Sunday, September 17, 2017

Game Level 4 Bunda Sayang IIP #day11

Hari ini, saya sengaja mengajak kakak adik untuk bersilaturrahim dengan beberapa teman di komunitas Aku Ingin Hamil. Selama itu juga saya mencoba mempelajari gaya kakak adik untuk bisa bersosialisasi dengan teman-temannya.




Saya perhatikan si kakak cenderung lebih gampang membaur memang. Sebaliknya si adik butuh sedikit waktu.

Lalu yang saya perhatikan si adik memang lebih cenderung cuek dengan teman-temannya, dia lebih asyik mengeksplore mainan perosotannya sendiri. Bahkan beberapa kali dia lebih sering kembali ke tempat saya duduk menunggu mereka bermain.

Oh iya ada cerita menarik, di akhir-akhir keseruan mereka bermain, saya merasa sedikit terganggu dengan salah satu pengunjung yang menurut saya membuat anak-anak menjadi kurang bisa mengeksplore dirinya.

Jadi kalau boleh sedikit curcol. Saya dulu memang tipe yang kuatir jika anak-anak manjat-manjat, tapi kemudian suami menegur saya. Menurut suami biarkan mereka mengeksplorasi kreativitas mereka. Jangan dikit-dikit melarang, nanti malah jadi bikin mereka jadi penakut. Yang jadi kesepakatan kami, yang penting kami mengawasi, dan menggunakan feeling tahu kapan eksplorasi mereka berbahaya kapan aman.

Ketika bahaya maka saya harus menyetopnya, jika tidak ya udah biarin.

Nah, tadi kebetulan saya lihat si adik ingin mencoba berjalan di atas perosotan yang menurut saya landai, jadi masih aman. Toh si adik saya lihat sudah menjaga keseimbangan dengan benar. Lalu saya lihat, adik sudah tahu nggak mungkin loncat ke kiri atau ke kanan.

Lah, ujug-ujug ada bapak-bapak datang, terus adik dipegangin dan disuruh duduk. Lebih tepatnya dipaksa duduk.

Lalu si adik jelas kecewa dan melihat saya, seakan-akan dia bertanya, "Mamam kenapa aku nggak boleh?"

Saya pun mengatakan kepada si bapak, "Pak biarkan anak saya, saya perhatikan kok dari sini."

Eh bapaknya langsung bilang, "Ya nggak gitu buk kalau jatuh gimana!"

Ya saya langsung diem sih mbatin, "Oalahhh pak kalau apa-apa anak dilarang gimana dia bisa ngembangin kreativitasnya. Toh saya sudah merhatiin dari sini."

Mau ngomong gitu males debat lah saya.

Lalu giliran anak sahabat saya, juga berdiri-berdiri gitu. Sama ibunya sih dibiarin dan dilihat. Saya tahu dia pun menganggap anaknya aman. Jadi ya sudah. Toh nggak mengganggu anak orang lain.

Lah kok, giliran ada ibu-ibu yang ujug-ujug datang terus nyuruh anak sahabat saya duduk, dan ternyata si ibu itu istrinya si bapak tadi.

Pun begitu dengan dua anak si bapak ibu tadi yang kemungkinan sudah usia SD ya, ketika anak sahabat saya mencoba berdiri lagi, mereka tereak-tereak manggil bapak ibunya.

Oalahhh ... Ya sudah sih, akhirnya saya ajak anak-anak saya balik.

Di satu sisi ya sudahlah saya juga nggak bisa maksa si bapak ibu tadi memahami konsep kami dalam mengajarkan suatu keberanian dirinya sendiri.

Saya hanya membayangkan, oh mungkin mereka memang niat baik, karena memang kuatir. Hanya kalau seperti suami saya dulu selalu menasehati saya, kekuatiran yang berlebih itu nggak baik.

Saya akui saya dulu tipe yang mudah parno, gampang panik, setelah diperhatikan suami ya katanya karena bisa jadi pola asuh ibu saya yang suka menakut-nakuti saya atau melarang ini itu tanpa alasan yang jelas.

Dengan alasan itu, suami dan saya memiliki konsep untuk membiarkan anak-anak berani bereksplorasi, selama kami pastikan semua aman dan tidak mengganggu orang lain.

#tantangan10hari
#level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
#day11
#BelajarLebihBaik

No comments:

Post a Comment