Sunday, August 13, 2017

Tantangan Project Sehat Menua Bersama

Menjadi sehat agar bisa menua bersama menjadi mimpi kami bersama. Mengingat setelah lepas ASI berat badan saya semakin membengkak, maka saya berusaha untuk menurunkan berat badan demi suami terutama. Mungkin akan ada yang berpendapat, "Ngapain diet? Kan yang penting sehat! Ngapain takut gendut, kan harusnya kalau cinta, pasangan kita akan menerima kita apa adanya!" Sejauh ini suami tidak pernah sekalipun protes akan penampilan saya yang menggendut. Hanya memang sejak badan saya menggendut, badan sering terasa "linu-linu" sakit semua. Nah, disitu mau nggak mau saya sadar diri, beberapa kali suami juga meminta saya cek lab lengkap, kuatir kolesterol, asam urat, dsb. Oke, jadi akhirnya saya memilih diet ketofastosis (Untuk diet harian ketofastosis bisa langsung cek di Ig saya saja ya @vety_fakhrudin).

Salah Satu Kudapan Keto Saya. Ngeri-Ngeri Syedep Pas Ngabisinnya 😂


Bagaimanapun untuk diet ini termasuk dalam rangkaian project sehat menua bersama keluarga kami, sehingga kami harus menjadi tim yang kompak. Setidaknya harus saling tenggang rasa, dan saling mengingatkan. Saya sendiri sebelum memulai diet, meminta ijin terlebih dahulu, plus meminta dukungan penuh atas diet ketofastosis yang akan saya lakukan. Suami pun setuju.

Baca Juga :

Project Sehat dan Menua Bersama


Dengan adanya ijin diet dari suami tersebut, saya sangat terbantu ketika harus menghabiskan waktu weekend di rumah mertua bersama suami dan anak-anak kami. Seperti cerita kami minggu ini. Kebetulan, hari sabtu kemaren ibu mertua sedang mengadakan acara. Tentu banyak sekali makanan enak di mana-mana.

Oke itu bisa menjadi tantangan terberat saya. Lebih berat lagi ketika banyak yang menyarankan saya, "Udah, dietnya ditunda besok saja!"

Baca Juga :

Koreksi Project Sehat Menua Bersama


Secara singkat saya akan menjelaskan diet ketofastosis ini karena saya masih di fase induksi, jadi saya harus menghindari karbohidrat dan gula. Sayur dan buah juga belum boleh. Segala bentuk tepung juga belum boleh. Nah, karena saya sudah hari ke 9 menjalani diet ketofastosis, jadi saya berasa kayak baru putus sama karbohidrat dan gula. Gimana sih rasanya kalau orang baru putus? Mau nggak mau harus bisa move on, jangan sampai tergoda mau diajak balikan sama mantan (karbo dan gula). Haha...

Bersyukur, suami benar-benar mendukung diet saya. Seperti saat sang ibu berkali-kali menanyakan kepada saya, "Serius kamu nggak makan apa-apa?" Suami dengan tegas menjawab, "Udah jangan tawarin dia makanan apa-apa. Dia lebih tahu dirinya harus makan apa."

Baca Juga :

Perbanyak Air Putih, Kurangi Minuman Manis Berlebih #ProjectSehatMenuaBersama


Pun ketika pagi hari, sesaat sebelum semua masakan diolah menggunakan bumbu yang tentunya akan mengandung gula, suami langsung membantu saya menyisihkan beberapa lauk. Iya saya sengaja minta bantuan suami, biar kesannya saya nggak "Nggragas!" Ya kali karena gembrot saya dianggap nggak sabaran nunggu masakan masak, padahal saya cuma butuh makanan yang belum diberi bumbu. Haha...

Malam harinya, ketika saya kebingungan mencari menu makan malam, Alhamdulillah suami mencari inisiatif bongkar-bongkar kulkas dan menemukan harta karun untuk saya, yaitu jerohan ayam yang baru diberi garam dan ketumbar saja. 

Sehingga, alhamdulillah saya bisa melewati godaan mantan (karbo dan gula) yang begitu menantang dan menggoda iman... Hehe...

Oh iya saya lupa belum bilang terimakasih nih ke suami. Insya Allah nanti malam deh sambil usel-usel manja ... *eaaaaaaa ...

Kalau ada yang tanya, "Apa berat badan saya sudah turun?"

"Ehmmmmmm kasih tahu nggak ya ... " 😁

#Day4
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP
#BelajarHidupSehat
#Ketofastosisday9

No comments:

Post a Comment