Sunday, May 21, 2017

Ya Allah, Izinkan Aku Menulis

Seringkali saat akan menulis, saya terpaku lama didepan layar memikirkan apa yang harus saya tuliskan. Berulang kali ketika sudah menuliskan beberapa kata menjadi kalimat, saya bur-buru menghapusnya, karena merasa tidak sreg dengan apa yang akan saya tulisan. Lalu saya mbatin, sebenarnya saya mau nulis apa sih. Hingga akhirnya ketika saya buntu ide, tidak tahu harus menulis apa, muncullah ide hastags #YaAllahIzinkanAkuMenulis. Sepele tapi bermakna buat saya.


Saya mulai merenungi, bagaimana awal mulanya hingga akhirnya saya mulai suka menulis. Lalu saya pun mengingat dulu saat saya masih kecil (entah lupa usia berapa), saya tertarik penasaran melihat buku komik doraemon milik sepupu saya yang pernah tinggal di Jepang dan baru datang ke Indonesia. Saat itu ayah sempat bertanya kepada saya, "Apa kamu juga ingin punya buku seperti itu?"
Saya pun hanya menjawab "mau", meski sebenarnya saya sendiri tak yakin apakah ayah bisa membelikan buku itu untuk saya, karena saya kira buku itu hanya di jual di Jepang.

Entah bagaimana lupa persisnya, seiring dengan waktu koleksi komik doraemon saya sedikit demi sedikit bertambah. Yah, komik doraemon adalah buku koleksi pertama yang saya miliki, dan bisa jadi mungkin buku pertama yang membuat saya pada akhirnya membuat saya memiliki hobi membaca komik.

Sejak saya memiliki hobi membaca, saya jadi mencintai aktivitas pergi ke toko buku bersama keluarga. Ayah memiliki waktu khusus di akhir pekan untuk mengajak kami berburu buku di toko buku. Satu hal yang saya ingat dari ayah, beliau tidak akan perhitungan dengan uang yang digunakan untuk membeli buku. Bahkan mungkin ketika ibu saya komplain dengan harga buku yang dianggap mahal, ayah akan mendukung saya untuk berusaha menabung demi mendapatkan buku tersebut.

Saya pun sebenarnya tidak pernah menyadari ternyata aktivitas membaca erat hubungannya dengan menulis. Konon katanya semakin banyak kita membaca maka akan semakin banyak ide yang bisa kita tuangkan dalam sebuah tulisan.

Lalu saya mengingat-ingat mulai kapan tepatnya saya mulai mengenal dunia menulis. Saya pun teringat saat itu ketika saya kelas 3 SD, saya harus berpindah sekolah mengikuti orang tua saya. Sedih rasanya ketika harus berpisah dengan banyak teman dan guru saat itu. Bahkan saking merindukannya beberapa kali saya sering bermimpi bertemu dengan sahabat SD dan guru SD saya. Meski demikian saya tidak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya ibu menawarkan saya untuk menulis surat kepada salah satu sahabat saya.

Seperti yang ditanyakan oleh ibu saat itu, "Kamu mau nggak nulis surat untuk sahabat mu?"

Saya yang saat itu langsung setuju, tapi saya tidak tahu harus menulis apa, dan siapa yang harus saya kirimi surat.

Ibu pun mulai bertanya, siapa kira-kira satu teman yang saya anggap akrab di sekolah. Tiba-tiba saya teringat salah satu teman berambut panjang berwarna merah dan berombak. Begitu kira-kira ingatan saya tentang sahabat saya bernama Nada.

Ibu juga mengatakan, nantinya dengan saya sering berkirim surat dengan nada, maka bisa dibilang Nada akan menjadi sahabat pena saya.

Saya pun mulai belajar menulis surat dari ibu. Beberapa kali saya menulis surat untuk Nada dan mendapat surat balasan juga dari nada. Sejak saat itulah saya jadi semakin senang menulis surat. Ada banyak hal yang bisa saya ceritakan dalam surat saya saat itu, mulai dari kegiatan saya di sekolah hingga kegiatan saya dirumah.

Namun, karena banyak kegiatan pada akhirnya lama-lama kegiatan menulis surat tersebut mulai jarang saya lakukan ketika duduk dibangku SMP, dan sedikit demi sedikit berhenti ketika duduk di bangku SMA.

