Friday, October 20, 2017

Benarkah Balikpapan Kota Termahal?

Beberapa waktu sebelum menginjakkan kaki di kota Balikpapan, banyak saudara dan kerabat yang mengatakan jika balikpapan itu kota termahal di Indonesia. Saya pun sempat merasa was-was mendengar cerita tersebut, sehingga sempat khilaf belanja ini itu di Jawa untuk saya bawa ke Balikpapan. Suami sampai sempat komplain, "Duh, mau bawa apa lagi sih?" Maklum suami termasuk tipe yang simpel nggak mau ribet, kalau saya tipe yang nggak apa-apa ribet di awal, yang penting nantinya enak bisa santai-santai. Saat pertama kali menginjakkan kaki di kota Balikpapan, mata saya langsung takjub dengan bandaranya yang kece habis. Bersih, modern dan nyaman. Di mana mata saya lebih takjub saat melihat ada Matahari dept. store. Wahhh ... sudah ada matahari. Saya jadi ingat salah satu status FB teman saya yang selalu bilang "Balikpapan bukan hutan kali!"
Salah Satu Sudut Pemandangan di Balikpapan
Saya pun setuju dengan hal tersebut, karena ketika kami menuju ke hotel saya melihat ada mall besar di Balikpapan. HnM begitu salah satu brand pakaian yang pernah saya dengar dari salah satu sahabat saya yang benar-benar fashionable. Agak takjub saya melihatnya, karena bahkan di Surabaya itu brand H&M baru ada sesaat setelah saya mau pindah ke Balikpapan. Jadi saya malah semacam orang ndesoh yang menginjakkan kaki di kota besar.

Salah Satu Mall di Balikpapan
Batin saya pun cekikikan, "Sebentar toh, ini sebenarnya yang kota besar yang mana? Surabaya apa Balikpapan?" Haha ... Saya pun mbatin pokoknya besok-besok harus nyempatin mampir ke mall itu, saya penasaran banget sama pakaian brand itu, yang kata sahabat saya bagus banget.

Setelah itu kami sempat berputar-putar sebentar, dan makan malam. Kami pun memesan beraneka macam menu, kebetulan kami juga mengajak driver yang menjemput kami di bandara dan akan mengantar ke hotel. Batin saya sih udah perkiraan, bakal habis lima ratus ribu nih. Ternyata prediksi saya meleset, karena total yang harus dibayar di bon hanya berkisar tiga ratus dua puluh ribu. Harga yang lumrah dengan menu yang bejibun tadi, ada kepiting, cumi, udang dua porsi, juga minumannya. Tapi jujur saya agak takjub melihat daftar satu potong ayam seharga dua puluh lima ribu rupiah. Haha ... Maklum di Surabaya harga ayam di pinggir jalan paling sekitar sepuluh ribuan.

Kenyang makan, kami pun segera menuju ke hotel. Di sini lagi-lagi saya sebenarnya malah agak ragu jika mau mengatakan Balikpapan kota termahal, karena bahkan rate hotel di Balikpapan sekelas bintang tiga itu nggak lebih mahal dari Surabaya.

Contoh saja Hotel NEO+, yang terletak di Mayjen Sutoyo, rate yang ditawarkan di salah satu aplikasi booking hotel travel*** (Oktober 2017) mencantumkan harga Rp. 285.923,- untuk superior room tanpa sarapan. Kalau mau pakai sarapan, ratenya ada di Rp. 337.348,-.


Dengan rate tersebut, bisa dibilang hotel NEO+ Balikpapan ini termasuk hotel yang smart choice untuk hotel bintang tiga yang memilki bangunan dan design modern (baru).

Kami juga menyempatkan membeli air mineral merk aqu* 1500 ml di salah satu toko pinggir jalan, yang dibandrol dengan harga Rp.6.000,-

Oke jadi sebenarnya mahal nggak sih?
Rasanya masih kurang bisa menyimpulkan apa Balikpapan termasuk kota termahal atau sebenarnya sama saja dengan Surabaya?

Beberapa hari kami menginap di hotel, stok minuman kamipun mulai menipis, sehingga terutama saya yang memang sedang menjalani diet ketofastosis mau nggak mau harus segera menyetok amunisi saya.

Saya pun mencoba memesan telur asin dari salah satu langganan teman saya, dengan sistem delivery. Harga telur asin matang dibandrol seharga Rp.10.000,-/pack. Satu packnya isi 3 telur asin. Ongkos kirimnya cuma Rp.10.000,-

Makanan Saya Selama di Hotel
Selain itu saya juga menyempatkan menginjakkan kaki di salah satu mall di Balikpapan. Di sana sembari mencari stok makanan, saya juga menyempatkan melihat-lihat barang-barang elektronik, dimana saya menyimpulkan harganya pun masih standart seperti di Surabaya. Bahkan bisa dibilang saya girang saat mendapatkan hairdryer seharga Rp.89.000,-. Lumayan banget kan bisa buat ngeringin baju di hotel. Haha ...

Untuk harga keju pun hampir sama dengan di Surabaya.

Oh iya, saya menyempatkan mampir ke outletnya H&M. Feeling saya awalnya mengatakan ini pasti brand baju mahal nih. Ternyata saya salah, karena di sana lagi ada sale besar-besaran, jadinya saya malah dapat kaos cowok dan celana pendek masing-masing seharga Rp.50.000,-. Wah lumayan nih bisa buat gelosoran di kamar hotel. Saya jadi ingat nasehat sahabat saya dulu, "Masak jauh-jauh ke hotel kok  bajuan daster." Hihi ...

Jadi sebenarnya Balikpapan itu kota termahal bukan sih?
Kalau menurut saya itu tergantung bagaimana kita melihatnya.

Sahabat saya bilang iya kota mahal, karena di Balikpapan belum ada yang jual baju grosiran seperti PGS/Pasar Turi di Surabaya. Iya sih harga di PGS/Pasar Turi Surabaya memang murah banget dibanding harga di mall-mall Surabaya.

Berbeda versi dengan yang disampaikan oleh Suami saya, di Balikpapan itu yang mahal makanannya. Mahal kalau kita maemnnya ayam-ayaman atau lele-lelean. Tapi coba kita maemnya ikan laut, di sini tuh murah banget dibanding di Surabaya.

Iya juga sih, seperti harga ayam yang dibelikan oleh suami tempo hari, konon katanya harganya Rp.20.000,- per potong. Kalau sahabat saya tanya, seukuran apa itu ayamnya? Ya seukuran pada umumnya sih menurut saya.

Segini Kira-Kira Ukuran Ayamnya
Plus 1 Potong Tahu dan Tempe
Semalam saya juga sempat ingin memesan ikan lele yang dibandrol harga Rp.25.000,- sayangnya pas lagi kosong lelenya. Hehe ...

So far saya belum berani makan udang-udangan atau kepiting-kepitingan terlalu banyak, karena ingat asam urat yang masih tinggi. Ngeri sih 😂😅

Ntar deh ya pas pulang ke Jawa dipuas-puasin makan lele sama ayamnya. Haha ...

No comments:

Post a Comment