Tuesday, November 28, 2017

Cara Memaafkan Trauma Inner child

Inner child, merupakan jiwa anak-anak yang masih ada dalam diri kita yang sedikit banyak dipengaruhi oleh lingkungan (pola asuh sekitar) kita ketika bertumbuh. Ternyata diakui atau tidak hal ini berpengaruh pada kehidupan kita, termasuk kehidupan dengan pasangan kita, dan pola asuh untuk anak-anak kita.


Saya sendiri dulunya tidak paham ada istilah inner child ini. Tahunya ya saya kira saya baby blues, sampai hampir gila. Cuma waktu itu saya mikirnya, "Nggak keren banget sih ah kalau gila." Jadi ya saya nggak mau terbawa hati untuk membiarkan saya terpuruk gila. *Gila di sini yang saya maksud dalam artian nekad melakukan suatu hal di luar nalar ya.

Berkali-kali saya dihadapkan pada kondisi yang menyakitkan. Seringnya ketika ibu menasehati dengan caranya yang menurut saya justru membuat hati saya sangat kesal.

Nggak sekali dua kali, bahkan sering sekali. Nah hal ini ternyata bikin episode-episode yang bikin saya sakit hati waktu kecil muncul lagi.

Gimana sih ya, akhirnya kalau semua muncul muter-muter di kepala? Ya sudah namanya mangkel di hati itu sudah sampai meletup-letup. Bayangan, kejamnya orang tua muncul semua di kepala. Nah kalau sudah gitu, udah nggak kelihatan di mana saya bisa melihat kebaikannya. Sampai dulu sering mbatin, ya Allah kenapa saya dikasih orang tua kejem gitu, nggak kayak orang tuanya temen-temenku?

Dulu Curhatnya ke Diary ...
Kata Diary, "Udah jangan bete mulu!!!" 😅

Sampai pernah mbatin, apa saya ini anak tiri 😭 tapi lagi-lagi saya mendapat jawaban, nggak kok saya bukan anak tiri. Buktinya di akta lahir ada nama orang tua saya. Buktinya waktu nikah, om saya jadi wali nikah saya menggantikan almarhum ayah saya. Ya sudah kalau gitu saya hanya bisa terima nasib. *eaaaaaa ...

Sayangnya nih ya, kejadian-kejadian menyakitkan saya itu sering banget terjadi. Sampai saya tuh kayak yang trauma kalau mau ngomong sama ibu, karena mikirnya nanti jangan-jangan kress.

Nggak usah jauh-jauh sih ya, baru-baru ini bahkan lagi-lagi saya juga habis disumpahin sama ibu, hanya karena masalah sepele saya buru-buru mau ke rumah sakit kontrol jempol saya. Nah, pagi itu saya minta tolong suami handel anak-anak, karena saya sudah takut kalau minta tolong ibu nanti malah ngerepotin. Begonya saya juga belum masakin lauk suami. Ya namanya juga keburu-buru.

Nah, bahasa iyesnya, ibu itu nggak rela gitu kalau saya menerlantarkan suami dan anak-anak saya. Jadi waktu tahu saya minta tolong suami handel anak-anak, beliau langsung menawarkan menghandel anak-anak kami. Lalu beliau meminta suami saya untuk beli makanan di luar saya. Padahal saya tadi minta tolong suami goreng ayam sendiri, karena kan niatnya hemat. Lah lagi-lagi ibu mengambil alih tugas menggoreng tersebut. Jujur sih saya sudah takut waktu beliau menawarkan diri handel semua.

Benar saja kan, nggak lama setelah itu ibu malah ngomel nggak jelas 😭 terus keluar omongan nggak enak. Saya pun mencoba mengingatkan kalau omongan ibu itu adalah doa. Eh bukannya malah nyetop narik omongan malah, mengiyakan sambil nyumpah-nyumpahin. Biarin tak doain kamu bla bla bla bla bla ...

Ah ini nggak usah saya sebutin detailnya ya, nanti hati saya malah nyeseg nggak bisa move on. Hehe ... Intinya sih garis besarnya ibu menyumpahi keluarga saya nggak akan samawa, plus kalau ada apa-apanya saya awas saja kalau mau mendatangkan beliau ke tempat saya, karena beliau nggak akan sudi datang ke tempat saya. Piye rasane ra kudu nangis 😭😭😭 Saya ini anak tiri opo piye 😭😭

Dalam hati lagi-lagi saya sempat mempertanyakan, kenapa ibu setega itu sih??? 😭😭😭

Sampai dalam hati saya bilang, ya Allah nanti kalau ada apa-apanya sama rumah tangga saya berarti beliau-lah penyebab utamanya, bukan dari diri saya.

