Tuesday, October 31, 2017

Diet Ketofastosisku #Day88

Sebagian teman-teman ada yang sudah tahu kalau saya menjalani diet ketofastosis. Kalau dihitung-hitung sudah hampir 3 bulanan ya, ini ketika saya nulis ternyata sudah menginjak hari ke 88. Saya sendiri karena banyak kesibukan jadinya malah lupa nggak pernah share pengalaman harian diet ketofastosis. Mungkin beberapa mengira saya sudah nyerah di tengah jalan. Hehe ... Nggak kok, saya masih bertahan menjalani pola diet ketofastosis ini. Ada banyak alasan kenapa saya masih bertahan. Nanti ya saya mau cerita satu persatu.
Jajanan Ala-Ala Keto



Sebelum saya cerita saya mau sedikit berbagi, konon banyak senior ketofastosis yang tidak setuju menyebut ketofastosis ini sebagai "diet". Alasannya kalau diet itu cuma sementara. Padahal ketofastosis ini harusnya dilakukan selamanya karena terkait dengan pola hidup kita. Saya pribadi tetap menyebutnya diet, karena saya sendiri memiliki sudut pemahaman bahwa diet itu ya artinya pola hidup kita. Kalau kata sahabat saya Reggie founder dari grup Mari Kita Diet, Diet itu nggak sekedar menurunkan berat badan saja. Saya setuju, karena sepemahaman saya diet itu artinya bagaimana kita mengatur pola hidup agar lebih sehat. Hehe ...

Nah selama 88 hari menjalani diet ketofastosis ini apa yang saya dapatkan sih?

Yang pertama jelasnya berat badan saya memang terlihat banyak turun. Mungkin sebagian akan menganggap, "Lho berarti niatnya ikut ketofastosis buat cuman langsing saja ya?"
Hehe ... saya maklum sih sering dapat nyinyiran kayak gitu, karena nggak dipungkirin diet ini bagi sebagian orang akan menganggap jalan instan untuk langsing. Faktanya kalau mau mempelajari lebih dalam ada banyak hal yang bisa dianggap berbahaya ketika kita tidak benar-benar mengikuti juklaknya. Nah ini yang bikin saya nggak berani main-main. Hehe ...

Saya ingat sebelum mulai diet ketofastosis ini, teman ibu saya berpesan, "Mbak serius mau mulai? Kalau iya, makan dulu saja deh semua makanan yang dipengenin mbak. Karena nantinya mbak harus relain semua lho!"

Tapi satu hal yang membuat saya malah tetap lempeng maju nggak mau nunda-nunda adalah karena saya mikirnya, mau nunggu sampai kapan? BB sudah 108 kg, kalau saya tunda-tunda keburu BB makin melejit nanti malah makin sulit nuruninnya.

Nah kan alasannya BB toh?! Wait ya, bacanya jangan setengah-setengah.
Saya sendiri dulu jaman SMA atau kuliah gitu pernah overweight, nah itu sempat didiagnosa kena perlemakan hati, alias hatinya kebungkus lemak. Dokter sudah wanti-wanti saya disuruh buru-buru diet, karena semakin lama lemak saya kebungkus hati, maka dikuatirkan hati saya jadi nggak sehat perlahan. Waktu itu yang saya takutkan perlemakan hati bisa menyebabkan sirosis hepatik

Alasan lainnya, saya pernah didiagnosa dokter insulin resistance syndrome yang menyebabkan saya sulit hamil. Nah kalau saya hubungkan dengan riwayat ibu yang punya diabetes, ini yang bikin saya ngeri. Berarti dengan kondisi BB yang overweight insulin saya jadi kacau, kalau dibiarkan makin lama kacau kan bakal bisa bikin semakin cepat disapa sama diabetes. Ih amit-amit deh ya naudzubillahimindzalik.

Jadi meski niat awalnya pengen nurunin BB, tapi ada sejuta alasan kenapa saya pengen langsing tak lain tak bukan soalnya pengen sehat demi suami, juga anak-anak. Pernah saya merenung kalau suatu waktu saya tiba-tiba saya sakit karena nggak mau jaga pola makan saya, terus ada apa-apanya sama saya, gimana nasib anak-anak saya ... *langsung melow sendiri saya. Oke jadi ya sudah mau nggak mau saya harus berusaha mengubah pola hidup saya menjadi lebih sehat.

