Friday, August 18, 2017

Project Perbanyak Silaturrahim

Jika biasanya saya menceritakan project Sehat Menua Bersama, maka sembark tetap menjalani project tersebut, saya ingin cerita tentang project yang berbeda. Seperti yang saya tuliskan di FB saya berjudul "Time Run so Fast" yang menceritakan tentang perenungan saya terhadap kemajuan tehnologi yang begitu cepat, maka saya mulai memikirkan ide untuk project perbanyak silaturrahim bersama keluarga.


Time Run So Fast
(by. Pentul Markintul)

Lukkk??? 😐

Hari ini waktunya kunjungan ke rumah nenek, seperti biasa harus lewat tol. Lalu terpanah lihat sepanduk kuning itu ...

Jujur dalam hati saya termasuk yang kurang setuju dengan kebijakan tersebut, dengan alasan alat tukar kita kan mata uang rupiah, bukan kartu ...

Tapi terus mencoba berpikir positif, oh mungkin dengan penggunaan kartu bisa mengurangi kemacetan di tol yang akhir-akhir ini sedikit tidak masuk akal, ya setidaknya memangkas waktu yang sedikit lama karena petugas yang masih harus menghitung kembalian Rp. 50.000,- atau bahkan Rp. 100.000,- padahal bayar tolnya cuman Rp. 5.500,- Belum lagi nanti kepotong kalau ada emak-emak macam saya yang suka nanya, "Mas, tadi macet ada apa sih?" 😅

Lalu kalau pakai kartu, saya jadi inget ibu saya yang sukanya ketukar kartu tol dengan kartu gate kompleks perumahan 😂 Belum lagi tiba-tiba kartu gate nya ilang nggak sengaja kebuang, lah itu kalau kartu buat bayar tol ilang bisa nangis gerung-gerung 😅

Ah tapi kalau ibu saya, pasti jawabnya klasik, "Ya udah nanti nggak usah lewat tol daripada ribet!" Eh saya jadi inget restoran podotrisno yang ada di jalur surabaya-gresik yang suka jadi jujugan kami, saat saya masih kecil. Itu dulu resto termewah yang ada. Apa kabarnya ya, udah jarang lewat sana kecuali pas jaman naek angkot dulu 😂

Sepanjang saya nyetir, pikiran saya pun berkhayal menebak-nebak, ah mungkin nanti akan ada "mesinisasi" seperti di pintu masuk tol saat ambil kartu yang sebagian kartunya udah bisa nongol sendiri "crut" (eh kok crut sih😂).

The moral of the story :
Saya pun mulai menyadari, "Ah iya sekarang jaman udah makin canggih, jadi kalau nggak mau kegerus mau nggak mau kita harus bisa menyesuaikan. Karena apa? Saya pun tak tahu kelak jaman anak-anak saya remaja dan dewasa akan jadi secanggih apalagi tehnologinya."

Tapi ada terbersit kekhawatiran juga, dimana karena tehnologi yang semakin maju tersebut ternyata bisa mengurangi silaturrahmi kita di dunia nyata.

Kalau dulu akan ada salah satu mas ganteng yang menyapa saya atau ibu di salah satu gardu pintu tol dengan kalimat, "Pagi mbak/bu" atau "Malam mbak/bu" sekarang saya baru menyadari si mas itu sudah nggak pernah kelihatan. Lupa sejak kapan pastinya.

Kalau cuman nggak disapa di tol sih mungkin nggak sebarapa ya, tapi gimana dengan cerita lainnya, semisal :

kalau dulu kita akan mengundang, maka setidaknya kita "harus bertemu orang" untuk mengantar undangannya, sekarang tinggal "email" atau bahkan bisa sebar undangan via FB ← parahnya kadang kalau undangan yang lewat FB, ya udah yang datang juga cuman lewat FB ← ini kalau undangan kawin atau mantu bisa dibayangkan kalau yang datang lewat FB semua 😂

Belum lagi kalau ada yang sakit, sekarang lagi musim ucapan semoga lekas sembuh di FB atau whatsapp, nanti tau-tau kabarnya udah beda lagi, ujung-ujungnya cuman ucapan "belasungkawa" lewat FB 😱, kalau semua ngirim ucapan belasungkawa lewat FB terus sing ngubur sopo???

Lantas saya jadi ingat komentar nenek saya yang kalau komen suka bikin keki, katanya ya udah nanti minta kedukin tukang becak, terus beliau bakal jalan kaki sendiri terus duduk-duduk sendiri, mapan-mapan sendiri 😰

Terus ada yang nyahut geli, Lah nanti sopo sing bakal ngurug lemahe mak? 😂😅

Eh ini cerita tol kok malah ngelantur kemana-mana 😂

Oke jadi intinya mulai sekarang, mari belajar perbanyak silaturrahim dengan berusaha bisa memenuhi undangan kumpul-kumpul kalau memang tidak sedang sibuk 💪💪💪

Jadi dalam project ini saya sudah membayangkan tentunya suami saya nanti yang bakal jadi manager sekaligus humas keluarga. Iya bagaimanapun saya akui suami lebih luas pergaulannya. Kalau saya mah boro-boro. Dulu jaman kecil saya tuh anak rumahan, udah gede tetap aja hobinya ndekem di rumah 😂😂😂

Visi misinya sih :
🎈 Ingin mengajarkan anak-anak arti sosialisasi sesungguhnya.
🎈 Mengajarkan anak arti empati dan simpati.
🎈 Mengenalkan arti emosi perasaan → emosi tidak hanya marah, tetapi juga rasa senang, sedih, bahagia, kecewa, dsb.

Mengapa sosialisasi bisa mengenalkan emosi?
Karena saya beranggapan ketika kita terlalu sering berhadapan dengan "mesin" atau gadget kita akan kurang bisa merespon makna "emosi" yang sebenarnya, sehingga tidak menutup kemungkinan hati kita menjadi antipati. Sehingga dari bersosialiasasi kita belajar arti sebuah empati dan simpati "yang sebenarnya".

Tak perlu jauh-jauh mencari contoh, seringnya saat kita sedang berkumpul dengan teman-teman kita, ketimbang kita mengobrol untuk melepas "emosi" rasa kangen lebih sering kita sibuk dengan gadget kita masing-masing. Sehingga lama-lama kita pun akan merasa malas jika diajak kumpul-kumpul, karena ah paling-paling nanti sibuk sama gadgetnya masing-masing!

Adapun tugas saya dan anak-anak nantinya sebagai anggota, terutama saya yang sering mager (males gerak) kalau diajak keluar 😂😅.

Terus baru saja saya komitmen nanti harus mau gerak, tiba-tiba ibu mengabarkan besok ada undangan dari salah satu teman yang mau menikah. Lalu sayapun bingung, karena besok saya masih ada project mengosongkan rumah, yang entah akan memakan waktu berapa lama, dan sudah terlanjur janjian sama pick up 😥

Duh, jadi galau 😰

Disclaimer : Tulisan ini merupakan salah satu PR yang diberikan di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional Level 3 tentang Family Project keluarga kami. Setiap keluarga nantinya akan memiliki project yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing.

#Day9
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#ProjectSilaturrahim

No comments:

Post a Comment