Thursday, June 1, 2017

Komunikasi Dengan Suami Saat Terlihat Cemburu

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, beberapa hari ini saya menangkap sinyal suami cemburu dan kurang suka dengan apa yang saya lakukan. Meski demikian saya berpura-pura semua baik-baik saja. Alasannya sepele, karena sebenarnya saya sendiri bingung harus memulai dari mana untuk mengkonfirmasinya. Clear and Clarify, bisa dibilang salah satu dari sekian banyak tantangan komunikasi saya dengan suami, hanya karena perasaan "sungkan", "nggak enak", atau "gengsi".

Setelah Menikah, Diperlukan Komunikasi Produktif Agar Tidak Terjadi Miss Komunikasi
Lo gengsi kenapa? Duh, nggak tahu, gengsi sungkan dan malu ndredeg gitu sepertinya kalau saya harus menanyakannya langsung.

Meski demikian mau tak mau, saya mengakui bahwa seharusnya untuk apa saya sungkan, nggak enak dan gengsi kepada suami. Bukankah sebaiknya saya menanyakan langsung kepada suami. Dengan bertanya langsung semua akan menjadi jelas, sehingga kita tak perlu was-was dengan asumsi-asumsi buruk yang mungkin kedepannya akan timbul dikarenakan miss komunikasi saya dengan suami.

"Eciyeee... Sepertinya Suamiku Cemburu..." begitu bisik hati saya girang. Ealahhh...suaminya cemburu kok malah girang? Hehe... 9 tahun menikah kalau suami masih cemburu kan artinya suami masih sayang. Begitu pikir saya.

Nampak sekali sebenarnya, apa yang membuat suami cemburu. Saya "berasumsi" bahwa suami cemburu dan tidak nyaman dengan kebiasaan saya menulis salah satunya. Tapi saya berusaha tak menghiraukannya, karena toh dia juga yang memberi saya ijin untuk boleh menulis dan mengikuti beberapa kegiatan menulis online.

Namun, ternyata hal ini membuat hati saya menjadi tidak nyaman, karena tidak seperti biasanya beberapa hari ini ketika saya membutuhkan saran dan masukkan dari suami tentang ide dan kesibukkan menulis suami hanya menjawab singkat dan segera membuang muka. Nah Lo?!

Sebagai gambaran, padahal suami saya selama ini termasuk orang yang selalu antusias dan "cerewet" dalam memberikan ide.

Biasanya saat saya mengatakan suatu hal seperti, "Yah, itu ternyata tulisanku kata mas Dwi kurang ini itu. Gimana ya nambahinnya?" Suami akan menjawab dengan semangat, "Oh ya udah, coba nanti tambahan ini atau itu..."

Saya sendiri memang beberapa kali sering berdiskusi tentang tulisan saya dengan mas Dwi salah satu penulis buku best seller. Meski demikian sejak awal sebelum mulai diskusi saya selalu minta izin terlebih dahulu kepada suami, dan setiap kali ada kendala saya selalu meminta saran kepada suami.

Nah sayangnya beberapa hari ini, jika saya mengeluh kepada suami, "Yah, ini ternyata kata mas dwi harusnya begini tulisanku." Eh suami hanya menjawab singkat padat dengan kalimat, "Oh..." Lalu dia ngeloyor buang muka...

Yang Sabar Tapi Kalau Cemburu MengerikanšŸ˜…
Duh, nggak enak banget...

Akhirnya kemaren saya mencoba menanyakan hal tersebut.
Jujur untuk mau mulai bertanya hati saya nderedeg plus pengen ketawa ngakak melemparkan godaan "Eciyeeeee... cemburu niyeeeeee..." demi mencairkan suasana.

Tapi saya batalkan niat tersebut, karena saya kuatir nantinya niat saya untuk mencairkan suasana malah dikira mengolok-olok, terus ujung-ujungnya suami malah ngambeg, bisa berabe.

Saya pun berusaha mengklarifikasi hal tersebut kepada suami, dengan mencoba pasang muka serius, tapi pengen ketawa karena merasa aneh saja ketika suami terlihat cemburu.