Oh iya untuk ketofastosis ini mungkin sebagian orang akan aneh melihatnya, kok bisa sih makan lemak tapi BB malah makin turun?
Aneh memang, tapi saya mencoba mencerna dan memahami apa yang terjadi dalam tubuh saya. So far kalau ada orang awam tanya, saya akan menjawab dengan jawaban paling simpel, "Iya karena kan saat ketofastosis tubuh kita sebisa mungkin ditekan untuk tidak menerima asupan gula dan karbohidrat, nah lemak inilah yang menggantikan posisi mereka untuk dipecah menjadi energi."

Sebenarnya dari alasan itu saya sedang berpikir, "Mungkin ada benarnya ya diet ketofastosis ini akan berbahaya kalau dilakukan tanpa pendamping."

Kenapa?

Karena saya menganggap, jika kita jalanin ketofastosisnya setengah-setengah maka jadinya akan nggak karu-karuan. Anggaplah ketika masih ada asupan gula atau karbohidrat, maka bisa jadi tubuh kita tidak akan memecah lemak yang masuk, melainkan memecah gula atau karbohidrat tadi. Sehingga bisa bikin si lemak numpuk. Apa imbasnya? Ya mungkin bisa jadi kolesterol, asam urat, de el el.

Saya sendiri di awal menjalani diet ketofastosis ini asam urat sempat berada di angka 12. Agak shock dan semua heboh, 12 kok masih bisa jalan!

Saya juga nggak tahu, tapi ketika saya tanya ke salah satu mentor saya, malah dijawab, "Ah masih 12 ini, saya dulu 13 lho mbak. Buktinya ketika saya taat juklak asam urat saya turun-turun sendiri. Sekarang udah normal lho mbak!"

Ihhh kerennnnn ... Iya sih beliau boleh cuek, lha saya? Saya kan jadi banyak mikir, karena saya tahu asam urat itu kalau dibiarkan numpuk bisa kejar-kejaran sama gagal ginjal. Iya kan setahu saya asam urat itu kalau dibiarkan bisa numpuk di ginjal yang nantinya bisa bikin gagal ginjal.

Jadi untuk yang satu ini, saya ingat kuliah saya waktu di farmasi dulu, kalau asam urat itu penyebabnya inti purin, yang salah satunya banyak terkandung di daging. Jadi saya mencoba mengurangi asupan daging sapi.

Lho lah terus makan apa? Saya makannya ya paling muter-muter di ayam, sama ikan-ikanan.

Hal lainnya saya mencoba memperbanyak asupan air putih, tujuannya biar si asam urat ini bisa larut dan terbuang bersama urin.

Sempat naik turun sih, awalnya 12 sempat turun di angka 7 tapi kemudian sempat naik lagi di angka 9, dan beberapa waktu lalu ketika saya coba cek lagi Alhamdulillah udah di angka 7. Semoga bukan alatnya yang rusak.

Berbeda dengan asam urat, Gula Darah Puasa saya sendiri masih menginjak di angka 87. Padahal saya sudah berharap agar GDP saya bisa di bawah 80, iya biar bisa masuk fase konsolidasi. Nanti kalau sudah masuk fase konsolidasi saya kan bisa makan sayur. Hehe ...

Untuk kolesterol gimana? So far kolesterol saya masih tinggi. Hehe ... Saya sendiri masih mencoba mengatur pola makan saya. So far saya tetap rutin VCO, karena sepanjang yang saya tahu VCO itu lemak baik. Dengan masuknya lemak baik dalam tubuh, saya berharap lemak baik tersebut akan mendorong keluar para lemak jahat yang ada dalam tubuh, sehingga sang lemak baik bisa menggantikan posisi lemak buruk yang selama ini sudah berkuasa dalam tubuh. Hehe ...

Oh iya bagaimana dengan mual muntah saya yang dulu sempat saya rasakan hampir 1 bulan lebih? So far sekarang aman. Saya malah lupa pernah mual-mual nggak karuan. Hehe ...

Terus Bb gimana? Ah Bb saya masih santai-santai saja sih, start dari angka 108, beberapa hari ini udah di angka 92 kg. Hehe ... Lumayan kan daripada lumanyun 😂

Yang penasaran banget sama diet ketofastosis yang saya jalanin. Sesekali bisa intip di ig saya : @vety_fakhrudin

Insya Allah next saya mau berbagi pengalaman jalanin diet keto pas sementara tinggal di penginapan pas di balikpapan selama kurang lebih 2 minggu 💪😁

Banyak yang komen, dietnya berhenti ya? Lho makannya apa?

Sabar ya ... Pelan-pelan nanti saya cerita lagi 🙏

No comments:

Post a Comment