Lalu, saya pun mulai mengingat-ingat, selain menulis surat, dulu saya juga dikenalkan oleh ibu dengan buku harian. Sehingga selain menulis surat saya juga dulu senang sekali menulis buku harian.

"Dear diary..." begitu kira-kira setiap pembukaan yang saya tulis dalam buku harian saya.

Dari situ tanpa sadar, saya pun mulai suka menulis. Dari sekian banyak pelajaran di sekolah, saya paling menyukai pelajaran mengarang. Meski demikian karena suatu hal dan beberapa alasan akhirnya saya bahkan tidak memilih jurusan bahasa, sehingga saya bahkan mulai melupakan hobi menulis saya, dan saya sudah tidak pernah sama sekali menulis surat untuk sahabat pena saya, juga tidak pernah menulis buku harian sama sekali.

Hingga akhirnya saya menikah, lalu karena suatu alasan dan banyak hal yang sudah suami dan saya pertimbangkan, saya memutuskan untuk menjadi full time mother alias ibu rumah tangga. Setelah memiliki dua balita dengan jarak usia berdekatan ternyata saya mengalami kebosanan yang teramat sangat ketika merasa hanya menjadi pecundang, dan dianggap oleh sebagian pihak bahwa ibu rumah tangga itu cuma bisa menghabiskan uang suami.

Belum lagi kehebohan sehari-hari menghadapi kerewelan anak-anak yang estafet bergantian ternyata cukup membuat saya sering bertanya pada diri sendiri, "Apa hanya akan seperti ini nasib saya? Menjadi ibu rumah tangga yang sering disudutkan oleh banyak pihak dianggap tidak berguna, karena dianggap hanya menjadi parasit saja untuk suami?"

Lalu saya pun tanpa sengaja membaca status seorang teman yang sama-sama memiliki dua balita dengan usia berdekatan. Disitu saya akhirnya mengenal dunia blogger, dunia dimana akhirnya saya mengenal kembali bahwa menulis itu menyenangkan untuk saya.

Dengan menulis, ternyata bisa meredakan emosi, karena saya bisa mengosongkan sebagian hal yang mungkin selama ini sudah membuat penuh sesak otak saya. Dengan menuangkan pikiran dalam sebuah tulisan, membuat saya tidak perlu kuatir melupakan hal-hal penting yang sudah saya simpan di dalam otak.

Dari menulis saya juga bisa berbagi banyak hal bermanfaat dari beberapa sharing teman-teman di banyak komunitas yang bernilai positif.

Yang tak kalah penting, ternyata menulis juga bisa mendatangkan rejeki. Meski demikian seperti nasehat dari banyak orang yang menyayangi saya, bahwa menulislah dengan hati.

Seperti nasehat yang selalu saya dengar, "Rejeki itu pasti, kemuliaan-lah yang perlu dicari."

Sehingga harapannya semoga dari menulis dengan hati ini, saya bisa mendapat banyak kemuliaan. Amin.

Lalu bagaimana jika tiba-tiba ditengah menulis tersebut tiba-tiba kita kehabisan ide?
Sebenarnya ada banyak cara untuk mengumpulkan ide menulis, beberapa diantaranya dengan :
  • Membaca, semakin banyak kita membaca maka akan semakin banyak ide yang bisa kita dapat.
  • Sharing, dengan sharing kita bisa mendapat ide menulis dari hal paling sederhana sekalipun.
  • Melihat dan mendengar. Dari keseharian kita yang sepele pun tanpa sadar terkadang bisa menjadi sebuah tulisan yang bernilai positif.
  • Bernostalgia. Terkadang adakalanya masa lalu pun bisa kita jadikan sebuah pelajaran bernilai positif untuk kita tuangkan dalam sebuah tulisan.
  • Mencoba hal baru. Ketika kita melakukan suatu hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh kita, dan saat kita berhasil melewatinya maka hal tersebut menjadi sebuah pengalaman yang tidak terlupakan yang bisa jadi patut kita tuangkan dalam sebuah tulisan inspiratif.
  • Berimajinasi. Biasanya dengan berimajinasi kita juga bisa menghasilkan sebuah tulisan yang biasanya sering dikenal dengan sebutan karya fiksi.
Dan tentunya masih banyak cara lain untuk bisa memunculkan ide menulis kita.
#YaAllahIzinkanAkuMenulis

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan dalam #30DWC Jilid 6 #Day5

 

No comments:

Post a Comment