Thursday, September 7, 2017

Tantangan Game Bunda Sayang Level 4 #day1

Hari ini sebenarnya seperti biasa, saya mendapat tantangan dari institut ibu profesional kelas bunda sayang level 4, tentang mengamati cara anak belajar. Namun, karena kondisi yang memang tidak efektif, sedikit banyak proses tersebut tidak bisa berjalan sebagai mana mestinya.



Sebagai contoh, beberapa waktu lalu, memang kami sekeluarga sepakat mengosongkan rumah sementara, sembari menunggu tukang melakukan renovasi dan menunggu keputusan suami dipindah tugaskan. Sehingga sementara kami menumpang di rumah ibu, yang notabene pasti punya kebijakan rumah sendiri.

Anak-anak saya yang aktifnya sungguh luar biasa, akhirnya cukup bisa membuat ibu saya emosi jiwa raga. Ujung-ujungnya saya yang kena omel bolak balik. Jadi agar saya tidak kena omel, saya berusaha sebisa mungkin agar anak-anak tidak mengotori rumah dengan mainan, karena setiap selesai mainan ada saja alasan ketika saya memintanya membereskan. Salah satunya, "Mam, aku masih mau mainan ini lho!!!" Padahal ya mainannya, nggak lama ditinggal.

Belum lagi adik, yang kadang suka usil kalau dipanggil malah nyengenges pasang tampang imut nggak berdosa.

Hingga beberapa waktu lalu, si kakak dengan mata berkaca-kaca menyampaikan kepada saya bahwa dia rindu dengan rumah lama.

Duh, saya jadi ikut baper. Saya menyadari, mungkin mereka rindu dengan rumah lama, karena saat di rumah lama mereka bebas bermain. Tak sampai di situ kualitas bertemu yayahnya pun sangat berbeda dengan ketika tinggal menumpang di rumah ibu.

Apa yang membedakan?
Sederhana saja, ketika di rumah lama, suami dipastikan setiap hari pulang, sekalipun pulang malam. Sedangkan saat di rumah ibu, mau tak mau jika pulang terlalu larut maka suami akan memutuskan tidak pulang ke rumah ibu yang berbeda kota, demi menghemat tenaganya untuk bekerja keesokan harinya.

Nah, setelah episode-episode tersebut saya sharing dan memutuskan untuk bernostalgia tinggal sejenak di rumah kami yang lama, sebelum nantinya kami sekeluarga akan pindah semua.

Alih-alih nostalgia, lah saya malah baper sendiri 😂😅

Saya jadi merenung entah sudah berapa tahun saya menempati rumah ini. Semua aktivitas yang dulunya saya anggap membosankan ternyata sangat saya rindukan kembali.

Mulai dari memutuskan resign demi mendapat buah hati, dan mencoba usaha merajut, lalu berhenti di tengah jalan lantaran Alhamdulillah saya diberi rejeki kehamilan pertama.

Kemudian setelah melahirkan, menyusul hamil anak ke dua. Selama itu juga banyak proses yang kami lewati di dalam rumah ini.

Mulai pagi kami harus gedabrukan mempersiapkan anak-anak. Iya kami, bukan saya saja, karena bisa dibilang saat itu mungkin saya mengalami baby blues. Ada keparnoan-keparnoan yang tidak masuk akal di benak saya, jika saya tidak menyelesaikan pekerjaan saya sebelum suami berangkat kerja, nanti kalau anak-anak rewel estafet gimana dong? Kalau satu laper, satu nangis minta nenen gimana dong? Dsb.

Hingga akhirnya mereka tumbuh menjadi balita yang lebih memahami instruksi. Hidup saya sedikit santai. Ketika suami berangkat kerja, okelah tak apa, nanti kalau mereka rewel pasti bisa dikondisikan.

Pagi saya santai mengarahkan mereka mandi, lalu makan pagi, dilanjut aktivitas bersama saya sampai dzuhur. Kemudian setelah saya shalat dzuhur, saya akan mengajak mereka makan siang. Lalu istirahat.

Sebelum ashar saya usahakan mereka sudah bangun, lalu saya mengajak mereka mandi. Kemudian setelah mereka sudah segar, saya biasanya memutarkan mereka film anak-anak, dan saya mandi.

Setelah selesai mandi biasanya mereka memilih salah satu main dulu, atau maem sore dulu.

Jam 5 biasanya semua aktivitas sudah selesai. Saya pun mengajak mereka limpang limpung di kasur sembari lihat TV dan menunggu suami pulang kerja.

Hampir setiap hari saya melakukan aktivitas yang sama, yang ternyata beberapa kali membuat saya jenuh, karena berasa seperti "robot" yang sudah terjadwal.

Tapi kini saya sadar dari aktivitas saya yang seperti robot itu justru saya bisa menumbuhkan balita yang aktif, kreatif, dan imaginatif.

Sebutlah anak pertama saya, yang ternyata saya perhatikan, dia punya kemampuan olah kata yang kadang di luar nalar kami. Jika dia sedang sulit menemukan kosakata yang pas maka dia akan mencari cara agar kami bisa memahaminya.

Jika menurut orang sekitar kami, si kakak cerewet. Tapi menurut kami jika diarahkan dengan tepat maka dia akan bisa menjadikannya suatu hal yang positif.

Kakak juga selalu bertanya apa saja yang membuat dia penasaran. Jika kami tidak bisa menjawab jangan coba-coba menjawab ngawur tanpa logika, karena jawaban tersebut akan diingatnya sampai kapanpun. Yap, si kakak memiliki daya ingat yang kuat akan setiap kejadian.

Bagaimana si adik?
Jujur untuk si adik kami masih menerka-nerka. Adanya kendala kondisi tidak nyaman yang membuat kami sementara tidak bisa bereksplorasi lebih jauh, membuat kami harus bersabar.

Satu hal yang saya tahu, adik memiliki pendirian yang sangat kuat. Sehingga hal ini harus bisa kami arahkan ke arah yang lebih positif.

Sisanya sementara tugas saya mengkondisikan agar pencapaian positif yang sudah kami dapatkan sejauh ini tidak malah mengalami kemunduran.

Dengan alasan ini juga suami dan saya sepakat, sesekali mengajak kami refreshing di luar bersama. Hehe ...

#tantangan10hari
#level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
#day1
#BelajarLebihBaik

No comments:

Post a Comment