Monday, July 3, 2017

Sudah Sekolah Belum...???

Jadi, sebenarnya sudah setahunan ini saya sering mendengar pertanyaan yang dilontarkan ke si kakak, entah itu dari kerabat terdekat bahkan sampai orang yang baru ketemu di jalan sekalipun, "Sudah sekolah belum?"



Pertanyaan yang simple, tapi sempat membuat si kakak terlihat terganggu di awal-awal dulu.

Seringnya sih saya melihat si kakak langsung buang muka, atau langsung menatap tajam saya sembari seperti mencari jawaban di raut muka saya, atau pura-pura nggak dengar... Haha...

Awalnya saya agak baper, bukan karena pertanyaannya, tapi lebih kepada respon si kakak yang kelihatan "bete".

Mungkin dalam hatinya bertanya, "Apa ada yang salah sama aku kok semua pada tanya udah sekolah belum."

Jadi akhirnya sebelum makin manyun, saya mencoba memberi pengertian kepada si kakak, kalau memang dia belum waktunya sekolah.

"Lho, emang umur berapa sih kok belum disekolahin? Bukannya harusnya sudah masuk Play Group?" Biasanya akan muncul pertanyaan lanjutan seperti itu. Nah kalau sudah muncul pertanyaan itu, giliran emak bapaknya yang jawab.

Jadi kenapa?

Begini, kalau suami dan saya sih kebetulan memang sepakat anak-anak nggak pakai play group dulu, alasannya banyak sih...

Salah satunya kalau alasan "ngawur bin nyeleneh" kami ya biar anak-anak nggak bosen sekolah. Hehe...

Kalau alasan lainnya sih, kami sepakat di usia-usia balita kakak dan adik cukup belajar di rumah, demi menguatkan bonding (ikatan) dengan keluarga sebagai orang terdekatnya.

Kuatkan Rasa Persaudaraan

Istilah kata, jadi dikuatkan ikatan dengan kami selaku orang tuanya, dan juga adik/kakak selaku saudaranya, jadi nanti ketika mereka dilepas ke masyarakat, baik kakak maupun adik, sudah punya percaya diri kuat bahwa selalu ada kami selaku orang terdekatnya yang selalu mendukungnya.

Biasanya sih tetap bakal ada pertanyaan, "Lalu bagaimana dengen sosialisasinya? Apa nanti nggak bakal jadi UnSos?"

Ehm... Kebetulan saya orangnya meski suka ndekem di rumah tapi adakalanya saat saya boring saya suka ngider juga. Nah, kesempatan itu biasanya saya gunakan untuk melatih kemampuan mereka bersosialisasi.


Nggak perlu muluk-muluk, ajak saja mereka ke tempat bermain, disana kan banyak anak kecil juga. Nanti, otomatis biasanya mereka bakal akrab-akrab sendiri kok... Hehe...

Tiba-Tiba Sudah Nemu Teman Baru

Belum lagi nanti kalau ada kumpul-kunpul reuni, entah bareng sahabat kuliah, teman komunitas, dsb... Nah, biasanya disitu kan pada banyak yang bawa anak juga, jadi ya sekalian bisa melatih sosialisasi anak-anak.

So far so good kalau menurut kami. Bahkan, dari situ kalau kami perhatikan kami jadi bisa mengetahui bagaimana cara mereka menghadapi situasi tidak menyenangkan. Misalnya, pas ada yang suka menang sendiri, nggak mau kalah, atau bahkan mungkin yang sampai gemes ngejar-ngejar cuma sekedar pengen nabok entah kenapa (-_-).

Biasanya adik nih yang sering jadi sasaran kegemesan teman-teman bermainnya (-_-). Tapi dari situ si kakak juga jadi belajar untuk melindungi si adik. Ah, so sweet deh pokoknya.

Lalu untuk skill (motorik) gimana?
Kalau ini biasanya andalan kami, ya memang dari mainan sehari-hari... Ya seadanya mainan itu yang dipakai. Sesekali kalau ada rejeki, nggak ada salahnya kami beli mainan yang bisa mengasah kemampuan skill, motorik, termasuk imajinasi mereka.


Nah, kalau sekarang sepertinya si kakak sudah mulai terlatih sih menghadapi pertanyaan-pertanyaan, "Udah sekolah belum?" Atau "Kelas berapa sekarang?"


Biasanya dia bakal jawab, "Aku belum sekolah, soalnya kata mama aku belun cukup gede."

Ahay...

Dan biasanya yang nanya, bakal noleh ke emaknya sembari muka heran bin penasaran terus komen, "Ini kalau disekolahin yakin deh, pasti bakal lebih cerdas!"

Emaknya biasanya cuman meringis sambil kompak jawab bareng bapake, "Ah, nggak ah... Nanti gedenya malah bosen sekolah dia." (Suka asal nyeplos deh jawabnya...)


So far, biarkan mereka menikmati masa anak-anaknya dulu sesuka hati mereka. Biarkan mereka berimajinasi bahwa daun itu warnanya nggak harus hijau ketika menggambar, bahwa gunung itu nggak harus berwarna biru, biarkan mereka bisa menikmati tidur siang dan malamnya dengan nyenyak dulu, sebelum nanti jam tidur mereka harus dibayar mahal dengan menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Biarkan mereka menjadi soulmate dengan kakak/adiknya, dan menjadi sahabat untuk kami orang tuanya. Serta biarkan mereka belajar memahami etika dari dalam rumah terlebih dulu, sebelum mereka harus dituntut bisa beretika di tengah-tengah masyarakat luas.
***

Setiap keluarga pasti punya visi misi yang berbeda. Diantara sekian banyak visi misi tersebut, saya yakin semua memiliki tujuan yang sama yaitu kebaikan untuk keluarganya. Hanya tinggal bagaimana kita menyesuaikan, dengan kondisi keluarga dan kesepakatan kita bersama pasangan untuk mencapai tujuan yang mulia tadi.

Main Tembak-Tembakan Air
Mengasah Kekompakan

Kita tidak bisa menjudge bahwa cara orang lain salah, atau merasa cara kita lebih benar dari orang lain, karena bahkan saat ini kita pun belum tahu hasilnya.

Oh iya, mumpung masih suasana lebaran, saya mau ngucapin...

Selamat idul Fitri ya semua...
Taqabbalallahu Minna wa Minkum,
Taqabbal ya Karim...
Mohon maaf lahir dan batin...
Maaf-maaf kalau ada kata-kata yang salah ya...


2 comments:

  1. Aku dulu gara² liat anak-anak sekolah jd pingin sekolah, akhirnya mmg sempat sekolah sebelum waktunya dan pada saat masuk umur sekolah, aku mulai jenuh akhirnya mundur masuk sekolahnya

    ReplyDelete
  2. anak pertamaku, sekolah kemudaan, mulai play group A, jadi sebelum SD sudah 4 tahun sekolah mbak.. hehe.. sekarang kelas 4 SD. alhamdulillah kalau jenuh enggak ya, cumaa (tetep ada cuma nya) sekarang secara tanggungjawab belum begitu matang mb. beda dg adiknya, yg sekolahnya pas umur.mungkin bawaan karakter atau memang efek sekolah terlalu dini.
    Aku juga lebih setuju tidak play group dg dibarengi konsep home education yg baik

    ReplyDelete