"Yah, jujur ya...boleh nanya kan...Akhir-akhir ini aku lihat kamu kayaknya kok nggak suka dengan tema obrolanku tentang menulis? Kamu cemburu ya?" Begitu tanya saya.

"Nggak, siapa yang cemburu?! Aku tuh ngga cemburu!" Begitu jawab suami

"Ciyeee...ciyeee...cemburu...ih pasti cemburu...kelihatan kok ngaku aja dong...kamu cemburu kenapa, kalau kamu nggak bilang ya mana aku tahu." Eh akhirnya keceplosan juga bilang ciye-ciye...

Saat itu suami hanya menjelaskan bahwa dia tidak cemburu, hanya saya yang kelewat kebablasan dengan hobi menulis saya. Sehingga seringkali dia melihat anak-anak protes tapi saya nggak sadar.

So wow...merasa tertampol saya mendapat komentar tersebut. Hal tersebut saya anggap sebagai komplain keluarga atas kesibukan saya. Jadi saya harus koreksi diri.

Saya pun berusaha ngobrol dan bertanya berarti saya harus bagaimana, dan saya minta bagaimana.

Meski demikian saya masih merasa mengganjal. Sehingga saya merasa perlu obrolan ulang untuk mengklarifikasi kembali bagaimana sebaiknya saya menjalani hobi saya yang dianggap menuai protes anak-anak oleh suami.

Sehingga disaat malam yang sunyi, ketika anak-anak sudah terlelap tidur, suami dan saya segera ngungsi ke kamar sebelah untuk sekedar ngobrol santai tanpa gangguan kehebohan dua balita kami. Disini saya kembali menanyakan, apa yang membuat dia nampak tidak nyaman ketika saya mengobrolkan kesenangan saya pada menulis.

Saya memastikan lagi bahwa tidak ada miss asumsi diantara kami, kalau seperti judul lagi sih "Jangan ada dusta diantara kita."

Jadi dari situ akhirnya saya tahu, bahwa terkadang kebiasaan menulis saya membuat saya lupa waktu, sehingga ketika suami pulang ingin sekedar dipijat-pijat karena lelah atau sekedar dimanja karena keruwetan pekerjaan seharian sedikit terlewatkan. Gimana nggak terlewatkan kalau sayanya lagi serius mantengin laptop. Hehe...

Nah, tapi saya katakan juga kepada suami, "Ya, seharusnya kamu bilang dong kalau minta dipijet, atau minta disayang-sayang. Kalau diem ya mana tahu aku."

Ternyata suami membela diri, "Ya gimana mau bilang, kamunya udah serius banget gitu mantengin laptop. Giliran udah selesai mantengin laptop, eh langsung ngorok."

Eaaaaaaa....

Nah dari sini saya belajar bahwa, disini ada dua orang yaitu saya dan suami yang sedang berkomunikasi dengan bahasa telepati! Masalahnya, bahkan saya dan suami saja sama-sama nggak pernah punya ilmu telepati. Jadi gimana bisa menangkap sinyal komunikasi lewat telepati tadi. Hehe...

Oalahhhhhh...

Setelah ngobrol singkat sembari talk pillow menanti jam sahur tiba, akhirnya kami mendapat kesepakatan, bahwa komunikasi itu diperlukan jangan hanya sekedar berasumsi.

Suamipun menyampaikan kedepannya saya boleh tetap menulis tetapi harus memperhatikan waktu, begitu juga dengan kebiasaan saya memegang gadget. Begitu juga saya juga menyampaikan, bahwa jika ada suatu hal yang membuat suami tidak nyaman, maka suami harus berkata terus terang sejak awal. Jangan dipendam dalam hati.

Jadi the moral of story komunikasi dengan pasangan itu tidak bisa hanya sekedar lewat telepati. Jangankan telepati, diomongkan langsung saja terkadang masih salah tangkap apalagi nggak diomongkan.


Ini tentang tantangan komunikasi produktif Clear and Clarify dengan pasangan selama seminggu belakangan ini, yang Insya Allah sudah clear dalam dua hari ini.

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan juga dalam #30DWCjilid6 #day16

No comments:

Post a Comment