Untung waktu itu ada suami. Jadi suami berusaha melerai. Tapi bisa? Nggak, karena ibu tetap ngomel panjang, bahkan sampai akhirnya beliau menceritakan semua masa lalu beliau, terutama tentang keburukan ayah. Sebenarnya kalau diceritakan kepada anak menurut saya malah semacam membuka aib rumah tangga beliau.

Tapi dari situ akhirnya saya menangkap, oh oke beliau dulu sepertinya tidak bahagia. Di poin ini saya menangkap poin bahwa almarhum ayah memiliki banyak salah sama ibu. Nah, saya jadi kasihan sama keduanya (baik ayah maupun) ibu sebenarnya, karena menurut saya semua itu terjadi karena mungkin kesalahan gagalnya komunikasi.

Ya kan katanya cowok itu makhluk dari Planet Mars, sedangkan cewek itu makhluk dari Planet Venus. Jadi ya memang susah menghindari namanya gagal komunikasi.

Nah, saya sih akhirnya mencoba mempelajari poin gagal komunikasi ini. Jangan-jangan sayanya yang kesulitan komunikasi dengan ibu? Meski ya kami sama-sama dari planet Venus, tapi bisa jadi gagalnya komunikasi kita karena kita dari jaman yang berbeda 😅

Meski awalnya saya gedruk-gedruk nggak karuan nangis kayak orang gila minta dibawa ke psikolog (lagi) ke suami sembari menyalahkan ibu yang menurut saya suka seenaknya kepada saya, sampai bikin saya hampir gila, dan suami saya menenangkan diri saya sembari bilang sabarrrrrr ...

Ketika mulai tenang, saya pun mencoba mengingat-ingat pelajaran yang saya dapat dari workshop healing inner child yang pernah saya dapatkan, saya hubungkan dengan ilmu sabar yang saya dapat selama saya belajar meng-upgrade diri menjadi pribadi yang lebih baik melalui hobi menulis saya.


Oke saya mencoba menerima bahwa,
1. Memang seperti itulah ibu. Jadi maafkanlah.
2. Allah menciptakan sesuatu ke dunia ini bukan tanpa sebab dan bukan suatu kebetulan. Begitu juga ketika saya tertakdir terlahir di tengah orang tua saya.
3. Tanpa sadar ini menjadi sebuah pola asuh duplikasi. Di mana bahkan saya lihat juga nenek kalau marah pun nggak tanggung-tanggung ngerinya.
4. Kalimat pedas sebagai luapan untuk menyalurkan emosi agar plong. Ketika saya mempelajari kenapa ibu suka mengeluarkan kalimat-kalimat pedas ketika marah, itu terkait dengan luapan hatinya yang merasa tidak nyaman. Ini semacam tindakan bully, di mana ketika pelaku bully menyakiti perasaan orang, maka dia akan merasa menang.
5. Sabarrr mungkin ini ujian hati. Kalau gagal ya remidi.

Apa semudah itu menerima semua hal tersebut? Kalau menurut saya semua butuh proses.

Saya pun dulu saat ikut workshop healing inner child mikirnya, "Hah, cuman gini doang??? Yakin setelah ikut healing nggak bakal down lagi?"

Jujur waktu itu saya nggak yakin. Tapi saya cuman mikir, ya sudah kalah menang apa salahnya dicoba.

Faktanya memang ketika kita memiliki niat baik, Allah seperti memudahkan jalan kita. Sejak awal saya memutuskan ikut workshop healing inner child karena saya nggak mau jadi anak yang dianggap durhaka hanya karena saya semakin menjauh disebabkan sakit hati saya yang nggak sembuh-sembuh.

Setelah ikut workshop tanpa sengaja saya dipertemukan dengan seorang guru penulis buku islami. Dari situ saya mulai diminta meng-upgrade diri jika memang saya ingin menjadi penulis. Salah satunya dengan banyak membaca buku.

Salah Satu Buku yang Saya Baca
Dan Mulai Mengajarkan Banyak Hal

Nah, ketika membaca tersebut bahkan saya banyak menemukan wawasan baru.

Salah satunya kita harus bersabar dan berbuat baik ketika kita mendapat perlakuan yang kurang baik dari orang tua kita. Awalnya saya pun berontak, "Nggak adil dong ah!!!"

