Friday, August 11, 2017

Perbanyak Air Putih, Kurangi Minuman Manis Berlebih #ProjectSehatMenuaBersama

Seperti saya tuliskan sebelumnya tentang project Sehat dan Menua bersama, kali ini projectnya kami mulai dengan memperbanyak air putih, mengurangi makanan/minuman manis berlebih. Jika dipikir-pikir project ini sepele tapi sedikit sulit direalisasikan, mengingat saat ini banyak sekali minimarket/supermarket/swalayan di sekitar kami, yang sedikit banyak tanpa sadar sudah menjadi faktor pencetus gaya hidup kami yang kurang sehat.


Baca Juga Tulisan Saya Sebelumnya :

Project Sehat dan Menua Bersama

Bagaimana bisa? Sebab bagi anak-anak jika kami ke minimarket/supermarket/swalayan = saatnya mereka jajan. Ada banyak jajanan snack ataupun makanan instan dalam kemasan di sana yang dijual. Tidak masalah sebenarnya mereka makan jajanan tersebut, yang jadi masalah jika mereka terlalu berlebih dalam mengkonsumsinya. Bagaimanapun, kita pasti tahu ada yang namanya pemanis buatan. Coba cek di beberapa kemasan makanan tersebut ada yang mencantumkan bahwa makanan tersebut tidak boleh di konsumsi untuk anak dibawah usia 5 tahun, ibu hamil dan ibu menyusui. Sayangnya beberapa produk yang mencantumkan label tersebut merupakan produk yang selama ini kami kira kids friendly.

Pernah sekali suami saya membeli suatu snack "mahal", yang ternyata di belakangnya terdapat label tersebut. Lalu kemudian di lain waktu kami juga membeli snack yang sama ternyata tidak ada label tersebut. Nah jadi mana yang benar? Aman apa nggak nih dikonsumsi anak-anak kami?

Belum lagi minuman dalam kemasan yang ternyata banyak sekali yang mengandung pemanis dalam jumlah berlebih, meski menurut lidah saya sebenarnya terasa "tidak terlalu manis".

Mengingat saat ini saya sedang berusaha mengubah pola hidup dengan diet ketofastosis, rasanya kok nggak adil banget kalau saya tidak memperhatikan kesehatan anak-anak dan suami. Jadi saya dan suami mengurangi "jajanan" anak-anak yang kami anggap kurang sehat. Mengurangi bukan berarti nggak boleh sama sekali ya! Boleh, tapi jangan banyak-banyak!

Seperti kemaren sore, sepulang dari main ke rumah teman, kami melewati sebuah minimarket langganan kami. Di situ si kakak langsung minta, "Mamammmmm ... beli jajan yuk di sini!!!"

Saya pun memberi pengertian bahwa belum saatnya kami beli jajan, karena kami sedang terburu-buru. Saya hanya menyarankan nanti saja jajannya sama yayah saja ya ... Hihi ... nggak sengaja modus ngales ini ...

Ternyata nih anak daya ingatnya kuat banget. Sepulang suami dari kantor, anak-anak langsung semburat nodong minta beli jajan. Lalu oleh suami diberi pengertian, kalau di kulkas masih ada buah, kenapa harus beli jajan?

Si kakak lagi-lagi menjawab dengan kalimat, "Lho yah, itu kan buah! Kakak maunya jajan. Buah itu bukan jajan!" Haha... mendengar jawaban tersebut saya ketawa, dan menyampaikan kepada suami, iya memang salah saya karena tadi sudah menjanjikan anak-anak beli jajan nunggu suami pulang.

Untungnya kali ini si kakak meskipun memaksa minta, kami bisa memberi pengertian bahwa, tidak semua apa yang kita minta harus diturutin hari itu juga!

Oke, jadi PR buat saya terutama untuk memberi pemahaman bahwa tidak baik jajan jajanan kemasan terlalu banyak. Boleh, tapi sesekali saja. Tidak membelikan bukan berarti tidak sayang.

Duh, nulis ini saya menyadari kesalahan pola asuh untuk diet anak-anak saya selama ini. Saya hanya membayangkan, sudah berapa lama sel pankreas anak-anak harus bekerja sangat keras memproduksi insulin untuk bisa memetabolisme gula yang terlalu tinggi masuk ke dalam tubuhnya. Apalagi dengan background orang tua kami yang memiliki riwayat diabetes, jadi untuk anak-anak, suami dan saya mau nggak mau harus mulai bisa mengatur pola makan kami agar tidak menjadi penyakit degeneratif di usia muda kami.

Selama ini tak dipungkiri jika kami sedang makan di luar "es teh" sudah menjadi minuman andalan kami. Selain manis, padahal teh mengandung kafein tinggi. Hal ini tentu tidak baik jika dikonsumsi berlebih oleh anak-anak, karena kafein bisa mengganggu penyerapan zat besi pada anak-anak. Oke fix, mulai sekarang kami harus bisa membiasakan diri untuk minum air mineral. Sayangnya tantangan terberat kami adalah, seringnya di beberapa resto harga air mineral sangat mahal dibanding minuman lainnya.

Ya sudahlah, nggak usah muluk-muluk mikirnya terlalu jauh. Pagi ini saya mencoba menyounding anak-anak untuk rutin minum air putih, dengan memberi target untuk awal kakak adik harus bisa menghabiskan 2-3 gelas air mineral @240 ml. Kurang banyak sebenarnya, tapi untuk start awal nggak ada salahnya dimulai. Untuk suami dan saya setidaknya harus bisa menghabiskan 2 Liter air per hari, dan mengurangi minuman manis. Untuk saya karena sedang menjalankan diet ketofastosis, otomatis nggak boleh ya minuman manis, bisa gagal nanti diet saya nanti, berujung gagal digendong suami dong ya. Hehe ... Sedang suami dan anak-anak nanti bisa perlahan dikurangi pelan-pelan dengan memberikan pengertian pentingnya hidup sehat agar bisa menua bersama.

Disclaimer : Tulisan ini merupakan salah satu PR yang diberikan di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional Level 3 tentang Family Project keluarga kami. Setiap keluarga nantinya akan memiliki project yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing.

#Day2
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#BelajarHidupSehat

No comments:

Post a Comment