Saturday, June 3, 2017

Mengelolah Emosi Saat Bicara Ke Anak (2) #Belajar Komunikasi Produktif dengan Keluarga

Jadi, seperti niatan awal saya ikut institut ibu profesional yaitu agar saya bisa menjadi ibu yang baik alias ibu yang sabar tidak meledak-ledak. Bersyukur, di tahapan kali ini saya dan teman-teman mendapat tugas tantangan dalam berkomunikasi produktif bersama keluarga.

Kadang Akur, Kadang Tawur
Yang Penting Tetap Belajar Komunikasi Produktif

Sudah 2 hari ini saya mencoba komunikasi dalam hal mengelolah emosi kepada anak. Sebelumnya saya sudah mencoba komunikasi dalam hal clear and clarify dengan suami saat suami terlihat cemburu.

Selama dua hari mencoba mengelolah emosi kepada anak ini, ternyata banyak hal yang saya pelajari.

Beberapa hal yang menurut saya berhubungan dengan pengelolaan emosi ini adalah intonasi suara dan pemberian pilihan.

Jadi seperti biasa, kali ini si adik setelah mandi yang tetap ingin memakai celana (dalam) bergambar ana dan elsa alias frozen.

Padahal saat itu celana frozen sudah dipakai sesiangan. Sehingga saya tentu tidak setuju.

Lagi-lagi si adik tetap memaksa. Jadi saya tidak suka. Maksud hati saya ingin langsung segera mengambil celana tersebut dan menaruhnya di bak cucian kotor. "Nangis-nangis deh!" Begitu batin saya.

Terus saya tiba-tiba tersadar, "Nggak! Saya nggak boleh egois gini nih!"

Memang sih celana itu sudah kotor, tapi adik mana tahu kalau nggak dijelasin. Kalau hanya sekedar direbut bisa sih tapi sama saja bohong, karena berarti saya akan mencontohkan ke adik cara yang salah ketika saya "mengingkan suatu kondisi tertentu."

Bisa-bisa nanti adik kalau kepengen apa-apa juga langsung merebut.

Sehingga buru-buru saya tahan tangan saya untuk tidak merebut.

Lalu saya mencoba berempati kepada adik dengan bertanya, "Kenapa adik masih mau pakai celana ana elsa itu ya?"

Adik pun mengangguk.

Saya lantas buru-buru mencarikan celana ana elsa milik adik yang lain. Saya tawarkan kepada adik, "Adik, pakai celana yang baru ini saja ya. Itu kan sudah kotor karena seharian sudah dipakai! Jadi adik ganti ini saja ya..."

Adikpun memandang celana yang saya pegang.
Wah sepertinya adik nggak mau nih, karena warna celana yang saya pegang kuning "mbulak", sedang celana yang dipegang pink.

"Ya dik, pakai ini dulu...Itu biar mamam cuci dulu. Nanti kalau sudah kering baru dipakai lagi..." Begitu rayu saya.

Alhamdulillah, tak perlu menunggu lama, adik langsung memberikan celana pinknya kepada saya untuk dimasukkan ke dalam baju kotor.

Kemudian adik tanpa keberatan mau memakai celana ana elsa warna kuning... Yipppiii...

The moral of the "tantangan" adalah saya jadi belajar arti mengelolah emosi dengan mengatur intonasi suara. Saya juga jadi belajar tentang arti sebuah empati sekaligus belajar tidak memaksakan pendapat saya dengan memberikan pilihan ke adik.

#level1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan juga dalam #30DWCjilid6 #day18

No comments:

Post a Comment