Thursday, August 10, 2017

Project Sehat dan Menua Bersama

Siang kemaren, saya mencoba mengajak ngobrol suami tentang "Project Keluarga" apa yang kira-kira bisa kami lakukan bersama demi masa depan anak-anak kami. Sedikit bingung mencari ide, hingga akhirnya saya memilih project untuk sehat bersama.


Saat itu kebetulan saya sedang menuju ke dokter, dengan diantar suami dan anak-anak, lantaran haid saya sudah di hari ke 14 tak kunjung ada tanda-tanda akan berhenti.

Yap, seperti sebelum-sebelumnya sepertinya kali ini lagi-lagi hormon saya kacau.

Sehingga, untuk kali ini projectnya mau nggak mau, harus dimulai dari saya.

Kenapa harus saya? Karena kebetulan saat ini BB saya overweight, sehingga untuk sehat setidaknya saya harus menghilangkan beberapa kilo berat badan saya. Tentunya dengan cara yang sehat.

Kebetulan dari dulu memang, hormon kacau ini di saya selalu ada kaitannya dengan BB yang berlebih.

Beberapa kali saya mencoba dengan banyak metode diet, dan berakhir gagal lalu menyerah. Meski demikian ada banyak bayangan-bayangan yang membuat saya bangkit untuk terus berusaha mencoba lagi lagi dan lagi.

Salah satunya tentang harapan kami tentang masa depan anak-anak kami, dimana disana ada kami yang tidak bisa dipisahkan sebagai tokoh utamanya. Disadari atau tidak jika salah satu kami terganggu kesehatannya, maka akan cukup mempengaruhi kestabilan visi misi kami dalam mencapai goal tersebut.

Mungkin beberapa akan menganggap saya lebay, toh berkali-kali saya mendapat komentar, "Halah nggak apa-apa gemuk, yang penting sehat!"

Saya dengan latar belakang orang tua dan kakek dengan beberapa penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, jantung (ayah), cukup membuat ngeri jika harus membayangkannnya.

Yah, saya ingin sehat dan menua bersama suami agar bisa melihat tumbuh kembang anak cucu kami.

Untuk langkah awal kali ini, saya ingin mencoba mengubah pola hidup dengan menggunakan diet ketofastosis. Disini suami dan anak-anak menjadi pensupport penuh atas langkah yang saya ambil tersebut.

Seperti suami contohnya, dia berjanji jika diet saya mendapatkan hasil positif, setidaknya BB saya berada di bawah BB dia, maka dia akan memberi saya "hadiah". Hadiahnya apa? Hadiahnya katanya, dia mau gendong saya ala-ala di film-film korea atau india itu. Hehe...

Bagaimana dengan kakak adik? Bagi saya kakak adik juga ikut andil dalam hal ini, untuk selalu menjadi penyemangat saya agar bisa mengubah pola hidup menjadi sehat, karena kalau sampai saya sakit nggak bisa bayangin. Duh, jangan deh ya... Saya pernah sekali diare parah sampai rumah sakit saja, mereka harus ikut keleleran riwa-riwi rumah sakit.

Nantinya jika saya cocok dengan pola diet yang saya lakukan ini, tidak menutup kemungkinan suami juga akan ikut menjalaninya.

Adapun tugas masing-masing nantinya adalah :
💕 Saya sebagai "Manager" Kesehatan merangkap "Chef" di rumah yang akan selalu mengawasi dan mengatur menu apa saja yang akan dimakan oleh kami.
💕 Suami sebagai "penasehatan" kesehatan kami.
💕 Sementara anak-anak nanti jadi "Tim Penilai"

Untuk saat ini, diet "ketofastosis" saya sudah berjalan selama 6 hari. So far, suami dan anak-anak mendukung penuh "langkah sehat" yang saya ambil.

Oh iya, beberapa ada yang mengatakan, "Jangan-jangan haid saya nggak kunjung berhenti karena ketofastosis?"

Ehm, sepertinya nggak ada kaitannya, karena kebetulan saya sudah datang bulan sejak tanggal 26 Juli 2017, dengan riwayat sebelumnya sempat 3 bulan terlambat datang haid, lalu 5 hari flek, dan tanggal 26 juli kemaren flek saat pertama saya main hulahoop. Lalu semakin kesini semakin kenceng.

"Wah, jangan-jangan keguguran? Sayang banget dong!!!" Sempat ada pikiran dan obrolan seperti itu dengan suami. Tapi saya mencoba menepis kemungkinan-kemungkinan itu dengan memindset hal positif dari diri saya.

Jikapun flek dan haid kemaren ternyata keguguran, artinya memang belum waktunya saya mendapat amanah (hamil) tersebut, karena artinya "badan saya belum sepenuhnya sehat". Saya sendiri malah takut jika kondisi badan belum sehat, maka akan menyebabkan kondisi-kondisi kesehatan yang berdampak kurang baik selama kehamilan.

Namun untuk menepis tebakan-tebakan tersebut, kemaren pun saya sudah mencoba berkonsultasi dengan dokter. Alhamdulillah hasilnya baik, dinyatakan kemungkinan memang hormon saya yang lagi kurang baik.

Ehmmm ... Masuk akal sih, karena kan BB saya memang benar-benar melonjak drastis selama hamil dan melahirkan kakak adik. Jadi mau nggak mau, hormon kembali kacau lagi seperti waktu belum hamil dulu.

Oke, jadi tugas saya kali ini adalah, merefresh hormon saya agar kembali normal, dengan meminum obat dari dokter dan tetap menjaga pola makan saya mengikuti aturan ketofastosis yang berlaku.

Seperti apa pola diet ketofastosis yang saya jalani? Teman-teman boleh lihat di akun instagram saya @vety_fakhrudin

Oh iya, pernah sekali si kakak bertanya, "Mam, kenapa sih mamam diet? Kenapa mamam nggak makan nasi?"

Sementara saya hanya bisa jawab, "Karena mamam berat badannya sangat berlebih, dan mamam pengen sehat dan langsing." Hehe...

Lalu dia pun menggoda saya sembari mencolek-colek perut saya sembari cengengesan, "Ndut... Ndut... Ndut..." dan bertanya lagi sembari nunjuk perut saya, "Mam, ini kapan ada adeknya?"

Saya pun menjawab, "Lho belum kak. Nanti tunggu perut mamam agak kempesan ya, baru Insya Allah nanti bisa ada isinya adek bayi lagi perut mamam." 😂😂😂

#Day1
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#dietketo
#ketofastosis
#BelajarHidupSehat

1 comment: