Tuesday, May 23, 2017

Tetap Semangat Menulis

Menulis adalah salah satu hal yang paling saya sukai, karena dengan menulis saya bisa melepas semua beban yang ada di pikiran. Selain itu dengan menulis saya juga bisa berbagi banyak hal, sehingga tak ada lagi istilah merasa tak berguna. Bisa dibilang menulis bisa membuat hidup menjadi semakin berwarna.



Meski demikian adakalanya saya terkendala banyak hal untuk bisa mulai menulis, salah satunya ketika tiba-tiba saya tidak memiliki ide untuk ditulis karena sedang berada di titik aktivitas harian yang ruwetnya luar biasa.

Seperti saat ini contohnya. Ketika baik kakak maupun adik sedang kurang enak badan, suhu badannya yang panas sejak semalam membuat keduanya rewel estafet bergantian. Jangankan sekedar menulis, untuk memegang hp sebentar saja mereka sudah protes. Bagaimanapun saya tetap berusaha meneruskan kegiatan saya untuk menyetorkan satu tulisan setiap harinya dalam 30DWC (30 Day Writing Challenge).

Sekilas terkesan egois memang ketika anak sakit, saya tetap memaksa menulis. Tapi siapa yang akan tahu jika saat ini saya sedang menulis sembari memangku anak saya yang kecil tiduran ditangan saya, dan dengan usilnya jari-jarinya memenet hidung saya. Tak puas mengusili hidung, si adik sesekali mengangkat-angkat kakinya menyentuh layar laptop dengan senyum usilnya. Lalu kakinya menyenggol-nyenggol kabel charger yang menjulur dari atas meja, hingga terjatuh.

Sesekali saat saya merasa gemas saya menggodanya dengan kalimat, "Tak gigit lo ya hidungmu."
Disitu si adik lagi-lagi hanya tertawa kegelian.

Tak sampai disitu. Saya juga meminta izin kepada si sulung untuk boleh mengetik tulisan selama 30 menit. Seperti biasa si sulung mengizinkan. Tetapi belum juga 30 menit, si kakak sudah merapatkan barisan ke pantat saya, kebetulan saya memang sedang mengetik sembari duduk diatas kasur. Lalu si kakak pun bertanya, "Mamam kok lama sih ngetiknya?"

Saya pun hanya bisa menjawab, "Lo kan baru 15 menit."

Sepele tak sepele sebenarnya. Bagaimanapun pikiran saya mau tak mau jadi terpecah menjadi dua. Disatu sisi saya sedang mengkhawatirkan kedua buah hati saya yang sedang sakit, tetapi disatu sisi saya memiliki tanggungan menulis. Seperti yang selalu dinasehatkan oleh suami kepada saya, saya harus berkomitmen dengan apa yang sudah saya pilih. Begitu juga dengan aktivitas 30 DWC ini, karena itu pilihan saya, maka saya harus bisa berkomitmen melaksanakannya selama 30 hari berturut-turut menulis.

Jika mengingat tugas seorang ibu, maka hati saya akan berkata, "Bagaimanapun anak itu nomer satu. Untuk apa sih kamu maksain nulis. Perhatiin dulu tuh anakmu yang lagi sakit."

Tetapi mengingat proses sebagai seorang ibu yang profesional, maka hati saya akan mensupport diri saya, bagaimana caranya agar saya tetap bisa memperhatikan kedua anak saya yang sedang sakit, tetapi tetap bisa menjalankan komitmen menulis saya dalam 30 DWC ini.

Adapun beberapa tips agar tetap semangat menulis diantaranya adalah,
  • Mencari ide tulisan yang sederhana, remeh tetapi tetap bermakna. Seperti saat ini dengan menulis sembari memangku begini setidaknya saya belajar mengasah diri saya untuk bisa multitalenta.
  • Tetap tenang saat menulis.
  • Tidak usah panik, ketika anak-anak mulai protes. Saat anak-anak mulai protes kita bisa mengakhiri sesaat aktivitas menulis kita dan melanjutkan lagi nanti malam saat anak-anak sudah terlelap. Setidaknya saat ini saya sudah memiliki draft, sehingga nanti malam saya tinggal finishing saja.
  • Menyicil tulisan lebih awal, dengan ide yang terbersit di pikiran.
  • Mengingat-ingat niat menulis di awal.
Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam #30DWC Jilid 6 #Day7

No comments:

Post a Comment