Friday, June 2, 2017

Mengelolah Emosi Saat Bicara Ke Anak #Belajar Komunikasi Produktif dengan Keluarga

Seringkali tanpa sadar, saat berbicara kepada anak kita menggunakan nada tinggi, dan tanpa kita sadari pula semua tindak tanduk kita sehari-hari menjadi contoh untuk anak kita. Bagaimana saya bisa berharap anak saya akan bisa berbicara dengan gaya putri solo, kalau saya saja ngomongnya udah macam kernet angkot yang lagi tereak-tereak cari penumpang.
Putri Yang Jago Memanjat 😅

Oke, jadi akhir-akhir ini menjadi koreksi suami dan saya ada beberapa hal yang dilakukan oleh anak kami yang kami tidak suka. Beberapa diantaranya adalah ketika si kakak berbicara kepada si adik dengan nada emosi. Disadari atau tidak, kami mulai menyadari bahwa emosi si kakak terkadang meniru gaya nada bicara kami (eh saya saja kali ya), yang suka meledak-ledak.

Sehingga mau tak mau, jika ingin emosi mereka tidak mudah meledak-ledak saya juga harus belajar cara mengelolah emosi yang benar. Seperti sebuah nasehat anak adalah cerminan kita.

Adakalanya saat mereka berebut mainan mereka akan melakukan hal-hal yang membuat saya semakin "spanneng" dibuatnya.

Rebutan Mainan

"Nggak mauuuuuu...ini punyakuuuuuuuu!!!" begitu teriak kakak.
"Adekkkkkkkkkkkk...nini dedek..............!!!" teriak adik tak mau kalah.

"Sentil nih sentil...!!!" Begitu ancam kakak. Duh kalau ini persis kayak gaya saya kalau mau nasehatin mereka. Bukan nasehatin, eh malah nakut-nakutin mau nyentil 😓

Tak sampai di situ, bukan hanya mainan. Bahkan saya pun tak lepas dari ajang perebutan mereka hanya untuk sekedar dipeluk.

Jadi kemaren ceritanya seperti biasa si kakak sedang asyik tidur di sebelah saya, lalu tiba-tiba si adik datang sambil merengek-rengek nggak jelas. Setelah saya perhatikan akhirnya saya tahu, kalau adik ingin tidur disebelah saya.

Si kakak yang sudah pewe tidur berbantal tangan kiri yang gede bak kentongan siskamling dan empuk bak bantal latex yang banyak dicari orang- pun tak mau berpindah. Sehingga makin kencanglah tangis si adik.

"Adik mamammmmmm adik mamammmmmmm..." begitu teriaknya sembari menangis.

Saya pun mencoba mengarahkan si adik untuk tidur di lengan saya sebelah kanan. Tapi ternyata adik tak mau. Adik maunya menempati posisi kakak, sedang kakak tidak mau mengalah.

Saya belajar untuk bersabar mengarahkan mereka berdua untuk mau berbagi "saya".

Awalnya saya tawarkan si kakak berpindah ke sisi sebelah kanan, sedangkan adik biar menempati posisi tangan kiri saya.
Tapi lagi-lagi si kakak tetap tak mau berpindah.

Sehingga terus dan terus terjadi teriakan-teriakan histeris antara mereka berdua. Ternyata perebutan dan teriakan histeris tersebut cukup bisa memicu emosi saya.

Saya yang tadinya masih santai menanggapi mereka, akhirnya malah pengen marah. Kenapa marah? Karena saya bingung nggak tahu harus berbuat apa. Dua-duanya nggak mau ngalah.

Sehingga saya langsung berkata kepada mereka, "Ya udah kalau masih berebut terus, mamam minggat juga nih ahhhhhhhhhhhh... Ngapain sih berebut mamam. Itu kan ada yayah kalian. Mbok ya sekali-kali gitu rebutan yayah. Capek juga kali dibuat rebutan."

Nggak berhenti di situ, tiba-tiba saya kok ya ngomel ke suami, "Ah, yayah juga gitu sih... Udah tau anaknya lagi rebutan gini. Kenapa cuman diem aja. Sakit semua tau dibuat rebutan."

Lah...ngomel juga nih mulut...

Dan perebutan diiringi teriakan histeris campur tangis keduanya itu tetap terus berlangsung. Lalu saya ingat, bukankah saya harus belajar mengelolah emosi. Sehingga saya segera menarik nafas dalam-dalam.

Saya mengambil tindakan diam terlebih dahulu. Meski telinga terasa tidak nyaman, saya memperhatikan mereka berusaha mencari celah bagaimana harus berbuat. Setelah beberapa saat saya meemperhatikan, saya tetap belum berhasil menemukan celah, hingga akhirnya entah bagaimana salah satu dari mereka mau mengalah.

Si kakak akhirnya terlihat kecewa meninggalkan lengan saya yang dempal mendatangi yayahnya yang sedang membawa handphone. Ah lagi-lagi saya tidak berhasil menyelesaikan perebutan ini. Alih-alih si kakak mau mengalah, sesungguhnya si kakak terlihat kecewa dan menghibur dirinya dengan mainan hp yayahnya. Sedihnya...😓

Oke jadi misi komunikasi produktif dengan anak kali ini masih belum berhasil ya...


Sedangkan misi komunikasi produktif dengan suami ketika dia cemburu beberapa waktu lalu, Alhamdulillah berhasil...
Yang perlu menjadi koreksi dalam komunikasi dengan anak adalah,
  • Belajar tenang menghadapi kehebohan anak-anak saat mereka berebut
  • Minggat bukan solusi, usahakan untuk tidak mengatakan hal tersebut sekalipun dalam konteks menggertak.
  • Usahakan tidak mengancam.
  • Kontrol intonasi suara.
  • Tarik nafas dalam-dalam sembari tatap anak-anak ketika akan berbicara dengan suara yang kalem.

#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Disclaimer : Tulisan ini diikutkan juga dalam #30DWCjilid6 #day17

No comments:

Post a Comment