Friday, September 29, 2017

Mensana Incorpore Sano

Mensana Incorpore Sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Saya pun setuju dengan ungkapan tersebut. Setelah selama 17 hari saya memperhatikan gaya belajar kakak adik, kebetulan beberapa minggu ini si kakak adik sakit estafet.

Di Dalam Jiwa Yang Sehat ada Tubuh Yang Kuat (Ilustrasi)
Awalnya semula terjadi tanpa aba-aba, tiba-tiba saja kakak adik muntah bergantian di dalam mobil. Entah apa penyebabnya, saya hanya menebak mereka salah makan.

Sehingga ketika suami pulang, saya mengajaknya untuk mengantar ke dokter. Dengan berbekal banyak obat, saya pun berharap kakak adik akan cepat sembuh.

Sayangnya ketika saya ke rumah mertua, beberapa kali saya agak baper ketika beliau berkata, "anak kok dikasih obat terus."

Dalam batin saya hanya bisa berkata, "Lho, anak sakit, kan lumrahnya memang diobati. Lah kalau nggak pakai obat pakai apa? Apa mau pakai racun?!"

Tapi ya sudahlah saya nggak usah berdebat, toh bisa jadi sayanya saja yang lagi lelah melihat anak-anak sakit, jadi bawaannya gampang baper.

Bersyukur kakak adik tidak perlu mengalami panas terlalu lama. Saya pun mengira everything is gonna be okay.

Lalu tiba-tiba tanpa sengaja saya mendengar obrolan si gadis sulung dengan yayahnya, "Yah, yayah nggak usah balik kerja dong!"

Saya mendengarnya cuman senyum geli saja, sambil mbatin duh nih anak Subhanallah kalau disuruh ngomong emang pinter.

Tapi, meski demikian mau nggak mau memang suami harus balik kerja, sehingga meski berat kami memang tak seberapa menghiraukan kemauan kakak agar suami tidak kembali kerja.

Saya kira semua beres. Hingga suatu ketika saat kami melakukan video call si kakak melengos nggak mau ngomong sama yayahnya. Duh, ngapain juga nih anak ...

Oh ya beberapa hari itu pula kakak terlihat lesu, pucat, dan tidak selera makan. Sering muntah saat makan.

Duh, apa yang salah?

Saya mencoba memperhatikan dan mengingat-ingat semuanya.

Ada beberapa hal yang sebenarnya bikin saya baper. Beberapa kali saya lihat si kakak bermain play dough sendiri mojok di ruang makan ibu saya. Kebetulan memang saya melarangnya bermain play dough, lantaran membuat ibu saya sering uring-uringan karena membuat seisi rumah kotor berantakan. Beberapa kali sempat saya perhatikan si kakak mojok sendiri utak atik main play dough yang ada di pojok ruang makan sebentar, lalu dikembalikan lagi. *Duh kan saya baper lagi ...

Tapi ya sudah sih, saya berusaha untuk diam sembari memperhatikan si kakak ini, karena saya sendiri juga bingung harus gimana. Hehe ... Niat hati pengennya main suka-suka sama kakak adik, tapi disisi lain saya belajar untuk bisa memposisikan diri, bahwa saya nggak bisa seenaknya di rumah ibu.

Saya pun mencoba merenungi lagi, apa yang terlewat dari perhatian saya akhir-akhir ini, kebetulan memang selama 17 hari dalam bulan ini saya juga mendapat tugas dari IIP untuk mempelajari gaya belajar kakak adik, jadi sedikit banyak hal tersebut cuku membantu saya dalam mereview diri saya juga terhadap anak-anak.

Lalu saya mencoba menghubung-hubungkan setiap aktivitas yang kami lakukan bersama. Seperti ketika si kakak adik tiba-tiba muntah-muntah saat menjelang yayahnya pulang, lalu saya ingat kakak request agar yayahnya nggak usah balik kerja, sampai episode saya yang suka ngomel, dan kakak yang mulai terlihat sering uring-uringan hingga lemas nggak punya semangat, seperti sedang sakit.

Sehingga saya mencoba mengajak bicara kakak dari hati ke hati, sebelum tidur. Saya tanyakan apa yang sedang dia rasakan? Kenapa kelihatan lemas? Apa kakak kangen yayah? Apa yang nggak nyaman dengan kakak? Gimana biar kakak ceria?

Dan terjawablah dari mulut mungilnya, bahwa dia nggak suka dengan nenek yang suka marah-marah. Hal ini akhirnya sempat saya sampaikan, nenek sebenarnya nggak percaya dan sempat bertanya, galak mana nenek sama mamam? Jawabannya ternyata, galak nenek. Hehe ... *Eh ini bukan pembelaan lho ya ... Hihi ... Oke lupakan tentang galak-galakan karena bahkan kami sedang belajar menjadi lebih baik.

Jawaban lainnya, kakak memang bercerita kalau dia rindu berat dengan yayahnya. Oalaaaaaahhh ... Lalu saya coba korek-korek info lagi, jadi ternyata dia memang kayaknya nggak mau ngobrol sama yayahnya di video call karena malu takut ketahuan kalau nangis karena kangen. Hihi ...

Setelah itu saya sounding, oke kakak berarti harus sehat ya, besok kita satu kali lagi cek ke dokter, Insya Allah kalau kakak sehat, 10 hari lagi (terhitung dari waktu saya ajak ngobrol) kita akan nyusul ke tempat yayah. Siapa sangka si anak auditory ini mendapat sounding seperti itu, besoknya langsung sehat, sumringah. Makan lahap, nggak muntah-muntah. Allahu Akbar ...

Emaknya ke mana saja sih selama ini nggak paham kenapa anaknya sakit sampai muntah-muntah ...

Nah, terus bagaimana si adik? Eh si adik ternyata juga kangen ... Bedanya dia lebih ekspresif sekali menunjukkan rasa kangennya. Terlihat ketika yayahnya menutup video call karena masih di jalan, si adik langsung nangis gower-gower nggak karuan, teriak-teriak ... Hehe ...

Sabar ya nak, sebentar lagi insya Allah kita ke tempat yayah, kumpul lagi, usel-uselan lagi ... 😍

video

Jadi apa sih yang istimewa dari cerita saya tadi, di mana saya belajar banyak hal dari yang sepele sekedar memperhatikan gaya anak-anak belajar, setidaknya saya mulai mempelajari cara menyelesaikan satu problem, yang mungkin nggak ada jawabannya di manapun. Sakit karena kangen, dan obatnya adalah sounding hal positif. Hehe ...

Saya juga jadi belajar makna tentang di dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat, di mana tubuh dan jiwa ini saling erat kaitannya. Semoga kami bisa segera berkumpul lagi, agar jiwa kami menjadi sehat dan tubuh menjadi berseri kembali. Sehingga apa yang menjadi visi misi keluarga kami bisa terus kami lanjutkan.

1 comment:

  1. Udah lama banget saya gak mendengar istilah Men Sana in corpore Sano :)

    ReplyDelete