Wednesday, June 14, 2017

Tradisi Malam Selawe dan Songolikur di Kota Gresik

Sejak kecil, sebenarnya saya sudah sering mendengar tradisi malam selawe dan malam songolikur di Gresik. Namun, selama ini saya tak pernah memahami benar makna tradisi tersebut.


Saya tahunya selama ini, malam selawe diadakan pada malam 25 pada bulan puasa. Disana nantinya akan bisa kita temui banyak penjual-penjual layaknya pasar malam di sepanjang jalan.

Konon kabarnya banyak copet juga disana. Sehingga ibu seringkali melarang saya untuk ikut menikmati tradisi malam selawe yang diadakan di Giri Gresik.

Bagaimana dengan malam songolikur? Ternyata tradisi malam songolikur yang lebih dikenal dengan istilah pasar bandeng pun nggak jauh beda dari malam selawe. Disebut malam songolikur karena pasar bandeng biasanya diadakan 2 hari menjelang lebaran, atau malam songolikur alias malam 29 di Pasar Gresik.

Namun, saya baru tahu ternyata dua tradisi tersebut memiliki nilai budaya dan kearifan lokal yang saling berhubungan.

Jika malam selawe diadakan di Giri dan identik dengan Sunan Giri salah satu nama Wali Songo, ternyata tradisi Pasar Bandeng pun juga erat kaitannya dengan andil Sunan Giri dalam melestarikan budaya tersebut.

Terkisah Pasar Bandeng ini dulunya diperkenalkan oleh Sunan Giri dengan tujuan untuk mengangkat perekonomian rakyat setempat dimana di kota Gresik ini merupakan salah satu wilayah bagus untuk pertambakan.

Seiring dengan perkembangan waktu, Pasar Bandeng menjadi sebuah budaya yang tak bisa dipisahkan dari tradisi lebaran. Sebagian menganggap Pasar Bandeng diadakan sebagai salah satu bentuk wujud rasa syukur menyambut lebaran dimana akan banyak warga Gresik membeli semua kebutuhan lebaran disana.
Bagaimana dengan malam selawe? Tak jauh beda tradisi malam selawe ini juga sebagai bentuk rasa syukur warga setempat berterimakasih kepada Sunan Giri yang sudah berjasa menyebarkan agama Islam di kota Gresik. Di malam selawe ini biasanya akan banyak pengunjung berdatangan ke makam Sunan Giri untuk mengirimkan doa.

Setelah selesai berdoa biasanya para pengunjung akan menghabiskan waktu menikmati pasar malam yang ada disana.

Jika selama ini saya hanya sebatas mengenalkan bahwa akan ada bandeng raksasa di Pasar Bandeng kepada anak-anak, maka PR saya dan suami kedepannya untuk mengenal makna dibalik tradisi Pasar Bandeng dan Malam Selawe di Gresik tersebut.

Yang masih saya ingat sekali, dulu sewaktu saya kecil dan masih tinggal di rumah nenek, nenek seringkali membeli bunga kembang sedap malam sebagai hiasan rumah yang banyak ditemui dan dijual di Pasar Bandeng. Tak mau kalah banyak warga setempat yang juga melakukan hal serupa. Sehingga dulu seringkali ketika kita berkunjung lebaran ke rumah sanak kerabat kita akan menjumpai wangi kembang sedap malam di hampir semua rumah warga.

Sayangnya akhir-akhir ini sepertinya jarang sekali dijumpai wangi kembang sedap malam di hampir semua warga. Namun, masih bisa kita jumpai keakraban beberapa keluarga dengan suguhan bandeng raksasa sebagai tradisi warga Gresik memperingati lebaran. Semoga kedepannya tradisi ini tidak akan pernah punah, mengingat harga bandeng raksasa yang semakin melejit dari tahun ke tahun.



Disclaimer : Tulisan ini diikutkan juga dalam #30DWCjilid6 #day29

2 comments:

  1. waah... rame ya ternyata. Ini semacam sebuah tradisi dari dulu ya....

    ReplyDelete
  2. Waaa makasih sharingnyaa :D baru tau tradisinyaa, hehehe kalau malam selawe dan songolikur didaerah saya biasanya buat iktikaf dimasjid :D

    ReplyDelete