Tapi tahu tidak, setelah saya pelajari dan saya hubungkan dengan pengalaman workshop healing saya seperti menemukan jawaban. Contohnya ketika pak Asep selaku trainer menceritakan bahwa apa yang terjadi pada orang tua kita pun tak lepas dari masa lalu nya juga sebagai anak.

Dari situ akhirnya saya mencoba memutar perasaan saya, ketimbang saya terus menuntut mempertanyakan kenapa ibu saya berbuat seperti itu, bukankah akan lebih baik ketika saya mencoba berempati kepada beliau.

Kenapa beliau galak, jahat, dan super tega?
Saya pun mencoba melihat dari sudut pandang berbeda, dan mengatakan pada diri saya, Oh saya tidak bisa menyalahkan beliau, karena seperti yang disampaikan pak Asep terkait skema (peta) contoh yang ditiru. Jadi saya anggapnya ibu saya pun tidak bersalah, karena beliau mungkin tahunya cara problem solvingnya ya gitu itu.

Oke jadi iya itu lumrah. Nah setelah berempati dan melumrahkan hal tersebut saya jadi legawa.

Sama Hal-nya Ketika Terlalu Menuntut
Kita Lupa Sudah Seberapa Banyak yang Kita Berikan

Lalu saya belajar untuk tak perlu mempermasalahkan hal tersebut, sehingga saya tak perlu menuntut banyak, karena semakin saya menuntut banyak hal semakin saya akan semakin terluka dan terpuruk menerima kenyataan di luar ekspektasi kita.

Kemudian saya juga menemukan sebuah hadits yang menyarankan, jika kita sedang marah maka sebaiknya diam. Dan jika pun diam tak bisa meredakan emosi maka kita bisa ambil jalan tidur.

Oke saya mencoba mempraktekkan hal tersebut ketika akhirnya saya memutuskan meminta maaf terlebih dahulu kepada ibu saya.

Saya membuang perasaan menuntut di hati, dan mencoba mengalah. Mengalah dan menerima bahwa saya adalah seorang anak yang tidak boleh menyakiti hati ibu, sekalipun hati saya sering disakiti oleh beliau.

Saya mencoba meminta maaf kepada beliau, lalu saya mulai mendengarkan kemarahan beliau bercampur tangisan akan kekecewaan beliau kepada saya. Meski sebenarnya hati saya bergejolak ingin melakukan pembelaan-pembelaan terhadap apa yang disampaikan, tapi saya coba tahan, karena pikir saya kalau saya sahutin malah nggak kelar-kelar.

Saya ingat nasehat suami, untuk diam saja dengarkan. Saya pun menyounding diri untuk sabar dan diam. Nggak usah kepancing emosi. Biar nggak kepancing cukup diam saja.

Hingga akhirnya setelah lama ibu saya meluapkan semua, beliau menyampaikan bahwa kelak beliau akan menjadi orang pertama yang membela saya dan menuntut suami saya jika suami saya menyakiti hati saya.

Subhanallah, saya terharu di sini. Sangat terharu karena ini benar-benar terbalik dengan keadaan ketika beliau menyumpahi saya hal-hal buruk sebelumnya.

Dari situ saya pun mulai mempelajari, bahwa sebenarnya ekpresi kegalakan dan emosi ibu adalah bentuk ungkapan rasa sayang beliau kepada saya. Hanya mungkin beliau memang kurang bisa menemukan cara yang tepat untuk mengekspresikan emosinya, karena tahunya beliau dapat contoh skema (teladan) nya dari nenek saya ya begitu.

Selanjutnya saya pun harus terus belajar daripada sekedar menuntut ibu menjadi seperti yang saya harapkan dan inginkan, kenapa tidak dimulai dari diri saya sendiri untuk belajar memperbaiki diri memberikan yang terbaik untuk ibu saya.

Mungkin kita tidak bisa memaksa mengubah seseorang mengikuti keinginan kita, tapi kita bisa mulai mengubah diri kita agar bisa belajar menyeimbangkan diri menghadapi lingkungan sekitar.

Simpelnya  bisa diibaratkan seperti ketika ada orang membully kita, mungkin kita tidak bisa mengubahnya menjadi sesosok orang yang baik hati bak peri, tapi dengan mulai mengubah diri kita untuk menghadapi seorang pembully, maka bisa jadi sang pembully akan sadar bahwa tindakan yang dilakukan itu salah.

Mari Belajar Dari Diri Sendiri

No comments:

Post a Comment