Jadi, setelah suami cerita kronologis kemana, untuk apa, dan dengan siapa ke TP? Terjawab sudah apa yang menjadi kekhawatiran ibu sampai menghebohkan saya di pagi hari yang cerah itu.





Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya pun mencoba bertanya kepada suami semalam ke TP ketemunya sama cowok apa cewek, dan mendapat jawaban santai dari suami, bahwa dia ke TP menemui teman cowok yang kebetulan bawa cewek, disitu saya mulai menemukan titik terang.

Saya berasumsi bahwa mungkin ibu mendapat informasi dari salah satu temannya yang melihat suami nge-mall sama cewek. Disini mungkin cowoknya yang nggak kelihatan.

Jadi saya tanyakan sekali lagi kepada suami, "Beneran nih kamu jalan sama temen cowok yang nganter cewek? Bukan kebalikannya kan? Jangan-jangan temen cowokmu itu hanya sebagai alibi saja."

"Astaghfirullah, nggak mam... Ngapain juga... Coba deh tanyain ibu, semalam aku ngobrolnya sama siapa? Aku ngapain coba!" Begitu jawab suami.

Saya pun bertanya ke suami, "Emang kamu semalam ngobrolnya ngapain sih?"

Suami pun menjawab, "Ya ngobrol sambil jalan, la wong itu temen nganterin ceweknya belanja. Jadi ya aku buntutin keluar masuk toko gitu."

"Astagaaaaaaaaaaa... Mau-maunya ya kamu ngikutin orang pacaran belanja!" Jawab saya.

"Apa nggak ada kerjaan lain apa, ketimbang jadi obat nyamuknya orang pacaran?" Begitu omel saya.

Suami menjawab, "Lah gimana, kemaren itu niatnya aku mau tanya tentang nara sumber yang kamu undang itu. Jadi pulang rapat, aku telpon dia, eh dia nyuruh aku nyamperin ke TP, ya sudah pikirku aku yang butuh jadi aku yang kesana."

Duh, melas tenan toh mas-mas...

Sebenarnya, mendengar jawaban itu saya sedikit geli karena mentertawakan diri sendiri yang sudah terlalu lebay menghadapi kehebohan dan kecurigaan ibu kepada suami.

Merasa berterimakasih juga karena sudah dibantu mencari info, tapi agak kesel juga ngapain gitu mau-maunya bela-belain jadi obat nyamuk orang pacaran. Mbok ya mending pulang aja nemenin istrinya!

Saya pun segera mengirim sms kepada ibu, tentang kronologis yang diceritakan oleh suami. Lalu saya menyampaikan kepada ibu Insya Allah saya percaya cerita suami, karena selama ini saya tau kesibukan suami, yang bahkan mungkin jadwalnya bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk orang EO yang ditemuin suami, insya Allah saya tahu orangnya.

Setelah saya kirim sms dan whatsapp ke ibu, ibupun segera menjawab, "Oh iya nggak apa-apa hanya konfirmasi saja kok."

Tak lama kemudian ibu menelpon saya, dan menjelaskan bahwa memang benar teman ibu ada yang kebetulan melihat suami saya dari jauh.

Sedikit aneh mungkin bagi teman ibu, melihat suami saya sedang jalan di mall malam hari tanpa kehadiran saya dan anak-anak disana.

Nyatanya setelah dikroscek ulang oleh ibu kepada temannya tersebut, memang benar adanya suami ngobrol dengan cowok waktu itu, dan memang ada ceweknya.

Dari sini sebenarnya saya sedikit bersyukur, karena sejak awal saya sudah pernah mewanti-wanti suami untuk selalu menyampaikan kepada saya, jika harus menuju suatu tempat. Alasannya sederhana karena terkadang hal sesepele itu bisa menjadi fitnah bagi sebagian orang.

Meski demikian tak dipungkiri, seringkali suami skipp mengabari saya saking terlalu sibuknya. Biasanya dia akan cerita ketika benar-benar senggang. Nah, seperti halnya kronologis pergi ke TP tersebut, seperti yang disampaikan oleh suami sebenarnya sudah niat cerita, tapi lupa.

Pelajaran berharga bagi kami, setidaknya suami kedepannya bisa lebih mendengarkan nasehat saya untuk selalu cerita kemana saja dia melangkah. Setidaknya jika ada orang yang usil, saya bisa menjawab dengan santai karena sudah punya gambaran lebih dulu dimana suami saya berada saat itu.

Nah kalau lupa gimana?
Ya udah kalau lupa, ya harus terima nasib kalau tiba-tiba istrinya nyembur-nyembur nanyanya 😂😁

Salah satu tips menjaga rasa saling percaya adalah sebuah kejujuran.

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam #30dwc jilid6 #day12

No comments:

Post a Comment