Monday, July 31, 2017

Aliran Rasa Kelas Bunda Sayang Level 2

Setelah hampir sebulan mengikuti kelas bunda sayang level 2 di institut ibu profesional, kalau ditanya bagaimana rasanya? Apa suka dukanya? Apa bedanya sih sama kelas sebelum-sebelumnya. Kalau di level 2 ini kebetulan tema-nya mengajarkan kemandirian dengan cara mempraktekkan secara langsung. Setelah dipraktekkan maka kami mendapat tugas untuk menuliskannya dalam sebuah tulisan setiap harinya selama minimal 10 hari dan maksimal 17 hari. Jadi selama itu pula setidaknya saya harus belajar sabarrr...


Meski sekedar nulis, awalnya memang terasa berat banget. "Duh ngapain sih pakai nulis segala? Nanti kalau nulis dikira pamer! Nanti jadinya riya' dong, mana ada waktu, dan sebagainya sebagainya," awalnya saya sempat berpikir begitu.

Tapi setelah saya pikir-pikir, ah nggak juga ah, justru dengan menulis saya bisa berbagi dengan semua. Selain itu saya juga bisa mendapat feedback dari teman-teman yang sudah membaca, sehingga kedepannya saya bisa mengoreksi apa yang sudah saya lakukan jika memang dirasa ada yang kurang tepat.

Tantangan berat lainnya selama melakukan praktek kemandirian ini adalah saya kurang sabaran. Seringnya karena terburu-buru maka saya memilih skipp latihan kemandirian untuk anak-anak. Memang sih lebih simpel saat saya men-skippnya karena misalnya untuk acara makan sendiri kan kalau saya suapin saya nggak perlu capek-capek bersih-bersih lantai, atau misal anak-anak saya bantuk cebok kan setidaknya cucian baju saya nggak banyak-banyak karena baju mereka nggak basah semua.


Namun, kalau dipikir-pikir lagi, mau sampai kapan? Bukankah setelah ini mereka harus masuk sekolah dimana mereka harus siap dilepas ditengah masyarakat.

Oke jadi ditengah naik turunnya mood saya untuk tetap bertahan mengajarkan kemandirian saya berusaha menjaganya tetap stabil.

Dari situ saya jadi belajar banyak tentang arti sebuah kesabaran.

Sesekali mereka masih merengek meminta disuapin, disitu lagi-lagi kesabaran saya ditantang. Bagaimanapun saya harus menyadari bahwa mereka masih balita, dimana terkadang rengekan-rengekan mereka menunjukkan bahwa mereka ingin diperhatikan.

Tantangan lainnya adalah ketika saya akan mulai menulis, ada saja ulah mereka menggoda saya, entah itu minta pangku, minta gendong atau sekedar bilang "lapar" padahal baru saja makan.

Meski demikian saya berusaha untuk terus menuliskan PR-PR saya untuk kumpulkan. Mungkin akan ada yang bertanya? Gimana sih kok bisa nulis PR ditengah-tengah kehebohan saya menghandel mereka?

Ini Salah Satu Penyemangat Saya dari Level Sebelumnya

Kebetulan saya memang suka menulis, dengan menulis saya bisa melepaskan uneg-uneg yang menumpuk di kepala saya menjadi tulisan biar tidak meledak menjadi luapan emosi. Jadi sekalian menulis PR sekaligus juga saya anggap seperti sedang menulis sebuah buku harian di blog saya ini. Bedanya buku hariannya dikumpulin. hehe...


#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10hari
#day18
#AliranRasa

No comments:

Post a Comment