Monday, June 5, 2017

Kali Ini Tentang Chicken Nugget #Belajar Komunikasi Produktif Dengan Keluarga

Kalau beberapa hari ini saya belajar "bargain" dengan adik menggunakan intonasi suara merdu (baca : nggak emosi) karena adik terus-terusan maksa pakai celana gambar ana elsa, oke problem solved dengan win-win solution nambah stok celana gambar ana elsa buat adik . Kali ini saya harus dihadapan agar nggak kepancing emosi, ketika kakak adik meminta sesuatu di supermarket pas lagi belanja.
Waktunya Belanja... (Cuma Ilustrasi Ya!)


Seperti biasa, "Horeeeeee...waktunya (suami) gajian, artinya waktunya isi ATM saya di top up...selanjutnya giliran saya meluncur ke supermarket dekat rumah untuk refreshing otak."

Iya, mau bahagiain emak-emak macam saya mah gampang, tinggal top up isi ATM saya terus kasih kesempatan saya belanja bulanan, gitu udah seneng kok... Hehe...

Kalau jadwal belanja gini, sebenarnya nggak cuma saya yang bahagia sih, anak-anak sama suami pada dasarnya juga ikut senang...
Gimana nggak senang, kalau pas saya lagi asyik mantengin harga di rak-rak belanjaan demi dapat harga termurah dari sekian banyak item belanjaan, eh mereka malah asyik masukin entah cemilan, makanan, minuman, sampai mainan ke dalam keranjang belanjaan...😂😅

Sini milih yang paling murah biar hemat, eh mereka asyik masukin belanjaan ke keranjang sambil asyik lalu kesana kemari...

Lalu tibalah didepan lemari pendingin berisi makanan siap saji mulai dari chicken nugget sampai chicken spicy wings semua ada.

Mumpung lagi puasaan nih, kayaknya kok kangen ya pengen beli chicken spicy wings. Kalau dibandingin beli di restoran kayaknya lebih murah beli chicken spicy wings di supermarket gitu. Saya pun sembari mengambil satu bungkus spicy chicken wings ngomong ke suami, "Yah, aku ambil satu ya, buat kalau malam-malam kali kelaparan bingung cari cemilan buat nonton TV kan bisa goreng ayam ini..."

Suami pun setuju...

Kemudian, diluar prediksi ternyata dari belakang si kakak ikut nerobos ambil chicken nugget yang ada di rak lemari pendingin paling bawah, sembari bilang, "Mam, kakak juga mau ini. Boleh ya?!"

Ehmmmm...boleh nggak ya, begitu batin saya...

Lalu saya pikir, ya sudahlah nggak apa-apa...
Si kakak pun mengambil satu lalu mundur dari lemari pendingin.

Tanpa di duga si adik pun ikut nyerobot kedepan mau ambil satu bungkus chicken nugget.

Loh?!

"Wait, tunggu dek, ngapain adik ambil juga? Kakak kan sudah ambil satu, itu saja buat berdua, isinya banyak kok." Begitu tanya saya.

Si adik pun menjawab, "Adik mau adik mau..."

Yah...lah kalau pada ambil masing-masing satu bungkus bisa pusing kepala mama barbie nih...😂

"Dek, ngapain sih itu lo kakak udah ambil" Begitu ulang saya.

Adik mah tetep kekeuh bawa bungkusan chicken nuggetnya!

Beruntung suami langsung tanggap, sebelum terjadi kehebohan istri dan anaknya di keramaian supermarket hanya demi sebungkus chicken nugget...

Suami pun segera meminta si kakak mengembalikan bungkusan chicken nuggetnya ke lemari pendingin, disusul oleh chicken nugget milik adik. Kemudian si kakak pun protes, "Lo yah, aku kan mau!"

Lagi-lagi saya beruntung melihat deretan bungkus chicken nugget yang lebih eye catching dan sedikit lebih murah dari sebelumnya, sehingga saya ada alasan kenapa mereka harus mengembalikan bungkusan chicken nugget yang sudah mereka ambil.

Berusaha tenang, saya pun menjawab, "Itu lo kak yang sebelah situ chicken nuggetnya kayaknya lebih keren bentuknya."

Melihat bungkusnya yang eye catching, si kakak pun setuju.

Tetapi sebelum si kakak mengambil bungkusan tersebut, suami langsung buru-buru meminta kakak mengizinkan agar adik saja yang mengambil bungkusan chicken nuggetnya.

Saya pun berusaha tetap tenang menjaga intonasi suara agar tetap lembut bak putri solo, "Iya kak, satu saja, itu isinya banyak kok. Nggak apa-apa ya adik yang ambil. Nanti sampai rumah mamam masakin buat berdua sama adik. Lagian kakak tadi kan sudah ambil banyak makanan buat dimasukin keranjang pas adik tidur. Jadi sekarang biar adik yang ambil. Oke?"

"Baiklahhhhh..." Begitu jawabnya.

Begitu juga saat kakak minta membeli jelly, padahal sebelumnya dia sudah mengambil item jelly dan nata de coco. Disitu saya dengan tegas tapi berusaha menjaga intonasi suara saya biar nggak dikira lagi marah-marah untuk meminta kakak memilih.

"Jadi mau jelly yang ini atau yang itu? Kalau mau yang ini itu dikembalikan ya!" Begitu tawar saya.

Kakak sempat ragu, tapi saya beri pengertian kalau kakak harus memilih satu, karena tidak semua harus dibeli bukan?!

Dari pengalaman berbelanja tersebut saya sedang belajar berproses komunikasi produktif, untuk tenang dan "selow".

Tabel Pencapaian Proses Komunikasi Produktif

Kalau biasanya saya paling-paling akan segera merebut bungkusan chicken nugget tersebut, kemudian buru-buru mengembalikan lagi, tanpa peduli anak-anak merasa kecewa dan sakit hati karena apa yang diinginkan tidak saya turuti. Tapi kali ini saya belajar sedikit kalem dan selow...
Alhamdulillah, kali ini saya bisa belajar menjaga intonasi suara saya dan emosi saya agar tidak keburu-buru meledak ketika dihadapkan pada situasi sepele yang seringkali membuat saya bisa terpancing emosi.

#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Disclaimer : Tulisan ini diikutkan juga dalam #30DWCjilid6 #day20

No comments:

Post a Comment