Tuesday, June 6, 2017

Kontrol Intonasi Suara Saat Lapar #Komunikasi Produktif Dengan Keluarga

Jadi ceritanya seperti biasa jam makan siang anak-anak. Baik kakak maupun adik pun langsung berebut untuk menyendok nasi, sehingga nasi tumpah dari piring.
Hanya Ilustrasi
Saya pun tanpa sengaja langsung ngebleyer (berkata dengan intonasi tinggi), "Duh...bentar dong kak dek, sabar...tumpah semua nih..."

Lalu dengan segera saya ingat, kan saya lagi belajar komunikasi produktif di bunsay.

Sempat terbersit pikiran, "Ah komunikasi produktif apa... Buls** lah... Toh kalau saya ngamuk-ngamuk siapa yang akan tahu! Tulisan kan bisa dimanipulasi!"

Perut udah lapar, badan lemes rasanya kok lebih lega kalau saya tumpahkan semua kesal di hati melihat makanan anak-anak tumpah semua.

Tapi kemudian hati saya mengingatkan. "Bukankah saya ingin berproses jadi ibu dan istri yang baik untuk anak-anak dan suami?"

Saya bisa saja sih pura-pura nulis di sini kalau saya sudah berhasil intonasi suara rendah, tapi apa untungnya buat saya dan keluarga saya?!

Bukankah saya sendiri yang menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik pada diri saya?

Bukankah saya sendiri yang ingin memutus siklus yang diakibatkan oleh innerchild saya kepada anak-anak saya?

Jadi kalau bukan diri saya sendiri yang mau berusaha siapa lagi?

Semua ini adalah tentang diri saya sendiri...

Sehari sebelumnya saya sempat ngobrol dengan suami, kenapa saya sebegitu menyebalkannya sampai mengatur intonasi suara jadi halus lemah lembut kok nggak bisa.

Tapi suami selalu meyakinkan bahwa saya bisa berubah selama saya mau berusaha...

Lalu saya tersadar, dan buru-buru mengatur intonasi suara saya menjadi lebih lembut.

Saya tahan diri saya untuk tenang dang tidak emosi sekalipun ada gumpalan nasi (sudah bukan butiran nasi lagi) semburat dimana-mana.

Hasilnya kakak maupun adik makan dengan senang dan lahap.

Tak sampai disitu, tantangan muncul juga ketika jam mandi sore kakak adik, entah apa sebabnya si adik tiba-tiba nangis ngambeg...
Oalahhh dekkkk dekkk...

Kali ini saya cuma bisa ambil nafas dalam-dalam...
Sembari menahan emosi meledak, saya meninggalkan adik sementara menangis nggak jelas maunya. Daripada kepancing emosi saya buru-buru bantuin si kakak saja.

Setelah itu, tak lama kemudian si adik mulai memanggil saya, minta digendong. Tanpa membuang waktu saya buru-buru menggendongnya, dan segera memakaikan baju dan popoknya.

Lalu lagi-lagi, si kakak dan adik berebut saya tanpa sebab (-_-')
Oke untuk yang satu ini saya sempat tersulut emosi, lagi-lagi saya keceplosan bilang, "Duh, kalau kayak gini, mamam minggat beneran nih. (=_=)

Mereka pun kompak berteriak "Jangannnnnnnnn" sembari nangis.
Bener sih mereka nggak berebut lagi, tapi akhirnya mereka malah nangis...
Amsyong deh...

Malamnya saat kami limpang limpung bersantai bersama, si kakak sempat nyeletuk "mamam jangan suka marah ya..." sembari mencium pipi saya.

Hati saya pun meleleh, lalu saya bilang kepada kakak, "Iya mamam nggak marah asal kakak juga jangan rewel nggak jelas ya... Kalau ada yang bikin kakak nggak enak, kakak harus ngomong terus terang sama mamam biar mamam tahu, jadi nggak spanneng. Oke?"

Kakak-pun menjawab, "OKE" tanda setuju.

Pelajaran hari ini,
Perubahan ke arah lebih baik adalah tergantung dari sampai mana dan bagaimana kita mau berusaha.


Kalau lelah mau menyerah sih terserah, tapi kita dapat apa?
Anak-anak akan terus bertumbuh, dan apa yang kita lakukan kepada anak-anak dimasa sekarang sedikit banyak, dipungkiri atau tidak juga mengambil peran penting kedepannya. Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari.

#level1
#day6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan juga dalam #30DWCjilid6 #day21

No comments:

Post a Comment